Tuesday, November 29, 2016

Breastpump Review: Medela Swing

Sebagai seorang working mom yang masih diberi kesempatan berharga untuk memberikan ASI, tentu peralatan tempur saya yang paling utama adalah breastpump alias pompa ASI. Betapa beruntungnya kita saat ini karena sudah mudah sekali untuk memerah dan menyimpan ASI untuk diberikan kepada bayi ketika kita sedang tidak bersama dia di rumah. Mau pompa ASI manual ataupun elektrik, semua serba ada - tinggal menyesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan kita.

Lebih berbahagia lagi jika kita bekerja di kantor yang busui-friendly dan menyediakan ruang khusus untuk menyusui/memompa ASI. Di tempat saya bekerja tidak ada ruang khusus untuk ibu menyusui sehingga saya biasa memompa di mushola wanita, atau di sample room (ruang kosong untuk simpan produk sample) di dalam kantor. Sebenarnya lebih nyaman untuk memompa di sample room karena ada kursi dan meja lengkap sehingga saya bisa duduk dan menaruh peralatan di meja, tapi sayangnya kalau kantor sedang ramai (banyak lawan jenis lalu lalang) saya kurang nyaman keluar masuk ke sample room untuk menunaikan kewajiban ASIP saya. Habis, sepertinya obvious banget saya masuk ke ruang itu untuk "beraktivitas". Jadilah saya lebih sering melakukan pompa-memompa di mushola wanita, meski harus duduk bersila dan tidak bisa bersandar punggung.

Selama hampir 2 bulan kembali bekerja dan menjalani aktivitas breast-pumping ini, saya baru ngeh kalau pompa ASI yang cocok itu penting buangeeeeeet karena berkaitan dengan kenyamanan penggunaan serta bisa memberikan hasil yang maksimal. Selama 2 minggu pertama, saya bertahan hanya dengan menggunakan pompa single Medela Swing. Lama kelamaan saya nggak betah juga karena sesi pumping bisa memakan waktu hampir satu jam sampai beres kedua PD - nggak enak juga kelamaan kabur dari meja, meskipun Pak Bos pasti mengerti mengapa saya kerap kabur-kaburan.

Akhirnya saya mulai cari-cari review pompa ASI di blog dan forum online. Setelah baca-baca beberapa hari, saya putuskan untuk membeli pompa ASI baru yang bisa memompa kedua PD sekaligus supaya mempersingkat waktu pumping. Pilihan saya jatuh pada Spectra 9+, pompa ASI elektrik double pump yang dilengkapi dengan baterai yang bisa di-charge sehingga pompa ini bisa dipakai dimana saja tanpa harus tersambung dengan kontak listrik.

Nah, karena sudah punya dua buah pompa ASI yang berbeda maka saya sudah bisa membandingkan dan siap untuk me-review. Saya mulai dengan pompa ASI pertama saya, let's go!

Medela Swing

Medela punya dua jenis breastpump dengan nama Swing, yaitu Swing dan Swing Maxi. Keduanya punya bentuk motor pompa yang sama tapi corong yang berbeda; Swing untuk single pump dan Swing Maxi untuk double pump. Karena saya beli pompa ini pas dua hari setelah melahirkan tanpa melalui riset dan ceki-ceki yang memadai (dulu santai banget, kirain pas cuti belum butuh pompa), maka saya kurang paham bedanya single dan double selain dari corong dan price tag pastinya. Medela Swing ini saya beli di Babyzania.com dengan harga sekitar Rp 1,8 juta diantar pakai Go-Jek sehingga bisa tiba di hari yang sama.
Penampakan Medela Swing Siap Dipakai
Picture taken from Medela Official Site

Menurut saya, Medela Swing ini cukup ringkas, ringan dan gampang dibawa kemana-mana. Tapi karena sumber daya utamanya adalah adaptor yang perlu dicolok listrik, maka supaya bisa dipakai dimana saja, kapan saja, perlu dimasukkan baterai AA sebanyak 4 buah - saya pakai baterai lithium Energizer supaya tahan lebih lama dan daya isapnya tetap kuat, kalau hanya baterai AA biasa rasanya akan cepat habis. Keunggulan Medela Swing lainnya menurut saya adalah desain tiap komponen yang praktis; mudah dilepas, mudah dipasang, mudah dibersihkan serta mudah disimpan tanpa makan banyak tempat di tas.

Parts Medela Swing
Picture taken from Hello Baby Blog

Berikut penjelasan tiap part-nya.
1. Motor Unit, untuk memulai sesi pumping tinggal tekan tombol bergambar lingkaran lalu pompa akan langsung mulai 2 menit sesi massage dan berganti otomatis ke sesi expression yang bisa di-adjust kekuatannya dengan menekan tombol plus minus.
2. Connector / Valve Head, bagian ini merupakan terminal yang akan menggabungkan selang, valve membrane, dan corong.
3. Botol Penampung ASI, ukuran 150mL. Bisa langsung disambungkan dengan nipple ketika bayi ingin minum. Leher botol slim, bisa pakai nipple Medela Calma tapi saya nggak pakai karena Sid nggak suka, instead saya pakai Pigeon dan ukurannya pas sehingga botol bisa dipakai bergantian.
4. Breastshield / Corong PD, bagian ini menempel langsung dengan PD ibu. Di unit standar pembelian, diberikan corong ukuran M berdiameter 24mm, ukuran lain juga tersedia dan bisa dibeli terpisah di online shop yang menjual sparepart Medela.
5. Valve Membrane, hati-hati ketika mencuci bagian ini karena membrane (warna putih) ukurannya kecil dan mudah lepas.
6. Tubing / Selang, menghubungkan bagian motor unit dengan botol dan connector.

What I Love About Medela Swing?
- Praktis, ringkas, mudah.
- Karena setiap parts bisa dilepas maka pencucian lebih mudah dan lebih bersih.
- Materi plastik setiap komponennya terlihat lebih bagus, sturdy dan tidak mudah rusak. Yang terlihat fragile hanya bagian membrane berwarna putih yang memang harus diganti secara berkala.
- Suara tidak begitu berisik, masih bisa diredam kalau ditutup kain atau bantal.
- Portable, bisa dipakai dimana saja dengan menggunakan baterai.
- Nyaman, pijatan dan suction terasa lembut dan nggak bikin sakit (saya biasa pakai level 5-6).
- Warna kuning unyu.

What I Don't Like About Medela Swing?
- Mahal, dengan harga Rp 1,8 juta cuma dapat single pump.
- Lamaaaaaa... Karena single pump dan daya isapnya terbilang lembut, jadi untuk memompa kedua PD baru bisa selesai dalam waktu 30-40 menit.
- Tidak ada indikator waktu sehingga kalau pumping harus pasang timer di smartphone supaya nggak kebablasan.
- Fase massage hanya ada di awal dan cuma 2 menit. Setelah pindah ke fase expression, harus dimatikan dulu kalau mau balik ke fase massage.
- Masih open system, artinya ASI bisa masuk ke dalam selang, bahkan ke dalam motor unit karena tidak ada penghalang.
- Harus ganti baterai lithium sekitar 1-1.5 bulan sekali. Baterai lithium harganya sekitar Rp 70 ribu per 2 buah, sehingga sekali ganti baterai sekirar Rp 140 ribu.
- Harus siap-siap baterai cadangan yang selalu dibawa karena nggak ada indikator pemakaian baterai.
- Harga sparepart terbilang lebih mahal dibandingkan merek pompa lain.

In summary, Medela Swing ini bisa dikatakan sebagai pompa ASI premium. Kualitas baik, pemakaian sangat nyaman dan mudah karena pompa ini well-designed sehingga mudah dibuka-pasang serta mudah dibersihkan. Hanya saja, Medela Swing ini kurang cocok bagi ibu bekerja yang harus curi-curi waktu di kantor untuk bolak-balik pumping demi memerah liquid gold yang sangat berarti untuk si kecil. Mungkin lebih cocok untuk digunakan di rumah, karena saya biasa pakai untuk pumping saat Sid selesai menyusui untuk mengosongkan PD atau ketika saya bangun pagi hari. Karena kebutuhan saya di kantor, maka saya memutuskan untuk cari breastpump lain tetapi Medela Swing ini akan saya simpan, atau mau dijual saja (kalau laku) lalu beli Spectra S1 deh (loooooh, masih mau beli pompa lagiiii?).

Saturday, November 5, 2016

Keyakinanku, Keyakinanmu

Saya pernah menjalin rasa dengan seseorang yang berbeda keyakinan. Apakah itu nista?

Karena ia baik. Ia tidak pernah melarang saya beribadah, malah sabar menyuruh dan menunggu saya sholat, dan ketika saya berpuasa ia menemani hingga tiba waktu berbuka. Saya pun tidak pernah mencampuri ketika ia harus pergi di hari Minggu. Semua terasa biasa.

Kami bahagia.
Untuk beberapa saat...

Singkat cerita, kami mulai merasa ada hal yang mengganjal. Justru rasa ini muncul ketika kami semakin dekat, ingin naik tingkat.  Saya ingin memiliki, saya ingin menarik dia menyeberang ke lain sisi, saya ingin dia untuk meyakini apa yang saya yakini, untuk beribadah dengan cara saya beribadah. Saya mulai belajar dan belajar lagi, gali-gali kitab suci, tanya sana sini. Bahkan cari informasi dari forum yang sangat tidak terpuji, penuh dengan benci dan bahasa yang keji (sepertinya sekarang sudah di-banned as it was a truly savage site), dimana umat yang berseberangan saling serang dengan nada-nada berang. Semua saya lakukan untuk memohon, memaksa dia supaya ikut kepercayaan saya. Saya jadi gelap mata, pokoknya dia harus ikut saya.

Namun apa yang terjadi? Kami semakin menjauh. Semua kajian yang saya paksakan kepada dia terpental begitu saja. Bukannya makin sama, kami malah makin beda. Domba dan kambing pun kami perdebatkan. Tidak ada lagi bahagia. Saya malah menista agamanya karena saya bilang Tuhan dia bukan Tuhan. Padahal kalau kepala saya dingin, saya cuma akan bilang bahwa Tuhan dia bukan Tuhan yang saya yakini and there's nothing wrong with that, let's just agree to disagree. Sungguh beda kan kedua pernyataan itu?

Singkat cerita lagi, kami berpisah.

Saya sedih, saya kehilangan. Tapi saya percaya Tuhan punya rencana lain untuk saya (dan dia) sehingga tidak perlu kecewa. Berbekal keyakinan itu, saya jadi tenang. Tidak berlama-lama terpuruk dan mulai susun-susun kembali hati yang tadinya remuk. 

Benar saja. Saya lalu dipertemukan dengan (waktu itu masih calon) suami. Saya pelajari bahwa ayahnya (mertua saya kini) kerap membimbing orang untuk jadi mualaf. Beliau lakukan dengan cara yang amat beda (dengan apa yang dulu saya coba lakukan) - beliau buat terang semua tentang Islam, yang damai, yang penuh cinta, yang tenang dan menenangkan. Beliau (hanya) berkisah tentang kebesaran dan keajaiban Tuhan sebagaimana ditulis di dalam kitab suci, tidak lebih, tidak kurang. He does it in a certain way that those people, who wish to convert, finally believe by themselves. Bukan seperti dicekoki, tapi mengalir begitu saja dan jadi yakin dengan sendirinya. Sungguh Tuhan Maha Baik, menyadarkan saya atas kesalahan yang pernah saya buat dengan mempertemukan saya dengan suami, dengan ayah mertua.

Jadi, kembali lagi ke si dia yang terdahulu...

Meski kini kami tidak saling sapa, saya percaya kami masih saling mengingat dan saling berterima kasih. Karena saya meneguhkan keyakinan dia, dan dia memantapkan keyakinan saya. Percaya akan besarnya kasih sayang Tuhan dengan masing-masing cara, bukankah itu yang paling utama?

Lakum diinukum waliyadiin.
 
Images by Freepik