Thursday, March 2, 2017

The Diare Diary

WARNING. Baby poop pictures ahead. Turn back if you want to, you have been warned. 😀

I know. The title sounds weird, tapi beberapa waktu yang lalu kami sungguh intens bertarung melawan diare yang dialami Sid sejak masih berusia 4 bulan.

Diare pada bayi memang sulit untuk diidentifikasi, karena natur pup bayi yang memang cair. Bedanya, kalau bayi memang mengalami gangguan pencernaan pasti pup-nya akan bercampur mucus atau lendir. Tidak tampak? Well, harus dilihat dengan seksama setiap kali. Makanya saya selalu foto setiap kali Sid pup - now I have a fun collection of poop pictures on my phone jadi kalau mau lihat supaya bisa belajar tentang diare bayi, silakan japri hehehehe...

It was a fine Sunday afternoon in early November ketika saya sedang mengganti popok Sid setelah ia bermain dengan kakak-kakak sepupunya. Saya melihat ada titik-titik merah di antara lautan kecoklatan dan saya langsung panik. Kami pun segera ke UGD untuk mencari pertolongan, padahal kalau dilihat Sid tampak ceria dan baik-baik saja, berat badannya pun bagus. Di UGD dilakukan cek feses singkat dan hasilnya ada darah samar (occult blood) dan leukosit (pup normal leukosit 0). Dokter UGD hanya kasih Lacto-B dan kami diminta konsultasi dengan Dokter Spesialis Anak (DSA) di pagi hari.

Di Ruang Tunggu Dokter, With Iyang

Kami balik keesokan hari ke rumah sakit dan DSA bilang ada dua kemungkinan diare berdarah, yaitu infeksi bakteri atau alergi susu sapi (dari ASI ibu). Kami diminta cek feses lagi, dan ternyata leukosit makin meningkat sehingga DSA meresepkan antibiotik (saya lupa namanya) dan Lacto-B.

Diare Dengan Bintik Darah

Setelah minum antibiotik, pup Sid tampak normal selama kurang lebih satu minggu lalu tiba-tiba muncul darah dan lendir lagi. Saya sungguh cemas, karena saya lihat bayi kecil kami ini tetap ceria meski kenaikan berat badannya melambat dan stuck di sekitar 6.2 kilogram. Kami konsultasi lagi ke DSA, cek feses lagi,  dan kali ini dinyatakan alergi susu sapi sehingga ibu harus pantang konsumsi susu sapi dan produk turunannya. Bye bye martabak, cokelat, keju, pizza, biskuit-biskuit... Antibiotik sudah tidak perlu diberikan. Dua minggu berlalu, saya terus menerus di-PHP-in oleh pup-nya Sid - karena satu hari bagus, besok muncul darah dan lendir, eh lusa bagus lagi. Pusing kepala mamak. Mungkin karena Sid masih minum ASIP yang saya stock sebelum pantang dairy ketika saya kerja, jadi saya siapkan ASIP freshly-pumped tapi si BAB berdarah masih juga datang dan pergi silih berganti.

Akhirnya karena sudah sebulan nggak tuntas, kami memutuskan ke DSA sub-spesialis gastroenterologi di bulan Desember 2016. Ketika ditimbang, berat badan Sid naik sedikiiiit banget dan dalam hati saya mulai menghakimi diri sendiri karena nggak becus ngurus anak, rasanya langsung pingin resign besok. Sid diberikan antibiotik Flagyl karena dari tes feses sebelumnya masih ada leukosit yang cukup tinggi (di atas 5), lalu tes feses lengkap dan kultur feses untuk melihat apakah ada pertumbuhan bakteri. DSA ini mengultimatum, kalau dalam 3 hari masih ada bintik darah, mau nggak mau mesti rawat inap. Hati saya rasanya seperti dikremek-kremek...

Karena nggak membaik, saya harus merelakan bayi kecil usia 5 bulan ini untuk rawat inap dan dipasangi selang infus. Di rumah sakit, alhamdulillah si bayi tetap ceria padahal ibunya setiap malam nangis dan susah tidur (it's soooooo heartbreaking to see her little hand being connected to a machine with a needle). Selama di RS, Sid diberi Flagyl, Orezinc, Lacto-B dan infus metronidazole tambahan.

Stay Healthy, Baby!

Setelah 3 hari rawat inap, hasil kultur feses baru keluar (karena kultur memang harus 5-7 hari) dan ada temuan salmonella. What? Kaget banget, karena bakteri ini harusnya cuma ada di makanan atau sisa feses yang notabene jorok banget, saya benar-benar nggak paham bagaimana bayi saya bisa terpapar bakteri ini. Apparently, DSA bilang treatment-nya sudah tepat karena bakteri salmonella ini sensitif terhadap metronidazole. Begitu pulang dari rumah sakit, DSA wanti-wanti supaya semua peralatan bayi langsung disterilkan dengan air mendidih dan siapapun harus cuci tangan atau pakai disinfektan sebelum pegang Sid. Pemberian Orezinc dan Lacto-B lanjut sampai kira-kira 5 hari setelah keluar rumah sakit.

Sakit, But She Could Still Pull Off This Look

Siapa mengira jika tidak lama setelah rawat inap, tiba-tiba ada pup dengan bintik darah lagi. Saya langsung lemes, meski suami berusaha menenangkan. Setelah bertanya dengan adik ipar yang kebetulan sedang ambil spesialis anak, kami pun memutuskan pergi ke ahli gastroenterologi anak yang konon paling jago se-Indonesia yaitu Prof. Dr. dr. Agus Firmansyah, SpA(k). Beliau cuma praktek di RSCM Kencana (pagi, Senin dan Kamis) dan RSIA Hermina Bekasi (sore, Senin hingga Jumat). Karena sudah siang, kami terpaksa menyambangi beliau di RSIA Hermina Bekasi. Antrian ke Prof. Agus ini lumayan panjang, kami harus menunggu sekitar 3 jam lebih untuk bertemu beliau. Ketika diperiksa, Prof. Agus yang santai dan humoris ini langsung ngomelin saya...

"Masa bayi sekecil ini dikasih Flagyl?"

Menurut Prof. Agus, Sid hampir pasti mengalami alergi susu sapi yang menyerang saluran cerna dan menyebabkan diare berdarah. Mengapa demikian?

1. Tidak ada indikasi klinis si anak sakit, sebab anak bergerak aktif, ceria dan tidak rewel. Tidak demam dan masih mau menyusui dengan normal.
2. Infeksi bakteri salmonella sangat jarang terjadi, dan biasanya menyerang hanya pada kondisi lingkungan yang menurut Prof. Agus jorok buangeeeetttt.
3. Saya mengaku bahwa setelah bayi keluar dari rumah sakit, saya mulai konsumsi keju, biskuit, dan makanan lain yang mengandung susu sapi (meski belum berani untuk minum susu sapi).

Kami keluar dari ruangan Prof. Agus dengan (sedikit) lega. Beliau tidak memberikan obat atau suplemen apapun, not even Lacto-B. Saya disarankan untuk terus pantang susu sapi selama masih memberikan ASI dan diberikan tips untuk memulai MPASI dengan menghindari MPASI instan yang biasanya mengandung susu sapi.

Pesan dari Prof. Agus,
"Treat the child, not the lab result."
Maksudnya, kita harus cermat mengamati kondisi klinis anak kita. Jika anak demam, tampak lemas atau kesakitan, cenderung mengantuk atau menangis terus, tidak mau menyusu dan makan minum, nah itu saatnya kita waspada dan harus segera ke dokter atau rumah sakit. Sebaliknya, jika anak tidak demam, masih ceria dan tidak rewel, bergerak aktif, masih menyusui seperti biasa, nafsu makan normal, maka kita seharusnya bisa menangani diare di rumah, tanpa perlu tambahan antibiotik yang kurang baik bagi bayi. Kunci penanganan diare di rumah cukup sederhana tapi memang butuh ketelatenan ibu, yaitu cukupi asupan cairan (makan dan minum). Kalau makanan dan minuman biasa dirasa kurang, bisa diberikan oralit (saya pakai merek Pedialyte dan Dehidralyte).
Jangan lupa, tetap rawat bayi dan anak dengan penuh kasih sayang, tetap sabar dan tenang.

Nah, sabar dan tenang ini justru yang paling sulit dilakukan karena ibu-ibu kalau anaknya sakit kan rasanya sedih banget dan mau jedot-jedotin kepala ke tembok...

Semangat, mommies!

2 comments:

  1. Hi, saya punya bayi jg saat ini umur 3 bln. Kalau boleh tau, setelah berkonsuktasi dengan Prof Agus apakah Sid mulai membaik?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo mom. Setelah konsul dg Prof Agus, saya mulai lagi pantang makanan/minuman yg mengandung susu sapi dan ASI perahnya selalu fresh (perah hari ini utk diminum besok). Sid membaik dan nggak pernah diare berdarah lg smp skrg (ganti ke pilek dan batuk skrg problemnya).
      Menurut saya, penting utk cari second opinion ttg kondisi kesehatan anak dan jangan gampang kasih obat. Semoga baby sehat selalu ya...

      Delete

 
Images by Freepik