Monday, May 16, 2016

Pregnancy Myths Busted?

Don't jinx it, so they say...

Mungkin menurut beberapa orang, saya menulis blog ini seperti hendak mendahului kehendak Tuhan karena sudah seperti merayakan kelahiran si (calon) anak. What if begini, what if begitu? Jelas, saya juga nggak tahu. Jalan hidup memang bisa berubah dalam sekejap, hanya Tuhan Yang Maha Mengetahui. To be honest, saya sudah 'merayakan' kehadiran si calon anak ini pada saat dokter menemukan kantung janin di rahim saya. Saya tidak menunda menyiarkan kabar baik ini kepada keluarga, saudara, dan teman-teman meski konon katanya lebih baik menunggu sampai usia kandungan melewati 3 bulan. Mengapa? Karena saya sudah menunggu lama untuk dapat kebaikan ini, selain itu tidak mungkin merahasiakan gejala-gejala trimester pertama yang lumayan merepotkan. Tapi utamanya, saya ingin disemangati dan didoakan oleh orang lain. Takut dan cemas menghadapi rocky road ini membuat saya merasa butuh dukungan, terutama dari orangtua. Bos di kantor juga perlu tahu, supaya bisa maklum kalau saya mendadak work-from-home karena saat pagi badan serasa dikelitik ulekan semalaman.


So yes, this blog is another effort untuk mendapat support dari orang-orang sekitar saya. This digital trace is also a good keepsake, no matter where this journey will take us. Sama sekali bukan berniat melangkahi rencana-Nya.

Do this, don't do that...

Menjadi seorang wanita saja sudah beragam tantangannya, apalagi ketika hamil. Banyak sekali mitos turun temurun yang jadi dos and don'ts selama hamil. Ditambah perubahan fisik dan mental, mendadak hidup jadi terasa serba dibatasi. Memang semua anjuran maupun larangan itu bertujuan baik, supaya ibu dan jabang bayi sehat dan terlindungi selalu. Tetapi seringkali kita (saya, lebih tepatnya) sulit memilah mana yang benar-benar untuk alasan kesehatan dan keamanan ibu dan anak, dan mana yang sekedar ‘katanya, katanya’.

Jadi, mana yang mitos atau fakta? Saya coba tuliskan pengalaman yang paling 'kena' ke saya, dan diulas berdasarkan pengetahuan dan hasil konsultasi dengan dokter – dokter beneran, bukan cuma klik-klik Mbah Google. Setuju atau tidak, saya kembalikan ke pribadi masing-masing karena setiap orang punya kondisi badan, kebiasaan, dan cara pandang berbeda. Perlu diingat juga, tiap dokter mungkin punya opini masing-masing. 

Myth or Fact 1: Jangan Minum Obat
Seiring perubahan hormon, ibu hamil bisa merasakan berbagai macam gejala penyakit yang membuat kondisi badan super duper tidak nyaman. Meskipun banyak yang bilang minum obat adalah big no-no, tapi nggak sedikit juga yang beranggapan kalau konsumsi obat-obatan yang dijual bebas masih aman untuk ibu dan bayi, terutama untuk mengatasi keluhan sehari-hari seperti lelah, diare, pusing, dan mual.
My verdict: Fact.
Lebih tepatnya, jangan minum obat sembarangan. Memang ada obat tertentu yang masih aman diminum oleh ibu hamil dalam dosis dan jangka waktu tertentu, tapi ada juga yang tidak boleh sama sekali karena apa yang kita makan dan minum langsung berefek pada bayi. Saya sempat minum Panadol warna biru untuk redakan pusing - dokter tidak melarang asalkan coba diminum 1/2 kaplet dulu dan tidak boleh lebih dari 3 hari berturut-turut. Minum obat maag pun pernah karena mual muntah bikin nggak bisa tidur. Pastikan untuk konsultasi dengan dokter sebelum mengonsumsi obat maupun suplemen makanan yang dijual bebas. Cermati label di kemasan atau leaflet yang ada, seharusnya ada informasi atau peringatan untuk ibu hamil dan menyusui. Kalau badan mulai terasa kurang fit, daripada sibuk cari obat lebih baik istirahat dan minta pijitin suami dulu deh.

Myth or Fact 2: Jangan Makan Ini, Jangan Makan Itu
Nah, ini paling tricky karena berhubungan langsung dengan gizi ibu dan anak. Buanyaaakk pantangan makan mulai dari buah nanas (bisa menyebabkan keguguran), daging kambing (bikin bayi kepanasan), ikan lele (takut anaknya nggak bisa diam), seafood (banyak mengandung merkuri / limbah tercemar), makanan pedas (nanti anaknya botak), MSG (memengaruhi otak / kecerdasan bayi), air es atau es krim (bayi jadi besar dan susah 'keluar').
My verdict: Mostly myth.
Pantangan makan dari dokter saya hanya protein (daging, telur, keju, susu) yang tidak diolah / mentah / setengah matang dan minuman beralkohol, sisanya boleh dimakan asal tidak menimbulkan alergi dan dalam jumlah wajar. Makan nanas boleh setelah lewat trimester pertama dan harus pilih buah yang matang, tapi jangan dihabiskan satu bonggol sendirian per satu kali makan. Seafood, kalau nggak segar dan tempat pengolahannya kotor lebih baik hindari. Ikan yang tidak boleh dimakan adalah king mackerel, hiu, todak (swordfish) karena kadar merkurinya tinggi. Makan di restoran Jepang atau steak? Boleh juga, meski harus ekstra wanti-wanti ke server untuk minta dibuatkan yang matang. Begitu makanan datang, lihat dulu baik-baik apakah sudah matang. Kalau dirasa belum matang, minta dikembalikan ke dapur untuk dimatangkan atau kalau ragu-ragu lebih baik jangan dimakan. Intinya, harus berusaha makan sehat demi kepentingan si bayi.
Tapi saya masih rajin minum air kelapa hijau - konon katanya bisa menghilangkan racun, menjernihkan air ketuban, dan bikin kulit bayi bersih. Rasanya enak dan segar, mudah dibeli di pinggir jalan dengan harga murah, so why not?

Myth or Fact 3: Harus Makan Banyak
Ibu hamil harus makan banyak dan sering dengan porsi 2 orang sebab makanan harus dibagi ke jabang bayi. 
My verdict: Myth.
Sampai usia kehamilan sekitar 16 minggu, berat badan saya naik cuma 1 kg. Jangankan makan sering dan banyak, makan nasi sekali saja emoh. Masih susah makan karena all-day sickness dan pilih-pilih makanan. Setelah menginjak 20 minggu, saya mulai bisa makan enak dan mudah lapar. Berat badan langsung naik heboh sekitar 3 kg per bulan hingga total sudah naik sekitar 10kg per hari ini. Meski bayi dinyatakan sehat dengan berat badan cukup, dokter minta saya untuk jaga berat badan dengan olahraga dan atur pola makan, takut kebablasan. Makan berlebihan bisa menyulitkan ibu dan janin - ibu sulit bergerak aktif sehingga kurang fit dan mudah lelah, bayi pun bisa terlalu besar sehingga sulit lahiran normal.
Nggak perlu makan banyak, nggak perlu juga takut gendut. Lebih baik makan dalam porsi secukupnya dengan frekuensi teratur dan jangan lupa snacking. Saya biasanya jajan rujak buah (tanpa bumbu), ngemil kismis atau biskuit (Astor hehehe, sebab bosan kalau marie terus), dan minum air putih. Tapi seminggu sekali saya bisa makan 2 porsi mie ayam bakso pangsit sekaligus simply because I can't help it

Myth or Fact 4: Jangan Mewarnai Rambut
Beberapa bulan sebelum hamil, saya mewarnai rambut di salon langganan. Rencananya, setelah 2-3 bulan mau diwarnai lagi karena berambisi mirip J.Lo. Ketika tahu hamil jadi galau, mau cat rambut atau nggak karena rambut mulai meng-alay. Mas Herry (pemilik Salon Brunette kesayangan) bilang nggak boleh, padahal dia bisa saja mengiyakan demi pemasukan salonnya. Teman-teman yang sudah punya anak juga bilang jangan sampai kelar menyusui karena kalau zat kimia dari produk pewarna rambut bisa masuk ke dalam darah dan air susu. Padahal kalau di-googling, banyak situs yang menuliskan belum ada penelitian yang mengonfirmasi mengenai hal ini. 
My verdict: Not sure.
Zat kimia yang harus dihindari adalah ammonia, tapi saat ini sudah ada pewarna rambut bebas ammonia. Ada yang menyarankan pakai henna tapi berdasarkan pengalaman kerja di beauty company, henna kemasan nggak lebih baik dari cat rambut kotakan karena nggak benar-benar alami. Dokter saya bilang bahwa memang belum ada kesimpulan medis mengenai hal ini. Bahan kimia yang bisa diserap oleh kulit biasanya hanya dalam jumlah kecil, sehingga kemungkinan tidak mencederai janin. Lain halnya jika bahan tersebut masuk ke dalam tubuh melalui mulut, maka kemungkinan mengganggu kesehatan janin akan besar. Boleh saja mewarnai rambut setelah melewati trimester pertama (masa kritis pembentukan organ bayi). Jika ada riwayat alergi terhadap cat rambut, sebaiknya jangan mengecat rambut karena ibu bisa terganggu kondisi fisiknya – apalagi jika sampai sakit karena akan memengaruhi asupan gizi dan perkembangan bayi.
Meski hingga hari ini saya bertahan nggak mewarnai rambut, sebenarnya bukan karena takut ada gangguan pada janin. Tapi lebih karena warna rambut kelihatan baik-baik saja dan uban juga hampir nggak ada. Prinsip saya, kalau nggak perlu-perlu amat lebih baik nggak usah dilakukan.

Myth or Fact 5: Jangan Pakai Skin Care dan Makeup
Nggak boleh pakai lipstik? Nggak boleh pakai eye cream? Apa kabar bibir kering dan kantong mata? Jadi selama 9 bulan mesti rela tampil kucel? Ada yang bilang ibu hamil akan jadi glowing dengan sendirinya, but I honestly don't buy this. Sebab ketika hamil muda dan kondisi badan sedang payah-payahnya, saya malas BUANGET bersih-bersih muka. Boro-boro ikut tren aplikasi 10+ skin care layers, pakai pembersih makeup saja nggak ada tenaga. Hasilnya? Muka kusam luar biasa. 
My verdict: Myth, but...
Penggunaan kosmetik bersifat topikal, atau hanya di permukaan kulit sehingga kemungkinan terserap dalam dosis yang sangat minim ke dalam tubuh. Tapi memang ada beberapa bahan yang harus dihindari seperti Retinoids (stay away from Retin-A atau Accutane, periksa krim anti aging kalau mengandung retinol sebaiknya distop), Tetracycline (yang pernah jerawatan pasti tahu obat Doxycycline), Salicylic Acid (bahan anti bakteri yang banyak terdapat di produk anti jerawat dan shampoo anti ketombe, nama lainnya adalah Beta Hydroxy Acids atau BHA), Hydroquinone (biasanya terdapat di produk pemutih / pencerah), serta satu geng bahan kimia yang biasa ada di cat kuku yaitu Phthalates, Toluene, dan Formaldehyde.
Karena takut jelek dan terlihat nggak happy, saya langsung cari-cari produk pembersih muka yang aman tapi praktis seperti tisu pembersih makeup dan micellar water supaya kalau sudah ngantuk berat dan malas bangun dari kasur bisa langsung srek-srek-srek tanpa air. Pelembab juga pilih yang praktis, ringan serta sudah tahu kualitas dan keamanannya. Lipstik mengandung timbal? Jangan dimakan lipstiknya hehehehe, dan jangan beli merek itu, cari merek lain. Penting untuk pastikan merek kosmetik yang kita gunakan aman dan terdaftar di BPOM RI, bukan merek atau buatan dokter gajebo.

Myth or Fact 6: Ngidam Harus Dituruti
Karena kondisi badan yang serba nggak karuan, mulai dari nggak doyan makan atau malah laperan terus, wanita hamil seringnya minta dibelikan makanan atau minuman yang serba tidak biasa. Konon katanya, kalau nggak dipenuhi nanti si anak bisa ileran terus dan gelisah.
My verdict: Myth.
I don't know about you, tapi kalau saya nggak pernah ada permintaan makan/minum yang aneh-aneh dan di jam-jam yang nggak biasa. Nggak enak makan makanan tertentu memang saya alami terutama ketika sedang heboh-hebohnya mual, nah pada saat ini memang kebayang-bayang makanan/minuman tertentu yang (sepertinya) nggak akan bikin mual. Untungnya, jaman sekarang sudah serba mudah - banyak abang ojek yang setia menanti order kita dengan hanya tap tap di aplikasi handphone daripada bikin susah suami yang sudah lelah kerja seharian. Lebih baik langsung pesan lewat abang ojek, nggak sampai satu jam biasanya sudah sampai. Bayi senang, ibu kenyang, ayah tenang, abang ojek pun gembira dapat order dan tip.

Myth or Fact 7: Jangan Ehem Dengan Suami
Nah, ini yang paling gong dan rada malu kalau bertanya ke dokter atau orang lain. Seringkali pasangan suami istri cemas mengenai hal ini, terutama di trimester awal kehamilan, karena banyak alasan seperti takut 'diintip' atau melukai si bayi, tiba-tiba kontraksi, pendarahan, hingga risiko keguguran.
My verdict: Myth.
Di trimester pertama, saya sempat ada kista berdiameter 5cm yang sepertinya balapan dengan pertumbuhan janin. Sempat parno dan coba periksa ke dokter lain, ternyata malah diwanti-wanti nggak boleh berhubungan sama sekali dan kami berdua malah tambah takut. Ketika balik ke dokter langganan, beliau menenangkan dan berkata bahwa kista itu perlu dimonitor saja, biasanya akan mengecil dan hilang seiring janin bertambah besar. Eventually, kista hilang dengan sendirinya di trimester kedua. Dokter bilang, nothing should be changed tapi pastikan nothing too extreme, senyamannya saja. Kalau ada gejala/riwayat kandungan kurang kuat, dokter memang menyarankan untuk berhati-hati sedikit. Masalah bayi bisa kepoin kita? Tenang saja, bayi aman karena dia punya 'dunia' sendiri, nggak akan ikut-ikut 'urusan' ayah ibunya.

Punten pisan kalau ada yang kurang atau malah lebay, maklum newbie di dunia emak-emak. Let's agree to disagree on some things, maybe? 
Intinya sih, harus pintar-pintar menilai kondisi diri sendiri dan selalu konsultasi dengan dokter yang dipercaya jika ada hal-hal yang diragukan. Nggak perlu tunggu kontrol bulanan untuk tanya-tanya pada dokter, biasanya para dokter masa kini secara sukarela memberikan nomor telepon supaya bisa dihubungi via SMS atau Whatsapp sehingga kita bisa tanya apa saja, kapan saja.

No comments:

Post a Comment

 
Images by Freepik