Friday, May 27, 2016

1, 2, 3, I Love You

To Baby,


Love,
Your mother.


Thursday, May 26, 2016

It's Shopping Time, Baby!

Salah satu mitos kehamilan yang masih saya ikuti adalah... Belanja keperluan bayi baru boleh dimulai saat masuk usia kehamilan 7 bulan. Alasannya pamali, (lagi-lagi) karena sebaiknya kita tidak mendahului kehendak Tuhan. Jika dilihat dari sisi medis, hal ini memang masuk akal karena di usia 7 bulan ini si bayi sudah bisa dinyatakan bersiap-siap untuk lahir. Indera dan organ bayi sudah terbentuk, dapat berfungsi dengan baik. Berat badan dan posisi tubuh bayi juga sudah mengarah ke arah 'jalan lahir' sehingga wajar kalau memasuki usia 28 minggu, ibu hamil diminta kontrol lebih sering ke dokter kandungan - setiap 2 minggu sekali.

Karena alasan medis (dan non-medis) tersebut, maka saya sabar banget menunggu. Padahal sejak sudah tahu jenis kelamin si calon anak, rasanya sudah ingin merencanakan ini itu dan membeli beberapa barang yang diperlukan (meski kadang batas 'perlu' dan 'ingin' itu sangatlah kabur). Ketika sekarang sudah boleh belanja, rasanya riang gembira bagaikan melayang di udara deh. Apalagi karena sejak hamil, malah jadi nggak semangat belanja - paling hanya belanja celana hamil dan baju dalam karena sudah nggak muat. Beli-beli makeup juga menurun drastis, almost zero. Cuma beli skin care yang masih agak semangat, dan jajan makanan tentunya.

Dan, pertanyaan selanjutnya sebagai seorang calon emak newbie adalah... Belanja apa saja? Di mana?

Paling mudah, tanyakan kepada ibu atau kakak perempuan yang sudah punya pengalaman berbelanja untuk bayi. Atau kepada teman / saudara yang sudah lebih dulu jadi mommies. Forum atau blog mengenai kehamilan juga bisa jadi alternatif yang baik untuk cari informasi, biasanya ada yang menuliskan langsung alamat toko dan harga perlengkapan sehingga kita bisa take note. Langsung datang ke toko perlengkapan? Boleh saja, karena cara ini juga salah satu yang saya jalani.

Sebenarnya saya nggak awam-awam banget dalam berbelanja perlengkapan dan perawatan bayi. Dulu ketika kakak saya hamil keponakan yang pertama, saya yang bertugas antar-antar belanja sehingga lumayan familiar dengan barang-barang bayi. Sayangnya, itu kan sudah lebih dari 10 tahun lalu dan pastinya sudah banyak yang berubah. Tadinya saya ingin ke ITC Fatmawati, ke Toko Bayi Kemenangan yang dulu rajin dikunjungi kakak saya. Tetapi mengingat pembangunan monorail yang heboh di daerah sana, saya pun urung dan langsung memutuskan berkunjung ke ITC Kuningan yang lebih dekat dari rumah.

Gosipnya, di ITC Kuningan ini juga banyak toko perlengkapan bayi dengan pilihan barang yang lengkap dan harga bersahabat. Salah satu toko yang paling direkomendasikan di forum / blog adalah Fany Baby Shop yang terletak di lantai 4 ITC Kuningan. Ternyata, oh, ternyata, toko ini punya beberapa lokasi di lantai yang sama. Ada toko Fany Baby Shop kecil, besar dan khusus peralatan besar seperti stroller dan car seat. Letaknya cukup berdekatan, jadi bisa menclok ke satu lokasi lalu ke lokasi lain dengan mudah. Toko ini ramai banget, tapi penjaga tokonya cukup banyak dan responsif sehingga kita nggak perlu menunggu lama untuk dilayani. Nggak heran kalau toko ini jadi favorit karena begitu duduk di muka toko, kita langsung diberikan secarik kertas berisi daftar belanja kebutuhan bayi. Ada sekitar 100 item, mulai dari kebutuhan primer bayi baru lahir (pakaian, popok, alat kesehatan) hingga mainan dan baby gear. Menolong banget untuk para mama baru.

Sempat lihat-lihat beberapa baju bayi di Fany Baby Shop ini, tapi kebanyakan bermotif warna-warni dengan merek Libby. Sedangkan saya cari baju polos, kalau bisa warna putih polos bermerek Jingle - dulu kakak saya pakai merek ini dan saya suka karena bahannya bagus. Akhirnya hanya beli perlak kain waterproof merek BabyBee (yang harganya 2x lebih mahal dari perlak karet biasa ukuran jumbo, thanks to mbak penjaga toko yang pandai merayu) dan bedong bayi katun. Sebenarnya masih mau lihat-lihat tapi toko ini tambah ramai, jadi kurang nyaman kalau banyak tanya ke si mbak dan ujung-ujungnya nggak jadi beli.

Kami putuskan untuk berkeliling lihat toko lain. Karena weekend, toko lain pun cukup sibuk. Kalau pun ada yang terlihat sepi, kemungkinan karena tokonya kurang lengkap dan pelayanannya kurang bagus (sayang, lupa catat nama tokonya). Akhirnya di pojok belakang dekat lift, kami menemukan toko bayi Happy Bear. Meski cukup besar, toko ini letaknya agak ngumpet sehingga nggak begitu ramai. Satu hal lagi yang menarik kami datang ke Happy Bear ini karena ada tulisan 'Terima Cuci Stroller'. Kami memang berniat untuk reuse kereta dorong dan kursi mobil milik keponakan yang kondisinya masih lumayan bagus, hanya perlu dicuci. Selain stroller, toko ini juga bisa cuci car seat dan bouncer. Saya juga sempat tanya apakah ada baju bayi polos selain merek Libby, rupanya mereka jual merek Fluffy. Saya lebih sreg dengan bahan baju Fluffy ini, lebih lembut, jahitan cukup rapi dan ada yang putih polos.

Belanja apa saja? Well, saya kasih daftar belanja dari Fany Baby Shop ini supaya memudahkan. List ini sangat membantu karena kita nggak perlu tulis-tulis lagi. Mungkin ada yang kita perlu dan tidak perlu, ada yang sudah punya atau belum punya, tinggal refer ke daftar belanja ini saja. Soal kualitas dan kuantitas perlengkapan dan peralatan bayi, saya selalu diingatkan ibu kalau perkembangan bayi itu pesat - seringkali kita nggak perlu barang dalam jumlah banyak dan harga yang mahal karena seringkali hanya dipakai sebentar. Untuk barang yang bisa dipakai lama, nggak ada salahnya kita beli yang berkualitas baik.

Happy Shopping!

Berikut ini shopping list edisi perdana beserta harganya.
1. Perlak kain waterproof merek BabyBee Rp 115,000
2. Bedong bayi katun isi 6 pcs Rp 160,000
3. Baju tangan panjang merek Fluffy ukuran newborn 6 pcs Rp 90,000
4. Baju tangan pendek merek Fluffy ukuran newborn 6 pcs Rp 80,000
5. Celana panjang tutup kaki merek Fluffy ukuran newborn 6 pcs Rp 90,000
6. Celana pop merek Fluffy ukuran newborn 6 pcs Rp 80,000
7. Sarung tangan dan sarung kaki merek Fluffy 4 set @ Rp 20,000
8. Waslap mandi merek Nary 5 buah @ Rp 20,000
9. Bantal bayi halus merek Picard Baby Rp 120,000
10. Baby bib 1 set isi 5 pcs merek Luvable Friends Rp 175,000 (beli di Lotte Shopping Avenue, diskon 50% jadi Rp 87,500)
11. Termometer Infra Red Touchless merek klaus Rp 350,000
12. Oral Care Rabbit Ears (semacam waslap pembersih mulut dan gigi) merek MAM Rp 100,000
13. Cuci stroller 2 buah Rp 200,000
14. Cuci car seat Rp 100,000
15. Cuci bouncer Rp 90,000 
16. Bak mandi bayi Puku Rp 285,000 (beli di Blibli.com dapat diskon 25% jadi sekitar Rp 213,000 - beda tipis dengan harga di ITC Kuningan sekitar Rp 250,000)
17. Fabric Bath Support Mothercare Rp 233,100 (beli di Lazada dapat diskon 10% dari harga toko, yang kirim langsung dari Mothercare)

Masih banyak edisi selanjutnya, of course! Masih penasaran mau berkunjung ke Suzanna Baby Shop dan Toko Bayi Kemenangan di weekend berikutnya. Dan yang paling bikin excited adalah... Belanja segala macam skin care bayi!

"When I shop, the world gets better, and the world is better, but then it's not, and I have to do it again." - Becky Bloomwood, Confessions of A Shopaholic 

Monday, May 23, 2016

The Waiting Game

Kadang kita harus menunggu,
dan hanya bisa menunggu. 

Diminta menunggu,

bersabar dulu,
mungkin karena kita selalu,
terburu waktu,
membuang detik menit berlalu.

Menunggu,

duduk saja dulu,
tidak usah tergesa dan terpacu,
hilangkan rasa kecewa itu,
besarkan hati yang sempat kecil sebegitu.

Menunggu,
berusaha dulu,
biarkan doa terus berlagu,
karena Sang Empunya Waktu,
Maha Punya Rencana kan, Bu?

Kadang kita harus menunggu,

dan tak ada yang salah dengan itu.

Teruntuk anak dari suamiku, yang masih rencana Tuhan.
Ibu tunggu ya, Nak.

Originally posted in my other blog.

Monday, May 16, 2016

Pregnancy Myths Busted?

Don't jinx it, so they say...

Mungkin menurut beberapa orang, saya menulis blog ini seperti hendak mendahului kehendak Tuhan karena sudah seperti merayakan kelahiran si (calon) anak. What if begini, what if begitu? Jelas, saya juga nggak tahu. Jalan hidup memang bisa berubah dalam sekejap, hanya Tuhan Yang Maha Mengetahui. To be honest, saya sudah 'merayakan' kehadiran si calon anak ini pada saat dokter menemukan kantung janin di rahim saya. Saya tidak menunda menyiarkan kabar baik ini kepada keluarga, saudara, dan teman-teman meski konon katanya lebih baik menunggu sampai usia kandungan melewati 3 bulan. Mengapa? Karena saya sudah menunggu lama untuk dapat kebaikan ini, selain itu tidak mungkin merahasiakan gejala-gejala trimester pertama yang lumayan merepotkan. Tapi utamanya, saya ingin disemangati dan didoakan oleh orang lain. Takut dan cemas menghadapi rocky road ini membuat saya merasa butuh dukungan, terutama dari orangtua. Bos di kantor juga perlu tahu, supaya bisa maklum kalau saya mendadak work-from-home karena saat pagi badan serasa dikelitik ulekan semalaman.


So yes, this blog is another effort untuk mendapat support dari orang-orang sekitar saya. This digital trace is also a good keepsake, no matter where this journey will take us. Sama sekali bukan berniat melangkahi rencana-Nya.

Do this, don't do that...

Menjadi seorang wanita saja sudah beragam tantangannya, apalagi ketika hamil. Banyak sekali mitos turun temurun yang jadi dos and don'ts selama hamil. Ditambah perubahan fisik dan mental, mendadak hidup jadi terasa serba dibatasi. Memang semua anjuran maupun larangan itu bertujuan baik, supaya ibu dan jabang bayi sehat dan terlindungi selalu. Tetapi seringkali kita (saya, lebih tepatnya) sulit memilah mana yang benar-benar untuk alasan kesehatan dan keamanan ibu dan anak, dan mana yang sekedar ‘katanya, katanya’.

Jadi, mana yang mitos atau fakta? Saya coba tuliskan pengalaman yang paling 'kena' ke saya, dan diulas berdasarkan pengetahuan dan hasil konsultasi dengan dokter – dokter beneran, bukan cuma klik-klik Mbah Google. Setuju atau tidak, saya kembalikan ke pribadi masing-masing karena setiap orang punya kondisi badan, kebiasaan, dan cara pandang berbeda. Perlu diingat juga, tiap dokter mungkin punya opini masing-masing. 

Myth or Fact 1: Jangan Minum Obat
Seiring perubahan hormon, ibu hamil bisa merasakan berbagai macam gejala penyakit yang membuat kondisi badan super duper tidak nyaman. Meskipun banyak yang bilang minum obat adalah big no-no, tapi nggak sedikit juga yang beranggapan kalau konsumsi obat-obatan yang dijual bebas masih aman untuk ibu dan bayi, terutama untuk mengatasi keluhan sehari-hari seperti lelah, diare, pusing, dan mual.
My verdict: Fact.
Lebih tepatnya, jangan minum obat sembarangan. Memang ada obat tertentu yang masih aman diminum oleh ibu hamil dalam dosis dan jangka waktu tertentu, tapi ada juga yang tidak boleh sama sekali karena apa yang kita makan dan minum langsung berefek pada bayi. Saya sempat minum Panadol warna biru untuk redakan pusing - dokter tidak melarang asalkan coba diminum 1/2 kaplet dulu dan tidak boleh lebih dari 3 hari berturut-turut. Minum obat maag pun pernah karena mual muntah bikin nggak bisa tidur. Pastikan untuk konsultasi dengan dokter sebelum mengonsumsi obat maupun suplemen makanan yang dijual bebas. Cermati label di kemasan atau leaflet yang ada, seharusnya ada informasi atau peringatan untuk ibu hamil dan menyusui. Kalau badan mulai terasa kurang fit, daripada sibuk cari obat lebih baik istirahat dan minta pijitin suami dulu deh.

Myth or Fact 2: Jangan Makan Ini, Jangan Makan Itu
Nah, ini paling tricky karena berhubungan langsung dengan gizi ibu dan anak. Buanyaaakk pantangan makan mulai dari buah nanas (bisa menyebabkan keguguran), daging kambing (bikin bayi kepanasan), ikan lele (takut anaknya nggak bisa diam), seafood (banyak mengandung merkuri / limbah tercemar), makanan pedas (nanti anaknya botak), MSG (memengaruhi otak / kecerdasan bayi), air es atau es krim (bayi jadi besar dan susah 'keluar').
My verdict: Mostly myth.
Pantangan makan dari dokter saya hanya protein (daging, telur, keju, susu) yang tidak diolah / mentah / setengah matang dan minuman beralkohol, sisanya boleh dimakan asal tidak menimbulkan alergi dan dalam jumlah wajar. Makan nanas boleh setelah lewat trimester pertama dan harus pilih buah yang matang, tapi jangan dihabiskan satu bonggol sendirian per satu kali makan. Seafood, kalau nggak segar dan tempat pengolahannya kotor lebih baik hindari. Ikan yang tidak boleh dimakan adalah king mackerel, hiu, todak (swordfish) karena kadar merkurinya tinggi. Makan di restoran Jepang atau steak? Boleh juga, meski harus ekstra wanti-wanti ke server untuk minta dibuatkan yang matang. Begitu makanan datang, lihat dulu baik-baik apakah sudah matang. Kalau dirasa belum matang, minta dikembalikan ke dapur untuk dimatangkan atau kalau ragu-ragu lebih baik jangan dimakan. Intinya, harus berusaha makan sehat demi kepentingan si bayi.
Tapi saya masih rajin minum air kelapa hijau - konon katanya bisa menghilangkan racun, menjernihkan air ketuban, dan bikin kulit bayi bersih. Rasanya enak dan segar, mudah dibeli di pinggir jalan dengan harga murah, so why not?

Myth or Fact 3: Harus Makan Banyak
Ibu hamil harus makan banyak dan sering dengan porsi 2 orang sebab makanan harus dibagi ke jabang bayi. 
My verdict: Myth.
Sampai usia kehamilan sekitar 16 minggu, berat badan saya naik cuma 1 kg. Jangankan makan sering dan banyak, makan nasi sekali saja emoh. Masih susah makan karena all-day sickness dan pilih-pilih makanan. Setelah menginjak 20 minggu, saya mulai bisa makan enak dan mudah lapar. Berat badan langsung naik heboh sekitar 3 kg per bulan hingga total sudah naik sekitar 10kg per hari ini. Meski bayi dinyatakan sehat dengan berat badan cukup, dokter minta saya untuk jaga berat badan dengan olahraga dan atur pola makan, takut kebablasan. Makan berlebihan bisa menyulitkan ibu dan janin - ibu sulit bergerak aktif sehingga kurang fit dan mudah lelah, bayi pun bisa terlalu besar sehingga sulit lahiran normal.
Nggak perlu makan banyak, nggak perlu juga takut gendut. Lebih baik makan dalam porsi secukupnya dengan frekuensi teratur dan jangan lupa snacking. Saya biasanya jajan rujak buah (tanpa bumbu), ngemil kismis atau biskuit (Astor hehehe, sebab bosan kalau marie terus), dan minum air putih. Tapi seminggu sekali saya bisa makan 2 porsi mie ayam bakso pangsit sekaligus simply because I can't help it

Myth or Fact 4: Jangan Mewarnai Rambut
Beberapa bulan sebelum hamil, saya mewarnai rambut di salon langganan. Rencananya, setelah 2-3 bulan mau diwarnai lagi karena berambisi mirip J.Lo. Ketika tahu hamil jadi galau, mau cat rambut atau nggak karena rambut mulai meng-alay. Mas Herry (pemilik Salon Brunette kesayangan) bilang nggak boleh, padahal dia bisa saja mengiyakan demi pemasukan salonnya. Teman-teman yang sudah punya anak juga bilang jangan sampai kelar menyusui karena kalau zat kimia dari produk pewarna rambut bisa masuk ke dalam darah dan air susu. Padahal kalau di-googling, banyak situs yang menuliskan belum ada penelitian yang mengonfirmasi mengenai hal ini. 
My verdict: Not sure.
Zat kimia yang harus dihindari adalah ammonia, tapi saat ini sudah ada pewarna rambut bebas ammonia. Ada yang menyarankan pakai henna tapi berdasarkan pengalaman kerja di beauty company, henna kemasan nggak lebih baik dari cat rambut kotakan karena nggak benar-benar alami. Dokter saya bilang bahwa memang belum ada kesimpulan medis mengenai hal ini. Bahan kimia yang bisa diserap oleh kulit biasanya hanya dalam jumlah kecil, sehingga kemungkinan tidak mencederai janin. Lain halnya jika bahan tersebut masuk ke dalam tubuh melalui mulut, maka kemungkinan mengganggu kesehatan janin akan besar. Boleh saja mewarnai rambut setelah melewati trimester pertama (masa kritis pembentukan organ bayi). Jika ada riwayat alergi terhadap cat rambut, sebaiknya jangan mengecat rambut karena ibu bisa terganggu kondisi fisiknya – apalagi jika sampai sakit karena akan memengaruhi asupan gizi dan perkembangan bayi.
Meski hingga hari ini saya bertahan nggak mewarnai rambut, sebenarnya bukan karena takut ada gangguan pada janin. Tapi lebih karena warna rambut kelihatan baik-baik saja dan uban juga hampir nggak ada. Prinsip saya, kalau nggak perlu-perlu amat lebih baik nggak usah dilakukan.

Myth or Fact 5: Jangan Pakai Skin Care dan Makeup
Nggak boleh pakai lipstik? Nggak boleh pakai eye cream? Apa kabar bibir kering dan kantong mata? Jadi selama 9 bulan mesti rela tampil kucel? Ada yang bilang ibu hamil akan jadi glowing dengan sendirinya, but I honestly don't buy this. Sebab ketika hamil muda dan kondisi badan sedang payah-payahnya, saya malas BUANGET bersih-bersih muka. Boro-boro ikut tren aplikasi 10+ skin care layers, pakai pembersih makeup saja nggak ada tenaga. Hasilnya? Muka kusam luar biasa. 
My verdict: Myth, but...
Penggunaan kosmetik bersifat topikal, atau hanya di permukaan kulit sehingga kemungkinan terserap dalam dosis yang sangat minim ke dalam tubuh. Tapi memang ada beberapa bahan yang harus dihindari seperti Retinoids (stay away from Retin-A atau Accutane, periksa krim anti aging kalau mengandung retinol sebaiknya distop), Tetracycline (yang pernah jerawatan pasti tahu obat Doxycycline), Salicylic Acid (bahan anti bakteri yang banyak terdapat di produk anti jerawat dan shampoo anti ketombe, nama lainnya adalah Beta Hydroxy Acids atau BHA), Hydroquinone (biasanya terdapat di produk pemutih / pencerah), serta satu geng bahan kimia yang biasa ada di cat kuku yaitu Phthalates, Toluene, dan Formaldehyde.
Karena takut jelek dan terlihat nggak happy, saya langsung cari-cari produk pembersih muka yang aman tapi praktis seperti tisu pembersih makeup dan micellar water supaya kalau sudah ngantuk berat dan malas bangun dari kasur bisa langsung srek-srek-srek tanpa air. Pelembab juga pilih yang praktis, ringan serta sudah tahu kualitas dan keamanannya. Lipstik mengandung timbal? Jangan dimakan lipstiknya hehehehe, dan jangan beli merek itu, cari merek lain. Penting untuk pastikan merek kosmetik yang kita gunakan aman dan terdaftar di BPOM RI, bukan merek atau buatan dokter gajebo.

Myth or Fact 6: Ngidam Harus Dituruti
Karena kondisi badan yang serba nggak karuan, mulai dari nggak doyan makan atau malah laperan terus, wanita hamil seringnya minta dibelikan makanan atau minuman yang serba tidak biasa. Konon katanya, kalau nggak dipenuhi nanti si anak bisa ileran terus dan gelisah.
My verdict: Myth.
I don't know about you, tapi kalau saya nggak pernah ada permintaan makan/minum yang aneh-aneh dan di jam-jam yang nggak biasa. Nggak enak makan makanan tertentu memang saya alami terutama ketika sedang heboh-hebohnya mual, nah pada saat ini memang kebayang-bayang makanan/minuman tertentu yang (sepertinya) nggak akan bikin mual. Untungnya, jaman sekarang sudah serba mudah - banyak abang ojek yang setia menanti order kita dengan hanya tap tap di aplikasi handphone daripada bikin susah suami yang sudah lelah kerja seharian. Lebih baik langsung pesan lewat abang ojek, nggak sampai satu jam biasanya sudah sampai. Bayi senang, ibu kenyang, ayah tenang, abang ojek pun gembira dapat order dan tip.

Myth or Fact 7: Jangan Ehem Dengan Suami
Nah, ini yang paling gong dan rada malu kalau bertanya ke dokter atau orang lain. Seringkali pasangan suami istri cemas mengenai hal ini, terutama di trimester awal kehamilan, karena banyak alasan seperti takut 'diintip' atau melukai si bayi, tiba-tiba kontraksi, pendarahan, hingga risiko keguguran.
My verdict: Myth.
Di trimester pertama, saya sempat ada kista berdiameter 5cm yang sepertinya balapan dengan pertumbuhan janin. Sempat parno dan coba periksa ke dokter lain, ternyata malah diwanti-wanti nggak boleh berhubungan sama sekali dan kami berdua malah tambah takut. Ketika balik ke dokter langganan, beliau menenangkan dan berkata bahwa kista itu perlu dimonitor saja, biasanya akan mengecil dan hilang seiring janin bertambah besar. Eventually, kista hilang dengan sendirinya di trimester kedua. Dokter bilang, nothing should be changed tapi pastikan nothing too extreme, senyamannya saja. Kalau ada gejala/riwayat kandungan kurang kuat, dokter memang menyarankan untuk berhati-hati sedikit. Masalah bayi bisa kepoin kita? Tenang saja, bayi aman karena dia punya 'dunia' sendiri, nggak akan ikut-ikut 'urusan' ayah ibunya.

Punten pisan kalau ada yang kurang atau malah lebay, maklum newbie di dunia emak-emak. Let's agree to disagree on some things, maybe? 
Intinya sih, harus pintar-pintar menilai kondisi diri sendiri dan selalu konsultasi dengan dokter yang dipercaya jika ada hal-hal yang diragukan. Nggak perlu tunggu kontrol bulanan untuk tanya-tanya pada dokter, biasanya para dokter masa kini secara sukarela memberikan nomor telepon supaya bisa dihubungi via SMS atau Whatsapp sehingga kita bisa tanya apa saja, kapan saja.

Friday, May 13, 2016

Postpartum Beauty Wishlist

Lahiran saja belum, tapi sudah berani bikin wishlist.
Nggak apa-apa, ya. Di luar negeri saja sebelum 7 bulan sudah boleh daftar gift registry di sejumlah retailer besar supaya orang lain bisa tahu mau kasih kado apa pas lahiran, hehehehe...

This list is more beauty-related, terutama berkaitan dengan beauty regime dan skin care. Dunno why, sekarang lebih terobsesi dengan perawatan kulit (tubuh dan wajah) dibandingkan dengan makeup. I think this Lil Bud doesn't share the same obsession with her mother towards makeup products. Kalau baca-baca di femaledaily.com banyak yang sharing mengenai betapa susahnya ngilangin stretch mark pasca melahirkan, Hingga hari ini untungnya belum menjumpai stretch mark akibat kehamilan, but hey, it ain't over til it's over, mungkin si stretch mark masih ngumpet jadi lebih baik siap-siap. Selama kehamilan juga hanya ke salon seperlunya, mostly untuk hair treatment biasa (pakai masker, pijat-pijat) dan gunting kuku (yes, but I'm struggling to even cut my toe nails on my own). Jadi setelah melahirkan, ingin pampering di salon.

So let's go on with the wishlist!

1. Clarins Tonic Body Treatment Oil
The #1 Selling Body Oil from Clarins
Banyak review mengenai produk ini, dari blogger lokal maupun luar negeri, yang kalau dibaca bikin tambah ngidam. Jadi holy grail untuk urusan firming dan memperbaiki elastisitas kulit. Bisa dipakai di beragam area tubuh seperti lengan, perut dan paha, diikuti dengan gerakan memijat. Katanya, wanginya enaaaaaaak...
From the web:
Clarins’ #1 selling body oil - with 100% pure plant extracts including Rosemary, Geranium and Mint - helps firm, tone and improve elasticity, reducing the appearance of stretch marks resulting from pregnancy. Hazelnut Oil softens, smooths and hydrates by locking in moisture. Aromatic natural botanicals promote an overall feeling of well-being. Preservative-free.

2. Clarins Extra-Firming Body Cream
Lift, Tone and Comfort
Setelah pakai Treatment Oil, bisa dilanjutkan dengan produk ini supaya kulit lebih terasa lembab dan satiny smooth. Tekstur krim ini lumayan rich tapi tidak lengket, mudah meresap. Tidak hanya untuk setelah melahirkan, banyak juga wanita mature yang memakai produk ini untuk menjaga kemudaan kulit tubuh.
From the web:
Firming every body will love! Soothing cream - with an anti-wrinkle blend of Lemon Thyme, Centella and Bocoa extracts - helps improve skin’s natural elasticity for a sleeker, chicer silhouette. Firms, tones and promotes youthful-looking contours for younger looking skin.

3. Blow+Bar VaVaVoom Permanent Blowout
That VaVaVoom Hair
Sebenarnya sudah ingin melakukan treatment ini sebelum tahu hamil, tapi entah kenapa masih belum terlaksana karena sebelum hamil kan sibuk TTC pas akhir pekan. Untuk mendapatkan servis permanent blowout ini katanya diperlukan waktu sekitar 4 jam untuk trimming, perming dan deep conditioning treatment sebagai finishing touch-nya. Hasilnya bisa bertahan selama kurang lebih 3-6 bulan.
From the web:
The blowout that lasts and lasts. The Permanent Blowout is designed for women who want effortlessly chic and natural curls and waves that requires minimal styling everyday. You can choose from 10 Signature Permanent Blowout Looks.


4. Martha Tilaar Salon Day Spa Body Contouring Package
Nothing Beats A Good Massage
Sejak perut mulai gendut, otomatis nggak pernah lagi dipijat seluruh badan. Paling hanya pijat kaki atau pijat tangan. Padahal punggung rasanya nggak nyaman setiap bangun pagi atau ketika kelamaan duduk di kantor. Pingiiiiiin berbaring telungkup dan pijat punggung yang lama. Nah, si paket ini memang cocok untuk yang ingin pijat dengan menggunakan firming treatment. Nggak cuma perawatan tubuh, tapi ekstra perawatan rambut juga. Komplit!

5. Any Cardio Activity, Please
Nggak terlalu suka ke gym jadi nggak ingin daftar gym membership. Sebelum hamil juga cuma suka berenang, lari pagi dan 100x jumping jacks di rumah so any cardio will doI just need these jelly legs to go away, that's it.

Friday, May 6, 2016

#FlashbackFriday: Childhood Memories

Hello, Baby.

I miss writing to you! It's just that your mother hasn't been feeling too well lately - I think I must get a little exhausted now that you're getting bigger and my body needs a bit of adjustment to keep up with your development. But no worry, I've been eating lots nowadays to ensure you're packing more pounds and getting the nutrition you need. Not to forget my daily dose of milk (and ice cream, you know, this is strictly for calcium intake).

Today I want to share you stories about childhood. It is definitely one of the happiest time of one's life, filled with playfulness, enjoyment, and loving memories. Your father and I were once small and very cute, too. Of course, each of us have our own personal memories to treasure but those memories all come down to one thing; we were happy and loved.

We Were Once Babies, Too

Your father was born in early October, he is the eldest of three children. Just take a look at his chubby cheeks, he gave your grandmother quite a hard time during labor due to his weight. One of his most cherished childhood memories is, well, spending time studying. His parents put a high importance on education and took on this matter seriously. Once they took a family road trip to Semarang and his father would stop along the way whenever he saw a chance for his children to learn something. He took them to see rice fields and observe the working farmers, or dropped by a pottery-making house. His parents' efforts were totally worth it; he was always on top of the class and successfully got into one of the nation's finest university. Since he was a boy, he grew fond of cars and football and video games. He once had an emergency visit to the doctor because he got so stiff, had trouble moving as he spent hours and hours sitting in front of the computer, playing games. I won't let this happen to you, promise.

Four months after your father was born, I came into the world. My parents named me after the word 'lucky' because I was considered as an unexpected blessing. My sister and brother were already in elementary school when I suddenly popped up among them. Lucky, I easily became the apple in the eye in my family. My childhood was superb! I wouldn't say that I was spoiled, but my mom and dad really knew how to make me have a good time. I enjoyed riding bikes (you can tell from the numerous scar marks on my legs), climbing on trees (until one day the tree fell, I landed on a dirty gutter and received stitches on my behind), playing with animals (I had dozen of cats, two bunnies, and 17 hamsters, I loved them all). My mom and dad loved to treat their children with books - my mom used to read me to sleep and my dad bought me new books whenever I got good grades. Despite being occupied with work, my dad always made time to take us for a short holiday. My mom was obsessed on dressing me up; she even made me clothes identical to my Barbie doll (you will inherit a closet full of Barbies, guaranteed).

Our Loving Parents
So, later you will meet our parents - your grandparents. They are the ones responsible for creating those exciting memories and experience that molded us, their immense love enabled us to become the persons we are today. They have raised us to be humble, to be kind, to put family as top priority. I believe they will love you as much as we do, ready to give their all for you to be happy and loved, exactly like what they have been doing for us all these years. Respect them, love them.

I must say that childhood plays a very important role in a person's future life. I wish it will be the happiest for you, for every child, because you deserve it. I want you to grow up and carry around the loving memories of the people who love you. May our abundant love inspire you to be the best version of yourself and able to do good for others.

Love,
Your mother.

Sunday, May 1, 2016

What A Big Nose You Have

Hello, Baby.

We just had our 4D screening last Thursday. Your father and I were so excited!
We met with dr. A. Budi Marjono in RSPI Puri Indah. He was very nice and took his time to talk us through the screening process. He was also quite detailed and made sure to complete all steps - he even waited patiently for you to flip around to look at your brain's development. The 4D screening itself is advised to be done during the 26 to 30 weeks of pregnancy. It is not mandatory, but it is more for physiological assessment- to check the baby’s growth, the position of placenta and its appearance, the amount of amniotic fluid, the development of the heart, belly, kidneys and bladder, along with the gender if we wish to know (note to other mommies-to-be: if you want the gender of the baby to be a surprise, do let your doctor know in advance).

We're so glad that we had done the screening. It was so much more than seeing images of your cute face. We got to find out that you're doing all well in the womb; your stubby fingers, your heartbeat, your brain, your lungs, your round tummy. You were kicking, punching, twirling and thumping. You were so lively, the doctor happily told us that. You were also very camera-ready so we got pretty good images of your face. I think you have your father's nose as it looks quite big, mine is quite tiny. Great to know that you're growing healthily - every measurement seemed to be on track with your age.

Working On My Punches Here, Mom!

Now that you're almost hitting the 1 kg mark, I want you to stay happy and healthy there. Hope to meet you in the next 90-ish days!

Love,
Your mother.

Update 23/06/2016
Biaya USG 4D di RSPI Puri Indah Rp 1,000,000 belum termasuk biaya konsultasi dokter spesialis sebesar Rp 325,000. Sepertinya biaya ini lumayan standar untuk tindakan USG 4D, dan sayang sekali nggak diganti asuransi kantor Pak Suami.

TTC: The Good, The Bad and The Ugly

This one is not for baby, but for every woman who is going, or has gone through the process of trying to conceive a child. Semoga kalian merasa 'Saya Tidak Sendirian Menghadapi Ini'. Percayalah, you are not alone.

Di negara ini memang susah mendapatkan privasi, jangankan untuk urusan rumah tangga, urusan agama dan kepercayaan saja bisa sedemikian vulgar dan setiap hari kita bisa lihat diumbar dengan mudahnya di social mediaKepo is the name of the game.

Ketika baru bergandengan tangan, langsung ditanya kapan sebar undangan? Ketika baru menikah, langsung ditanyakan mau punya anak berapa? Kalau mau membayari biaya pernikahan dan biaya sekolah anak sih, monggo loh... Tapi kalau nggak, ya nggak perlu kepo karena jodoh dan anak sepenuhnya wewenang Tuhan. Repotnya kalau orang yang ditanya merasa tersinggung, justru si penanya malah bingung mengapa ada orang yang sebegitu sensitif, toh pertanyaan semacam itu biasanya keluar secara spontan atau cenderung basa-basi.

Nah, balik lagi ke poin dimana jodoh dan anak itu takdir Tuhan. Ada yang dimudahkan, ada juga yang diminta bersabar menunggu. Nggak ada yang salah, namanya juga kehidupan - tetap harus dijalani. Untungnya, saya diminta bersabar untuk menunggu keduanya - jodoh dan anak. Jodoh nggak perlu dibahas ya, karena panjang berliku-liku macam Tersanjung 1-7. Saya mau cerita mengenai proses sebelum akhirnya berhasil mendapat calon anak ini.

Proses mempersiapkan diri untuk kehamilan biasa dikenal dengan istilah promil (program kehamilan) atau di luar negeri disebut TTC, singkatan dari Trying-to-Conceive. Di tulisan ini saya pakai istilah TTC ya, bukan karena mau sok kebule-bulean tapi lebih ke maknanya - menurut saya kata 'trying' ini lebih dekat dengan istilah ikhtiar. Ikhtiar ini artinya lebih dari sekedar berusaha, tapi merupakan konsep dan proses menyelesaikan masalah dengan berupaya memilih jalan yang terbaik. Saat kita berikhtiar, maka cara berpikir dan bertindak kita pun diperbaiki supaya bisa menuju ke jalan tersebut.

We realized that something needed to be checked ketika merayakan hari jadi perkawinan yang pertama. Pertanyaan semacam:
"Kok belum isi?"
"Kapan nih nyusul kasih cucu?"
"Gemukan ya, tapi belum hamil?"
"Sudah lama kan nikahnya?"
"Udah umur segitu lho, gak takut telat?"
Sudah pasti sliweran ketika kumpul keluarga, kumpul tetangga, kumpul teman sekolah, kuliah, atau kantor, begitulah. Seolah-olah my uterus had become a problem for the society. Tapi, keinginan untuk punya anak dan umur yang semakin bertambah mendorong kami untuk segera memeriksakan diri ke dokter.

Here's our TTC milestone.
September 2014 - Cek fisik suami istri di RSIA Evasari, karena suami terindikasi teratozoospermia lalu kami memutuskan untuk menemui androlog.
Oktober 2014 - Konsultasi dengan androlog di RSIA YPK Mandiri, diberikan terapi obat untuk suami dan diminta cek fisik setelah 2 minggu. Cek fisik setelah 2 minggu, hasilnya baik. Androlog menyarankan untuk mencoba konsepsi natural selama 1 siklus.
November 2014 - Nothing happened dan memutuskan untuk kembali ke androlog. Cek fisik suami bagus, lalu dirujuk ke obgyn untuk cek fisik istri.
Desember 2014 - Konsultasi dengan obgyn di RS YPK Mandiri, dijelaskan di awal bahwa infertilitas bisa disebabkan oleh 40% faktor suami, 40% istri, 10% karena keduanya, dan 10% tidak bisa dijelaskan karena sepenuhnya kehendak Tuhan. Great, at least the doctor was honest dan meminta kami untuk bersiap menghadapi berbagai macam kemungkinan. Karena faktor suami sudah dicek oleh androlog, maka obgyn menyarankan untuk cek fisik istri dengan cek darah komplit dan HSG. Hasil keduanya baik. Oh ya, 1-2 hari setelah pemeriksaan HSG lumayan sakit. Siap-siap bedrest dan sediakan satu strip Ponstan karena perut terasa melilit dan susah jalan. Well, jangankan jalan, tiduran saja sakit. So, make sure Ponstan and a glass of water are on your bedside table.
Januari 2015 - Jumpa lagi dengan obgyn. Beliau bilang hasil cek fisik suami istri baik, kemungkinan ada problem dengan imunologi reproduksi dimana terdapat reaksi penolakan dari tubuh istri yang menghambat proses konsepsi. Langsung dirujuk ke laboratorium untuk tes ASA (antisperm antibody) dengan metode HSAaT (Husband's Sperm Auto-agglutination Test). Hasilnya? Nilai ASA tinggi, yaitu 1:16384. Padahal nilai ASA normal adalah 1:64, artinya kami harus 'loncat' 8 tingkat untuk menormalkan nilai ASA. Kami diminta androlog untuk menjalani terapi PLI.
Februari 2015 - Memulai terapi PLI untuk menurunkan nilai ASA. Karena RSIA YPK Mandiri tidak melayani terapi PLI, maka kami menjalani terapi di RSIA Sayyidah. Seluk beluk PLI mungkin bisa dibahas di posting lain ya, karena suka dukanya pun banyak.
April 2015 - Sudah menjalani 3x sesi PLI, saatnya tes ASA lagi. Hasilnya, nilai ASA sudah turun 3 tingkat ke 1:2048. Disarankan mengikuti 3x sesi PLI lagi.
Juni 2015 - Memutuskan untuk berhenti kerja supaya bisa istirahat dan fokus TTC. Selesai 3x sesi PLI tahap kedua dan dinyatakan lulus. Nilai ASA sudah normal di level 1:64. Disarankan kembali ke obgyn untuk tahap promil selanjutnya.
Juli 2015 - Kembali duduk manis di RSIA YPK Mandiri. Obgyn berikan opsi untuk coba 2 siklus dengan bantuan terapi obat, jika belum berhasil juga maka bisa dipertimbangkan untuk menjalani IUI atau inseminasi buatan. Langsung dibekali obat ini itu.
Agustus 2015 - Sudah 2 siklus dibantu terapi obat, belum berhasil hamil juga. Mulai bingung dan sering sedih.
September 2015 - Mencoba cari second opinion ke obgyn lain, pergilah kami ke Klinik Daya Medika. Konon di sini berkumpul para obgyn RSCM yang jago di bidang reproduksi dan IVF. Tapi sedihnya, malah 'divonis' hormon kurang bagus dan umur sudah 'lanjut' sehingga kecil kemungkinan untuk bisa konsepsi natural, harus dibantu dengan IVF. Nangis bombay sepulang dari klinik ini yang bikin suami marah berat (pada obgyn di klinik) dan memaksa kembali ke RSIA YPK Mandiri untuk lanjutkan promil. Di RSIA YPK Mandiri, langsung bilang bahwa kami ingin IUI.
Oktober 2015 - Di awal bulan, siap menjalani proses IUI. Bolak-balik ke dokter dalam seminggu untuk suntik pembesar telur dan akhirnya datang juga hari untuk IUI. Tegang dan takut. Trying so hard to stay hopeful. Setelah 2 weeks wait, dinyatakan IUI belum berhasil. Seminggu kemudian, si tubuh ini pun mengonfirmasi. Felt really awful. Memutuskan untuk berhenti TTC completely dan menunggu hingga tahun depan untuk (kemungkinan) menjalani IVF.
Desember 2015 - Found out that I was 5 weeks preggo.

So, let me recap the ups and down of the journey below.

The Good
Menjadi orang yang lebih sabar dan mencoba terus bersyukur, berusaha meningkatkan ibadah. Didoakan dan disemangati oleh keluarga, sanak saudara, dan teman.
Hubungan dengan suami menjadi lebih baik karena banyak menghabiskan waktu berdua - pastinya bisa traveling berdua kemana saja tanpa repot, bisa saling belajar memahami dan memberikan support. Banyak belajar hal-hal baru, terutama tentang kondisi medis yang dihadapi dan berempati dengan pengalaman orang lain.

The Bad
Every day is a rollercoaster ride. Sangat mudah lelah, both emotionally and physically - terutama karena pengaruh obat-obatan yang diberikan saat TTC yang memengaruhi hormon dan kondisi tubuh. Karena kondisi tubuh nggak nyaman, otomatis emosi pun seringkali nggak stabil. Berantem dengan pasangan, malas kerja, uring-uringan, mendadak sedih lalu nangis - terutama kalau lagi antri dokter, di saat orang lain kontrol hamil atau imunisasi anak. Pelampiasannya? Kalau saya sih jadi makan melulu, tiap hari maunya jajan Chatime daripada pusing.

The Ugly
Harus merelakan waktu untuk bolak-balik ke dokter, hampir setiap akhir pekan bangun pagi dan menghabiskan setengah hari di rumah sakit. Pasrah juga membiarkan tubuh diperiksa, disuntik, diambil darah, hingga mengikuti proses inseminasi yang sungguh tidak nyaman. Tidak cuma istri, tapi suami juga harus ikhlas dan bersedia menjalani proses TTC. Berdasarkan cerita beberapa teman, para suami seringkali menolak untuk memeriksakan diri - jadi, komitmen kedua belah pihak itu penting.
TTC is also financially challenging; pengobatan medis maupun alternatif yang dijalani secara rutin tentu butuh biaya yang tidak sedikit. Kami mungkin termasuk beruntung karena masih bisa menyisihkan penghasilan untuk proses TTC ini. For some others, this is a real big deal.

Untuk teman-teman yang masih berjuang, tetap semangat! Yakin bahwa Tuhan sudah merencanakan dan akan memberikan jalan terbaik bagi kita. Saya sangat percaya bahwa jalan terbaik mungkin bukanlah jalan yang paling mudah, mungkin juga bukan jalan yang paling sulit kita lalui. Tetapi di ujung jalan yang terbaik itu pasti kita menemukan apa yang Tuhan sudah persiapkan untuk kita dan membekali kita dengan kemampuan untuk menghadapinya - apapun itu.

Bon courage!
 
Images by Freepik