Thursday, June 30, 2016

What's In A Name?

"What's in a name? That which we call a rose,

By any other name would smell as sweet."

William Shakespeare's Romeo and Juliet


Ah, we finally arrive at the (seems-to-be) endless debate of choosing a name.

Sebenarnya mencari nama untuk calon anak tidak sulit. Biasanya, orangtua kita akan secara sukarela dan dengan senang hati memberikan beberapa pilihan nama untuk cucunya. Yang sulit adalah bagi kita, orangtua si bayi, untuk memilih nama mana yang akan disematkan saat kelahiran. Penting juga untuk bilang ke orangtua kita, alias kakek nenek calon anak, supaya no hard feeling jika namanya tidak kita gunakan. Karena Mama sudah berikan nama, Umi juga sudah berikan nama. Nama-nama yang diberikan oleh kedua ibu saya ini sama-sama memiliki arti yang bagus, kebetulan mereka dapat nama-nama ini ketika sedang mengaji. Tapi, apakah saya akan memilih satu di antara kedua nominasi itu? Belum tentu... Maaf ya, Mama. Maaf ya, Umi. Ini bukan berarti saya nggak sayang kalian.

Memilih nama menjadi salah satu hal krusial karena nama mengandung doa dan harapan orangtua. Nama saya sendiri artinya keberuntungan karena pada saat saya lahir, karir ayah saya sedang menanjak sehingga taraf hidup keluarga kami membaik. Tapi ketika besar saya sering diolok-olok karena nama saya seperti laki-laki. Sedangkan nama suami saya bisa dikatakan 'nama sejuta umat', karena banyak sekali nama serupa di berbagai belahan bumi. Saking banyaknya, suatu ketika kami pergi liburan, dia dicegat di bagian imigrasi karena muncul puluhan nama serupa di daftar unwanted person di negara tersebut. Dia ditahan di bagian imigrasi kira-kira hampir setengah jam dan baru dilepaskan setelah diinterogasi dan saya dipanggil untuk menunjukkan bukti-bukti bahwa kami hanya turis, punya uang cukup dan tiket untuk pulang kembali ke Indonesia.

Satu lagi yang menjadi pertimbangan untuk nama anak masa kini yaitu penyertaan nama ayah sebagai nama keluarga, atau dikenal dengan sebutan surname. Sehingga nantinya si anak akan memiliki nama depan atau given name ditambah dengan nama keluarga atau nama ayah. Nah, untuk penggunaan surname ini saja kami sempat berselisih paham. Suami nggak mau namanya dipakai karena menurut dia namanya bukanlah nama keluarga. Dia baru setuju untuk 'memberikan' namanya ketika konsultasi dengan ibu dan ayahnya yang mengatakan bahwa dalam Islam, sebaiknya nama anak - apalagi anak perempuan, disematkan nama ayah sebagai bukti garis keturunan, penghormatan, serta menghilangkan keraguan siapa yang menjadi wali nikah nantinya. Jadi kami putuskan untuk mengambil nama depan suami sebagai nama belakang anak kami nantinya.

Given name-nya siapa? Rahasia, sampai waktunya tiba. Yang jelas, saya suka sekali dengan nama dan kata yang memiliki arti atau berhubungan dengan 'bintang'.


"Waiting for a star to fall,

And carry your heart into my arms,

That's where you belong,

In my arms, baby..."

Boy Meets Girl's Waiting For A Star to Fall

Tuesday, June 28, 2016

Ketika Harus Pilih Stroller Terbaik...

I have to admit... Belanja untuk keperluan bayi itu sangat menyenangkan, terlebih karena barang-barangnya banyak yang bikin gemes, belum lagi 'racun' dari para mbak-mbak toko yang dengan entengnya bilang, "Ibu harus punya ini itu anu ono, loh!" Sambil menyodorkan list belanja berisi kira-kira 100+ barang. Aduh, gawat banget kalau kontrol diri kita (tepatnya, SAYA) lemah. Untungnya, selama ini nggak pernah ke baby shop sendirian - selalu ditemani suami. Kalau belanja sendirian, sepertinya saya akan langsung borong semua barang yang ada di list belanja dari toko bayi.

Keperluan bayi (dan keinginan ibunya) memang cukup banyak, tentunya butuh modal untuk memenuhinya. Kami lumayan terbantu dengan beberapa barang 'warisan' dari kakak saya yang masih bagus dan layak pakai, seperti baby cot dan baby tafel, car seat, stroller, bouncer, mainan dan baju-baju. Baby cot dan baby tafel yang terbuat dari kayu hanya tinggal dibersihkan dan dicat ulang, kalau beli baru di Stellamas sepertinya kami harus keluar biaya 10x lipat. Kondisi car seat Britax First Class Si masih cukup bagus setelah dicuci bagian cover-nya, meskipun car seat ini lumayan bulky jika dibandingkan versi barunya tapi kami masih merasa car seat ini masih bisa berfungsi baik. Untuk stroller, kami dapat lungsuran 2 buah yaitu McLaren Quest Sport dan Peg Perego Pliko P3 - jelas bukan model terbaru juga, tapi kondisi masih cukup bagus. Setelah dicuci, kedua stroller ini tampak baik-baik saja. Tetapi saya memerhatikan ada hal yang mengganggu dari stroller Peg Perego - di bagian pegangan terlihat ada subtansi aneh seperti gemuk dan ketika dipegang terasa lengket. Sudah coba dilap bersih dengan sabun dan bahan pembersih lain, tetapi masih muncul juga. Jadi galau, apakah stroller ini masih bisa dipakai atau tidak.

Akhirnya, suami saya memutuskan untuk membeli stroller baru demi keamanan dan kenyamanan si bayi nantinya. Obviously, saya senang sekali menyambut kabar gembira ini - the anticipation, the excitement of browsing through tons of Youtube vids and blog reviews, lihat-lihat online shop di Instagram dan di situs-situs e-CommerceIt's the kind of therapy that works best terutama di malam hari saat sulit tidur, maklum sudah masuk trimester ketiga where a good-night sleep is truly a luxury. Beberapa hari berselang setelah dapat lampu hijau untuk beli stroller, maka saya sudah menjatuhkan pilihan pada beberapa merek stroller - hanya saja, saya ingin melihat dan memegang langsung barangnya dulu, jadi tidak ingin terburu-buru beli secara online.

Berikut ini langkah-langkah yang saya lakukan sebelum memutuskan pilihan stroller yang akan dibeli, alias my stroller buying guide.

1. Tentukan budget pembelian stroller
Saya menganggap stroller ini bukan keperluan primer untuk si bayi sehingga harga stroller tidak memiliki pengaruh langsung terhadap tumbuh kembang anak. Kalau beli stroller yang paling premium sekalipun, nggak membuat anak saya nantinya langsung bisa ngomong, membaca, menulis, serta jago main piano, kan? Jadi, tentukan range harga yang wajar sesuai kemampuan kita, tidak perlu memaksakan diri karena stroller ini akan terlihat keren dan bagus saat dibawa jalan-jalan ke mal - fungsi, kenyamanan, dan keamanan stroller lebih penting daripada sekedar penampilan. Dari penentuan budget ini, sudah jelas kalau Bugaboo Cameleon dan Stokke Xplory nggak masuk dalam pilihan karena muahaal buanget. Bye, bye...

2. Tentukan masa pakai stroller
Beberapa tipe stroller tidak bisa digunakan sejak bayi baru lahir karena dudukannya tidak bisa fully-reclined untuk mengakomodasi bayi tidur telentang, biasanya stroller ini bentuknya lebih compact sehingga lebih ringan dan lincah untuk mengimbangi berat badan anak yang semakin bertambah dan geraknya yang semakin aktif. Kalau ingin praktis dan hemat, sebaiknya pilih stroller yang bisa dipakai oleh newborn hingga anak berusia 3-4 tahun (berat badan sekitar 25kg). Karena sudah punya MacLaren Quest Sport yang ringan untuk toddler, maka saya fokus mencari stroller yang bisa dipakai sejak Day 1.

3. Tentukan fungsi / fitur stroller yang diinginkan
Biasanya setiap merek dan tipe stroller punya ciri khas dan fungsi yang jadi unggulan merek tersebut, jadi saat screening kita harus tahu fitur apa saja yang kita inginkan, serta penggunaan stroller ini lebih banyak untuk apa dan dibawa kemana. Kalau lihat beberapa video review dari luar negeri, kebanyakan mereka pakai stroller untuk jalan-jalan di luar ruang dengan kondisi jalanan beraspal atau concrete sehingga fitur yang mereka cari adalah roda stroller yang besar, pegangan yang kokoh, serta memiliki sun-shade atau kanopi yang lebar. Sedangkan di Indonesia, kemungkinan besar kita lebih tertarik untuk menggunakan stroller yang ringan, mudah dilipat dan disimpan di mobil, karena stroller lebih banyak untuk jalan-jalan di mal atau indoor area. Kriteria stroller yang saya inginkan cukup sederhana, yaitu ringan namun handle-nya kokoh, mudah dilipat dan dibuka kembali, muat di bagasi mobil saya, serta memiliki alas yang nyaman untuk bayi.

4. Tentukan mau beli di mana
Mengapa pemilihan toko jadi penting? Karena hari gini, beda harga sedikit itu ngaruh banget, Jenderal! Dibandingkan toko-toko di mal besar, tentu toko-toko bayi seperti di ITC Kuningan, ITC Fatmawati atau ITC Cempaka Mas bisa memberikan harga yang lebih bagus untuk barang yang sama. Kalau dari sisi kenyamanan berbelanja dan ketersediaan barang, jelas toko bayi di mal besar lebih oke. Pilihan lain adalah toko-toko online, baik yang punya situs sendiri maupun di marketplace, atau bahkan di Facebook dan Instagram. Toko-toko online ini biasanya menawarkan harga yang cukup miring jika dibandingkan toko di mal besar, tapi mesti hati-hati memilih toko karena kita belum / tidak bertemu langsung dengan si penjual. Karena saya ingin dapat harga bagus sekaligus bisa lihat barang langsung sebelum membeli, maka pilihan saya adalah toko bayi di ITC atau toko online yang juga punya offline store.

Setelah browsing sana-sini, saya memiliki beberapa kandidat stroller idaman.

1. Nuna Mixx
2. Mamas & Papas Urbo 2
3. MacLaren Techno XLR
4. BabyStyle Oyster 2
5. Peg Perego Si Switch

Dan toko yang menjadi tujuan saya untuk melihat, meraba, dan membeli stroller ini adalah Sweet Mom Shop di daerah Pluit. Selain toko offline, juga melayani pemesanan via online, akun LINE, BBM, dan Whatsapp. Jadi bisa tanya-tanya dulu sebelum pesan atau memutuskan langsung datang ke toko offline-nya. Mengapa jauh-jauh ke Pluit? Well, sebenarnya saya sudah coba mampir ke ITC Kuningan tapi karena sudah dekat Lebaran, kondisi ITC Kuningan (dan ITC-ITC lain di Jakarta) lagi 'lucu-lucunya' (atau 'ganas-ganasnya') sehingga menyulitkan saya untuk tanya-tanya mengenai stroller. Selain itu, pilihan merek dan tipe stroller juga sangat terbatas.
Perlu diketahui, Sweet Mom Shop ini letaknya di dalam komplek. Tokonya juga nggak seperti toko atau ruko, lebih seperti rumah biasa yang dijadikan toko (sekaligus gudang) sehingga penuh tumpukan kardus baby gear. Nggak semua barang dipajang, jadi lebih baik kita langsung tanya ke Mas Penjaga Toko mengenai barang yang kita incar. Si Mas Penjaga Toko bisa bantu mengambilkan barang di gudang mereka dan membuka kardusnya supaya kita bisa inspeksi lebih lanjut. Kalau nggak jadi beli juga nggak apa-apa, no hard feeling ke Si Mas.

Last but not least, here's the stroller that we decided to take home for baby!
Mamas & Papas Urbo 2 in Chestnut Tweed
Pros:
- Reversible, dudukan stroller bisa diangkat dan dipindah sesuai dengan keinginan kita si bayi ingin menghadap mana - menghadap kita yang mendorong atau menghadap ke luar (inward / outward facing).
- Rangka stainless steel, lebih kokoh dibandingkan stroller Mamas & Papas tipe lain (Sola dan Armadillo Flip) tapi tetap ringan.
- Ada bumper bar alias bar pengaman di bagian depan, dilapis faux leather - sama seperti bagian handle pendorongnya. Tipe Sola dan Armadillo Flip nggak punya bumper bar ini.
- Pilihan warna yang beragam dan cenderung nggak mencolok. Sebenarnya saya naksir warna Mulberry (plum kemerahan) tapi sepertinya kurang netral. Akhirnya kami pilih warna Chestnut - untuk warna ini kebetulan materi kain pelapisnya terbuat dari tweed sehingga terlihat vintage. Love!
- Ketika dilipat, bentuknya cenderung persegi - tidak memanjang seperti MacLaren, sehingga pas banget di bagasi mobil 'mini' saya. Lebih compact dibandingkan Nuna Mixx.
- Dudukan stroller lumayan empuk sehingga tidak perlu ditumpuk selimut / alas stroller yang tebal.
- Sudah memiliki all-wheels suspension (kata suami ini penting tapi saya nggak mudeng) dan rem stroller yang mudah dibuka-tutup dengan ujung kaki kita sehingga nggak merepotkan.
- Dapat jaring anti nyamuk yang disimpan di kantong di bagian sandaran kaki.

Update setelah 3 bulan pemakaian
- Stroller ini bukan termasuk golongan stroller ringan karena model dan materialnya membuat stroller ini kokoh. Kalau ibu-ibu mau angkat stroller ini sendirian, pas mau dimasukkan ke bagasi misalnya, lumayan terasa beratnya yang sekitar 9kg. If you are considerably petite, don't go for this one.
- Karena beratnya juga, saya dan suami tidak berani untuk membawa stroller yang sedang dinaiki putri kecil kami lewat eskalator - kami selalu lewat lift ketika jalan-jalan di mal. Pernah coba satu kali naik lantai melalui eskalator dan kami kapok. Secara peraturan, stroller memang tidak boleh lewat eskalator - bisa dilihat di stiker yang ada di ujung eskalator, pasti ada gambar stroller disilang. Tapi saya lihat masih banyak orangtua yang membawa stroller melalui eskalator dan tidak ada teguran dari pihak mal. Parents, I think it's better to be safe than sorry.
- Membuka dan melipat kembali stroller ini perlu latihan. Saya hitung ada 4 langkah dasar supaya stroller ini dapat digunakan / disimpan, yaitu melipat / membuka rangka, membuka / mengunci rem roda depan, membuka / mengunci rem roda belakang, memanjangkan / memendekkan batang kendali. Semuanya sih mudah dilakukan asal sudah terbiasa, tapi memang stroller ini bukan sistem buka-tutup 1 langkah.
- Ternyata nggak muat di bagasi mobil Mazda 2, harus bongkar tutup bagasi dulu supaya muat. Yang mana lumayan repot. Akhirnya, terpaksa bertukar mobil dengan suami supaya stroller selalu disimpan di bagasi (ini sih HORE banget untuk saya, jadi bisa pakai mobil suami!).
- Karena rangkanya dari metal, otomatis bisa jadi sedikit panas ketika terpapar panas / sinar matahari. Tapi bagian metal ini tidak mengenai bayi, kok. Paling hanya menyulitkan ketika kita melipat / membuka stroller.
- Untuk bayi yang masih kecil dan belum banyak gerak, sabuk pengaman bisa hanya dipasang di bagian bawah - sehingga tidak perlu melewati bahu dan tangan. Bayi terlihat lebih nyaman dengan model sabuk pengaman seperti ini.

Overall, saya (masih) suka pakai stroller ini. Bayi terlihat nyaman dan aman di dalamnya, kami yang mendorong pun tidak menemui kesulitan berarti saat pemakaian. Harga sesuai kualitas, jadi kami puas.

Thursday, June 23, 2016

Terapi PLI: Jangan Putus Asa Karena ASA

This post was similar to the one in my old blog.

Kalau sudah baca kronologi singkat TTC kami di posting sebelumnya, maka post ini akan bahas lebih detil mengenai imunologi reproduksi dan nilai ASA.

Yuk, kenalan dulu dengan ASA.

An antisperm antibody (ASA) test looks for special proteins (antibodies) that fight against a man's sperm in blood, vaginal fluids, or semen. The test uses a sample of sperm and adds a substance that binds only to affected sperm. Semen can cause an immune system response in either the man's or woman's body.
Taken from: Antisperm Antibody Test & Results for Men & Women. March 12, 2014.

Cara mengetahui nilai ASA dilakukan dengan tes laboratorium. Untuk istri, dilakukan pengambilan sampel darah. Sedangkan untuk suami, dibutuhkan sampel sperma. Setelah didapatkan kedua sampel tersebut, maka akan dilihat reaksi antar keduanya - apakah sel sperma suami akan menggumpal jika bertemu dengan sel darah istri, tes ini biasa disebut HSAaT (Husband's Sperm Auto-agglutination Test). Tes ini sebaiknya dilakukan setelah kita melakukan tes fisiologis kandungan (USG, HSG, TORCH, dll) dan sperma, dan hasil tes tersebut menyatakan bahwa fisiologis suami dan istri normal tetapi masih belum juga terjadi kehamilan.

Hasil tes ASA dinyatakan dalam nilai kelipatan 2, dengan nilai normal 1:64. Jika nilai ASA melampaui batas normal, maka sistem imun di tubuh istri akan mengenali sel sperma suami seperti virus atau benda asing dan langsung membentuk penghalang. Sel sperma pun akan susah untuk menunaikan tugas kenegaraannya, karena sistem kekebalan tubuh istri sudah menghambat jalan masuk. ASA ini juga berperan dalam trimester awal kehamilan; jika calon ibu mengandung dengan nilai ASA tinggi, maka ada potensi bagi janin untuk sulit berkembang hingga kemungkinan terburuk - terjadi keguguran.

Untuk menurunkan nilai ASA, ada 3 alternatif tindakan yang bisa dilakukan:
1. Terapi PLI (Parental Leucosyte Immunization).
2. Istri sebaiknya menghindari makanan / benda yang dapat memicu alergi. Penyebab alergi dapat diketahui dengan melakukan FRT (Food Response Test / tes alergi terhadap makanan seperti macam-macam pati / tepung, macam-macam protein nabati / hewani, buah, dll) dan NFRT (Non Food Response Test / tes alergi terhadap benda non makanan seperti udara panas / dingin, bulu binatang, kapuk, dll).
3. Berhubungan menggunakan pengaman selama melakukan terapi PLI.
Tindakan 2 dan 3 ini dilakukan untuk meminimalkan paparan alergen pada sistem imun istri dan menunjang keberhasilan terapi PLI.

Nah, pertanyaan selanjutnya adalah, "Apa itu PLI?"
PLI (Parental Leucosyte Immunization) adalah imunisasi dimana sel darah putih suami akan disuntikkan ke tubuh istri. Untuk mengenalkan DNA suami terhadap tubuh si istri sehingga sistem antibodi istri akan belajar mengenali dan tidak lagi menganggap sperma suami sebagai benda asing.

Sebelum menjalani terapi ini, suami diwajibkan melakukan tes darah lengkap untuk mengetahui apakah ada penyakit bawaan dan virus yang berbahaya. Jika hasilnya baik, maka PLI bisa dilakukan. Satu siklus terapi PLI dilakukan selama sekitar 3 bulan, dengan 1x tindakan penyuntikan per 3 minggu. Setelah 3x penyuntikan, maka dilakukan tes HSAaT kembali untuk mengetahui nilai ASA setelah terapi. Kalau belum mencapai level normal, maka akan disarankan untuk mengikut 1 cycle lagi.

Karena di RS YPK Mandiri tidak bisa melayani terapi PLI, maka kami dirujuk ke RSIA Sayyidah di daerah Duren Sawit, Jakarta Timur. RSIA Sayyidah ini melayani terapi PLI hampir setiap hari mulai pagi hingga sore hari (jadwal pastinya bisa ditanyakan langsung via telepon  RSIA Sayyidah (021) 86902950), kami pilih hari Sabtu dan Minggu karena sama-sama bekerja - dr. Indra juga praktek di sana pada hari ini, jadi bisa sekalian konsultasi. Kami mulai terapi PLI ini di bulan Februari 2015 dengan nilai ASA 1:16,384 - lumayan tinggi. Ini berarti kami harus turun 8 tingkat untuk mencapai level normal 1:64. Semangat!

Suka duka selama menjalani terapi PLI? Banyak!
1. Disuntiknya sebentar, tapi menunggunya lumayan lama sekitar 2 jam karena sampel darah suami harus dipreparasi untuk mendapatkan serum sel darah putih. Biasanya kami tinggal makan siang dulu, di sekitar Kali Malang - Duren Sawit banyak tempat makan enak yang bisa dikunjungi untuk 'membunuh' waktu.
2. Disuntiknya nggak sakit, tapi saat tindakan pertama dan kedua sempat bikin bengkak dan ruam sedikit.
3. Harus disiplin menjaga makanan supaya terhindar dari bahan makanan pemicu alergi. Goodbye, nasi, mie dan roti, soya milk, tahu dan tempe, ikan salmon dan kepiting. Boo-hooooo... I also used to hate eating red meat (beef) and prefer chicken instead, tapi ternyata dinyatakan alergi ayam. Terpaksa 'belajar' makan daging sapi.
4. Pak Suami tergolong orang yang nggak menyukai suntik-menyuntik jadi suka agak panik ketika harus diambil darah. Terapi ini bisa mengurangi sedikit demi sedikit kecemasan dia.
5. Most of all, selama menjalani terapi PLI ini kami menjadi lebih sabar dan belajar ikhlas. Banyak bertemu dengan pasangan yang mengalami problem serupa, bahkan ada yang nilai ASA-nya mencapai 1:500,000an dan mereka tetap menjalani terapi ini dengan happy dan optimis. So, why shouldn't we?

Biaya untuk 1x tindakan penyuntikan terapi PLI sekitar Rp 1,000,000. Beberapa rekan seperjuangan bilang bahwa biaya di RSIA Sayyidah ini lebih murah dibandingkan di tempat lain dimana dr. Indra G. Mansur praktek, yaitu RS Budhi Jaya, Tebet atau di Klinik Sam Marie, Wijaya.

Jadi, jangan putus asa dulu karena nilai ASA tinggi. Tetap berdoa dan berusaha!

Wednesday, June 22, 2016

Anxiety Attack

Hello, Baby.

I can't believe that we are now counting down the days until D-date.
Anxiety is mounting. Tension is building. Well, at least for me. I don't know whether your daddy feels the same - he seems very calm, if not - indifferent, or worse - ignorant. I hope he is not. But he doesn't cry when I cry and whine and sob about so many things related to your arrival in the world, so that should mean something, right? Ok, maybe that's just my hormones.

To be honest, I am in a complete blue when it comes to you nowadays. I worry about so many things; your health, my health, C-sect or natural birth, breastfeeding, what to bring to hospital, will the doctor take good care of us, the list can go on and on...
I start to regret some of the things I did during the early pregnancy, like eating sushi (I believe at some point I came across a tiny bit of under-cooked salmon), using a small amount of salicylic acid on my skin, not eating right, not drinking much milk, skipping some pills, and all those bad stuffs I was not supposed to do during pregnancy - even though some are just myths, really. I should have done something good for you for the past 7 months, but regret does come a bit too late since your D-date is only 5-6 weeks away.

In between my uncontrollable sobbing and my prayers, I realize that I already love you more than life. Let's bring it on. Anything in the world, I would gladly risk it all just to see you, feel you, breathe you.
I hope we can finally meet each other very soon and all is well.

Love,
Your mother.

Sunday, June 19, 2016

We're Having A...

G I R L !
Cutesies For The Cutest

Bismillah. This is our very first baby gender reveal.

Kebetulan saya pun dapat kesempatan bagus dari Pampers Indonesia untuk (nanti) mencoba Pampers Premium Care New Baby. Sebagai newbie, saya tentunya sangat terbantu karena kalau disuruh pilih-pilih berbagai macam merek popok disposable yang ada di toko pastilah sangat membingungkan. Uniknya, Pampers Premium Care New Baby ini memiliki 5 keunggulan sehingga sangat tepat jadi pilihan para ibu yang ingin perawatan terbaik untuk bayi baru lahir.

1. Memiliki bahan SUPER GEL, yaitu gel dengan daya serap hingga 12 jam sehingga bayi merasa lebih nyaman dan nggak rewel ketika tidur. Menurut dokter anak, tidur nyenyak besar pengaruhnya dalam mengoptimalkan tumbuh kembang bayi dan anak. Terlebih lagi, ketika bayi tidur nyenyak, ibu pun bisa beristirahat untuk recharge tenaga.

2. Sirkulasi udara agar kulit tetap kering. Mengapa ini penting? Kulit bayi baru lahir cenderung sensitif sehingga perlu ekstra hati-hati. Jika terlalu lembab, maka bisa mengakibatkan ruam popok atau iritasi lain.

3. Lembut di segala bagian, menjaga kulit tetap nyaman.

4. Bagian pinggang 2x lebih lentur sehingga super pas dan nyaman dipakai karena mengikuti kontur tubuh bayi.

5. Mengandung lotion perlindungan kulit.

Sebenarnya ada satu keunggulan lain yang saya suka yaitu Wetness Indicator atau indikator kelembaban yang bisa membantu ibu  untuk melihat apakah sudah waktunya untuk ganti popok atau belum. Pas banget untuk newbie seperti saya. Selain dalam kemasan isi 28 yang saya dapat, Pampers Premium Care New Baby ini tersedia juga dalam kemasan isi 13 yang langsung masuk ke dalam tas bawaan untuk ke rumah sakit karena lebih praktis.

Senang sekali menantikan #MomenPertama kelahiran anak kami, pastinya nggak lupa #PakaiPampers yang memberikan perlindungan bintang lima.

The product was a nice surprise, thanks to Pampers Indonesia and FemaleDaily.
 
Images by Freepik