Thursday, December 22, 2016

Menjadi Ibu

There's a story behind everything. But behind all your stories is always your mother’s, because hers is where yours begin.
[Mitch Albom]
Hari Ibu kali ini terasa berbeda. Mengapa? Karena ini adalah pertama kalinya saya merayakan Hari Ibu dengan menjadi seorang ibu.

Bahagia? Banget.

Saya tahu bahwa kehadiran anak akan mengubah banyak hal dalam hidup, mulai dari gaya hidup, pola makan, bentuk fisik, jam tidur, nggak bisa nonton bioskop, mandi harus buru-buru (loh jadi curhat ini...) dan banyak hal lainnya. Tapi saya sungguh tidak menyangka bahwa secara personality saya pun berubah. Misalnya, dulu saya sering ngambek dengan mood swing yang lumayan parah dan tak tentu arah, nggak bakal sembuh kecuali disogok aneka cemilan yang saya suka oleh suami. Kini, saya jadi lebih kalem dan tenang menghadapi berbagai hal, seperti saat macet di jalanan, mobil yang saya kendarai disenggol motor, menghadapi beban pekerjaan, dan lainnya - stay calm and composed. Sepertinya sekarang jatah panik, riweuh dan nangis-nangis heboh hanya terpakai kalau anak sakit.
  
Tidak hanya itu, ada satu hal terbaik yang saya rasakan sejak menjadi ibu - saya jadi lebih dekat dengan Mama. Saya sungguh berterima kasih kepada Mama karena saya memang memercayakan Sid untuk dijaga dan dirawat oleh Mama selama saya bekerja. Beliau, dengan ikhlas dan tanpa mengeluh, bersedia untuk menggantikan peran saya sebagai ibu selama sekitar 11 jam, 5 hari dalam seminggu. Meski ada seorang mbak di rumah yang sigap membantu, Mama tetap berkomitmen untuk turun tangan sendiri mengurus Sid, kecuali saat ada kegiatan di luar rumah seperti mengaji - itu pun hanya sekitar 2 jam di hari Senin dan Kamis.

Saya ingat dulu, kami sering berselisih paham dan ujung-ujungnya entah saya atau Mama yang ngambek. Sekarang, hampir tidak pernah. Kalau pun ada perbedaan pendapat, saya berusaha meredam diri dan melembutkan kata-kata supaya beliau tidak tersinggung. Terutama jika ada hal-hal yang berkaitan dengan merawat Sid yang saya kurang setuju, saya biasanya menyampaikan dengan hati-hati, dengan pilihan kata yang baik. Sekarang ini, kalau sudah hampir-hampir mau berantem dengan Mama, saya langsung mundur teratur dengan cantik, ambil air wudhu (shalat bikin adem) atau ambil cemilan manis-manis (sibuk ngunyah jadi batal ngambek).

Ada satu kejadian yang paling membuat saya terhanyut, mengharu biru, menye-menye. Ketika itu saya sempat sakit, kurang tidur dan workload sedang unyu-unyunya di kantor. Sambil memijat ringan punggung saya, Mama berkata,
"Jadi ibu itu harus kuat, nggak boleh sakit. Kalau ibu sakit, seluruh keluarga bisa-bisa nggak ada yang ngurusin."
Saya langsung terhenyak mendengarnya. Betapa "receh" dan remeh sakit saya ini, sungguh tidak dapat dibandingkan dengan apa yang Mama telah lakukan untuk saya, untuk anak saya, untuk keluarga kami. She runs the house, she provides our food, she takes care of my baby, she caters for her husband, she manages to do all those things every single day. How does she do that?
"Itu namanya kekuatan seorang ibu..."
Benar, jangan pernah underestimate kekuatan seorang wanita yang telah menjadi ibu.
Hanya seorang ibu yang bisa menyulap rasa sakit setelah melahirkan menjadi tawa bahagia saat pertama kali melihat bayinya.
Hanya seorang ibu yang tahu bagaimana caranya tetap fokus meeting di pagi hari meski semalaman terjaga karena bayinya sedang sakit.
Hanya seorang ibu yang mampu menggendong anaknya selama berjam-jam meski berat badan anak kian bertambah dari hari ke hari.
Hanya seorang ibu yang selalu berharap Tuhan bisa memindahkan rasa sakit di tubuh si anak ke tubuhnya sendiri.
Hanya seorang ibu yang bisa mendahulukan keperluan anak dan keluarganya, lebih dari ia mendahulukan kepentingan dirinya.

Setelah menjadi ibu, saya jadi tahu. Kalau menjadi ibu ternyata bukan hanya sekedar punya anak, ngurus anak, ngasih makan, ngasih susu. Tanggung jawab, kedewasaan, dan kekuatan harus juga dimiliki oleh seorang ibu. Harus bisa membuang ego jauh-jauh, menjaga harmoni keluarga.

My First. My Last. My Everything!

Selamat Hari Ibu, Mama. Terima kasih sudah menunjukkan kepada saya, cinta yang luar biasa, tanpa kenal pamrih, tanpa batas waktu. Tidak akan bisa saya balas dengan cara apapun juga. Sebagai anak, saya hanya bisa berdoa kepada Tuhan, semoga Mama senantiasa ditetapkan dalam Iman dan Islam, diberikan berkah kesehatan dan kebahagiaan lahir batin. Izinkan saya menyayangimu setiap hari, memelukmu tanpa bosan, mendoakanmu tanpa putus.

Every day should be a Mother's day, your day.
Because that's exactly how I'm going to love you.
Every single day.

Tuesday, December 6, 2016

Pride and Prejudice

No, this is not about my obsession with Mr. Darcy. I'm still obsessed, though, but probably I would share about it in another post.

Beberapa hari setelah melahirkan Sid, saya tergerak untuk membuat satu keputusan yang terbilang life-changing bagi kehidupan saya. Yes, I decided to cover up, atau bahasa trendinya mah berhijab.
Meski banyak yang menyambut gembira, ada juga beberapa orang yang sangat terkejut karena hampir tidak percaya saya bisa memutuskan untuk berubah secepat ini. No wonderI might not appear as the goody two-shoes girl, or I did not give out that much of a religious vibe. Tak mengapa, memang sedari dulu saya beranggapan bahwa hubungan saya dengan Tuhan sangat tidak perlu ditunjukkan maupun dibuktikan kepada orang lain. Kalau saya dinilai saleh, saya tidak merasa bangga (yaaa memang nggak sih, jadi nggak bangga hehehehe...). Pun kalau dibilang tidak taat, saya tidak perlu membela diri. It's something very personal between My Creator and I. Keputusan ini pun bukan tiba-tiba, kemarin-kemarin saya hanya menunggu datangnya si kemantapan hati sambil terus berusaha memperbaiki diri (paling susah nahanin supaya nggak ngomongin orang lain).

Nah, itu dulu. Lantas sekarang saya memutuskan untuk memakai atribut yang menunjukkan identitas keagamaan. Apakah saya sudah siap dengan segala manfaat dan risikonya, terutama yang berkaitan dengan kehidupan sosial? Let's see...



New Look! Pardon The Bird Tho...
Di hari kedua saya kembali bekerja di kantor, tidak ada perubahan berarti dalam kegiatan sehari-hari yang saya rasakan. Hal yang kurang menyenangkan dan agak merepotkan menurut saya hanya saat memakai headset di kantor untuk mendengarkan musik, nggak bisa lagi seenaknya buka-pasang karena pasti menggeser ciput yang saya pakai. Lainnya? Sama saja, tidak ada perubahan. Malah semakin menyenangkan karena saya punya koleksi baju kantor (lama tapi) baru dan bisa mix and match sesuka hati dengan kerudung warna-warni. Reaksi teman-teman di kantor juga bermacam-macam, kebanyakan kaget dan beberapa tampak indifferent. Hanya ada segelintir orang yang bilang saya lebih bagus nggak pakai jilbab karena beragam alasan seperti:
"Sayang, rambut lo kan bagus."
"Pipinya jadi tembem banget!"
"Muka lo nggak cocok gitu... Kayak bukan lo."
"Kayak anak baik-baik banget!"
Nevermind. Komentar semacam itu saya tidak ambil pusing karena fisik dan penampilan masih bisa ditambal sulam. Lagipula, sejak persalinan otomatis fisik saya berubah karena baby weight masih sisa 5-6 kg (yang sepertinya malah kian bertambah, bukan berkurang) dan kantong mata serba heboh akibat kurang tidur.

Ada satu hal yang saya notice berbeda sejak saya memakai kerudung; tawaran pekerjaan di LinkedIn berkurang drastis. Sebelum saya mengganti display picture dengan tampilan baru saya, dalam 1 minggu selalu saja ada yang menghubungi via LinkedIn untuk sharing new opportunity. Lumayan laris manis, meski belum tentu berjodoh. Tetapi pengalaman terakhir ini membuat saya bertafakur.

Begini ceritanya...

Pernah ada seorang pegawai HR sebuah perusahaan yang menghubungi melalui LinkedIn sebelum saya mengganti foto profil, dia begitu semangat menelepon dan mengirimkan e-mail meski saya sudah bilang saya masih maternity leave. Ia bilang, "Nggak masalah, bos saya mau menunggu sampai Ibu siap bekerja kembali. Sekarang Ibu bisa mulai interview dulu." Tapi begitu saya bilang sekarang saya sudah pakai hijab, dia langsung memutus kontak tanpa ba-bi-bu. No thank-you note or saying regretfully sorry, only silent rejection.

Kesal? Nggak. Aneh? Lumayan. Padahal di negara dengan 80% populasi muslim ini seharusnya wanita berhijab adalah sesuatu yang lumrah dan sangat umum dijumpai. Jadi, mengapa ketika saya bilang saya menggunakan atribut penutup kepala lalu kesempatan saya untuk mendapat pekerjaan yang lebih baik, hilang begitu saja? Sekedar sharing, di perusahaan tempat saya bekerja dulu - yang mayoritas karyawannya adalah wanita, dan produknya memang ditujukan untuk mempercantik wanita, jelas berkeberatan dengan karyawan lini depan (yang memasarkan produk) yang memakai hijab. Saya lihat setiap hari, beberapa karyawan wanita langsung membuka penutup kepalanya dan menata rambut begitu tiba di kantor. Ketika jam pulang kantor, mereka kembali memakai kerudung. Saat itu saya belum memakai hijab, tapi sebagai orang yang sangat menghargai keragaman dan kebebasan beragama, jujur saya merasa sedih. Mereka rela melakukan itu demi pekerjaan, demi mendapat penghasilan, demi bertahan hidup. Ternyata, sekarang saya merasakan hal yang kurang-lebih serupa.

Di satu sisi saya merasa ada kebanggaan (pride) terhadap diri saya sendiri karena berani memutuskan untuk cover up seperti sekarang. Tetapi, perlukah saya merasa bahwa ada prejudice mengenai tampilan baru saya ini dalam dunia sosial, khususnya dunia kerja? Meski tidak ada yang berbeda dari diri saya; kemampuan kerja saya sama, lingkar otak saya juga tidak berkurang karena ditutup kerudung (saya tidak ikut-ikutan mengganti helm dengan penutup kepala lainnya, if you know what I mean). Apakah saya dilihat sebagai orang yang memiliki banyak batasan, atau banyak keterbatasan? Apakah saya jadi tidak presentable di depan publik saat launching produk, padahal produk itu untuk wanita Indonesia yang mayoritas satu keyakinan dengan saya? Apakah saya jadi terlihat kuno, tidak modern?  Apakah kepribadian saya tidak lagi outgoing? Apakah saya jadi tidak ambisius, enggan bekerja keras, tidak bisa meet the deadline? Apakah Bahasa Inggris saya jadi acak-acakan karena saya (tampak seperti) mengikuti budaya Arab? Apakah ini berarti karir saya sudah mentok, saya tidak bisa jadi director dengan tampilan seperti ini?

Saya tidak tahu pasti jawaban semua itu, kalau saya terus bertanya nanti saya malah menambah berat dosa karena berprasangka buruk (which I already did by writing them here). Saya hanya tahu pasti, ternyata tidak semudah itu juga menjadi mayoritas di negara ini, let alone being a minority - pasti lebih sulit lagi. Saya berharap lama kelamaan makin banyak orang yang menghargai kemajemukan negara ini, bukan malah menginginkan hal yang serba seragam bagi semua - yang seringkali memaksa sebagian orang bertindak represif terhadap orang yang tidak sependapat. Semoga kesempatan memperbaiki diri dan memperbaiki kehidupan bisa diraih oleh siapa saja, tanpa memandang embel-embel fisik dan keyakinan. Semoga lebih banyak yang menyadari bahwa lebih penting untuk menghargai orang lain dan melakukan kebaikan, bukan saling pointing fingers dan berlomba menjadi mayoritas supaya bisa "menang". 



You may say I'm a dreamer, but I'm not the only one...

P.S. Tulisan ini nggak usah dikaitkan dengan isu Pilkada DKI Jakarta ya. Tujuannya berbeda kokbeneran deh

Tuesday, November 29, 2016

Breastpump Review: Medela Swing

Sebagai seorang working mom yang masih diberi kesempatan berharga untuk memberikan ASI, tentu peralatan tempur saya yang paling utama adalah breastpump alias pompa ASI. Betapa beruntungnya kita saat ini karena sudah mudah sekali untuk memerah dan menyimpan ASI untuk diberikan kepada bayi ketika kita sedang tidak bersama dia di rumah. Mau pompa ASI manual ataupun elektrik, semua serba ada - tinggal menyesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan kita.

Lebih berbahagia lagi jika kita bekerja di kantor yang busui-friendly dan menyediakan ruang khusus untuk menyusui/memompa ASI. Di tempat saya bekerja tidak ada ruang khusus untuk ibu menyusui sehingga saya biasa memompa di mushola wanita, atau di sample room (ruang kosong untuk simpan produk sample) di dalam kantor. Sebenarnya lebih nyaman untuk memompa di sample room karena ada kursi dan meja lengkap sehingga saya bisa duduk dan menaruh peralatan di meja, tapi sayangnya kalau kantor sedang ramai (banyak lawan jenis lalu lalang) saya kurang nyaman keluar masuk ke sample room untuk menunaikan kewajiban ASIP saya. Habis, sepertinya obvious banget saya masuk ke ruang itu untuk "beraktivitas". Jadilah saya lebih sering melakukan pompa-memompa di mushola wanita, meski harus duduk bersila dan tidak bisa bersandar punggung.

Selama hampir 2 bulan kembali bekerja dan menjalani aktivitas breast-pumping ini, saya baru ngeh kalau pompa ASI yang cocok itu penting buangeeeeeet karena berkaitan dengan kenyamanan penggunaan serta bisa memberikan hasil yang maksimal. Selama 2 minggu pertama, saya bertahan hanya dengan menggunakan pompa single Medela Swing. Lama kelamaan saya nggak betah juga karena sesi pumping bisa memakan waktu hampir satu jam sampai beres kedua PD - nggak enak juga kelamaan kabur dari meja, meskipun Pak Bos pasti mengerti mengapa saya kerap kabur-kaburan.

Akhirnya saya mulai cari-cari review pompa ASI di blog dan forum online. Setelah baca-baca beberapa hari, saya putuskan untuk membeli pompa ASI baru yang bisa memompa kedua PD sekaligus supaya mempersingkat waktu pumping. Pilihan saya jatuh pada Spectra 9+, pompa ASI elektrik double pump yang dilengkapi dengan baterai yang bisa di-charge sehingga pompa ini bisa dipakai dimana saja tanpa harus tersambung dengan kontak listrik.

Nah, karena sudah punya dua buah pompa ASI yang berbeda maka saya sudah bisa membandingkan dan siap untuk me-review. Saya mulai dengan pompa ASI pertama saya, let's go!

Medela Swing

Medela punya dua jenis breastpump dengan nama Swing, yaitu Swing dan Swing Maxi. Keduanya punya bentuk motor pompa yang sama tapi corong yang berbeda; Swing untuk single pump dan Swing Maxi untuk double pump. Karena saya beli pompa ini pas dua hari setelah melahirkan tanpa melalui riset dan ceki-ceki yang memadai (dulu santai banget, kirain pas cuti belum butuh pompa), maka saya kurang paham bedanya single dan double selain dari corong dan price tag pastinya. Medela Swing ini saya beli di Babyzania.com dengan harga sekitar Rp 1,8 juta diantar pakai Go-Jek sehingga bisa tiba di hari yang sama.
Penampakan Medela Swing Siap Dipakai
Picture taken from Medela Official Site

Menurut saya, Medela Swing ini cukup ringkas, ringan dan gampang dibawa kemana-mana. Tapi karena sumber daya utamanya adalah adaptor yang perlu dicolok listrik, maka supaya bisa dipakai dimana saja, kapan saja, perlu dimasukkan baterai AA sebanyak 4 buah - saya pakai baterai lithium Energizer supaya tahan lebih lama dan daya isapnya tetap kuat, kalau hanya baterai AA biasa rasanya akan cepat habis. Keunggulan Medela Swing lainnya menurut saya adalah desain tiap komponen yang praktis; mudah dilepas, mudah dipasang, mudah dibersihkan serta mudah disimpan tanpa makan banyak tempat di tas.

Parts Medela Swing
Picture taken from Hello Baby Blog

Berikut penjelasan tiap part-nya.
1. Motor Unit, untuk memulai sesi pumping tinggal tekan tombol bergambar lingkaran lalu pompa akan langsung mulai 2 menit sesi massage dan berganti otomatis ke sesi expression yang bisa di-adjust kekuatannya dengan menekan tombol plus minus.
2. Connector / Valve Head, bagian ini merupakan terminal yang akan menggabungkan selang, valve membrane, dan corong.
3. Botol Penampung ASI, ukuran 150mL. Bisa langsung disambungkan dengan nipple ketika bayi ingin minum. Leher botol slim, bisa pakai nipple Medela Calma tapi saya nggak pakai karena Sid nggak suka, instead saya pakai Pigeon dan ukurannya pas sehingga botol bisa dipakai bergantian.
4. Breastshield / Corong PD, bagian ini menempel langsung dengan PD ibu. Di unit standar pembelian, diberikan corong ukuran M berdiameter 24mm, ukuran lain juga tersedia dan bisa dibeli terpisah di online shop yang menjual sparepart Medela.
5. Valve Membrane, hati-hati ketika mencuci bagian ini karena membrane (warna putih) ukurannya kecil dan mudah lepas.
6. Tubing / Selang, menghubungkan bagian motor unit dengan botol dan connector.

What I Love About Medela Swing?
- Praktis, ringkas, mudah.
- Karena setiap parts bisa dilepas maka pencucian lebih mudah dan lebih bersih.
- Materi plastik setiap komponennya terlihat lebih bagus, sturdy dan tidak mudah rusak. Yang terlihat fragile hanya bagian membrane berwarna putih yang memang harus diganti secara berkala.
- Suara tidak begitu berisik, masih bisa diredam kalau ditutup kain atau bantal.
- Portable, bisa dipakai dimana saja dengan menggunakan baterai.
- Nyaman, pijatan dan suction terasa lembut dan nggak bikin sakit (saya biasa pakai level 5-6).
- Warna kuning unyu.

What I Don't Like About Medela Swing?
- Mahal, dengan harga Rp 1,8 juta cuma dapat single pump.
- Lamaaaaaa... Karena single pump dan daya isapnya terbilang lembut, jadi untuk memompa kedua PD baru bisa selesai dalam waktu 30-40 menit.
- Tidak ada indikator waktu sehingga kalau pumping harus pasang timer di smartphone supaya nggak kebablasan.
- Fase massage hanya ada di awal dan cuma 2 menit. Setelah pindah ke fase expression, harus dimatikan dulu kalau mau balik ke fase massage.
- Masih open system, artinya ASI bisa masuk ke dalam selang, bahkan ke dalam motor unit karena tidak ada penghalang.
- Harus ganti baterai lithium sekitar 1-1.5 bulan sekali. Baterai lithium harganya sekitar Rp 70 ribu per 2 buah, sehingga sekali ganti baterai sekirar Rp 140 ribu.
- Harus siap-siap baterai cadangan yang selalu dibawa karena nggak ada indikator pemakaian baterai.
- Harga sparepart terbilang lebih mahal dibandingkan merek pompa lain.

In summary, Medela Swing ini bisa dikatakan sebagai pompa ASI premium. Kualitas baik, pemakaian sangat nyaman dan mudah karena pompa ini well-designed sehingga mudah dibuka-pasang serta mudah dibersihkan. Hanya saja, Medela Swing ini kurang cocok bagi ibu bekerja yang harus curi-curi waktu di kantor untuk bolak-balik pumping demi memerah liquid gold yang sangat berarti untuk si kecil. Mungkin lebih cocok untuk digunakan di rumah, karena saya biasa pakai untuk pumping saat Sid selesai menyusui untuk mengosongkan PD atau ketika saya bangun pagi hari. Karena kebutuhan saya di kantor, maka saya memutuskan untuk cari breastpump lain tetapi Medela Swing ini akan saya simpan, atau mau dijual saja (kalau laku) lalu beli Spectra S1 deh (loooooh, masih mau beli pompa lagiiii?).

Saturday, November 5, 2016

Keyakinanku, Keyakinanmu

Saya pernah menjalin rasa dengan seseorang yang berbeda keyakinan. Apakah itu nista?

Karena ia baik. Ia tidak pernah melarang saya beribadah, malah sabar menyuruh dan menunggu saya sholat, dan ketika saya berpuasa ia menemani hingga tiba waktu berbuka. Saya pun tidak pernah mencampuri ketika ia harus pergi di hari Minggu. Semua terasa biasa.

Kami bahagia.
Untuk beberapa saat...

Singkat cerita, kami mulai merasa ada hal yang mengganjal. Justru rasa ini muncul ketika kami semakin dekat, ingin naik tingkat.  Saya ingin memiliki, saya ingin menarik dia menyeberang ke lain sisi, saya ingin dia untuk meyakini apa yang saya yakini, untuk beribadah dengan cara saya beribadah. Saya mulai belajar dan belajar lagi, gali-gali kitab suci, tanya sana sini. Bahkan cari informasi dari forum yang sangat tidak terpuji, penuh dengan benci dan bahasa yang keji (sepertinya sekarang sudah di-banned as it was a truly savage site), dimana umat yang berseberangan saling serang dengan nada-nada berang. Semua saya lakukan untuk memohon, memaksa dia supaya ikut kepercayaan saya. Saya jadi gelap mata, pokoknya dia harus ikut saya.

Namun apa yang terjadi? Kami semakin menjauh. Semua kajian yang saya paksakan kepada dia terpental begitu saja. Bukannya makin sama, kami malah makin beda. Domba dan kambing pun kami perdebatkan. Tidak ada lagi bahagia. Saya malah menista agamanya karena saya bilang Tuhan dia bukan Tuhan. Padahal kalau kepala saya dingin, saya cuma akan bilang bahwa Tuhan dia bukan Tuhan yang saya yakini and there's nothing wrong with that, let's just agree to disagree. Sungguh beda kan kedua pernyataan itu?

Singkat cerita lagi, kami berpisah.

Saya sedih, saya kehilangan. Tapi saya percaya Tuhan punya rencana lain untuk saya (dan dia) sehingga tidak perlu kecewa. Berbekal keyakinan itu, saya jadi tenang. Tidak berlama-lama terpuruk dan mulai susun-susun kembali hati yang tadinya remuk. 

Benar saja. Saya lalu dipertemukan dengan (waktu itu masih calon) suami. Saya pelajari bahwa ayahnya (mertua saya kini) kerap membimbing orang untuk jadi mualaf. Beliau lakukan dengan cara yang amat beda (dengan apa yang dulu saya coba lakukan) - beliau buat terang semua tentang Islam, yang damai, yang penuh cinta, yang tenang dan menenangkan. Beliau (hanya) berkisah tentang kebesaran dan keajaiban Tuhan sebagaimana ditulis di dalam kitab suci, tidak lebih, tidak kurang. He does it in a certain way that those people, who wish to convert, finally believe by themselves. Bukan seperti dicekoki, tapi mengalir begitu saja dan jadi yakin dengan sendirinya. Sungguh Tuhan Maha Baik, menyadarkan saya atas kesalahan yang pernah saya buat dengan mempertemukan saya dengan suami, dengan ayah mertua.

Jadi, kembali lagi ke si dia yang terdahulu...

Meski kini kami tidak saling sapa, saya percaya kami masih saling mengingat dan saling berterima kasih. Karena saya meneguhkan keyakinan dia, dan dia memantapkan keyakinan saya. Percaya akan besarnya kasih sayang Tuhan dengan masing-masing cara, bukankah itu yang paling utama?

Lakum diinukum waliyadiin.

Thursday, October 6, 2016

The Pumping Management

Tidak terasa tinggal 1 minggu sebelum saya harus kembali bekerja. Kembalilah baby blues melanda... Mengapa? Karena bonding antara bayi dan ibu semakin erat, ibu pun sudah terbiasa mengurus bayi dan mulai terasa nikmat karena bayi sedang lucu-lucunya pada usia menjelang 3 bulan ini. Sid sudah bisa tersenyum, tertawa dan bersuara lucu ketika merespon orang-orang yang berada di dekatnya, terutama ibu. Rasanya nggak ingin balik ngantor, tapi berhubung biaya sekolah konon semakin mahal, maka ibu harus setloooooonggg!

Straight from Day 1, alhamdulillah Sid hingga hari ini masih bisa menikmati ASI eksklusif (ASIX). Namun sejak Sid berusia 1 minggu, saya sudah mulai mencicil peralatan untuk pemberian ASIP dan belajar pumping. Pernah dua kali saya terpaksa berikan ASI perah (ASIP) yang tidak dibekukan dari botol susu karena ada sedikit bloody show di PD saya (menurut suster sebaiknya jangan diberikan langsung, tunggu luka kering dulu). Sid minum dari botol tanpa kesulitan (saya trial pakai botol Philips Avent), tapi saya langsung hentikan penggunaan botol begitu luka sembuh karena menurut artikel-artikel yang saya baca, sebaiknya bayi ASIX dikenalkan dengan botol susu di atas usia 6 minggu (waktu itu usia Sid masih 2 minggu).

Ternyata belajar manajemen pumping lebih sulit dari belajar manajemen pemasaran ketika kuliah dulu. Masalahnya, pumping berkaitan dengan ibu dan bayi yang dipengaruhi banyak faktor. Kemampuan fisik setiap ibu untuk memproduksi ASI bisa bervariasi dari hari ke hari, begitu juga dengan kemauan bayi meminum ASI. Ada akun IG yang terkenal di kalangan ibu pejuang ASI yang menyuarakan rumus Supply = Demand (wuih, semacam kuliah Mikroekonomi nih) - jadi, ibu harus rutin pumping 2 jam sekali untuk memperbanyak produksi ASI. Saya sih mau saja pumping 2 jam sekali, tapi masalahnya 2 jam itu pas Sid bangun dan minta diajak main atau minum ASI atau simply mau ngempil saja, nggak sempat pumping. Alhasil, saya hanya sempat pumping 1 kali sebanyak 150mL ketika Sid tidur malam - kebetulan Sid sudah bisa tidur malam agak lama sekitar 4-5 jam. Suka iri banget kalau lihat hashtag #pejuangASI di IG yang bisa dapat ASIP banyak, hiks, jangan patah semangat!

Tentu saya masih harus belajar banyak tentang manajemen pumping ketika kembali bekerja, mudah-mudahan cepat pintar ya. Jadi, sekarang saya sharing tentang peralatan perah-memerah dulu.

1. Medela Swing
Paling penting dipunya dan paling mahal harganya di antara peralatan yang lain. Saya baru beli di hari ke-3 setelah lahiran karena ada sedikit bloody show yang bikin PD bengkak. Beli breast pump ini di Babyzania.com karena harganya paling ok dibandingkan online store lain dan bisa dikirimkan ekspres lewat Gojek. So far, suka dan nggak ada masalah dengan breast pump ini, jadi nggak ingin coba-coba yang lain. Breast pump ini memang banyak direkomendasikan, baik dari review internet maupun teman-teman dekat. Saya suka karena ukurannya compact, daya isap lembut tapi kuat, dan nggak berisik. Bisa pakai batere (saran saya pakai batere lithium, lebih mahal tapi awet) atau adaptor. Saya juga beli satu set pumping connector tambahan (connector, valve, membran dan breast shield) supaya bisa dipakai bergantian.

2. Botol Susu
Dari set Medela Swing, saya dapat 2 botol susu Medela ukuran 150mL tapi tanpa nipple Medela Calma yang saya beli terpisah (di Babyzania.com juga). Saya beli lagi 1 set botol susu Medela (isi 3) karena takut kurang, eh nggak tahunya saya dapat kado 2 botol susu Philips Avent dan 2 botol susu Pigeon (kedua merek ini sudah dapat nipple). Medela Calma bagus, karena susu hanya keluar ketika bayi menyedot (ada semacam lubang kecil yang mengatur keluarnya cairan) sehingga cocok untuk bayi yang baru belajar menggunakan botol. Philips Avent Natural juga ok, karena diklaim memiliki bentuk nipple natural dan ukuran botol susu yang lebar sehingga mudah dipegang dan mudah dibersihkan. Pigeon Peristaltic ini bentuknya paling basic menurut saya, model botol slim neck sehingga terlihat paling langsing di antara 3 tipe botol yang saya punya. Let's see Sid suka botol yang mana...

3. Kantung Plastik ASI
Saya pernah baca artikel di blog seorang ibu yang membandingkan penggunaan botol kaca dan kantung plastik untuk penyimpanan ASIP. Hasilnya, botol kaca memang jauh lebih hemat dan tidak bocor tapi cukup repot karena butuh storage yang besar dan harus bolak-balik dicuci serta disterilkan. Kantung plastik ASI jelas lebih mahal karena hanya sekali pakai (nggak eco-friendly juga) dan jika tidak hati-hati plastik mudah bocor, tapi lebih praktis dan hemat tempat. Karena nggak ingin repot cuci botol dan nggak ingin menambah freezer, saya putuskan pakai kantung plastik ASI. Saya pakai kantung plastik ASI merek Gabag dan Natur. Gabag sedikit lebih tebal dan sturdy (bisa berdiri jika diisi) dibandingkan Natur, tapi Natur bisa disimpan dalam bentuk gepeng/pipih sehingga mudah diatur dan hemat tempat.

4. Sterilizer
Berhubung boleh request kado lahiran, saya minta dibelikan sterilizer oleh teman kantor suami. Jadi saya dapat steam sterilizer Pigeon yang juga dilengkapi dengan bottle and food warmer. Sebenarnya sterilizer Pigeon ini cukup bagus, tapi hasilnya botol masih basah karena disterilkan dengan menggunakan steam. Akhirnya saya beli Panasonic D-sterile (kebetulan dapat voucher Rp 100.000 dari Blibli.com) yang bisa mengeringkan dan mensterilkan. Pigeon sterilizer masih dipakai untuk bottle warmer (ketika ASIP sudah cair dan sudah dipindah ke botol).

5. Pembersih Peralatan ASIP
Pembersih ini terdiri dari sabun cuci, waslap dan sikat botol. Sabun cuci saya memakai Pure Baby Liquid Cleanser karena harganya terjangkau (sering promo juga) dan mudah didapat di online maupun offline store. Waslap saya pakai sebagai pengganti tapas pencuci. Khusus untuk pencuci botol susu, saya memakai Boon Suds yang sangat praktis.

I think that's all for now. Sekarang saya harus move on ke tahap berikutnya yang lebih menantang yaitu Bottle Training!

Tuesday, September 20, 2016

The Hardest Early Weeks of A New Mom

Masa TTC selama 2 tahun yang penuh liku-liku? Checked.
Sembilan bulan kehamilan yang seru dan menyenangkan? Checked.
Persalinam normal selama 6 jam yang menegangkan? Checked.

Now it's time to face the real world of motherhood.

Apakah saya sudah siap? Ya, siap nggak siap tapi harus siap, kan bayinya sudah lahir. So I understood that the first weeks with baby would be hard, but what I didn’t know is... How hard?

Here are some things that we have to go through as new moms in the early weeks of baby's life.

1. You're in pain
Melahirkan, dengan cara atau gaya apapun - normal kah, gentle birth kah, water birth kah, atau operasi sectio caesarea, ujung-ujungnya cuma satu yang dirasakan oleh tubuh si ibu yaitu rasa sakit. Please say hello to the longest period you'll ever have alias nifas, belum lagi pegal-pegal dan kontraksi rahim yang sedang mengecil kembali. Apalagi kalau harus menjalani episiotomi seperti saya, sudah benar-benar paket komplit deh.
Nggak usah sok kuat karena sakit dan ketidaknyamanan setelah melahirkan tidak bisa kita hindari. Orang-orang terdekat kita pasti mengerti, kok. Jadi, nggak usah sungkan minta bantuan. Jangan lupa minta painkiller (terutama untuk yang menjalani c-sect) dan pencahar (serius, minta pencahar ini penting banget) sebelum pulang dari rumah sakit.

2. You will still look pregnant, or just fat, maybe
Sering kepoin akun Instagram Chrissy Teigen yang baru melahirkan 4 bulan lalu berdampak sangat buruk bagi saya. Mengapa? Well, Mbak Chrissy ini bikin saya berekspektasi langsung kurus ciamik setelah lahiran karena doski tampak sangat fab and fatless bahkan mungkin satu detik setelah melahirkan. Kenyataannya, saya struggling dengan berat badan yang masih 6-7 kg lebih berat dibandingkan sebelum hamil. Cuma mau kontrol 1 minggu ke dokter berbuah drama sesengrukan karena baju dan celana masih sempit. Pemakaian nursing bra juga mengurangi faktor estetika, if you know what I mean.
Jika kamu ikut geng Mbak Chrissy, berbahagialah. Jika tidak (seperti saya), bersabarlah, just embrace your mommy's body. Setelah 6 minggu, boleh mulai olahraga ringan dan mulai mengatur makan sehat. Nggak usah merasa rendah diri ketika berdiri di depan kaca dan nggak usah berambisi untuk langsing secara instan karena toh kita masih menyusui, yang pasti butuh nutrisi ekstra.

3. You're tired, reallyyyy tired
Yes! Finally si bayi tidur juga, saatnya ibu tarik selimut juga. Lalu tiba-tiba dia bangun dan menangis, padahal kalau lihat jam, baru berselang 1 jam sejak dia tidur. Indeed, sleep deprivation is another real challenge for me. Sakit kepala, flu dan batuk, pegal-pegal adalah beberapa "oleh-oleh" yang saya dapat dari kurang tidur. Efek lainnya? Jadi cranky, pelupa dan nggak fokus dengan hal lain kecuali mengurus kebutuhan si bayi.
It's true what they say; coba untuk tidur/istirahat ketika bayi tidur. Memang terasa hanya sebentar tapi lumayan untuk mengganti waktu tidur kita yang biasanya 6-8 jam. Again, jangan ragu untuk minta bantuan dari orang terdekat, misalnya untuk titip jaga si kecil selama kita menikmati pijatan dari si mbok pijit.

4. You're hormonal, like PMS-ing on steroid
Sering merasa tiba-tiba galau, cranky, atau bahagia banget ketika hamil? Percayalah, setelah melahirkan, your mood can change waaaay much faster - thanks to penurunan hormon progesteron yang drastis seiring lepasnya plasenta saat bersalin. Ketika sedang bersama bayi, perasaan haru, senang, bahagia, sedih bercampur jadi satu. Ditambah dengan kurang tidur dan rasa lelah, those emotions could be overwhelming, ini yang biasa disebut baby blues. Selama 2 minggu pertama, saya sering menangis tanpa sebab bahkan ketika Sid sedang tidur pulas. Nggak cuma itu, saya bisa juga tiba-tiba ngajak suami berantem karena saya menganggap dia cuek dan nggak mau bertanggung jawab atas anak yang sudah saya lahirkan (lebay buangettt ya). Menurut saya, semua emosi yang kita rasakan sebagai ibu baru adalah wajar. Tapi harus waspada karena baby blues bisa berubah jadi post-partum depression dimana si ibu menjadi sedih berlebihan, tidak mau mengurus bayi, bahkan bisa sampai membahayakan diri sendiri dan bayi. Maka dari itu, kita harus bisa mengendalikan diri dan minta support, terutama dari suami, agar bisa membantu kita tetap positif.

5. You're breastfeeding
Ketika hamil, saya sempat takut tidak bisa memberikan ASI. Karena sempat main-main ke beberapa forum wanita hamil dan di sana banyak yang bilang bahwa tanda-tanda ASI akan keluar sudah bisa dirasakan di trimester ketiga seperti PD bengkak, muncul cairan putih atau bening dari puting, tapi saya nggak merasa atau mendapat tanda-tanda itu. Maka dari itu, ketika suster datang membawa Sid untuk coba menyusui pertama kali, saya langsung tegang. Betapa bahagianya saya ketika ASI berhasil keluar, rasanya yaiyyy scored!
Tapi tunggu dulu, karena saya belum pernah latihan latching alias posisi menyusui yang benar, jadi setiap mau menyusui heboh bangettt atur posisi duduk dan gendong bayi. Sampai suami, ibu, dan kakak saya ikut bantu, riweuh pisan lah! Otomatis karena latching belum benar, datanglah cobaan bernama puting lecet. Si puting lecet ini biasanya datang dengan saudaranya, si PD bengkak yang nggak kalah sakit (karena lecet jadi takut nyusuin, hence, bengkak lah). Untungnya, di RSPI Puri Indah ada sesi breast care privat untuk ibu setelah bersalin. Ada 3 langkah untuk meredakan sakit PD agar pemberian ASI lancar; kompres dengan handuk hangat, pijat dengan baby oil, lalu bersihkan dengan air dingin/suhu ruangan. Sangat membantu! Di rumah, saya pakai lanolin balm untuk membantu menghilangkan lecet - saya pakai beberapa merek nursing balm yaitu Mothercare, Biolane, Medela Purelan.
Untuk latching, bisa Google-ing dan perhatikan gambar-gambar yang menunjukkan beberapa posisi latching yang benar. Kalau menurut saya, latching yang benar ini memang butuh sedikit latihan awalnya, tapi lama kelamaan ibu dan bayi akan "klik" dengan sendirinya. It comes naturally, I guess.


But all of those things are totally worth it, because I can finally enjoy being with her.

Thursday, July 21, 2016

We Named Her...


Nama lengkapnya adalah Sidra Kamila Salman.

Sidra, diambil dari سدرة المنتهى‎ , yang dalam bahasa Indonesia ditulis sebagai Sidratul Muntaha, adalah pohon di surga/pohon yang menandai batas langit/surga ke-tujuh.

Kamila, artinya sempurna, tidak kurang suatu apapun.

Sehingga, Sidra Kamila Salman ini kami artikan sebagai berkah yang sempurna, yang diamanahkan kepada Keluarga Salman agar bisa membukakan pintu surga.

Dalam bahasa Urdu, Sidra artinya 'seperti bintang'. And yes, she is truly bright, shining through my life, like a star.

Wednesday, July 20, 2016

She's Here!

The wait is finally over!

She's here, I can hold her in my arms now. I can kiss her, touch her, feel her every breath.
She arrived two weeks ahead of the 40-weeks schedule, but she is such a perfection. She weighed at 2,9 kg and 47 cm in height at birth, she looked petite but she was easily my grand-est achievement.

Hello, World!

Giving birth to her was an amazing experience. Time went by so slowly since the minute I was admitted to the hospital at 9 PM. At midnight, the come-and-go pain in my stomach was indescribable, but the thought of seeing my daughter's face kept me going. But at 1 AM, I felt like giving up because I thought I would not make it to see the light of day. Everything suddenly turned into a rush when the clock hit the 2 AM mark. Then at 3.10 AM, I could hear her crying then she landed on my chest. She was warm, she seemed so small and fragile, but most of all, she is mine to hold.

Last but not least, I want to thank my Mother. Thank you for doing exactly the same thing, thank you for delivering me safely into the world. Thank you for watching over me, thank you for the time and the patience, the energy and the tears you spent on me. I owe you everything I am today and I may never be able to repay you, but I want you to know that there is nothing in the world that I won't do for you. I love you, Mom.

For Baby, welcome home.
Let's grow together.

Wednesday, July 13, 2016

The Fall

Hello, baby.

This day was (almost) be one of the blackest days in life.
.
.
.
.
.
.
I slipped and fell down.
Laid flat on the concrete floor in Plaza Senayan parking ground.

I got bruises and all, on my face, hands, arms, feet. But all those did not matter much to me. It was you who was on top of my mind, it was you, you all along.

I rushed myself to the nearest public restroom where I could still feel you thumping lightly. I cried, and cried, and called your daddy. He told me to calm myself and I should wait for him there. Then we raced to the hospital, where I spent a good deal of time sobbing while waiting for the doctor to see us. To my relief, the doctor said you were fine.
Your little heart was still beating.
Your little fingers were still throwing punches.
Your little feet were still kicking recklessly.
.
.
.
.
.
.
I was joyous.
But I still cried at night before bed. Maybe tomorrow I would still cry over this all over again.

Because today I learned my lesson the hard way. I did not set my priority straight, I thought I was strong and capable to do things on my own, but I forgot to put you into the picture and put both of us at risk. I can't tell you enough how sorry I am to let this happen to you, at this very moment, at this very stage of your development. It hurts me beyond anything, any pain that I have endured in life so far.

I pray to God that He will let me have you, hold you, and watch you grow.

Love,
Your mother.

Thursday, June 30, 2016

What's In A Name?

"What's in a name? That which we call a rose,

By any other name would smell as sweet."

William Shakespeare's Romeo and Juliet


Ah, we finally arrive at the (seems-to-be) endless debate of choosing a name.

Sebenarnya mencari nama untuk calon anak tidak sulit. Biasanya, orangtua kita akan secara sukarela dan dengan senang hati memberikan beberapa pilihan nama untuk cucunya. Yang sulit adalah bagi kita, orangtua si bayi, untuk memilih nama mana yang akan disematkan saat kelahiran. Penting juga untuk bilang ke orangtua kita, alias kakek nenek calon anak, supaya no hard feeling jika namanya tidak kita gunakan. Karena Mama sudah berikan nama, Umi juga sudah berikan nama. Nama-nama yang diberikan oleh kedua ibu saya ini sama-sama memiliki arti yang bagus, kebetulan mereka dapat nama-nama ini ketika sedang mengaji. Tapi, apakah saya akan memilih satu di antara kedua nominasi itu? Belum tentu... Maaf ya, Mama. Maaf ya, Umi. Ini bukan berarti saya nggak sayang kalian.

Memilih nama menjadi salah satu hal krusial karena nama mengandung doa dan harapan orangtua. Nama saya sendiri artinya keberuntungan karena pada saat saya lahir, karir ayah saya sedang menanjak sehingga taraf hidup keluarga kami membaik. Tapi ketika besar saya sering diolok-olok karena nama saya seperti laki-laki. Sedangkan nama suami saya bisa dikatakan 'nama sejuta umat', karena banyak sekali nama serupa di berbagai belahan bumi. Saking banyaknya, suatu ketika kami pergi liburan, dia dicegat di bagian imigrasi karena muncul puluhan nama serupa di daftar unwanted person di negara tersebut. Dia ditahan di bagian imigrasi kira-kira hampir setengah jam dan baru dilepaskan setelah diinterogasi dan saya dipanggil untuk menunjukkan bukti-bukti bahwa kami hanya turis, punya uang cukup dan tiket untuk pulang kembali ke Indonesia.

Satu lagi yang menjadi pertimbangan untuk nama anak masa kini yaitu penyertaan nama ayah sebagai nama keluarga, atau dikenal dengan sebutan surname. Sehingga nantinya si anak akan memiliki nama depan atau given name ditambah dengan nama keluarga atau nama ayah. Nah, untuk penggunaan surname ini saja kami sempat berselisih paham. Suami nggak mau namanya dipakai karena menurut dia namanya bukanlah nama keluarga. Dia baru setuju untuk 'memberikan' namanya ketika konsultasi dengan ibu dan ayahnya yang mengatakan bahwa dalam Islam, sebaiknya nama anak - apalagi anak perempuan, disematkan nama ayah sebagai bukti garis keturunan, penghormatan, serta menghilangkan keraguan siapa yang menjadi wali nikah nantinya. Jadi kami putuskan untuk mengambil nama depan suami sebagai nama belakang anak kami nantinya.

Given name-nya siapa? Rahasia, sampai waktunya tiba. Yang jelas, saya suka sekali dengan nama dan kata yang memiliki arti atau berhubungan dengan 'bintang'.


"Waiting for a star to fall,

And carry your heart into my arms,

That's where you belong,

In my arms, baby..."

Boy Meets Girl's Waiting For A Star to Fall

Tuesday, June 28, 2016

Ketika Harus Pilih Stroller Terbaik...

I have to admit... Belanja untuk keperluan bayi itu sangat menyenangkan, terlebih karena barang-barangnya banyak yang bikin gemes, belum lagi 'racun' dari para mbak-mbak toko yang dengan entengnya bilang, "Ibu harus punya ini itu anu ono, loh!" Sambil menyodorkan list belanja berisi kira-kira 100+ barang. Aduh, gawat banget kalau kontrol diri kita (tepatnya, SAYA) lemah. Untungnya, selama ini nggak pernah ke baby shop sendirian - selalu ditemani suami. Kalau belanja sendirian, sepertinya saya akan langsung borong semua barang yang ada di list belanja dari toko bayi.

Keperluan bayi (dan keinginan ibunya) memang cukup banyak, tentunya butuh modal untuk memenuhinya. Kami lumayan terbantu dengan beberapa barang 'warisan' dari kakak saya yang masih bagus dan layak pakai, seperti baby cot dan baby tafel, car seat, stroller, bouncer, mainan dan baju-baju. Baby cot dan baby tafel yang terbuat dari kayu hanya tinggal dibersihkan dan dicat ulang, kalau beli baru di Stellamas sepertinya kami harus keluar biaya 10x lipat. Kondisi car seat Britax First Class Si masih cukup bagus setelah dicuci bagian cover-nya, meskipun car seat ini lumayan bulky jika dibandingkan versi barunya tapi kami masih merasa car seat ini masih bisa berfungsi baik. Untuk stroller, kami dapat lungsuran 2 buah yaitu McLaren Quest Sport dan Peg Perego Pliko P3 - jelas bukan model terbaru juga, tapi kondisi masih cukup bagus. Setelah dicuci, kedua stroller ini tampak baik-baik saja. Tetapi saya memerhatikan ada hal yang mengganggu dari stroller Peg Perego - di bagian pegangan terlihat ada subtansi aneh seperti gemuk dan ketika dipegang terasa lengket. Sudah coba dilap bersih dengan sabun dan bahan pembersih lain, tetapi masih muncul juga. Jadi galau, apakah stroller ini masih bisa dipakai atau tidak.

Akhirnya, suami saya memutuskan untuk membeli stroller baru demi keamanan dan kenyamanan si bayi nantinya. Obviously, saya senang sekali menyambut kabar gembira ini - the anticipation, the excitement of browsing through tons of Youtube vids and blog reviews, lihat-lihat online shop di Instagram dan di situs-situs e-CommerceIt's the kind of therapy that works best terutama di malam hari saat sulit tidur, maklum sudah masuk trimester ketiga where a good-night sleep is truly a luxury. Beberapa hari berselang setelah dapat lampu hijau untuk beli stroller, maka saya sudah menjatuhkan pilihan pada beberapa merek stroller - hanya saja, saya ingin melihat dan memegang langsung barangnya dulu, jadi tidak ingin terburu-buru beli secara online.

Berikut ini langkah-langkah yang saya lakukan sebelum memutuskan pilihan stroller yang akan dibeli, alias my stroller buying guide.

1. Tentukan budget pembelian stroller
Saya menganggap stroller ini bukan keperluan primer untuk si bayi sehingga harga stroller tidak memiliki pengaruh langsung terhadap tumbuh kembang anak. Kalau beli stroller yang paling premium sekalipun, nggak membuat anak saya nantinya langsung bisa ngomong, membaca, menulis, serta jago main piano, kan? Jadi, tentukan range harga yang wajar sesuai kemampuan kita, tidak perlu memaksakan diri karena stroller ini akan terlihat keren dan bagus saat dibawa jalan-jalan ke mal - fungsi, kenyamanan, dan keamanan stroller lebih penting daripada sekedar penampilan. Dari penentuan budget ini, sudah jelas kalau Bugaboo Cameleon dan Stokke Xplory nggak masuk dalam pilihan karena muahaal buanget. Bye, bye...

2. Tentukan masa pakai stroller
Beberapa tipe stroller tidak bisa digunakan sejak bayi baru lahir karena dudukannya tidak bisa fully-reclined untuk mengakomodasi bayi tidur telentang, biasanya stroller ini bentuknya lebih compact sehingga lebih ringan dan lincah untuk mengimbangi berat badan anak yang semakin bertambah dan geraknya yang semakin aktif. Kalau ingin praktis dan hemat, sebaiknya pilih stroller yang bisa dipakai oleh newborn hingga anak berusia 3-4 tahun (berat badan sekitar 25kg). Karena sudah punya MacLaren Quest Sport yang ringan untuk toddler, maka saya fokus mencari stroller yang bisa dipakai sejak Day 1.

3. Tentukan fungsi / fitur stroller yang diinginkan
Biasanya setiap merek dan tipe stroller punya ciri khas dan fungsi yang jadi unggulan merek tersebut, jadi saat screening kita harus tahu fitur apa saja yang kita inginkan, serta penggunaan stroller ini lebih banyak untuk apa dan dibawa kemana. Kalau lihat beberapa video review dari luar negeri, kebanyakan mereka pakai stroller untuk jalan-jalan di luar ruang dengan kondisi jalanan beraspal atau concrete sehingga fitur yang mereka cari adalah roda stroller yang besar, pegangan yang kokoh, serta memiliki sun-shade atau kanopi yang lebar. Sedangkan di Indonesia, kemungkinan besar kita lebih tertarik untuk menggunakan stroller yang ringan, mudah dilipat dan disimpan di mobil, karena stroller lebih banyak untuk jalan-jalan di mal atau indoor area. Kriteria stroller yang saya inginkan cukup sederhana, yaitu ringan namun handle-nya kokoh, mudah dilipat dan dibuka kembali, muat di bagasi mobil saya, serta memiliki alas yang nyaman untuk bayi.

4. Tentukan mau beli di mana
Mengapa pemilihan toko jadi penting? Karena hari gini, beda harga sedikit itu ngaruh banget, Jenderal! Dibandingkan toko-toko di mal besar, tentu toko-toko bayi seperti di ITC Kuningan, ITC Fatmawati atau ITC Cempaka Mas bisa memberikan harga yang lebih bagus untuk barang yang sama. Kalau dari sisi kenyamanan berbelanja dan ketersediaan barang, jelas toko bayi di mal besar lebih oke. Pilihan lain adalah toko-toko online, baik yang punya situs sendiri maupun di marketplace, atau bahkan di Facebook dan Instagram. Toko-toko online ini biasanya menawarkan harga yang cukup miring jika dibandingkan toko di mal besar, tapi mesti hati-hati memilih toko karena kita belum / tidak bertemu langsung dengan si penjual. Karena saya ingin dapat harga bagus sekaligus bisa lihat barang langsung sebelum membeli, maka pilihan saya adalah toko bayi di ITC atau toko online yang juga punya offline store.

Setelah browsing sana-sini, saya memiliki beberapa kandidat stroller idaman.

1. Nuna Mixx
2. Mamas & Papas Urbo 2
3. MacLaren Techno XLR
4. BabyStyle Oyster 2
5. Peg Perego Si Switch

Dan toko yang menjadi tujuan saya untuk melihat, meraba, dan membeli stroller ini adalah Sweet Mom Shop di daerah Pluit. Selain toko offline, juga melayani pemesanan via online, akun LINE, BBM, dan Whatsapp. Jadi bisa tanya-tanya dulu sebelum pesan atau memutuskan langsung datang ke toko offline-nya. Mengapa jauh-jauh ke Pluit? Well, sebenarnya saya sudah coba mampir ke ITC Kuningan tapi karena sudah dekat Lebaran, kondisi ITC Kuningan (dan ITC-ITC lain di Jakarta) lagi 'lucu-lucunya' (atau 'ganas-ganasnya') sehingga menyulitkan saya untuk tanya-tanya mengenai stroller. Selain itu, pilihan merek dan tipe stroller juga sangat terbatas.
Perlu diketahui, Sweet Mom Shop ini letaknya di dalam komplek. Tokonya juga nggak seperti toko atau ruko, lebih seperti rumah biasa yang dijadikan toko (sekaligus gudang) sehingga penuh tumpukan kardus baby gear. Nggak semua barang dipajang, jadi lebih baik kita langsung tanya ke Mas Penjaga Toko mengenai barang yang kita incar. Si Mas Penjaga Toko bisa bantu mengambilkan barang di gudang mereka dan membuka kardusnya supaya kita bisa inspeksi lebih lanjut. Kalau nggak jadi beli juga nggak apa-apa, no hard feeling ke Si Mas.

Last but not least, here's the stroller that we decided to take home for baby!
Mamas & Papas Urbo 2 in Chestnut Tweed
Pros:
- Reversible, dudukan stroller bisa diangkat dan dipindah sesuai dengan keinginan kita si bayi ingin menghadap mana - menghadap kita yang mendorong atau menghadap ke luar (inward / outward facing).
- Rangka stainless steel, lebih kokoh dibandingkan stroller Mamas & Papas tipe lain (Sola dan Armadillo Flip) tapi tetap ringan.
- Ada bumper bar alias bar pengaman di bagian depan, dilapis faux leather - sama seperti bagian handle pendorongnya. Tipe Sola dan Armadillo Flip nggak punya bumper bar ini.
- Pilihan warna yang beragam dan cenderung nggak mencolok. Sebenarnya saya naksir warna Mulberry (plum kemerahan) tapi sepertinya kurang netral. Akhirnya kami pilih warna Chestnut - untuk warna ini kebetulan materi kain pelapisnya terbuat dari tweed sehingga terlihat vintage. Love!
- Ketika dilipat, bentuknya cenderung persegi - tidak memanjang seperti MacLaren, sehingga pas banget di bagasi mobil 'mini' saya. Lebih compact dibandingkan Nuna Mixx.
- Dudukan stroller lumayan empuk sehingga tidak perlu ditumpuk selimut / alas stroller yang tebal.
- Sudah memiliki all-wheels suspension (kata suami ini penting tapi saya nggak mudeng) dan rem stroller yang mudah dibuka-tutup dengan ujung kaki kita sehingga nggak merepotkan.
- Dapat jaring anti nyamuk yang disimpan di kantong di bagian sandaran kaki.

Update setelah 3 bulan pemakaian
- Stroller ini bukan termasuk golongan stroller ringan karena model dan materialnya membuat stroller ini kokoh. Kalau ibu-ibu mau angkat stroller ini sendirian, pas mau dimasukkan ke bagasi misalnya, lumayan terasa beratnya yang sekitar 9kg. If you are considerably petite, don't go for this one.
- Karena beratnya juga, saya dan suami tidak berani untuk membawa stroller yang sedang dinaiki putri kecil kami lewat eskalator - kami selalu lewat lift ketika jalan-jalan di mal. Pernah coba satu kali naik lantai melalui eskalator dan kami kapok. Secara peraturan, stroller memang tidak boleh lewat eskalator - bisa dilihat di stiker yang ada di ujung eskalator, pasti ada gambar stroller disilang. Tapi saya lihat masih banyak orangtua yang membawa stroller melalui eskalator dan tidak ada teguran dari pihak mal. Parents, I think it's better to be safe than sorry.
- Membuka dan melipat kembali stroller ini perlu latihan. Saya hitung ada 4 langkah dasar supaya stroller ini dapat digunakan / disimpan, yaitu melipat / membuka rangka, membuka / mengunci rem roda depan, membuka / mengunci rem roda belakang, memanjangkan / memendekkan batang kendali. Semuanya sih mudah dilakukan asal sudah terbiasa, tapi memang stroller ini bukan sistem buka-tutup 1 langkah.
- Ternyata nggak muat di bagasi mobil Mazda 2, harus bongkar tutup bagasi dulu supaya muat. Yang mana lumayan repot. Akhirnya, terpaksa bertukar mobil dengan suami supaya stroller selalu disimpan di bagasi (ini sih HORE banget untuk saya, jadi bisa pakai mobil suami!).
- Karena rangkanya dari metal, otomatis bisa jadi sedikit panas ketika terpapar panas / sinar matahari. Tapi bagian metal ini tidak mengenai bayi, kok. Paling hanya menyulitkan ketika kita melipat / membuka stroller.
- Untuk bayi yang masih kecil dan belum banyak gerak, sabuk pengaman bisa hanya dipasang di bagian bawah - sehingga tidak perlu melewati bahu dan tangan. Bayi terlihat lebih nyaman dengan model sabuk pengaman seperti ini.

Overall, saya (masih) suka pakai stroller ini. Bayi terlihat nyaman dan aman di dalamnya, kami yang mendorong pun tidak menemui kesulitan berarti saat pemakaian. Harga sesuai kualitas, jadi kami puas.

Thursday, June 23, 2016

Terapi PLI: Jangan Putus Asa Karena ASA

This post was similar to the one in my old blog.

Kalau sudah baca kronologi singkat TTC kami di posting sebelumnya, maka post ini akan bahas lebih detil mengenai imunologi reproduksi dan nilai ASA.

Yuk, kenalan dulu dengan ASA.

An antisperm antibody (ASA) test looks for special proteins (antibodies) that fight against a man's sperm in blood, vaginal fluids, or semen. The test uses a sample of sperm and adds a substance that binds only to affected sperm. Semen can cause an immune system response in either the man's or woman's body.
Taken from: Antisperm Antibody Test & Results for Men & Women. March 12, 2014.

Cara mengetahui nilai ASA dilakukan dengan tes laboratorium. Untuk istri, dilakukan pengambilan sampel darah. Sedangkan untuk suami, dibutuhkan sampel sperma. Setelah didapatkan kedua sampel tersebut, maka akan dilihat reaksi antar keduanya - apakah sel sperma suami akan menggumpal jika bertemu dengan sel darah istri, tes ini biasa disebut HSAaT (Husband's Sperm Auto-agglutination Test). Tes ini sebaiknya dilakukan setelah kita melakukan tes fisiologis kandungan (USG, HSG, TORCH, dll) dan sperma, dan hasil tes tersebut menyatakan bahwa fisiologis suami dan istri normal tetapi masih belum juga terjadi kehamilan.

Hasil tes ASA dinyatakan dalam nilai kelipatan 2, dengan nilai normal 1:64. Jika nilai ASA melampaui batas normal, maka sistem imun di tubuh istri akan mengenali sel sperma suami seperti virus atau benda asing dan langsung membentuk penghalang. Sel sperma pun akan susah untuk menunaikan tugas kenegaraannya, karena sistem kekebalan tubuh istri sudah menghambat jalan masuk. ASA ini juga berperan dalam trimester awal kehamilan; jika calon ibu mengandung dengan nilai ASA tinggi, maka ada potensi bagi janin untuk sulit berkembang hingga kemungkinan terburuk - terjadi keguguran.

Untuk menurunkan nilai ASA, ada 3 alternatif tindakan yang bisa dilakukan:
1. Terapi PLI (Parental Leucosyte Immunization).
2. Istri sebaiknya menghindari makanan / benda yang dapat memicu alergi. Penyebab alergi dapat diketahui dengan melakukan FRT (Food Response Test / tes alergi terhadap makanan seperti macam-macam pati / tepung, macam-macam protein nabati / hewani, buah, dll) dan NFRT (Non Food Response Test / tes alergi terhadap benda non makanan seperti udara panas / dingin, bulu binatang, kapuk, dll).
3. Berhubungan menggunakan pengaman selama melakukan terapi PLI.
Tindakan 2 dan 3 ini dilakukan untuk meminimalkan paparan alergen pada sistem imun istri dan menunjang keberhasilan terapi PLI.

Nah, pertanyaan selanjutnya adalah, "Apa itu PLI?"
PLI (Parental Leucosyte Immunization) adalah imunisasi dimana sel darah putih suami akan disuntikkan ke tubuh istri. Untuk mengenalkan DNA suami terhadap tubuh si istri sehingga sistem antibodi istri akan belajar mengenali dan tidak lagi menganggap sperma suami sebagai benda asing.

Sebelum menjalani terapi ini, suami diwajibkan melakukan tes darah lengkap untuk mengetahui apakah ada penyakit bawaan dan virus yang berbahaya. Jika hasilnya baik, maka PLI bisa dilakukan. Satu siklus terapi PLI dilakukan selama sekitar 3 bulan, dengan 1x tindakan penyuntikan per 3 minggu. Setelah 3x penyuntikan, maka dilakukan tes HSAaT kembali untuk mengetahui nilai ASA setelah terapi. Kalau belum mencapai level normal, maka akan disarankan untuk mengikut 1 cycle lagi.

Karena di RS YPK Mandiri tidak bisa melayani terapi PLI, maka kami dirujuk ke RSIA Sayyidah di daerah Duren Sawit, Jakarta Timur. RSIA Sayyidah ini melayani terapi PLI hampir setiap hari mulai pagi hingga sore hari (jadwal pastinya bisa ditanyakan langsung via telepon  RSIA Sayyidah (021) 86902950), kami pilih hari Sabtu dan Minggu karena sama-sama bekerja - dr. Indra juga praktek di sana pada hari ini, jadi bisa sekalian konsultasi. Kami mulai terapi PLI ini di bulan Februari 2015 dengan nilai ASA 1:16,384 - lumayan tinggi. Ini berarti kami harus turun 8 tingkat untuk mencapai level normal 1:64. Semangat!

Suka duka selama menjalani terapi PLI? Banyak!
1. Disuntiknya sebentar, tapi menunggunya lumayan lama sekitar 2 jam karena sampel darah suami harus dipreparasi untuk mendapatkan serum sel darah putih. Biasanya kami tinggal makan siang dulu, di sekitar Kali Malang - Duren Sawit banyak tempat makan enak yang bisa dikunjungi untuk 'membunuh' waktu.
2. Disuntiknya nggak sakit, tapi saat tindakan pertama dan kedua sempat bikin bengkak dan ruam sedikit.
3. Harus disiplin menjaga makanan supaya terhindar dari bahan makanan pemicu alergi. Goodbye, nasi, mie dan roti, soya milk, tahu dan tempe, ikan salmon dan kepiting. Boo-hooooo... I also used to hate eating red meat (beef) and prefer chicken instead, tapi ternyata dinyatakan alergi ayam. Terpaksa 'belajar' makan daging sapi.
4. Pak Suami tergolong orang yang nggak menyukai suntik-menyuntik jadi suka agak panik ketika harus diambil darah. Terapi ini bisa mengurangi sedikit demi sedikit kecemasan dia.
5. Most of all, selama menjalani terapi PLI ini kami menjadi lebih sabar dan belajar ikhlas. Banyak bertemu dengan pasangan yang mengalami problem serupa, bahkan ada yang nilai ASA-nya mencapai 1:500,000an dan mereka tetap menjalani terapi ini dengan happy dan optimis. So, why shouldn't we?

Biaya untuk 1x tindakan penyuntikan terapi PLI sekitar Rp 1,000,000. Beberapa rekan seperjuangan bilang bahwa biaya di RSIA Sayyidah ini lebih murah dibandingkan di tempat lain dimana dr. Indra G. Mansur praktek, yaitu RS Budhi Jaya, Tebet atau di Klinik Sam Marie, Wijaya.

Jadi, jangan putus asa dulu karena nilai ASA tinggi. Tetap berdoa dan berusaha!

Wednesday, June 22, 2016

Anxiety Attack

Hello, Baby.

I can't believe that we are now counting down the days until D-date.
Anxiety is mounting. Tension is building. Well, at least for me. I don't know whether your daddy feels the same - he seems very calm, if not - indifferent, or worse - ignorant. I hope he is not. But he doesn't cry when I cry and whine and sob about so many things related to your arrival in the world, so that should mean something, right? Ok, maybe that's just my hormones.

To be honest, I am in a complete blue when it comes to you nowadays. I worry about so many things; your health, my health, C-sect or natural birth, breastfeeding, what to bring to hospital, will the doctor take good care of us, the list can go on and on...
I start to regret some of the things I did during the early pregnancy, like eating sushi (I believe at some point I came across a tiny bit of under-cooked salmon), using a small amount of salicylic acid on my skin, not eating right, not drinking much milk, skipping some pills, and all those bad stuffs I was not supposed to do during pregnancy - even though some are just myths, really. I should have done something good for you for the past 7 months, but regret does come a bit too late since your D-date is only 5-6 weeks away.

In between my uncontrollable sobbing and my prayers, I realize that I already love you more than life. Let's bring it on. Anything in the world, I would gladly risk it all just to see you, feel you, breathe you.
I hope we can finally meet each other very soon and all is well.

Love,
Your mother.

Sunday, June 19, 2016

We're Having A...

G I R L !
Cutesies For The Cutest

Bismillah. This is our very first baby gender reveal.

Kebetulan saya pun dapat kesempatan bagus dari Pampers Indonesia untuk (nanti) mencoba Pampers Premium Care New Baby. Sebagai newbie, saya tentunya sangat terbantu karena kalau disuruh pilih-pilih berbagai macam merek popok disposable yang ada di toko pastilah sangat membingungkan. Uniknya, Pampers Premium Care New Baby ini memiliki 5 keunggulan sehingga sangat tepat jadi pilihan para ibu yang ingin perawatan terbaik untuk bayi baru lahir.

1. Memiliki bahan SUPER GEL, yaitu gel dengan daya serap hingga 12 jam sehingga bayi merasa lebih nyaman dan nggak rewel ketika tidur. Menurut dokter anak, tidur nyenyak besar pengaruhnya dalam mengoptimalkan tumbuh kembang bayi dan anak. Terlebih lagi, ketika bayi tidur nyenyak, ibu pun bisa beristirahat untuk recharge tenaga.

2. Sirkulasi udara agar kulit tetap kering. Mengapa ini penting? Kulit bayi baru lahir cenderung sensitif sehingga perlu ekstra hati-hati. Jika terlalu lembab, maka bisa mengakibatkan ruam popok atau iritasi lain.

3. Lembut di segala bagian, menjaga kulit tetap nyaman.

4. Bagian pinggang 2x lebih lentur sehingga super pas dan nyaman dipakai karena mengikuti kontur tubuh bayi.

5. Mengandung lotion perlindungan kulit.

Sebenarnya ada satu keunggulan lain yang saya suka yaitu Wetness Indicator atau indikator kelembaban yang bisa membantu ibu  untuk melihat apakah sudah waktunya untuk ganti popok atau belum. Pas banget untuk newbie seperti saya. Selain dalam kemasan isi 28 yang saya dapat, Pampers Premium Care New Baby ini tersedia juga dalam kemasan isi 13 yang langsung masuk ke dalam tas bawaan untuk ke rumah sakit karena lebih praktis.

Senang sekali menantikan #MomenPertama kelahiran anak kami, pastinya nggak lupa #PakaiPampers yang memberikan perlindungan bintang lima.

The product was a nice surprise, thanks to Pampers Indonesia and FemaleDaily.

Thursday, May 26, 2016

It's Shopping Time, Baby!

Salah satu mitos kehamilan yang masih saya ikuti adalah... Belanja keperluan bayi baru boleh dimulai saat masuk usia kehamilan 7 bulan. Alasannya pamali, (lagi-lagi) karena sebaiknya kita tidak mendahului kehendak Tuhan. Jika dilihat dari sisi medis, hal ini memang masuk akal karena di usia 7 bulan ini si bayi sudah bisa dinyatakan bersiap-siap untuk lahir. Indera dan organ bayi sudah terbentuk, dapat berfungsi dengan baik. Berat badan dan posisi tubuh bayi juga sudah mengarah ke arah 'jalan lahir' sehingga wajar kalau memasuki usia 28 minggu, ibu hamil diminta kontrol lebih sering ke dokter kandungan - setiap 2 minggu sekali.

Karena alasan medis (dan non-medis) tersebut, maka saya sabar banget menunggu. Padahal sejak sudah tahu jenis kelamin si calon anak, rasanya sudah ingin merencanakan ini itu dan membeli beberapa barang yang diperlukan (meski kadang batas 'perlu' dan 'ingin' itu sangatlah kabur). Ketika sekarang sudah boleh belanja, rasanya riang gembira bagaikan melayang di udara deh. Apalagi karena sejak hamil, malah jadi nggak semangat belanja - paling hanya belanja celana hamil dan baju dalam karena sudah nggak muat. Beli-beli makeup juga menurun drastis, almost zero. Cuma beli skin care yang masih agak semangat, dan jajan makanan tentunya.

Dan, pertanyaan selanjutnya sebagai seorang calon emak newbie adalah... Belanja apa saja? Di mana?

Paling mudah, tanyakan kepada ibu atau kakak perempuan yang sudah punya pengalaman berbelanja untuk bayi. Atau kepada teman / saudara yang sudah lebih dulu jadi mommies. Forum atau blog mengenai kehamilan juga bisa jadi alternatif yang baik untuk cari informasi, biasanya ada yang menuliskan langsung alamat toko dan harga perlengkapan sehingga kita bisa take note. Langsung datang ke toko perlengkapan? Boleh saja, karena cara ini juga salah satu yang saya jalani.

Sebenarnya saya nggak awam-awam banget dalam berbelanja perlengkapan dan perawatan bayi. Dulu ketika kakak saya hamil keponakan yang pertama, saya yang bertugas antar-antar belanja sehingga lumayan familiar dengan barang-barang bayi. Sayangnya, itu kan sudah lebih dari 10 tahun lalu dan pastinya sudah banyak yang berubah. Tadinya saya ingin ke ITC Fatmawati, ke Toko Bayi Kemenangan yang dulu rajin dikunjungi kakak saya. Tetapi mengingat pembangunan monorail yang heboh di daerah sana, saya pun urung dan langsung memutuskan berkunjung ke ITC Kuningan yang lebih dekat dari rumah.

Gosipnya, di ITC Kuningan ini juga banyak toko perlengkapan bayi dengan pilihan barang yang lengkap dan harga bersahabat. Salah satu toko yang paling direkomendasikan di forum / blog adalah Fany Baby Shop yang terletak di lantai 4 ITC Kuningan. Ternyata, oh, ternyata, toko ini punya beberapa lokasi di lantai yang sama. Ada toko Fany Baby Shop kecil, besar dan khusus peralatan besar seperti stroller dan car seat. Letaknya cukup berdekatan, jadi bisa menclok ke satu lokasi lalu ke lokasi lain dengan mudah. Toko ini ramai banget, tapi penjaga tokonya cukup banyak dan responsif sehingga kita nggak perlu menunggu lama untuk dilayani. Nggak heran kalau toko ini jadi favorit karena begitu duduk di muka toko, kita langsung diberikan secarik kertas berisi daftar belanja kebutuhan bayi. Ada sekitar 100 item, mulai dari kebutuhan primer bayi baru lahir (pakaian, popok, alat kesehatan) hingga mainan dan baby gear. Menolong banget untuk para mama baru.

Sempat lihat-lihat beberapa baju bayi di Fany Baby Shop ini, tapi kebanyakan bermotif warna-warni dengan merek Libby. Sedangkan saya cari baju polos, kalau bisa warna putih polos bermerek Jingle - dulu kakak saya pakai merek ini dan saya suka karena bahannya bagus. Akhirnya hanya beli perlak kain waterproof merek BabyBee (yang harganya 2x lebih mahal dari perlak karet biasa ukuran jumbo, thanks to mbak penjaga toko yang pandai merayu) dan bedong bayi katun. Sebenarnya masih mau lihat-lihat tapi toko ini tambah ramai, jadi kurang nyaman kalau banyak tanya ke si mbak dan ujung-ujungnya nggak jadi beli.

Kami putuskan untuk berkeliling lihat toko lain. Karena weekend, toko lain pun cukup sibuk. Kalau pun ada yang terlihat sepi, kemungkinan karena tokonya kurang lengkap dan pelayanannya kurang bagus (sayang, lupa catat nama tokonya). Akhirnya di pojok belakang dekat lift, kami menemukan toko bayi Happy Bear. Meski cukup besar, toko ini letaknya agak ngumpet sehingga nggak begitu ramai. Satu hal lagi yang menarik kami datang ke Happy Bear ini karena ada tulisan 'Terima Cuci Stroller'. Kami memang berniat untuk reuse kereta dorong dan kursi mobil milik keponakan yang kondisinya masih lumayan bagus, hanya perlu dicuci. Selain stroller, toko ini juga bisa cuci car seat dan bouncer. Saya juga sempat tanya apakah ada baju bayi polos selain merek Libby, rupanya mereka jual merek Fluffy. Saya lebih sreg dengan bahan baju Fluffy ini, lebih lembut, jahitan cukup rapi dan ada yang putih polos.

Belanja apa saja? Well, saya kasih daftar belanja dari Fany Baby Shop ini supaya memudahkan. List ini sangat membantu karena kita nggak perlu tulis-tulis lagi. Mungkin ada yang kita perlu dan tidak perlu, ada yang sudah punya atau belum punya, tinggal refer ke daftar belanja ini saja. Soal kualitas dan kuantitas perlengkapan dan peralatan bayi, saya selalu diingatkan ibu kalau perkembangan bayi itu pesat - seringkali kita nggak perlu barang dalam jumlah banyak dan harga yang mahal karena seringkali hanya dipakai sebentar. Untuk barang yang bisa dipakai lama, nggak ada salahnya kita beli yang berkualitas baik.

Happy Shopping!

Berikut ini shopping list edisi perdana beserta harganya.
1. Perlak kain waterproof merek BabyBee Rp 115,000
2. Bedong bayi katun isi 6 pcs Rp 160,000
3. Baju tangan panjang merek Fluffy ukuran newborn 6 pcs Rp 90,000
4. Baju tangan pendek merek Fluffy ukuran newborn 6 pcs Rp 80,000
5. Celana panjang tutup kaki merek Fluffy ukuran newborn 6 pcs Rp 90,000
6. Celana pop merek Fluffy ukuran newborn 6 pcs Rp 80,000
7. Sarung tangan dan sarung kaki merek Fluffy 4 set @ Rp 20,000
8. Waslap mandi merek Nary 5 buah @ Rp 20,000
9. Bantal bayi halus merek Picard Baby Rp 120,000
10. Baby bib 1 set isi 5 pcs merek Luvable Friends Rp 175,000 (beli di Lotte Shopping Avenue, diskon 50% jadi Rp 87,500)
11. Termometer Infra Red Touchless merek klaus Rp 350,000
12. Oral Care Rabbit Ears (semacam waslap pembersih mulut dan gigi) merek MAM Rp 100,000
13. Cuci stroller 2 buah Rp 200,000
14. Cuci car seat Rp 100,000
15. Cuci bouncer Rp 90,000 
16. Bak mandi bayi Puku Rp 285,000 (beli di Blibli.com dapat diskon 25% jadi sekitar Rp 213,000 - beda tipis dengan harga di ITC Kuningan sekitar Rp 250,000)
17. Fabric Bath Support Mothercare Rp 233,100 (beli di Lazada dapat diskon 10% dari harga toko, yang kirim langsung dari Mothercare)

Masih banyak edisi selanjutnya, of course! Masih penasaran mau berkunjung ke Suzanna Baby Shop dan Toko Bayi Kemenangan di weekend berikutnya. Dan yang paling bikin excited adalah... Belanja segala macam skin care bayi!

"When I shop, the world gets better, and the world is better, but then it's not, and I have to do it again." - Becky Bloomwood, Confessions of A Shopaholic 

Monday, May 23, 2016

The Waiting Game

Kadang kita harus menunggu,
dan hanya bisa menunggu. 

Diminta menunggu,

bersabar dulu,
mungkin karena kita selalu,
terburu waktu,
membuang detik menit berlalu.

Menunggu,

duduk saja dulu,
tidak usah tergesa dan terpacu,
hilangkan rasa kecewa itu,
besarkan hati yang sempat kecil sebegitu.

Menunggu,
berusaha dulu,
biarkan doa terus berlagu,
karena Sang Empunya Waktu,
Maha Punya Rencana kan, Bu?

Kadang kita harus menunggu,

dan tak ada yang salah dengan itu.

Teruntuk anak dari suamiku, yang masih rencana Tuhan.
Ibu tunggu ya, Nak.

Originally posted in my other blog.

Monday, May 16, 2016

Pregnancy Myths Busted?

Don't jinx it, so they say...

Mungkin menurut beberapa orang, saya menulis blog ini seperti hendak mendahului kehendak Tuhan karena sudah seperti merayakan kelahiran si (calon) anak. What if begini, what if begitu? Jelas, saya juga nggak tahu. Jalan hidup memang bisa berubah dalam sekejap, hanya Tuhan Yang Maha Mengetahui. To be honest, saya sudah 'merayakan' kehadiran si calon anak ini pada saat dokter menemukan kantung janin di rahim saya. Saya tidak menunda menyiarkan kabar baik ini kepada keluarga, saudara, dan teman-teman meski konon katanya lebih baik menunggu sampai usia kandungan melewati 3 bulan. Mengapa? Karena saya sudah menunggu lama untuk dapat kebaikan ini, selain itu tidak mungkin merahasiakan gejala-gejala trimester pertama yang lumayan merepotkan. Tapi utamanya, saya ingin disemangati dan didoakan oleh orang lain. Takut dan cemas menghadapi rocky road ini membuat saya merasa butuh dukungan, terutama dari orangtua. Bos di kantor juga perlu tahu, supaya bisa maklum kalau saya mendadak work-from-home karena saat pagi badan serasa dikelitik ulekan semalaman.


So yes, this blog is another effort untuk mendapat support dari orang-orang sekitar saya. This digital trace is also a good keepsake, no matter where this journey will take us. Sama sekali bukan berniat melangkahi rencana-Nya.

Do this, don't do that...

Menjadi seorang wanita saja sudah beragam tantangannya, apalagi ketika hamil. Banyak sekali mitos turun temurun yang jadi dos and don'ts selama hamil. Ditambah perubahan fisik dan mental, mendadak hidup jadi terasa serba dibatasi. Memang semua anjuran maupun larangan itu bertujuan baik, supaya ibu dan jabang bayi sehat dan terlindungi selalu. Tetapi seringkali kita (saya, lebih tepatnya) sulit memilah mana yang benar-benar untuk alasan kesehatan dan keamanan ibu dan anak, dan mana yang sekedar ‘katanya, katanya’.

Jadi, mana yang mitos atau fakta? Saya coba tuliskan pengalaman yang paling 'kena' ke saya, dan diulas berdasarkan pengetahuan dan hasil konsultasi dengan dokter – dokter beneran, bukan cuma klik-klik Mbah Google. Setuju atau tidak, saya kembalikan ke pribadi masing-masing karena setiap orang punya kondisi badan, kebiasaan, dan cara pandang berbeda. Perlu diingat juga, tiap dokter mungkin punya opini masing-masing. 

Myth or Fact 1: Jangan Minum Obat
Seiring perubahan hormon, ibu hamil bisa merasakan berbagai macam gejala penyakit yang membuat kondisi badan super duper tidak nyaman. Meskipun banyak yang bilang minum obat adalah big no-no, tapi nggak sedikit juga yang beranggapan kalau konsumsi obat-obatan yang dijual bebas masih aman untuk ibu dan bayi, terutama untuk mengatasi keluhan sehari-hari seperti lelah, diare, pusing, dan mual.
My verdict: Fact.
Lebih tepatnya, jangan minum obat sembarangan. Memang ada obat tertentu yang masih aman diminum oleh ibu hamil dalam dosis dan jangka waktu tertentu, tapi ada juga yang tidak boleh sama sekali karena apa yang kita makan dan minum langsung berefek pada bayi. Saya sempat minum Panadol warna biru untuk redakan pusing - dokter tidak melarang asalkan coba diminum 1/2 kaplet dulu dan tidak boleh lebih dari 3 hari berturut-turut. Minum obat maag pun pernah karena mual muntah bikin nggak bisa tidur. Pastikan untuk konsultasi dengan dokter sebelum mengonsumsi obat maupun suplemen makanan yang dijual bebas. Cermati label di kemasan atau leaflet yang ada, seharusnya ada informasi atau peringatan untuk ibu hamil dan menyusui. Kalau badan mulai terasa kurang fit, daripada sibuk cari obat lebih baik istirahat dan minta pijitin suami dulu deh.

Myth or Fact 2: Jangan Makan Ini, Jangan Makan Itu
Nah, ini paling tricky karena berhubungan langsung dengan gizi ibu dan anak. Buanyaaakk pantangan makan mulai dari buah nanas (bisa menyebabkan keguguran), daging kambing (bikin bayi kepanasan), ikan lele (takut anaknya nggak bisa diam), seafood (banyak mengandung merkuri / limbah tercemar), makanan pedas (nanti anaknya botak), MSG (memengaruhi otak / kecerdasan bayi), air es atau es krim (bayi jadi besar dan susah 'keluar').
My verdict: Mostly myth.
Pantangan makan dari dokter saya hanya protein (daging, telur, keju, susu) yang tidak diolah / mentah / setengah matang dan minuman beralkohol, sisanya boleh dimakan asal tidak menimbulkan alergi dan dalam jumlah wajar. Makan nanas boleh setelah lewat trimester pertama dan harus pilih buah yang matang, tapi jangan dihabiskan satu bonggol sendirian per satu kali makan. Seafood, kalau nggak segar dan tempat pengolahannya kotor lebih baik hindari. Ikan yang tidak boleh dimakan adalah king mackerel, hiu, todak (swordfish) karena kadar merkurinya tinggi. Makan di restoran Jepang atau steak? Boleh juga, meski harus ekstra wanti-wanti ke server untuk minta dibuatkan yang matang. Begitu makanan datang, lihat dulu baik-baik apakah sudah matang. Kalau dirasa belum matang, minta dikembalikan ke dapur untuk dimatangkan atau kalau ragu-ragu lebih baik jangan dimakan. Intinya, harus berusaha makan sehat demi kepentingan si bayi.
Tapi saya masih rajin minum air kelapa hijau - konon katanya bisa menghilangkan racun, menjernihkan air ketuban, dan bikin kulit bayi bersih. Rasanya enak dan segar, mudah dibeli di pinggir jalan dengan harga murah, so why not?

Myth or Fact 3: Harus Makan Banyak
Ibu hamil harus makan banyak dan sering dengan porsi 2 orang sebab makanan harus dibagi ke jabang bayi. 
My verdict: Myth.
Sampai usia kehamilan sekitar 16 minggu, berat badan saya naik cuma 1 kg. Jangankan makan sering dan banyak, makan nasi sekali saja emoh. Masih susah makan karena all-day sickness dan pilih-pilih makanan. Setelah menginjak 20 minggu, saya mulai bisa makan enak dan mudah lapar. Berat badan langsung naik heboh sekitar 3 kg per bulan hingga total sudah naik sekitar 10kg per hari ini. Meski bayi dinyatakan sehat dengan berat badan cukup, dokter minta saya untuk jaga berat badan dengan olahraga dan atur pola makan, takut kebablasan. Makan berlebihan bisa menyulitkan ibu dan janin - ibu sulit bergerak aktif sehingga kurang fit dan mudah lelah, bayi pun bisa terlalu besar sehingga sulit lahiran normal.
Nggak perlu makan banyak, nggak perlu juga takut gendut. Lebih baik makan dalam porsi secukupnya dengan frekuensi teratur dan jangan lupa snacking. Saya biasanya jajan rujak buah (tanpa bumbu), ngemil kismis atau biskuit (Astor hehehe, sebab bosan kalau marie terus), dan minum air putih. Tapi seminggu sekali saya bisa makan 2 porsi mie ayam bakso pangsit sekaligus simply because I can't help it

Myth or Fact 4: Jangan Mewarnai Rambut
Beberapa bulan sebelum hamil, saya mewarnai rambut di salon langganan. Rencananya, setelah 2-3 bulan mau diwarnai lagi karena berambisi mirip J.Lo. Ketika tahu hamil jadi galau, mau cat rambut atau nggak karena rambut mulai meng-alay. Mas Herry (pemilik Salon Brunette kesayangan) bilang nggak boleh, padahal dia bisa saja mengiyakan demi pemasukan salonnya. Teman-teman yang sudah punya anak juga bilang jangan sampai kelar menyusui karena kalau zat kimia dari produk pewarna rambut bisa masuk ke dalam darah dan air susu. Padahal kalau di-googling, banyak situs yang menuliskan belum ada penelitian yang mengonfirmasi mengenai hal ini. 
My verdict: Not sure.
Zat kimia yang harus dihindari adalah ammonia, tapi saat ini sudah ada pewarna rambut bebas ammonia. Ada yang menyarankan pakai henna tapi berdasarkan pengalaman kerja di beauty company, henna kemasan nggak lebih baik dari cat rambut kotakan karena nggak benar-benar alami. Dokter saya bilang bahwa memang belum ada kesimpulan medis mengenai hal ini. Bahan kimia yang bisa diserap oleh kulit biasanya hanya dalam jumlah kecil, sehingga kemungkinan tidak mencederai janin. Lain halnya jika bahan tersebut masuk ke dalam tubuh melalui mulut, maka kemungkinan mengganggu kesehatan janin akan besar. Boleh saja mewarnai rambut setelah melewati trimester pertama (masa kritis pembentukan organ bayi). Jika ada riwayat alergi terhadap cat rambut, sebaiknya jangan mengecat rambut karena ibu bisa terganggu kondisi fisiknya – apalagi jika sampai sakit karena akan memengaruhi asupan gizi dan perkembangan bayi.
Meski hingga hari ini saya bertahan nggak mewarnai rambut, sebenarnya bukan karena takut ada gangguan pada janin. Tapi lebih karena warna rambut kelihatan baik-baik saja dan uban juga hampir nggak ada. Prinsip saya, kalau nggak perlu-perlu amat lebih baik nggak usah dilakukan.

Myth or Fact 5: Jangan Pakai Skin Care dan Makeup
Nggak boleh pakai lipstik? Nggak boleh pakai eye cream? Apa kabar bibir kering dan kantong mata? Jadi selama 9 bulan mesti rela tampil kucel? Ada yang bilang ibu hamil akan jadi glowing dengan sendirinya, but I honestly don't buy this. Sebab ketika hamil muda dan kondisi badan sedang payah-payahnya, saya malas BUANGET bersih-bersih muka. Boro-boro ikut tren aplikasi 10+ skin care layers, pakai pembersih makeup saja nggak ada tenaga. Hasilnya? Muka kusam luar biasa. 
My verdict: Myth, but...
Penggunaan kosmetik bersifat topikal, atau hanya di permukaan kulit sehingga kemungkinan terserap dalam dosis yang sangat minim ke dalam tubuh. Tapi memang ada beberapa bahan yang harus dihindari seperti Retinoids (stay away from Retin-A atau Accutane, periksa krim anti aging kalau mengandung retinol sebaiknya distop), Tetracycline (yang pernah jerawatan pasti tahu obat Doxycycline), Salicylic Acid (bahan anti bakteri yang banyak terdapat di produk anti jerawat dan shampoo anti ketombe, nama lainnya adalah Beta Hydroxy Acids atau BHA), Hydroquinone (biasanya terdapat di produk pemutih / pencerah), serta satu geng bahan kimia yang biasa ada di cat kuku yaitu Phthalates, Toluene, dan Formaldehyde.
Karena takut jelek dan terlihat nggak happy, saya langsung cari-cari produk pembersih muka yang aman tapi praktis seperti tisu pembersih makeup dan micellar water supaya kalau sudah ngantuk berat dan malas bangun dari kasur bisa langsung srek-srek-srek tanpa air. Pelembab juga pilih yang praktis, ringan serta sudah tahu kualitas dan keamanannya. Lipstik mengandung timbal? Jangan dimakan lipstiknya hehehehe, dan jangan beli merek itu, cari merek lain. Penting untuk pastikan merek kosmetik yang kita gunakan aman dan terdaftar di BPOM RI, bukan merek atau buatan dokter gajebo.

Myth or Fact 6: Ngidam Harus Dituruti
Karena kondisi badan yang serba nggak karuan, mulai dari nggak doyan makan atau malah laperan terus, wanita hamil seringnya minta dibelikan makanan atau minuman yang serba tidak biasa. Konon katanya, kalau nggak dipenuhi nanti si anak bisa ileran terus dan gelisah.
My verdict: Myth.
I don't know about you, tapi kalau saya nggak pernah ada permintaan makan/minum yang aneh-aneh dan di jam-jam yang nggak biasa. Nggak enak makan makanan tertentu memang saya alami terutama ketika sedang heboh-hebohnya mual, nah pada saat ini memang kebayang-bayang makanan/minuman tertentu yang (sepertinya) nggak akan bikin mual. Untungnya, jaman sekarang sudah serba mudah - banyak abang ojek yang setia menanti order kita dengan hanya tap tap di aplikasi handphone daripada bikin susah suami yang sudah lelah kerja seharian. Lebih baik langsung pesan lewat abang ojek, nggak sampai satu jam biasanya sudah sampai. Bayi senang, ibu kenyang, ayah tenang, abang ojek pun gembira dapat order dan tip.

Myth or Fact 7: Jangan Ehem Dengan Suami
Nah, ini yang paling gong dan rada malu kalau bertanya ke dokter atau orang lain. Seringkali pasangan suami istri cemas mengenai hal ini, terutama di trimester awal kehamilan, karena banyak alasan seperti takut 'diintip' atau melukai si bayi, tiba-tiba kontraksi, pendarahan, hingga risiko keguguran.
My verdict: Myth.
Di trimester pertama, saya sempat ada kista berdiameter 5cm yang sepertinya balapan dengan pertumbuhan janin. Sempat parno dan coba periksa ke dokter lain, ternyata malah diwanti-wanti nggak boleh berhubungan sama sekali dan kami berdua malah tambah takut. Ketika balik ke dokter langganan, beliau menenangkan dan berkata bahwa kista itu perlu dimonitor saja, biasanya akan mengecil dan hilang seiring janin bertambah besar. Eventually, kista hilang dengan sendirinya di trimester kedua. Dokter bilang, nothing should be changed tapi pastikan nothing too extreme, senyamannya saja. Kalau ada gejala/riwayat kandungan kurang kuat, dokter memang menyarankan untuk berhati-hati sedikit. Masalah bayi bisa kepoin kita? Tenang saja, bayi aman karena dia punya 'dunia' sendiri, nggak akan ikut-ikut 'urusan' ayah ibunya.

Punten pisan kalau ada yang kurang atau malah lebay, maklum newbie di dunia emak-emak. Let's agree to disagree on some things, maybe? 
Intinya sih, harus pintar-pintar menilai kondisi diri sendiri dan selalu konsultasi dengan dokter yang dipercaya jika ada hal-hal yang diragukan. Nggak perlu tunggu kontrol bulanan untuk tanya-tanya pada dokter, biasanya para dokter masa kini secara sukarela memberikan nomor telepon supaya bisa dihubungi via SMS atau Whatsapp sehingga kita bisa tanya apa saja, kapan saja.
 
Images by Freepik