Tuesday, September 20, 2016

The Hardest Early Weeks of A New Mom

Masa TTC selama 2 tahun yang penuh liku-liku? Checked.
Sembilan bulan kehamilan yang seru dan menyenangkan? Checked.
Persalinam normal selama 6 jam yang menegangkan? Checked.

Now it's time to face the real world of motherhood.

Apakah saya sudah siap? Ya, siap nggak siap tapi harus siap, kan bayinya sudah lahir. So I understood that the first weeks with baby would be hard, but what I didn’t know is... How hard?

Here are some things that we have to go through as new moms in the early weeks of baby's life.

1. You're in pain
Melahirkan, dengan cara atau gaya apapun - normal kah, gentle birth kah, water birth kah, atau operasi sectio caesarea, ujung-ujungnya cuma satu yang dirasakan oleh tubuh si ibu yaitu rasa sakit. Please say hello to the longest period you'll ever have alias nifas, belum lagi pegal-pegal dan kontraksi rahim yang sedang mengecil kembali. Apalagi kalau harus menjalani episiotomi seperti saya, sudah benar-benar paket komplit deh.
Nggak usah sok kuat karena sakit dan ketidaknyamanan setelah melahirkan tidak bisa kita hindari. Orang-orang terdekat kita pasti mengerti, kok. Jadi, nggak usah sungkan minta bantuan. Jangan lupa minta painkiller (terutama untuk yang menjalani c-sect) dan pencahar (serius, minta pencahar ini penting banget) sebelum pulang dari rumah sakit.

2. You will still look pregnant, or just fat, maybe
Sering kepoin akun Instagram Chrissy Teigen yang baru melahirkan 4 bulan lalu berdampak sangat buruk bagi saya. Mengapa? Well, Mbak Chrissy ini bikin saya berekspektasi langsung kurus ciamik setelah lahiran karena doski tampak sangat fab and fatless bahkan mungkin satu detik setelah melahirkan. Kenyataannya, saya struggling dengan berat badan yang masih 6-7 kg lebih berat dibandingkan sebelum hamil. Cuma mau kontrol 1 minggu ke dokter berbuah drama sesengrukan karena baju dan celana masih sempit. Pemakaian nursing bra juga mengurangi faktor estetika, if you know what I mean.
Jika kamu ikut geng Mbak Chrissy, berbahagialah. Jika tidak (seperti saya), bersabarlah, just embrace your mommy's body. Setelah 6 minggu, boleh mulai olahraga ringan dan mulai mengatur makan sehat. Nggak usah merasa rendah diri ketika berdiri di depan kaca dan nggak usah berambisi untuk langsing secara instan karena toh kita masih menyusui, yang pasti butuh nutrisi ekstra.

3. You're tired, reallyyyy tired
Yes! Finally si bayi tidur juga, saatnya ibu tarik selimut juga. Lalu tiba-tiba dia bangun dan menangis, padahal kalau lihat jam, baru berselang 1 jam sejak dia tidur. Indeed, sleep deprivation is another real challenge for me. Sakit kepala, flu dan batuk, pegal-pegal adalah beberapa "oleh-oleh" yang saya dapat dari kurang tidur. Efek lainnya? Jadi cranky, pelupa dan nggak fokus dengan hal lain kecuali mengurus kebutuhan si bayi.
It's true what they say; coba untuk tidur/istirahat ketika bayi tidur. Memang terasa hanya sebentar tapi lumayan untuk mengganti waktu tidur kita yang biasanya 6-8 jam. Again, jangan ragu untuk minta bantuan dari orang terdekat, misalnya untuk titip jaga si kecil selama kita menikmati pijatan dari si mbok pijit.

4. You're hormonal, like PMS-ing on steroid
Sering merasa tiba-tiba galau, cranky, atau bahagia banget ketika hamil? Percayalah, setelah melahirkan, your mood can change waaaay much faster - thanks to penurunan hormon progesteron yang drastis seiring lepasnya plasenta saat bersalin. Ketika sedang bersama bayi, perasaan haru, senang, bahagia, sedih bercampur jadi satu. Ditambah dengan kurang tidur dan rasa lelah, those emotions could be overwhelming, ini yang biasa disebut baby blues. Selama 2 minggu pertama, saya sering menangis tanpa sebab bahkan ketika Sid sedang tidur pulas. Nggak cuma itu, saya bisa juga tiba-tiba ngajak suami berantem karena saya menganggap dia cuek dan nggak mau bertanggung jawab atas anak yang sudah saya lahirkan (lebay buangettt ya). Menurut saya, semua emosi yang kita rasakan sebagai ibu baru adalah wajar. Tapi harus waspada karena baby blues bisa berubah jadi post-partum depression dimana si ibu menjadi sedih berlebihan, tidak mau mengurus bayi, bahkan bisa sampai membahayakan diri sendiri dan bayi. Maka dari itu, kita harus bisa mengendalikan diri dan minta support, terutama dari suami, agar bisa membantu kita tetap positif.

5. You're breastfeeding
Ketika hamil, saya sempat takut tidak bisa memberikan ASI. Karena sempat main-main ke beberapa forum wanita hamil dan di sana banyak yang bilang bahwa tanda-tanda ASI akan keluar sudah bisa dirasakan di trimester ketiga seperti PD bengkak, muncul cairan putih atau bening dari puting, tapi saya nggak merasa atau mendapat tanda-tanda itu. Maka dari itu, ketika suster datang membawa Sid untuk coba menyusui pertama kali, saya langsung tegang. Betapa bahagianya saya ketika ASI berhasil keluar, rasanya yaiyyy scored!
Tapi tunggu dulu, karena saya belum pernah latihan latching alias posisi menyusui yang benar, jadi setiap mau menyusui heboh bangettt atur posisi duduk dan gendong bayi. Sampai suami, ibu, dan kakak saya ikut bantu, riweuh pisan lah! Otomatis karena latching belum benar, datanglah cobaan bernama puting lecet. Si puting lecet ini biasanya datang dengan saudaranya, si PD bengkak yang nggak kalah sakit (karena lecet jadi takut nyusuin, hence, bengkak lah). Untungnya, di RSPI Puri Indah ada sesi breast care privat untuk ibu setelah bersalin. Ada 3 langkah untuk meredakan sakit PD agar pemberian ASI lancar; kompres dengan handuk hangat, pijat dengan baby oil, lalu bersihkan dengan air dingin/suhu ruangan. Sangat membantu! Di rumah, saya pakai lanolin balm untuk membantu menghilangkan lecet - saya pakai beberapa merek nursing balm yaitu Mothercare, Biolane, Medela Purelan.
Untuk latching, bisa Google-ing dan perhatikan gambar-gambar yang menunjukkan beberapa posisi latching yang benar. Kalau menurut saya, latching yang benar ini memang butuh sedikit latihan awalnya, tapi lama kelamaan ibu dan bayi akan "klik" dengan sendirinya. It comes naturally, I guess.


But all of those things are totally worth it, because I can finally enjoy being with her.

 
Images by Freepik