Thursday, June 23, 2016

Terapi PLI: Jangan Putus Asa Karena ASA

This post was similar to the one in my old blog.

Kalau sudah baca kronologi singkat TTC kami di posting sebelumnya, maka post ini akan bahas lebih detil mengenai imunologi reproduksi dan nilai ASA.

Yuk, kenalan dulu dengan ASA.

An antisperm antibody (ASA) test looks for special proteins (antibodies) that fight against a man's sperm in blood, vaginal fluids, or semen. The test uses a sample of sperm and adds a substance that binds only to affected sperm. Semen can cause an immune system response in either the man's or woman's body.
Taken from: Antisperm Antibody Test & Results for Men & Women. March 12, 2014.

Cara mengetahui nilai ASA dilakukan dengan tes laboratorium. Untuk istri, dilakukan pengambilan sampel darah. Sedangkan untuk suami, dibutuhkan sampel sperma. Setelah didapatkan kedua sampel tersebut, maka akan dilihat reaksi antar keduanya - apakah sel sperma suami akan menggumpal jika bertemu dengan sel darah istri, tes ini biasa disebut HSAaT (Husband's Sperm Auto-agglutination Test). Tes ini sebaiknya dilakukan setelah kita melakukan tes fisiologis kandungan (USG, HSG, TORCH, dll) dan sperma, dan hasil tes tersebut menyatakan bahwa fisiologis suami dan istri normal tetapi masih belum juga terjadi kehamilan.

Hasil tes ASA dinyatakan dalam nilai kelipatan 2, dengan nilai normal 1:64. Jika nilai ASA melampaui batas normal, maka sistem imun di tubuh istri akan mengenali sel sperma suami seperti virus atau benda asing dan langsung membentuk penghalang. Sel sperma pun akan susah untuk menunaikan tugas kenegaraannya, karena sistem kekebalan tubuh istri sudah menghambat jalan masuk. ASA ini juga berperan dalam trimester awal kehamilan; jika calon ibu mengandung dengan nilai ASA tinggi, maka ada potensi bagi janin untuk sulit berkembang hingga kemungkinan terburuk - terjadi keguguran.

Untuk menurunkan nilai ASA, ada 3 alternatif tindakan yang bisa dilakukan:
1. Terapi PLI (Parental Leucosyte Immunization).
2. Istri sebaiknya menghindari makanan / benda yang dapat memicu alergi. Penyebab alergi dapat diketahui dengan melakukan FRT (Food Response Test / tes alergi terhadap makanan seperti macam-macam pati / tepung, macam-macam protein nabati / hewani, buah, dll) dan NFRT (Non Food Response Test / tes alergi terhadap benda non makanan seperti udara panas / dingin, bulu binatang, kapuk, dll).
3. Berhubungan menggunakan pengaman selama melakukan terapi PLI.
Tindakan 2 dan 3 ini dilakukan untuk meminimalkan paparan alergen pada sistem imun istri dan menunjang keberhasilan terapi PLI.

Nah, pertanyaan selanjutnya adalah, "Apa itu PLI?"
PLI (Parental Leucosyte Immunization) adalah imunisasi dimana sel darah putih suami akan disuntikkan ke tubuh istri. Untuk mengenalkan DNA suami terhadap tubuh si istri sehingga sistem antibodi istri akan belajar mengenali dan tidak lagi menganggap sperma suami sebagai benda asing.

Sebelum menjalani terapi ini, suami diwajibkan melakukan tes darah lengkap untuk mengetahui apakah ada penyakit bawaan dan virus yang berbahaya. Jika hasilnya baik, maka PLI bisa dilakukan. Satu siklus terapi PLI dilakukan selama sekitar 3 bulan, dengan 1x tindakan penyuntikan per 3 minggu. Setelah 3x penyuntikan, maka dilakukan tes HSAaT kembali untuk mengetahui nilai ASA setelah terapi. Kalau belum mencapai level normal, maka akan disarankan untuk mengikut 1 cycle lagi.

Karena di RS YPK Mandiri tidak bisa melayani terapi PLI, maka kami dirujuk ke RSIA Sayyidah di daerah Duren Sawit, Jakarta Timur. RSIA Sayyidah ini melayani terapi PLI hampir setiap hari mulai pagi hingga sore hari (jadwal pastinya bisa ditanyakan langsung via telepon  RSIA Sayyidah (021) 86902950), kami pilih hari Sabtu dan Minggu karena sama-sama bekerja - dr. Indra juga praktek di sana pada hari ini, jadi bisa sekalian konsultasi. Kami mulai terapi PLI ini di bulan Februari 2015 dengan nilai ASA 1:16,384 - lumayan tinggi. Ini berarti kami harus turun 8 tingkat untuk mencapai level normal 1:64. Semangat!

Suka duka selama menjalani terapi PLI? Banyak!
1. Disuntiknya sebentar, tapi menunggunya lumayan lama sekitar 2 jam karena sampel darah suami harus dipreparasi untuk mendapatkan serum sel darah putih. Biasanya kami tinggal makan siang dulu, di sekitar Kali Malang - Duren Sawit banyak tempat makan enak yang bisa dikunjungi untuk 'membunuh' waktu.
2. Disuntiknya nggak sakit, tapi saat tindakan pertama dan kedua sempat bikin bengkak dan ruam sedikit.
3. Harus disiplin menjaga makanan supaya terhindar dari bahan makanan pemicu alergi. Goodbye, nasi, mie dan roti, soya milk, tahu dan tempe, ikan salmon dan kepiting. Boo-hooooo... I also used to hate eating red meat (beef) and prefer chicken instead, tapi ternyata dinyatakan alergi ayam. Terpaksa 'belajar' makan daging sapi.
4. Pak Suami tergolong orang yang nggak menyukai suntik-menyuntik jadi suka agak panik ketika harus diambil darah. Terapi ini bisa mengurangi sedikit demi sedikit kecemasan dia.
5. Most of all, selama menjalani terapi PLI ini kami menjadi lebih sabar dan belajar ikhlas. Banyak bertemu dengan pasangan yang mengalami problem serupa, bahkan ada yang nilai ASA-nya mencapai 1:500,000an dan mereka tetap menjalani terapi ini dengan happy dan optimis. So, why shouldn't we?

Biaya untuk 1x tindakan penyuntikan terapi PLI sekitar Rp 1,000,000. Beberapa rekan seperjuangan bilang bahwa biaya di RSIA Sayyidah ini lebih murah dibandingkan di tempat lain dimana dr. Indra G. Mansur praktek, yaitu RS Budhi Jaya, Tebet atau di Klinik Sam Marie, Wijaya.

Jadi, jangan putus asa dulu karena nilai ASA tinggi. Tetap berdoa dan berusaha!

Wednesday, June 22, 2016

Anxiety Attack

Hello, Baby.

I can't believe that we are now counting down the days until D-date.
Anxiety is mounting. Tension is building. Well, at least for me. I don't know whether your daddy feels the same - he seems very calm, if not - indifferent, or worse - ignorant. I hope he is not. But he doesn't cry when I cry and whine and sob about so many things related to your arrival in the world, so that should mean something, right? Ok, maybe that's just my hormones.

To be honest, I am in a complete blue when it comes to you nowadays. I worry about so many things; your health, my health, C-sect or natural birth, breastfeeding, what to bring to hospital, will the doctor take good care of us, the list can go on and on...
I start to regret some of the things I did during the early pregnancy, like eating sushi (I believe at some point I came across a tiny bit of under-cooked salmon), using a small amount of salicylic acid on my skin, not eating right, not drinking much milk, skipping some pills, and all those bad stuffs I was not supposed to do during pregnancy - even though some are just myths, really. I should have done something good for you for the past 7 months, but regret does come a bit too late since your D-date is only 5-6 weeks away.

In between my uncontrollable sobbing and my prayers, I realize that I already love you more than life. Let's bring it on. Anything in the world, I would gladly risk it all just to see you, feel you, breathe you.
I hope we can finally meet each other very soon and all is well.

Love,
Your mother.

Sunday, June 19, 2016

We're Having A...

G I R L !
Cutesies For The Cutest

Bismillah. This is our very first baby gender reveal.

Kebetulan saya pun dapat kesempatan bagus dari Pampers Indonesia untuk (nanti) mencoba Pampers Premium Care New Baby. Sebagai newbie, saya tentunya sangat terbantu karena kalau disuruh pilih-pilih berbagai macam merek popok disposable yang ada di toko pastilah sangat membingungkan. Uniknya, Pampers Premium Care New Baby ini memiliki 5 keunggulan sehingga sangat tepat jadi pilihan para ibu yang ingin perawatan terbaik untuk bayi baru lahir.

1. Memiliki bahan SUPER GEL, yaitu gel dengan daya serap hingga 12 jam sehingga bayi merasa lebih nyaman dan nggak rewel ketika tidur. Menurut dokter anak, tidur nyenyak besar pengaruhnya dalam mengoptimalkan tumbuh kembang bayi dan anak. Terlebih lagi, ketika bayi tidur nyenyak, ibu pun bisa beristirahat untuk recharge tenaga.

2. Sirkulasi udara agar kulit tetap kering. Mengapa ini penting? Kulit bayi baru lahir cenderung sensitif sehingga perlu ekstra hati-hati. Jika terlalu lembab, maka bisa mengakibatkan ruam popok atau iritasi lain.

3. Lembut di segala bagian, menjaga kulit tetap nyaman.

4. Bagian pinggang 2x lebih lentur sehingga super pas dan nyaman dipakai karena mengikuti kontur tubuh bayi.

5. Mengandung lotion perlindungan kulit.

Sebenarnya ada satu keunggulan lain yang saya suka yaitu Wetness Indicator atau indikator kelembaban yang bisa membantu ibu  untuk melihat apakah sudah waktunya untuk ganti popok atau belum. Pas banget untuk newbie seperti saya. Selain dalam kemasan isi 28 yang saya dapat, Pampers Premium Care New Baby ini tersedia juga dalam kemasan isi 13 yang langsung masuk ke dalam tas bawaan untuk ke rumah sakit karena lebih praktis.

Senang sekali menantikan #MomenPertama kelahiran anak kami, pastinya nggak lupa #PakaiPampers yang memberikan perlindungan bintang lima.

The product was a nice surprise, thanks to Pampers Indonesia and FemaleDaily.

Thursday, May 26, 2016

It's Shopping Time, Baby!

Salah satu mitos kehamilan yang masih saya ikuti adalah... Belanja keperluan bayi baru boleh dimulai saat masuk usia kehamilan 7 bulan. Alasannya pamali, (lagi-lagi) karena sebaiknya kita tidak mendahului kehendak Tuhan. Jika dilihat dari sisi medis, hal ini memang masuk akal karena di usia 7 bulan ini si bayi sudah bisa dinyatakan bersiap-siap untuk lahir. Indera dan organ bayi sudah terbentuk, dapat berfungsi dengan baik. Berat badan dan posisi tubuh bayi juga sudah mengarah ke arah 'jalan lahir' sehingga wajar kalau memasuki usia 28 minggu, ibu hamil diminta kontrol lebih sering ke dokter kandungan - setiap 2 minggu sekali.

Karena alasan medis (dan non-medis) tersebut, maka saya sabar banget menunggu. Padahal sejak sudah tahu jenis kelamin si calon anak, rasanya sudah ingin merencanakan ini itu dan membeli beberapa barang yang diperlukan (meski kadang batas 'perlu' dan 'ingin' itu sangatlah kabur). Ketika sekarang sudah boleh belanja, rasanya riang gembira bagaikan melayang di udara deh. Apalagi karena sejak hamil, malah jadi nggak semangat belanja - paling hanya belanja celana hamil dan baju dalam karena sudah nggak muat. Beli-beli makeup juga menurun drastis, almost zero. Cuma beli skin care yang masih agak semangat, dan jajan makanan tentunya.

Dan, pertanyaan selanjutnya sebagai seorang calon emak newbie adalah... Belanja apa saja? Di mana?

Paling mudah, tanyakan kepada ibu atau kakak perempuan yang sudah punya pengalaman berbelanja untuk bayi. Atau kepada teman / saudara yang sudah lebih dulu jadi mommies. Forum atau blog mengenai kehamilan juga bisa jadi alternatif yang baik untuk cari informasi, biasanya ada yang menuliskan langsung alamat toko dan harga perlengkapan sehingga kita bisa take note. Langsung datang ke toko perlengkapan? Boleh saja, karena cara ini juga salah satu yang saya jalani.

Sebenarnya saya nggak awam-awam banget dalam berbelanja perlengkapan dan perawatan bayi. Dulu ketika kakak saya hamil keponakan yang pertama, saya yang bertugas antar-antar belanja sehingga lumayan familiar dengan barang-barang bayi. Sayangnya, itu kan sudah lebih dari 10 tahun lalu dan pastinya sudah banyak yang berubah. Tadinya saya ingin ke ITC Fatmawati, ke Toko Bayi Kemenangan yang dulu rajin dikunjungi kakak saya. Tetapi mengingat pembangunan monorail yang heboh di daerah sana, saya pun urung dan langsung memutuskan berkunjung ke ITC Kuningan yang lebih dekat dari rumah.

Gosipnya, di ITC Kuningan ini juga banyak toko perlengkapan bayi dengan pilihan barang yang lengkap dan harga bersahabat. Salah satu toko yang paling direkomendasikan di forum / blog adalah Fany Baby Shop yang terletak di lantai 4 ITC Kuningan. Ternyata, oh, ternyata, toko ini punya beberapa lokasi di lantai yang sama. Ada toko Fany Baby Shop kecil, besar dan khusus peralatan besar seperti stroller dan car seat. Letaknya cukup berdekatan, jadi bisa menclok ke satu lokasi lalu ke lokasi lain dengan mudah. Toko ini ramai banget, tapi penjaga tokonya cukup banyak dan responsif sehingga kita nggak perlu menunggu lama untuk dilayani. Nggak heran kalau toko ini jadi favorit karena begitu duduk di muka toko, kita langsung diberikan secarik kertas berisi daftar belanja kebutuhan bayi. Ada sekitar 100 item, mulai dari kebutuhan primer bayi baru lahir (pakaian, popok, alat kesehatan) hingga mainan dan baby gear. Menolong banget untuk para mama baru.

Sempat lihat-lihat beberapa baju bayi di Fany Baby Shop ini, tapi kebanyakan bermotif warna-warni dengan merek Libby. Sedangkan saya cari baju polos, kalau bisa warna putih polos bermerek Jingle - dulu kakak saya pakai merek ini dan saya suka karena bahannya bagus. Akhirnya hanya beli perlak kain waterproof merek BabyBee (yang harganya 2x lebih mahal dari perlak karet biasa ukuran jumbo, thanks to mbak penjaga toko yang pandai merayu) dan bedong bayi katun. Sebenarnya masih mau lihat-lihat tapi toko ini tambah ramai, jadi kurang nyaman kalau banyak tanya ke si mbak dan ujung-ujungnya nggak jadi beli.

Kami putuskan untuk berkeliling lihat toko lain. Karena weekend, toko lain pun cukup sibuk. Kalau pun ada yang terlihat sepi, kemungkinan karena tokonya kurang lengkap dan pelayanannya kurang bagus (sayang, lupa catat nama tokonya). Akhirnya di pojok belakang dekat lift, kami menemukan toko bayi Happy Bear. Meski cukup besar, toko ini letaknya agak ngumpet sehingga nggak begitu ramai. Satu hal lagi yang menarik kami datang ke Happy Bear ini karena ada tulisan 'Terima Cuci Stroller'. Kami memang berniat untuk reuse kereta dorong dan kursi mobil milik keponakan yang kondisinya masih lumayan bagus, hanya perlu dicuci. Selain stroller, toko ini juga bisa cuci car seat dan bouncer. Saya juga sempat tanya apakah ada baju bayi polos selain merek Libby, rupanya mereka jual merek Fluffy. Saya lebih sreg dengan bahan baju Fluffy ini, lebih lembut, jahitan cukup rapi dan ada yang putih polos.

Belanja apa saja? Well, saya kasih daftar belanja dari Fany Baby Shop ini supaya memudahkan. List ini sangat membantu karena kita nggak perlu tulis-tulis lagi. Mungkin ada yang kita perlu dan tidak perlu, ada yang sudah punya atau belum punya, tinggal refer ke daftar belanja ini saja. Soal kualitas dan kuantitas perlengkapan dan peralatan bayi, saya selalu diingatkan ibu kalau perkembangan bayi itu pesat - seringkali kita nggak perlu barang dalam jumlah banyak dan harga yang mahal karena seringkali hanya dipakai sebentar. Untuk barang yang bisa dipakai lama, nggak ada salahnya kita beli yang berkualitas baik.

Happy Shopping!

Berikut ini shopping list edisi perdana beserta harganya.
1. Perlak kain waterproof merek BabyBee Rp 115,000
2. Bedong bayi katun isi 6 pcs Rp 160,000
3. Baju tangan panjang merek Fluffy ukuran newborn 6 pcs Rp 90,000
4. Baju tangan pendek merek Fluffy ukuran newborn 6 pcs Rp 80,000
5. Celana panjang tutup kaki merek Fluffy ukuran newborn 6 pcs Rp 90,000
6. Celana pop merek Fluffy ukuran newborn 6 pcs Rp 80,000
7. Sarung tangan dan sarung kaki merek Fluffy 4 set @ Rp 20,000
8. Waslap mandi merek Nary 5 buah @ Rp 20,000
9. Bantal bayi halus merek Picard Baby Rp 120,000
10. Baby bib 1 set isi 5 pcs merek Luvable Friends Rp 175,000 (beli di Lotte Shopping Avenue, diskon 50% jadi Rp 87,500)
11. Termometer Infra Red Touchless merek klaus Rp 350,000
12. Oral Care Rabbit Ears (semacam waslap pembersih mulut dan gigi) merek MAM Rp 100,000
13. Cuci stroller 2 buah Rp 200,000
14. Cuci car seat Rp 100,000
15. Cuci bouncer Rp 90,000 
16. Bak mandi bayi Puku Rp 285,000 (beli di Blibli.com dapat diskon 25% jadi sekitar Rp 213,000 - beda tipis dengan harga di ITC Kuningan sekitar Rp 250,000)
17. Fabric Bath Support Mothercare Rp 233,100 (beli di Lazada dapat diskon 10% dari harga toko, yang kirim langsung dari Mothercare)

Masih banyak edisi selanjutnya, of course! Masih penasaran mau berkunjung ke Suzanna Baby Shop dan Toko Bayi Kemenangan di weekend berikutnya. Dan yang paling bikin excited adalah... Belanja segala macam skin care bayi!

"When I shop, the world gets better, and the world is better, but then it's not, and I have to do it again." - Becky Bloomwood, Confessions of A Shopaholic 

Monday, May 23, 2016

The Waiting Game

Kadang kita harus menunggu,
dan hanya bisa menunggu. 

Diminta menunggu,

bersabar dulu,
mungkin karena kita selalu,
terburu waktu,
membuang detik menit berlalu.

Menunggu,

duduk saja dulu,
tidak usah tergesa dan terpacu,
hilangkan rasa kecewa itu,
besarkan hati yang sempat kecil sebegitu.

Menunggu,
berusaha dulu,
biarkan doa terus berlagu,
karena Sang Empunya Waktu,
Maha Punya Rencana kan, Bu?

Kadang kita harus menunggu,

dan tak ada yang salah dengan itu.

Teruntuk anak dari suamiku, yang masih rencana Tuhan.
Ibu tunggu ya, Nak.

Originally posted in my other blog.

Monday, May 16, 2016

Pregnancy Myths Busted?

Don't jinx it, so they say...

Mungkin menurut beberapa orang, saya menulis blog ini seperti hendak mendahului kehendak Tuhan karena sudah seperti merayakan kelahiran si (calon) anak. What if begini, what if begitu? Jelas, saya juga nggak tahu. Jalan hidup memang bisa berubah dalam sekejap, hanya Tuhan Yang Maha Mengetahui. To be honest, saya sudah 'merayakan' kehadiran si calon anak ini pada saat dokter menemukan kantung janin di rahim saya. Saya tidak menunda menyiarkan kabar baik ini kepada keluarga, saudara, dan teman-teman meski konon katanya lebih baik menunggu sampai usia kandungan melewati 3 bulan. Mengapa? Karena saya sudah menunggu lama untuk dapat kebaikan ini, selain itu tidak mungkin merahasiakan gejala-gejala trimester pertama yang lumayan merepotkan. Tapi utamanya, saya ingin disemangati dan didoakan oleh orang lain. Takut dan cemas menghadapi rocky road ini membuat saya merasa butuh dukungan, terutama dari orangtua. Bos di kantor juga perlu tahu, supaya bisa maklum kalau saya mendadak work-from-home karena saat pagi badan serasa dikelitik ulekan semalaman.


So yes, this blog is another effort untuk mendapat support dari orang-orang sekitar saya. This digital trace is also a good keepsake, no matter where this journey will take us. Sama sekali bukan berniat melangkahi rencana-Nya.

Do this, don't do that...

Menjadi seorang wanita saja sudah beragam tantangannya, apalagi ketika hamil. Banyak sekali mitos turun temurun yang jadi dos and don'ts selama hamil. Ditambah perubahan fisik dan mental, mendadak hidup jadi terasa serba dibatasi. Memang semua anjuran maupun larangan itu bertujuan baik, supaya ibu dan jabang bayi sehat dan terlindungi selalu. Tetapi seringkali kita (saya, lebih tepatnya) sulit memilah mana yang benar-benar untuk alasan kesehatan dan keamanan ibu dan anak, dan mana yang sekedar ‘katanya, katanya’.

Jadi, mana yang mitos atau fakta? Saya coba tuliskan pengalaman yang paling 'kena' ke saya, dan diulas berdasarkan pengetahuan dan hasil konsultasi dengan dokter – dokter beneran, bukan cuma klik-klik Mbah Google. Setuju atau tidak, saya kembalikan ke pribadi masing-masing karena setiap orang punya kondisi badan, kebiasaan, dan cara pandang berbeda. Perlu diingat juga, tiap dokter mungkin punya opini masing-masing. 

Myth or Fact 1: Jangan Minum Obat
Seiring perubahan hormon, ibu hamil bisa merasakan berbagai macam gejala penyakit yang membuat kondisi badan super duper tidak nyaman. Meskipun banyak yang bilang minum obat adalah big no-no, tapi nggak sedikit juga yang beranggapan kalau konsumsi obat-obatan yang dijual bebas masih aman untuk ibu dan bayi, terutama untuk mengatasi keluhan sehari-hari seperti lelah, diare, pusing, dan mual.
My verdict: Fact.
Lebih tepatnya, jangan minum obat sembarangan. Memang ada obat tertentu yang masih aman diminum oleh ibu hamil dalam dosis dan jangka waktu tertentu, tapi ada juga yang tidak boleh sama sekali karena apa yang kita makan dan minum langsung berefek pada bayi. Saya sempat minum Panadol warna biru untuk redakan pusing - dokter tidak melarang asalkan coba diminum 1/2 kaplet dulu dan tidak boleh lebih dari 3 hari berturut-turut. Minum obat maag pun pernah karena mual muntah bikin nggak bisa tidur. Pastikan untuk konsultasi dengan dokter sebelum mengonsumsi obat maupun suplemen makanan yang dijual bebas. Cermati label di kemasan atau leaflet yang ada, seharusnya ada informasi atau peringatan untuk ibu hamil dan menyusui. Kalau badan mulai terasa kurang fit, daripada sibuk cari obat lebih baik istirahat dan minta pijitin suami dulu deh.

Myth or Fact 2: Jangan Makan Ini, Jangan Makan Itu
Nah, ini paling tricky karena berhubungan langsung dengan gizi ibu dan anak. Buanyaaakk pantangan makan mulai dari buah nanas (bisa menyebabkan keguguran), daging kambing (bikin bayi kepanasan), ikan lele (takut anaknya nggak bisa diam), seafood (banyak mengandung merkuri / limbah tercemar), makanan pedas (nanti anaknya botak), MSG (memengaruhi otak / kecerdasan bayi), air es atau es krim (bayi jadi besar dan susah 'keluar').
My verdict: Mostly myth.
Pantangan makan dari dokter saya hanya protein (daging, telur, keju, susu) yang tidak diolah / mentah / setengah matang dan minuman beralkohol, sisanya boleh dimakan asal tidak menimbulkan alergi dan dalam jumlah wajar. Makan nanas boleh setelah lewat trimester pertama dan harus pilih buah yang matang, tapi jangan dihabiskan satu bonggol sendirian per satu kali makan. Seafood, kalau nggak segar dan tempat pengolahannya kotor lebih baik hindari. Ikan yang tidak boleh dimakan adalah king mackerel, hiu, todak (swordfish) karena kadar merkurinya tinggi. Makan di restoran Jepang atau steak? Boleh juga, meski harus ekstra wanti-wanti ke server untuk minta dibuatkan yang matang. Begitu makanan datang, lihat dulu baik-baik apakah sudah matang. Kalau dirasa belum matang, minta dikembalikan ke dapur untuk dimatangkan atau kalau ragu-ragu lebih baik jangan dimakan. Intinya, harus berusaha makan sehat demi kepentingan si bayi.
Tapi saya masih rajin minum air kelapa hijau - konon katanya bisa menghilangkan racun, menjernihkan air ketuban, dan bikin kulit bayi bersih. Rasanya enak dan segar, mudah dibeli di pinggir jalan dengan harga murah, so why not?

Myth or Fact 3: Harus Makan Banyak
Ibu hamil harus makan banyak dan sering dengan porsi 2 orang sebab makanan harus dibagi ke jabang bayi. 
My verdict: Myth.
Sampai usia kehamilan sekitar 16 minggu, berat badan saya naik cuma 1 kg. Jangankan makan sering dan banyak, makan nasi sekali saja emoh. Masih susah makan karena all-day sickness dan pilih-pilih makanan. Setelah menginjak 20 minggu, saya mulai bisa makan enak dan mudah lapar. Berat badan langsung naik heboh sekitar 3 kg per bulan hingga total sudah naik sekitar 10kg per hari ini. Meski bayi dinyatakan sehat dengan berat badan cukup, dokter minta saya untuk jaga berat badan dengan olahraga dan atur pola makan, takut kebablasan. Makan berlebihan bisa menyulitkan ibu dan janin - ibu sulit bergerak aktif sehingga kurang fit dan mudah lelah, bayi pun bisa terlalu besar sehingga sulit lahiran normal.
Nggak perlu makan banyak, nggak perlu juga takut gendut. Lebih baik makan dalam porsi secukupnya dengan frekuensi teratur dan jangan lupa snacking. Saya biasanya jajan rujak buah (tanpa bumbu), ngemil kismis atau biskuit (Astor hehehe, sebab bosan kalau marie terus), dan minum air putih. Tapi seminggu sekali saya bisa makan 2 porsi mie ayam bakso pangsit sekaligus simply because I can't help it

Myth or Fact 4: Jangan Mewarnai Rambut
Beberapa bulan sebelum hamil, saya mewarnai rambut di salon langganan. Rencananya, setelah 2-3 bulan mau diwarnai lagi karena berambisi mirip J.Lo. Ketika tahu hamil jadi galau, mau cat rambut atau nggak karena rambut mulai meng-alay. Mas Herry (pemilik Salon Brunette kesayangan) bilang nggak boleh, padahal dia bisa saja mengiyakan demi pemasukan salonnya. Teman-teman yang sudah punya anak juga bilang jangan sampai kelar menyusui karena kalau zat kimia dari produk pewarna rambut bisa masuk ke dalam darah dan air susu. Padahal kalau di-googling, banyak situs yang menuliskan belum ada penelitian yang mengonfirmasi mengenai hal ini. 
My verdict: Not sure.
Zat kimia yang harus dihindari adalah ammonia, tapi saat ini sudah ada pewarna rambut bebas ammonia. Ada yang menyarankan pakai henna tapi berdasarkan pengalaman kerja di beauty company, henna kemasan nggak lebih baik dari cat rambut kotakan karena nggak benar-benar alami. Dokter saya bilang bahwa memang belum ada kesimpulan medis mengenai hal ini. Bahan kimia yang bisa diserap oleh kulit biasanya hanya dalam jumlah kecil, sehingga kemungkinan tidak mencederai janin. Lain halnya jika bahan tersebut masuk ke dalam tubuh melalui mulut, maka kemungkinan mengganggu kesehatan janin akan besar. Boleh saja mewarnai rambut setelah melewati trimester pertama (masa kritis pembentukan organ bayi). Jika ada riwayat alergi terhadap cat rambut, sebaiknya jangan mengecat rambut karena ibu bisa terganggu kondisi fisiknya – apalagi jika sampai sakit karena akan memengaruhi asupan gizi dan perkembangan bayi.
Meski hingga hari ini saya bertahan nggak mewarnai rambut, sebenarnya bukan karena takut ada gangguan pada janin. Tapi lebih karena warna rambut kelihatan baik-baik saja dan uban juga hampir nggak ada. Prinsip saya, kalau nggak perlu-perlu amat lebih baik nggak usah dilakukan.

Myth or Fact 5: Jangan Pakai Skin Care dan Makeup
Nggak boleh pakai lipstik? Nggak boleh pakai eye cream? Apa kabar bibir kering dan kantong mata? Jadi selama 9 bulan mesti rela tampil kucel? Ada yang bilang ibu hamil akan jadi glowing dengan sendirinya, but I honestly don't buy this. Sebab ketika hamil muda dan kondisi badan sedang payah-payahnya, saya malas BUANGET bersih-bersih muka. Boro-boro ikut tren aplikasi 10+ skin care layers, pakai pembersih makeup saja nggak ada tenaga. Hasilnya? Muka kusam luar biasa. 
My verdict: Myth, but...
Penggunaan kosmetik bersifat topikal, atau hanya di permukaan kulit sehingga kemungkinan terserap dalam dosis yang sangat minim ke dalam tubuh. Tapi memang ada beberapa bahan yang harus dihindari seperti Retinoids (stay away from Retin-A atau Accutane, periksa krim anti aging kalau mengandung retinol sebaiknya distop), Tetracycline (yang pernah jerawatan pasti tahu obat Doxycycline), Salicylic Acid (bahan anti bakteri yang banyak terdapat di produk anti jerawat dan shampoo anti ketombe, nama lainnya adalah Beta Hydroxy Acids atau BHA), Hydroquinone (biasanya terdapat di produk pemutih / pencerah), serta satu geng bahan kimia yang biasa ada di cat kuku yaitu Phthalates, Toluene, dan Formaldehyde.
Karena takut jelek dan terlihat nggak happy, saya langsung cari-cari produk pembersih muka yang aman tapi praktis seperti tisu pembersih makeup dan micellar water supaya kalau sudah ngantuk berat dan malas bangun dari kasur bisa langsung srek-srek-srek tanpa air. Pelembab juga pilih yang praktis, ringan serta sudah tahu kualitas dan keamanannya. Lipstik mengandung timbal? Jangan dimakan lipstiknya hehehehe, dan jangan beli merek itu, cari merek lain. Penting untuk pastikan merek kosmetik yang kita gunakan aman dan terdaftar di BPOM RI, bukan merek atau buatan dokter gajebo.

Myth or Fact 6: Ngidam Harus Dituruti
Karena kondisi badan yang serba nggak karuan, mulai dari nggak doyan makan atau malah laperan terus, wanita hamil seringnya minta dibelikan makanan atau minuman yang serba tidak biasa. Konon katanya, kalau nggak dipenuhi nanti si anak bisa ileran terus dan gelisah.
My verdict: Myth.
I don't know about you, tapi kalau saya nggak pernah ada permintaan makan/minum yang aneh-aneh dan di jam-jam yang nggak biasa. Nggak enak makan makanan tertentu memang saya alami terutama ketika sedang heboh-hebohnya mual, nah pada saat ini memang kebayang-bayang makanan/minuman tertentu yang (sepertinya) nggak akan bikin mual. Untungnya, jaman sekarang sudah serba mudah - banyak abang ojek yang setia menanti order kita dengan hanya tap tap di aplikasi handphone daripada bikin susah suami yang sudah lelah kerja seharian. Lebih baik langsung pesan lewat abang ojek, nggak sampai satu jam biasanya sudah sampai. Bayi senang, ibu kenyang, ayah tenang, abang ojek pun gembira dapat order dan tip.

Myth or Fact 7: Jangan Ehem Dengan Suami
Nah, ini yang paling gong dan rada malu kalau bertanya ke dokter atau orang lain. Seringkali pasangan suami istri cemas mengenai hal ini, terutama di trimester awal kehamilan, karena banyak alasan seperti takut 'diintip' atau melukai si bayi, tiba-tiba kontraksi, pendarahan, hingga risiko keguguran.
My verdict: Myth.
Di trimester pertama, saya sempat ada kista berdiameter 5cm yang sepertinya balapan dengan pertumbuhan janin. Sempat parno dan coba periksa ke dokter lain, ternyata malah diwanti-wanti nggak boleh berhubungan sama sekali dan kami berdua malah tambah takut. Ketika balik ke dokter langganan, beliau menenangkan dan berkata bahwa kista itu perlu dimonitor saja, biasanya akan mengecil dan hilang seiring janin bertambah besar. Eventually, kista hilang dengan sendirinya di trimester kedua. Dokter bilang, nothing should be changed tapi pastikan nothing too extreme, senyamannya saja. Kalau ada gejala/riwayat kandungan kurang kuat, dokter memang menyarankan untuk berhati-hati sedikit. Masalah bayi bisa kepoin kita? Tenang saja, bayi aman karena dia punya 'dunia' sendiri, nggak akan ikut-ikut 'urusan' ayah ibunya.

Punten pisan kalau ada yang kurang atau malah lebay, maklum newbie di dunia emak-emak. Let's agree to disagree on some things, maybe? 
Intinya sih, harus pintar-pintar menilai kondisi diri sendiri dan selalu konsultasi dengan dokter yang dipercaya jika ada hal-hal yang diragukan. Nggak perlu tunggu kontrol bulanan untuk tanya-tanya pada dokter, biasanya para dokter masa kini secara sukarela memberikan nomor telepon supaya bisa dihubungi via SMS atau Whatsapp sehingga kita bisa tanya apa saja, kapan saja.
 
Images by Freepik