Showing posts with label child. Show all posts
Showing posts with label child. Show all posts

Thursday, March 9, 2017

Dear Husband, Now That You're A Father

Dear Husband,

Now that you are a father and I am a mother of our beautiful child, I would like to let you know that I am so thankful to have you both in my life.

I understand that our lives have changed, if not so drastically, since the day she was born. For the better? Or for the worse?

Do you remember that we used to fight on weekends, about which places to go, which restaurant to dine, which house appliances to buy, which brand of soap we want to try. All those trifling things.
Oh, we used to fight on weekdays, too - when you and I got home, both tired after a long daaaaay of work, and I still had to cook for at least 30 minutes (and washed the dishes after) while you only needed 5 minutes to finish the whole plate.
Remember that we also lived in a small cube on the 25th floor back then? We could not avoid each other when we fought, because we would ALWAYS bump at each other in that 31 sqm space. Tricky.

Yes, we used to fight. But we immediately made up and things got better before bed - where we enjoyed the spacious bed, just the two of us.

Do you remember that I always kept my hair nice-smelling and you liked to sniff it?

During our TTC journey, you were the one who kept me going. You gave me the courage to undergo any medical procedure needed so that we could have a child. You held my hand after we did the IUI, you wiped my tears when we failed the IUI. You, yourself, had also beaten your fear and dealt with those uncomfortable feelings during medical exams.

Oh, I also did not forget to cut your toenails once every 2 week!

We used to say "I Love You" before we went to bed.

We watched movies religiously.

We were so close.

Now that she's here, I have to admit that we are growing apart...

Literally, we don't sleep next to each other now that the baby sleeps between us. We hardly kiss each other goodnight because I am often too tired and doze off completely as soon as the baby sleeps, and you can not be bothered, busy playing that Clash Royale of yours.

My hair does not always smell like a fresh flower bouquet because I rarely have time to dry it all up in the morning - you know, I have to prepare myself to go to the office, feed our baby, prepare her milk, pack my bags (now that I am a mother and I need to carry at least 2 humongous bags to work).
Is that the reason why you no longer kiss me on the forehead before you go to work? Maybe not. Maybe you enjoy smooching our little baby better, honestly speaking, she DOES smell better. And as she gets bigger, maybe she gets to hold your hands far more often than I do.

And when was the last time we went to catch a new movie? Star Wars, was it? We missed Rogue One, and now The Last Jedi is already approaching. Couldn't care less, could we?

I am sorry now I don't have much time for you, now that I am a mother. I have forgotten about keeping your toenails short, just like I have forgotten many things. I am too forgetful nowadays. Between work and household chores, between monthly reports and dirty diapers. It's getting so hard to focus and remember things when you can only worry about one small baby (but a super cute one).

Dear Husband, I just want you to know that I have never been happier now and you are part of that happiness of mine. I am a mother, my priority in life has completely changed - family is number one on my list, and you are also a part of it. I am now a parent, we are now parents, let's be a good one. We are responsible for the life of this tiny human, an amanah from God. Let's work together to raise her to be a wonderful human being. Please help me when I am in need (I mean, when I'm so beat after a series of begadang night), and I promise you have my total support, too.

Dear Husband, now that you are a father. Continue to be an amazing one. Love her, teach her, protect her. Make sure that one day she will run to you, hug you and say that she is proud of you.

I love you, I love her, and I love us. I've said this before, and I'm saying it again, and maybe I will keep on saying this until we're gone (even that is not possible).

"Thank you for being here and now,
and the forever ever after in the making."

I don't believe in forever, though. But both of you certainly make me think that forever (being with you both) is a pleasant idea.

Okay, maybe the quote sounds exaggerating. Please just hold my hand (and hers) and never let go.
That's good enough for now.

Oh, and please continue to tell me that I am not THAT fat, you know THAT is key in every relationship.
Love you!

From There, To Here
(She doesn't seem interested to take a good family wefie, no?)

Thursday, March 2, 2017

The Diare Diary

WARNING. Baby poop pictures ahead. Turn back if you want to, you have been warned. 😀

I know. The title sounds weird, tapi beberapa waktu yang lalu kami sungguh intens bertarung melawan diare yang dialami Sid sejak masih berusia 4 bulan.

Diare pada bayi memang sulit untuk diidentifikasi, karena natur pup bayi yang memang cair. Bedanya, kalau bayi memang mengalami gangguan pencernaan pasti pup-nya akan bercampur mucus atau lendir. Tidak tampak? Well, harus dilihat dengan seksama setiap kali. Makanya saya selalu foto setiap kali Sid pup - now I have a fun collection of poop pictures on my phone jadi kalau mau lihat supaya bisa belajar tentang diare bayi, silakan japri hehehehe...

It was a fine Sunday afternoon in early November ketika saya sedang mengganti popok Sid setelah ia bermain dengan kakak-kakak sepupunya. Saya melihat ada titik-titik merah di antara lautan kecoklatan dan saya langsung panik. Kami pun segera ke UGD untuk mencari pertolongan, padahal kalau dilihat Sid tampak ceria dan baik-baik saja, berat badannya pun bagus. Di UGD dilakukan cek feses singkat dan hasilnya ada darah samar (occult blood) dan leukosit (pup normal leukosit 0). Dokter UGD hanya kasih Lacto-B dan kami diminta konsultasi dengan Dokter Spesialis Anak (DSA) di pagi hari.

Di Ruang Tunggu Dokter, With Iyang

Kami balik keesokan hari ke rumah sakit dan DSA bilang ada dua kemungkinan diare berdarah, yaitu infeksi bakteri atau alergi susu sapi (dari ASI ibu). Kami diminta cek feses lagi, dan ternyata leukosit makin meningkat sehingga DSA meresepkan antibiotik (saya lupa namanya) dan Lacto-B.

Diare Dengan Bintik Darah

Setelah minum antibiotik, pup Sid tampak normal selama kurang lebih satu minggu lalu tiba-tiba muncul darah dan lendir lagi. Saya sungguh cemas, karena saya lihat bayi kecil kami ini tetap ceria meski kenaikan berat badannya melambat dan stuck di sekitar 6.2 kilogram. Kami konsultasi lagi ke DSA, cek feses lagi,  dan kali ini dinyatakan alergi susu sapi sehingga ibu harus pantang konsumsi susu sapi dan produk turunannya. Bye bye martabak, cokelat, keju, pizza, biskuit-biskuit... Antibiotik sudah tidak perlu diberikan. Dua minggu berlalu, saya terus menerus di-PHP-in oleh pup-nya Sid - karena satu hari bagus, besok muncul darah dan lendir, eh lusa bagus lagi. Pusing kepala mamak. Mungkin karena Sid masih minum ASIP yang saya stock sebelum pantang dairy ketika saya kerja, jadi saya siapkan ASIP freshly-pumped tapi si BAB berdarah masih juga datang dan pergi silih berganti.

Akhirnya karena sudah sebulan nggak tuntas, kami memutuskan ke DSA sub-spesialis gastroenterologi di bulan Desember 2016. Ketika ditimbang, berat badan Sid naik sedikiiiit banget dan dalam hati saya mulai menghakimi diri sendiri karena nggak becus ngurus anak, rasanya langsung pingin resign besok. Sid diberikan antibiotik Flagyl karena dari tes feses sebelumnya masih ada leukosit yang cukup tinggi (di atas 5), lalu tes feses lengkap dan kultur feses untuk melihat apakah ada pertumbuhan bakteri. DSA ini mengultimatum, kalau dalam 3 hari masih ada bintik darah, mau nggak mau mesti rawat inap. Hati saya rasanya seperti dikremek-kremek...

Karena nggak membaik, saya harus merelakan bayi kecil usia 5 bulan ini untuk rawat inap dan dipasangi selang infus. Di rumah sakit, alhamdulillah si bayi tetap ceria padahal ibunya setiap malam nangis dan susah tidur (it's soooooo heartbreaking to see her little hand being connected to a machine with a needle). Selama di RS, Sid diberi Flagyl, Orezinc, Lacto-B dan infus metronidazole tambahan.

Stay Healthy, Baby!

Setelah 3 hari rawat inap, hasil kultur feses baru keluar (karena kultur memang harus 5-7 hari) dan ada temuan salmonella. What? Kaget banget, karena bakteri ini harusnya cuma ada di makanan atau sisa feses yang notabene jorok banget, saya benar-benar nggak paham bagaimana bayi saya bisa terpapar bakteri ini. Apparently, DSA bilang treatment-nya sudah tepat karena bakteri salmonella ini sensitif terhadap metronidazole. Begitu pulang dari rumah sakit, DSA wanti-wanti supaya semua peralatan bayi langsung disterilkan dengan air mendidih dan siapapun harus cuci tangan atau pakai disinfektan sebelum pegang Sid. Pemberian Orezinc dan Lacto-B lanjut sampai kira-kira 5 hari setelah keluar rumah sakit.

Sakit, But She Could Still Pull Off This Look

Siapa mengira jika tidak lama setelah rawat inap, tiba-tiba ada pup dengan bintik darah lagi. Saya langsung lemes, meski suami berusaha menenangkan. Setelah bertanya dengan adik ipar yang kebetulan sedang ambil spesialis anak, kami pun memutuskan pergi ke ahli gastroenterologi anak yang konon paling jago se-Indonesia yaitu Prof. Dr. dr. Agus Firmansyah, SpA(k). Beliau cuma praktek di RSCM Kencana (pagi, Senin dan Kamis) dan RSIA Hermina Bekasi (sore, Senin hingga Jumat). Karena sudah siang, kami terpaksa menyambangi beliau di RSIA Hermina Bekasi. Antrian ke Prof. Agus ini lumayan panjang, kami harus menunggu sekitar 3 jam lebih untuk bertemu beliau. Ketika diperiksa, Prof. Agus yang santai dan humoris ini langsung ngomelin saya...

"Masa bayi sekecil ini dikasih Flagyl?"

Menurut Prof. Agus, Sid hampir pasti mengalami alergi susu sapi yang menyerang saluran cerna dan menyebabkan diare berdarah. Mengapa demikian?

1. Tidak ada indikasi klinis si anak sakit, sebab anak bergerak aktif, ceria dan tidak rewel. Tidak demam dan masih mau menyusui dengan normal.
2. Infeksi bakteri salmonella sangat jarang terjadi, dan biasanya menyerang hanya pada kondisi lingkungan yang menurut Prof. Agus jorok buangeeeetttt.
3. Saya mengaku bahwa setelah bayi keluar dari rumah sakit, saya mulai konsumsi keju, biskuit, dan makanan lain yang mengandung susu sapi (meski belum berani untuk minum susu sapi).

Kami keluar dari ruangan Prof. Agus dengan (sedikit) lega. Beliau tidak memberikan obat atau suplemen apapun, not even Lacto-B. Saya disarankan untuk terus pantang susu sapi selama masih memberikan ASI dan diberikan tips untuk memulai MPASI dengan menghindari MPASI instan yang biasanya mengandung susu sapi.

Pesan dari Prof. Agus,
"Treat the child, not the lab result."
Maksudnya, kita harus cermat mengamati kondisi klinis anak kita. Jika anak demam, tampak lemas atau kesakitan, cenderung mengantuk atau menangis terus, tidak mau menyusu dan makan minum, nah itu saatnya kita waspada dan harus segera ke dokter atau rumah sakit. Sebaliknya, jika anak tidak demam, masih ceria dan tidak rewel, bergerak aktif, masih menyusui seperti biasa, nafsu makan normal, maka kita seharusnya bisa menangani diare di rumah, tanpa perlu tambahan antibiotik yang kurang baik bagi bayi. Kunci penanganan diare di rumah cukup sederhana tapi memang butuh ketelatenan ibu, yaitu cukupi asupan cairan (makan dan minum). Kalau makanan dan minuman biasa dirasa kurang, bisa diberikan oralit (saya pakai merek Pedialyte dan Dehidralyte).
Jangan lupa, tetap rawat bayi dan anak dengan penuh kasih sayang, tetap sabar dan tenang.

Nah, sabar dan tenang ini justru yang paling sulit dilakukan karena ibu-ibu kalau anaknya sakit kan rasanya sedih banget dan mau jedot-jedotin kepala ke tembok...

Semangat, mommies!

Thursday, December 22, 2016

Menjadi Ibu

There's a story behind everything. But behind all your stories is always your mother’s, because hers is where yours begin.
[Mitch Albom]
Hari Ibu kali ini terasa berbeda. Mengapa? Karena ini adalah pertama kalinya saya merayakan Hari Ibu dengan menjadi seorang ibu.

Bahagia? Banget.

Saya tahu bahwa kehadiran anak akan mengubah banyak hal dalam hidup, mulai dari gaya hidup, pola makan, bentuk fisik, jam tidur, nggak bisa nonton bioskop, mandi harus buru-buru (loh jadi curhat ini...) dan banyak hal lainnya. Tapi saya sungguh tidak menyangka bahwa secara personality saya pun berubah. Misalnya, dulu saya sering ngambek dengan mood swing yang lumayan parah dan tak tentu arah, nggak bakal sembuh kecuali disogok aneka cemilan yang saya suka oleh suami. Kini, saya jadi lebih kalem dan tenang menghadapi berbagai hal, seperti saat macet di jalanan, mobil yang saya kendarai disenggol motor, menghadapi beban pekerjaan, dan lainnya - stay calm and composed. Sepertinya sekarang jatah panik, riweuh dan nangis-nangis heboh hanya terpakai kalau anak sakit.
  
Tidak hanya itu, ada satu hal terbaik yang saya rasakan sejak menjadi ibu - saya jadi lebih dekat dengan Mama. Saya sungguh berterima kasih kepada Mama karena saya memang memercayakan Sid untuk dijaga dan dirawat oleh Mama selama saya bekerja. Beliau, dengan ikhlas dan tanpa mengeluh, bersedia untuk menggantikan peran saya sebagai ibu selama sekitar 11 jam, 5 hari dalam seminggu. Meski ada seorang mbak di rumah yang sigap membantu, Mama tetap berkomitmen untuk turun tangan sendiri mengurus Sid, kecuali saat ada kegiatan di luar rumah seperti mengaji - itu pun hanya sekitar 2 jam di hari Senin dan Kamis.

Saya ingat dulu, kami sering berselisih paham dan ujung-ujungnya entah saya atau Mama yang ngambek. Sekarang, hampir tidak pernah. Kalau pun ada perbedaan pendapat, saya berusaha meredam diri dan melembutkan kata-kata supaya beliau tidak tersinggung. Terutama jika ada hal-hal yang berkaitan dengan merawat Sid yang saya kurang setuju, saya biasanya menyampaikan dengan hati-hati, dengan pilihan kata yang baik. Sekarang ini, kalau sudah hampir-hampir mau berantem dengan Mama, saya langsung mundur teratur dengan cantik, ambil air wudhu (shalat bikin adem) atau ambil cemilan manis-manis (sibuk ngunyah jadi batal ngambek).

Ada satu kejadian yang paling membuat saya terhanyut, mengharu biru, menye-menye. Ketika itu saya sempat sakit, kurang tidur dan workload sedang unyu-unyunya di kantor. Sambil memijat ringan punggung saya, Mama berkata,
"Jadi ibu itu harus kuat, nggak boleh sakit. Kalau ibu sakit, seluruh keluarga bisa-bisa nggak ada yang ngurusin."
Saya langsung terhenyak mendengarnya. Betapa "receh" dan remeh sakit saya ini, sungguh tidak dapat dibandingkan dengan apa yang Mama telah lakukan untuk saya, untuk anak saya, untuk keluarga kami. She runs the house, she provides our food, she takes care of my baby, she caters for her husband, she manages to do all those things every single day. How does she do that?
"Itu namanya kekuatan seorang ibu..."
Benar, jangan pernah underestimate kekuatan seorang wanita yang telah menjadi ibu.
Hanya seorang ibu yang bisa menyulap rasa sakit setelah melahirkan menjadi tawa bahagia saat pertama kali melihat bayinya.
Hanya seorang ibu yang tahu bagaimana caranya tetap fokus meeting di pagi hari meski semalaman terjaga karena bayinya sedang sakit.
Hanya seorang ibu yang mampu menggendong anaknya selama berjam-jam meski berat badan anak kian bertambah dari hari ke hari.
Hanya seorang ibu yang selalu berharap Tuhan bisa memindahkan rasa sakit di tubuh si anak ke tubuhnya sendiri.
Hanya seorang ibu yang bisa mendahulukan keperluan anak dan keluarganya, lebih dari ia mendahulukan kepentingan dirinya.

Setelah menjadi ibu, saya jadi tahu. Kalau menjadi ibu ternyata bukan hanya sekedar punya anak, ngurus anak, ngasih makan, ngasih susu. Tanggung jawab, kedewasaan, dan kekuatan harus juga dimiliki oleh seorang ibu. Harus bisa membuang ego jauh-jauh, menjaga harmoni keluarga.

My First. My Last. My Everything!

Selamat Hari Ibu, Mama. Terima kasih sudah menunjukkan kepada saya, cinta yang luar biasa, tanpa kenal pamrih, tanpa batas waktu. Tidak akan bisa saya balas dengan cara apapun juga. Sebagai anak, saya hanya bisa berdoa kepada Tuhan, semoga Mama senantiasa ditetapkan dalam Iman dan Islam, diberikan berkah kesehatan dan kebahagiaan lahir batin. Izinkan saya menyayangimu setiap hari, memelukmu tanpa bosan, mendoakanmu tanpa putus.

Every day should be a Mother's day, your day.
Because that's exactly how I'm going to love you.
Every single day.

Thursday, October 6, 2016

The Pumping Management

Tidak terasa tinggal 1 minggu sebelum saya harus kembali bekerja. Kembalilah baby blues melanda... Mengapa? Karena bonding antara bayi dan ibu semakin erat, ibu pun sudah terbiasa mengurus bayi dan mulai terasa nikmat karena bayi sedang lucu-lucunya pada usia menjelang 3 bulan ini. Sid sudah bisa tersenyum, tertawa dan bersuara lucu ketika merespon orang-orang yang berada di dekatnya, terutama ibu. Rasanya nggak ingin balik ngantor, tapi berhubung biaya sekolah konon semakin mahal, maka ibu harus setloooooonggg!

Straight from Day 1, alhamdulillah Sid hingga hari ini masih bisa menikmati ASI eksklusif (ASIX). Namun sejak Sid berusia 1 minggu, saya sudah mulai mencicil peralatan untuk pemberian ASIP dan belajar pumping. Pernah dua kali saya terpaksa berikan ASI perah (ASIP) yang tidak dibekukan dari botol susu karena ada sedikit bloody show di PD saya (menurut suster sebaiknya jangan diberikan langsung, tunggu luka kering dulu). Sid minum dari botol tanpa kesulitan (saya trial pakai botol Philips Avent), tapi saya langsung hentikan penggunaan botol begitu luka sembuh karena menurut artikel-artikel yang saya baca, sebaiknya bayi ASIX dikenalkan dengan botol susu di atas usia 6 minggu (waktu itu usia Sid masih 2 minggu).

Ternyata belajar manajemen pumping lebih sulit dari belajar manajemen pemasaran ketika kuliah dulu. Masalahnya, pumping berkaitan dengan ibu dan bayi yang dipengaruhi banyak faktor. Kemampuan fisik setiap ibu untuk memproduksi ASI bisa bervariasi dari hari ke hari, begitu juga dengan kemauan bayi meminum ASI. Ada akun IG yang terkenal di kalangan ibu pejuang ASI yang menyuarakan rumus Supply = Demand (wuih, semacam kuliah Mikroekonomi nih) - jadi, ibu harus rutin pumping 2 jam sekali untuk memperbanyak produksi ASI. Saya sih mau saja pumping 2 jam sekali, tapi masalahnya 2 jam itu pas Sid bangun dan minta diajak main atau minum ASI atau simply mau ngempil saja, nggak sempat pumping. Alhasil, saya hanya sempat pumping 1 kali sebanyak 150mL ketika Sid tidur malam - kebetulan Sid sudah bisa tidur malam agak lama sekitar 4-5 jam. Suka iri banget kalau lihat hashtag #pejuangASI di IG yang bisa dapat ASIP banyak, hiks, jangan patah semangat!

Tentu saya masih harus belajar banyak tentang manajemen pumping ketika kembali bekerja, mudah-mudahan cepat pintar ya. Jadi, sekarang saya sharing tentang peralatan perah-memerah dulu.

1. Medela Swing
Paling penting dipunya dan paling mahal harganya di antara peralatan yang lain. Saya baru beli di hari ke-3 setelah lahiran karena ada sedikit bloody show yang bikin PD bengkak. Beli breast pump ini di Babyzania.com karena harganya paling ok dibandingkan online store lain dan bisa dikirimkan ekspres lewat Gojek. So far, suka dan nggak ada masalah dengan breast pump ini, jadi nggak ingin coba-coba yang lain. Breast pump ini memang banyak direkomendasikan, baik dari review internet maupun teman-teman dekat. Saya suka karena ukurannya compact, daya isap lembut tapi kuat, dan nggak berisik. Bisa pakai batere (saran saya pakai batere lithium, lebih mahal tapi awet) atau adaptor. Saya juga beli satu set pumping connector tambahan (connector, valve, membran dan breast shield) supaya bisa dipakai bergantian.

2. Botol Susu
Dari set Medela Swing, saya dapat 2 botol susu Medela ukuran 150mL tapi tanpa nipple Medela Calma yang saya beli terpisah (di Babyzania.com juga). Saya beli lagi 1 set botol susu Medela (isi 3) karena takut kurang, eh nggak tahunya saya dapat kado 2 botol susu Philips Avent dan 2 botol susu Pigeon (kedua merek ini sudah dapat nipple). Medela Calma bagus, karena susu hanya keluar ketika bayi menyedot (ada semacam lubang kecil yang mengatur keluarnya cairan) sehingga cocok untuk bayi yang baru belajar menggunakan botol. Philips Avent Natural juga ok, karena diklaim memiliki bentuk nipple natural dan ukuran botol susu yang lebar sehingga mudah dipegang dan mudah dibersihkan. Pigeon Peristaltic ini bentuknya paling basic menurut saya, model botol slim neck sehingga terlihat paling langsing di antara 3 tipe botol yang saya punya. Let's see Sid suka botol yang mana...

3. Kantung Plastik ASI
Saya pernah baca artikel di blog seorang ibu yang membandingkan penggunaan botol kaca dan kantung plastik untuk penyimpanan ASIP. Hasilnya, botol kaca memang jauh lebih hemat dan tidak bocor tapi cukup repot karena butuh storage yang besar dan harus bolak-balik dicuci serta disterilkan. Kantung plastik ASI jelas lebih mahal karena hanya sekali pakai (nggak eco-friendly juga) dan jika tidak hati-hati plastik mudah bocor, tapi lebih praktis dan hemat tempat. Karena nggak ingin repot cuci botol dan nggak ingin menambah freezer, saya putuskan pakai kantung plastik ASI. Saya pakai kantung plastik ASI merek Gabag dan Natur. Gabag sedikit lebih tebal dan sturdy (bisa berdiri jika diisi) dibandingkan Natur, tapi Natur bisa disimpan dalam bentuk gepeng/pipih sehingga mudah diatur dan hemat tempat.

4. Sterilizer
Berhubung boleh request kado lahiran, saya minta dibelikan sterilizer oleh teman kantor suami. Jadi saya dapat steam sterilizer Pigeon yang juga dilengkapi dengan bottle and food warmer. Sebenarnya sterilizer Pigeon ini cukup bagus, tapi hasilnya botol masih basah karena disterilkan dengan menggunakan steam. Akhirnya saya beli Panasonic D-sterile (kebetulan dapat voucher Rp 100.000 dari Blibli.com) yang bisa mengeringkan dan mensterilkan. Pigeon sterilizer masih dipakai untuk bottle warmer (ketika ASIP sudah cair dan sudah dipindah ke botol).

5. Pembersih Peralatan ASIP
Pembersih ini terdiri dari sabun cuci, waslap dan sikat botol. Sabun cuci saya memakai Pure Baby Liquid Cleanser karena harganya terjangkau (sering promo juga) dan mudah didapat di online maupun offline store. Waslap saya pakai sebagai pengganti tapas pencuci. Khusus untuk pencuci botol susu, saya memakai Boon Suds yang sangat praktis.

I think that's all for now. Sekarang saya harus move on ke tahap berikutnya yang lebih menantang yaitu Bottle Training!

Thursday, July 21, 2016

We Named Her...


Nama lengkapnya adalah Sidra Kamila Salman.

Sidra, diambil dari سدرة المنتهى‎ , yang dalam bahasa Indonesia ditulis sebagai Sidratul Muntaha, adalah pohon di surga/pohon yang menandai batas langit/surga ke-tujuh.

Kamila, artinya sempurna, tidak kurang suatu apapun.

Sehingga, Sidra Kamila Salman ini kami artikan sebagai berkah yang sempurna, yang diamanahkan kepada Keluarga Salman agar bisa membukakan pintu surga.

Dalam bahasa Urdu, Sidra artinya 'seperti bintang'. And yes, she is truly bright, shining through my life, like a star.

Wednesday, July 13, 2016

The Fall

Hello, baby.

This day was (almost) be one of the blackest days in life.
.
.
.
.
.
.
I slipped and fell down.
Laid flat on the concrete floor in Plaza Senayan parking ground.

I got bruises and all, on my face, hands, arms, feet. But all those did not matter much to me. It was you who was on top of my mind, it was you, you all along.

I rushed myself to the nearest public restroom where I could still feel you thumping lightly. I cried, and cried, and called your daddy. He told me to calm myself and I should wait for him there. Then we raced to the hospital, where I spent a good deal of time sobbing while waiting for the doctor to see us. To my relief, the doctor said you were fine.
Your little heart was still beating.
Your little fingers were still throwing punches.
Your little feet were still kicking recklessly.
.
.
.
.
.
.
I was joyous.
But I still cried at night before bed. Maybe tomorrow I would still cry over this all over again.

Because today I learned my lesson the hard way. I did not set my priority straight, I thought I was strong and capable to do things on my own, but I forgot to put you into the picture and put both of us at risk. I can't tell you enough how sorry I am to let this happen to you, at this very moment, at this very stage of your development. It hurts me beyond anything, any pain that I have endured in life so far.

I pray to God that He will let me have you, hold you, and watch you grow.

Love,
Your mother.

Thursday, June 30, 2016

What's In A Name?

"What's in a name? That which we call a rose,

By any other name would smell as sweet."

William Shakespeare's Romeo and Juliet


Ah, we finally arrive at the (seems-to-be) endless debate of choosing a name.

Sebenarnya mencari nama untuk calon anak tidak sulit. Biasanya, orangtua kita akan secara sukarela dan dengan senang hati memberikan beberapa pilihan nama untuk cucunya. Yang sulit adalah bagi kita, orangtua si bayi, untuk memilih nama mana yang akan disematkan saat kelahiran. Penting juga untuk bilang ke orangtua kita, alias kakek nenek calon anak, supaya no hard feeling jika namanya tidak kita gunakan. Karena Mama sudah berikan nama, Umi juga sudah berikan nama. Nama-nama yang diberikan oleh kedua ibu saya ini sama-sama memiliki arti yang bagus, kebetulan mereka dapat nama-nama ini ketika sedang mengaji. Tapi, apakah saya akan memilih satu di antara kedua nominasi itu? Belum tentu... Maaf ya, Mama. Maaf ya, Umi. Ini bukan berarti saya nggak sayang kalian.

Memilih nama menjadi salah satu hal krusial karena nama mengandung doa dan harapan orangtua. Nama saya sendiri artinya keberuntungan karena pada saat saya lahir, karir ayah saya sedang menanjak sehingga taraf hidup keluarga kami membaik. Tapi ketika besar saya sering diolok-olok karena nama saya seperti laki-laki. Sedangkan nama suami saya bisa dikatakan 'nama sejuta umat', karena banyak sekali nama serupa di berbagai belahan bumi. Saking banyaknya, suatu ketika kami pergi liburan, dia dicegat di bagian imigrasi karena muncul puluhan nama serupa di daftar unwanted person di negara tersebut. Dia ditahan di bagian imigrasi kira-kira hampir setengah jam dan baru dilepaskan setelah diinterogasi dan saya dipanggil untuk menunjukkan bukti-bukti bahwa kami hanya turis, punya uang cukup dan tiket untuk pulang kembali ke Indonesia.

Satu lagi yang menjadi pertimbangan untuk nama anak masa kini yaitu penyertaan nama ayah sebagai nama keluarga, atau dikenal dengan sebutan surname. Sehingga nantinya si anak akan memiliki nama depan atau given name ditambah dengan nama keluarga atau nama ayah. Nah, untuk penggunaan surname ini saja kami sempat berselisih paham. Suami nggak mau namanya dipakai karena menurut dia namanya bukanlah nama keluarga. Dia baru setuju untuk 'memberikan' namanya ketika konsultasi dengan ibu dan ayahnya yang mengatakan bahwa dalam Islam, sebaiknya nama anak - apalagi anak perempuan, disematkan nama ayah sebagai bukti garis keturunan, penghormatan, serta menghilangkan keraguan siapa yang menjadi wali nikah nantinya. Jadi kami putuskan untuk mengambil nama depan suami sebagai nama belakang anak kami nantinya.

Given name-nya siapa? Rahasia, sampai waktunya tiba. Yang jelas, saya suka sekali dengan nama dan kata yang memiliki arti atau berhubungan dengan 'bintang'.


"Waiting for a star to fall,

And carry your heart into my arms,

That's where you belong,

In my arms, baby..."

Boy Meets Girl's Waiting For A Star to Fall

Tuesday, June 28, 2016

Ketika Harus Pilih Stroller Terbaik...

I have to admit... Belanja untuk keperluan bayi itu sangat menyenangkan, terlebih karena barang-barangnya banyak yang bikin gemes, belum lagi 'racun' dari para mbak-mbak toko yang dengan entengnya bilang, "Ibu harus punya ini itu anu ono, loh!" Sambil menyodorkan list belanja berisi kira-kira 100+ barang. Aduh, gawat banget kalau kontrol diri kita (tepatnya, SAYA) lemah. Untungnya, selama ini nggak pernah ke baby shop sendirian - selalu ditemani suami. Kalau belanja sendirian, sepertinya saya akan langsung borong semua barang yang ada di list belanja dari toko bayi.

Keperluan bayi (dan keinginan ibunya) memang cukup banyak, tentunya butuh modal untuk memenuhinya. Kami lumayan terbantu dengan beberapa barang 'warisan' dari kakak saya yang masih bagus dan layak pakai, seperti baby cot dan baby tafel, car seat, stroller, bouncer, mainan dan baju-baju. Baby cot dan baby tafel yang terbuat dari kayu hanya tinggal dibersihkan dan dicat ulang, kalau beli baru di Stellamas sepertinya kami harus keluar biaya 10x lipat. Kondisi car seat Britax First Class Si masih cukup bagus setelah dicuci bagian cover-nya, meskipun car seat ini lumayan bulky jika dibandingkan versi barunya tapi kami masih merasa car seat ini masih bisa berfungsi baik. Untuk stroller, kami dapat lungsuran 2 buah yaitu McLaren Quest Sport dan Peg Perego Pliko P3 - jelas bukan model terbaru juga, tapi kondisi masih cukup bagus. Setelah dicuci, kedua stroller ini tampak baik-baik saja. Tetapi saya memerhatikan ada hal yang mengganggu dari stroller Peg Perego - di bagian pegangan terlihat ada subtansi aneh seperti gemuk dan ketika dipegang terasa lengket. Sudah coba dilap bersih dengan sabun dan bahan pembersih lain, tetapi masih muncul juga. Jadi galau, apakah stroller ini masih bisa dipakai atau tidak.

Akhirnya, suami saya memutuskan untuk membeli stroller baru demi keamanan dan kenyamanan si bayi nantinya. Obviously, saya senang sekali menyambut kabar gembira ini - the anticipation, the excitement of browsing through tons of Youtube vids and blog reviews, lihat-lihat online shop di Instagram dan di situs-situs e-CommerceIt's the kind of therapy that works best terutama di malam hari saat sulit tidur, maklum sudah masuk trimester ketiga where a good-night sleep is truly a luxury. Beberapa hari berselang setelah dapat lampu hijau untuk beli stroller, maka saya sudah menjatuhkan pilihan pada beberapa merek stroller - hanya saja, saya ingin melihat dan memegang langsung barangnya dulu, jadi tidak ingin terburu-buru beli secara online.

Berikut ini langkah-langkah yang saya lakukan sebelum memutuskan pilihan stroller yang akan dibeli, alias my stroller buying guide.

1. Tentukan budget pembelian stroller
Saya menganggap stroller ini bukan keperluan primer untuk si bayi sehingga harga stroller tidak memiliki pengaruh langsung terhadap tumbuh kembang anak. Kalau beli stroller yang paling premium sekalipun, nggak membuat anak saya nantinya langsung bisa ngomong, membaca, menulis, serta jago main piano, kan? Jadi, tentukan range harga yang wajar sesuai kemampuan kita, tidak perlu memaksakan diri karena stroller ini akan terlihat keren dan bagus saat dibawa jalan-jalan ke mal - fungsi, kenyamanan, dan keamanan stroller lebih penting daripada sekedar penampilan. Dari penentuan budget ini, sudah jelas kalau Bugaboo Cameleon dan Stokke Xplory nggak masuk dalam pilihan karena muahaal buanget. Bye, bye...

2. Tentukan masa pakai stroller
Beberapa tipe stroller tidak bisa digunakan sejak bayi baru lahir karena dudukannya tidak bisa fully-reclined untuk mengakomodasi bayi tidur telentang, biasanya stroller ini bentuknya lebih compact sehingga lebih ringan dan lincah untuk mengimbangi berat badan anak yang semakin bertambah dan geraknya yang semakin aktif. Kalau ingin praktis dan hemat, sebaiknya pilih stroller yang bisa dipakai oleh newborn hingga anak berusia 3-4 tahun (berat badan sekitar 25kg). Karena sudah punya MacLaren Quest Sport yang ringan untuk toddler, maka saya fokus mencari stroller yang bisa dipakai sejak Day 1.

3. Tentukan fungsi / fitur stroller yang diinginkan
Biasanya setiap merek dan tipe stroller punya ciri khas dan fungsi yang jadi unggulan merek tersebut, jadi saat screening kita harus tahu fitur apa saja yang kita inginkan, serta penggunaan stroller ini lebih banyak untuk apa dan dibawa kemana. Kalau lihat beberapa video review dari luar negeri, kebanyakan mereka pakai stroller untuk jalan-jalan di luar ruang dengan kondisi jalanan beraspal atau concrete sehingga fitur yang mereka cari adalah roda stroller yang besar, pegangan yang kokoh, serta memiliki sun-shade atau kanopi yang lebar. Sedangkan di Indonesia, kemungkinan besar kita lebih tertarik untuk menggunakan stroller yang ringan, mudah dilipat dan disimpan di mobil, karena stroller lebih banyak untuk jalan-jalan di mal atau indoor area. Kriteria stroller yang saya inginkan cukup sederhana, yaitu ringan namun handle-nya kokoh, mudah dilipat dan dibuka kembali, muat di bagasi mobil saya, serta memiliki alas yang nyaman untuk bayi.

4. Tentukan mau beli di mana
Mengapa pemilihan toko jadi penting? Karena hari gini, beda harga sedikit itu ngaruh banget, Jenderal! Dibandingkan toko-toko di mal besar, tentu toko-toko bayi seperti di ITC Kuningan, ITC Fatmawati atau ITC Cempaka Mas bisa memberikan harga yang lebih bagus untuk barang yang sama. Kalau dari sisi kenyamanan berbelanja dan ketersediaan barang, jelas toko bayi di mal besar lebih oke. Pilihan lain adalah toko-toko online, baik yang punya situs sendiri maupun di marketplace, atau bahkan di Facebook dan Instagram. Toko-toko online ini biasanya menawarkan harga yang cukup miring jika dibandingkan toko di mal besar, tapi mesti hati-hati memilih toko karena kita belum / tidak bertemu langsung dengan si penjual. Karena saya ingin dapat harga bagus sekaligus bisa lihat barang langsung sebelum membeli, maka pilihan saya adalah toko bayi di ITC atau toko online yang juga punya offline store.

Setelah browsing sana-sini, saya memiliki beberapa kandidat stroller idaman.

1. Nuna Mixx
2. Mamas & Papas Urbo 2
3. MacLaren Techno XLR
4. BabyStyle Oyster 2
5. Peg Perego Si Switch

Dan toko yang menjadi tujuan saya untuk melihat, meraba, dan membeli stroller ini adalah Sweet Mom Shop di daerah Pluit. Selain toko offline, juga melayani pemesanan via online, akun LINE, BBM, dan Whatsapp. Jadi bisa tanya-tanya dulu sebelum pesan atau memutuskan langsung datang ke toko offline-nya. Mengapa jauh-jauh ke Pluit? Well, sebenarnya saya sudah coba mampir ke ITC Kuningan tapi karena sudah dekat Lebaran, kondisi ITC Kuningan (dan ITC-ITC lain di Jakarta) lagi 'lucu-lucunya' (atau 'ganas-ganasnya') sehingga menyulitkan saya untuk tanya-tanya mengenai stroller. Selain itu, pilihan merek dan tipe stroller juga sangat terbatas.
Perlu diketahui, Sweet Mom Shop ini letaknya di dalam komplek. Tokonya juga nggak seperti toko atau ruko, lebih seperti rumah biasa yang dijadikan toko (sekaligus gudang) sehingga penuh tumpukan kardus baby gear. Nggak semua barang dipajang, jadi lebih baik kita langsung tanya ke Mas Penjaga Toko mengenai barang yang kita incar. Si Mas Penjaga Toko bisa bantu mengambilkan barang di gudang mereka dan membuka kardusnya supaya kita bisa inspeksi lebih lanjut. Kalau nggak jadi beli juga nggak apa-apa, no hard feeling ke Si Mas.

Last but not least, here's the stroller that we decided to take home for baby!
Mamas & Papas Urbo 2 in Chestnut Tweed
Pros:
- Reversible, dudukan stroller bisa diangkat dan dipindah sesuai dengan keinginan kita si bayi ingin menghadap mana - menghadap kita yang mendorong atau menghadap ke luar (inward / outward facing).
- Rangka stainless steel, lebih kokoh dibandingkan stroller Mamas & Papas tipe lain (Sola dan Armadillo Flip) tapi tetap ringan.
- Ada bumper bar alias bar pengaman di bagian depan, dilapis faux leather - sama seperti bagian handle pendorongnya. Tipe Sola dan Armadillo Flip nggak punya bumper bar ini.
- Pilihan warna yang beragam dan cenderung nggak mencolok. Sebenarnya saya naksir warna Mulberry (plum kemerahan) tapi sepertinya kurang netral. Akhirnya kami pilih warna Chestnut - untuk warna ini kebetulan materi kain pelapisnya terbuat dari tweed sehingga terlihat vintage. Love!
- Ketika dilipat, bentuknya cenderung persegi - tidak memanjang seperti MacLaren, sehingga pas banget di bagasi mobil 'mini' saya. Lebih compact dibandingkan Nuna Mixx.
- Dudukan stroller lumayan empuk sehingga tidak perlu ditumpuk selimut / alas stroller yang tebal.
- Sudah memiliki all-wheels suspension (kata suami ini penting tapi saya nggak mudeng) dan rem stroller yang mudah dibuka-tutup dengan ujung kaki kita sehingga nggak merepotkan.
- Dapat jaring anti nyamuk yang disimpan di kantong di bagian sandaran kaki.

Update setelah 3 bulan pemakaian
- Stroller ini bukan termasuk golongan stroller ringan karena model dan materialnya membuat stroller ini kokoh. Kalau ibu-ibu mau angkat stroller ini sendirian, pas mau dimasukkan ke bagasi misalnya, lumayan terasa beratnya yang sekitar 9kg. If you are considerably petite, don't go for this one.
- Karena beratnya juga, saya dan suami tidak berani untuk membawa stroller yang sedang dinaiki putri kecil kami lewat eskalator - kami selalu lewat lift ketika jalan-jalan di mal. Pernah coba satu kali naik lantai melalui eskalator dan kami kapok. Secara peraturan, stroller memang tidak boleh lewat eskalator - bisa dilihat di stiker yang ada di ujung eskalator, pasti ada gambar stroller disilang. Tapi saya lihat masih banyak orangtua yang membawa stroller melalui eskalator dan tidak ada teguran dari pihak mal. Parents, I think it's better to be safe than sorry.
- Membuka dan melipat kembali stroller ini perlu latihan. Saya hitung ada 4 langkah dasar supaya stroller ini dapat digunakan / disimpan, yaitu melipat / membuka rangka, membuka / mengunci rem roda depan, membuka / mengunci rem roda belakang, memanjangkan / memendekkan batang kendali. Semuanya sih mudah dilakukan asal sudah terbiasa, tapi memang stroller ini bukan sistem buka-tutup 1 langkah.
- Ternyata nggak muat di bagasi mobil Mazda 2, harus bongkar tutup bagasi dulu supaya muat. Yang mana lumayan repot. Akhirnya, terpaksa bertukar mobil dengan suami supaya stroller selalu disimpan di bagasi (ini sih HORE banget untuk saya, jadi bisa pakai mobil suami!).
- Karena rangkanya dari metal, otomatis bisa jadi sedikit panas ketika terpapar panas / sinar matahari. Tapi bagian metal ini tidak mengenai bayi, kok. Paling hanya menyulitkan ketika kita melipat / membuka stroller.
- Untuk bayi yang masih kecil dan belum banyak gerak, sabuk pengaman bisa hanya dipasang di bagian bawah - sehingga tidak perlu melewati bahu dan tangan. Bayi terlihat lebih nyaman dengan model sabuk pengaman seperti ini.

Overall, saya (masih) suka pakai stroller ini. Bayi terlihat nyaman dan aman di dalamnya, kami yang mendorong pun tidak menemui kesulitan berarti saat pemakaian. Harga sesuai kualitas, jadi kami puas.

Wednesday, June 22, 2016

Anxiety Attack

Hello, Baby.

I can't believe that we are now counting down the days until D-date.
Anxiety is mounting. Tension is building. Well, at least for me. I don't know whether your daddy feels the same - he seems very calm, if not - indifferent, or worse - ignorant. I hope he is not. But he doesn't cry when I cry and whine and sob about so many things related to your arrival in the world, so that should mean something, right? Ok, maybe that's just my hormones.

To be honest, I am in a complete blue when it comes to you nowadays. I worry about so many things; your health, my health, C-sect or natural birth, breastfeeding, what to bring to hospital, will the doctor take good care of us, the list can go on and on...
I start to regret some of the things I did during the early pregnancy, like eating sushi (I believe at some point I came across a tiny bit of under-cooked salmon), using a small amount of salicylic acid on my skin, not eating right, not drinking much milk, skipping some pills, and all those bad stuffs I was not supposed to do during pregnancy - even though some are just myths, really. I should have done something good for you for the past 7 months, but regret does come a bit too late since your D-date is only 5-6 weeks away.

In between my uncontrollable sobbing and my prayers, I realize that I already love you more than life. Let's bring it on. Anything in the world, I would gladly risk it all just to see you, feel you, breathe you.
I hope we can finally meet each other very soon and all is well.

Love,
Your mother.

Sunday, June 19, 2016

We're Having A...

G I R L !
Cutesies For The Cutest

Bismillah. This is our very first baby gender reveal.

Kebetulan saya pun dapat kesempatan bagus dari Pampers Indonesia untuk (nanti) mencoba Pampers Premium Care New Baby. Sebagai newbie, saya tentunya sangat terbantu karena kalau disuruh pilih-pilih berbagai macam merek popok disposable yang ada di toko pastilah sangat membingungkan. Uniknya, Pampers Premium Care New Baby ini memiliki 5 keunggulan sehingga sangat tepat jadi pilihan para ibu yang ingin perawatan terbaik untuk bayi baru lahir.

1. Memiliki bahan SUPER GEL, yaitu gel dengan daya serap hingga 12 jam sehingga bayi merasa lebih nyaman dan nggak rewel ketika tidur. Menurut dokter anak, tidur nyenyak besar pengaruhnya dalam mengoptimalkan tumbuh kembang bayi dan anak. Terlebih lagi, ketika bayi tidur nyenyak, ibu pun bisa beristirahat untuk recharge tenaga.

2. Sirkulasi udara agar kulit tetap kering. Mengapa ini penting? Kulit bayi baru lahir cenderung sensitif sehingga perlu ekstra hati-hati. Jika terlalu lembab, maka bisa mengakibatkan ruam popok atau iritasi lain.

3. Lembut di segala bagian, menjaga kulit tetap nyaman.

4. Bagian pinggang 2x lebih lentur sehingga super pas dan nyaman dipakai karena mengikuti kontur tubuh bayi.

5. Mengandung lotion perlindungan kulit.

Sebenarnya ada satu keunggulan lain yang saya suka yaitu Wetness Indicator atau indikator kelembaban yang bisa membantu ibu  untuk melihat apakah sudah waktunya untuk ganti popok atau belum. Pas banget untuk newbie seperti saya. Selain dalam kemasan isi 28 yang saya dapat, Pampers Premium Care New Baby ini tersedia juga dalam kemasan isi 13 yang langsung masuk ke dalam tas bawaan untuk ke rumah sakit karena lebih praktis.

Senang sekali menantikan #MomenPertama kelahiran anak kami, pastinya nggak lupa #PakaiPampers yang memberikan perlindungan bintang lima.

The product was a nice surprise, thanks to Pampers Indonesia and FemaleDaily.

Thursday, May 26, 2016

It's Shopping Time, Baby!

Salah satu mitos kehamilan yang masih saya ikuti adalah... Belanja keperluan bayi baru boleh dimulai saat masuk usia kehamilan 7 bulan. Alasannya pamali, (lagi-lagi) karena sebaiknya kita tidak mendahului kehendak Tuhan. Jika dilihat dari sisi medis, hal ini memang masuk akal karena di usia 7 bulan ini si bayi sudah bisa dinyatakan bersiap-siap untuk lahir. Indera dan organ bayi sudah terbentuk, dapat berfungsi dengan baik. Berat badan dan posisi tubuh bayi juga sudah mengarah ke arah 'jalan lahir' sehingga wajar kalau memasuki usia 28 minggu, ibu hamil diminta kontrol lebih sering ke dokter kandungan - setiap 2 minggu sekali.

Karena alasan medis (dan non-medis) tersebut, maka saya sabar banget menunggu. Padahal sejak sudah tahu jenis kelamin si calon anak, rasanya sudah ingin merencanakan ini itu dan membeli beberapa barang yang diperlukan (meski kadang batas 'perlu' dan 'ingin' itu sangatlah kabur). Ketika sekarang sudah boleh belanja, rasanya riang gembira bagaikan melayang di udara deh. Apalagi karena sejak hamil, malah jadi nggak semangat belanja - paling hanya belanja celana hamil dan baju dalam karena sudah nggak muat. Beli-beli makeup juga menurun drastis, almost zero. Cuma beli skin care yang masih agak semangat, dan jajan makanan tentunya.

Dan, pertanyaan selanjutnya sebagai seorang calon emak newbie adalah... Belanja apa saja? Di mana?

Paling mudah, tanyakan kepada ibu atau kakak perempuan yang sudah punya pengalaman berbelanja untuk bayi. Atau kepada teman / saudara yang sudah lebih dulu jadi mommies. Forum atau blog mengenai kehamilan juga bisa jadi alternatif yang baik untuk cari informasi, biasanya ada yang menuliskan langsung alamat toko dan harga perlengkapan sehingga kita bisa take note. Langsung datang ke toko perlengkapan? Boleh saja, karena cara ini juga salah satu yang saya jalani.

Sebenarnya saya nggak awam-awam banget dalam berbelanja perlengkapan dan perawatan bayi. Dulu ketika kakak saya hamil keponakan yang pertama, saya yang bertugas antar-antar belanja sehingga lumayan familiar dengan barang-barang bayi. Sayangnya, itu kan sudah lebih dari 10 tahun lalu dan pastinya sudah banyak yang berubah. Tadinya saya ingin ke ITC Fatmawati, ke Toko Bayi Kemenangan yang dulu rajin dikunjungi kakak saya. Tetapi mengingat pembangunan monorail yang heboh di daerah sana, saya pun urung dan langsung memutuskan berkunjung ke ITC Kuningan yang lebih dekat dari rumah.

Gosipnya, di ITC Kuningan ini juga banyak toko perlengkapan bayi dengan pilihan barang yang lengkap dan harga bersahabat. Salah satu toko yang paling direkomendasikan di forum / blog adalah Fany Baby Shop yang terletak di lantai 4 ITC Kuningan. Ternyata, oh, ternyata, toko ini punya beberapa lokasi di lantai yang sama. Ada toko Fany Baby Shop kecil, besar dan khusus peralatan besar seperti stroller dan car seat. Letaknya cukup berdekatan, jadi bisa menclok ke satu lokasi lalu ke lokasi lain dengan mudah. Toko ini ramai banget, tapi penjaga tokonya cukup banyak dan responsif sehingga kita nggak perlu menunggu lama untuk dilayani. Nggak heran kalau toko ini jadi favorit karena begitu duduk di muka toko, kita langsung diberikan secarik kertas berisi daftar belanja kebutuhan bayi. Ada sekitar 100 item, mulai dari kebutuhan primer bayi baru lahir (pakaian, popok, alat kesehatan) hingga mainan dan baby gear. Menolong banget untuk para mama baru.

Sempat lihat-lihat beberapa baju bayi di Fany Baby Shop ini, tapi kebanyakan bermotif warna-warni dengan merek Libby. Sedangkan saya cari baju polos, kalau bisa warna putih polos bermerek Jingle - dulu kakak saya pakai merek ini dan saya suka karena bahannya bagus. Akhirnya hanya beli perlak kain waterproof merek BabyBee (yang harganya 2x lebih mahal dari perlak karet biasa ukuran jumbo, thanks to mbak penjaga toko yang pandai merayu) dan bedong bayi katun. Sebenarnya masih mau lihat-lihat tapi toko ini tambah ramai, jadi kurang nyaman kalau banyak tanya ke si mbak dan ujung-ujungnya nggak jadi beli.

Kami putuskan untuk berkeliling lihat toko lain. Karena weekend, toko lain pun cukup sibuk. Kalau pun ada yang terlihat sepi, kemungkinan karena tokonya kurang lengkap dan pelayanannya kurang bagus (sayang, lupa catat nama tokonya). Akhirnya di pojok belakang dekat lift, kami menemukan toko bayi Happy Bear. Meski cukup besar, toko ini letaknya agak ngumpet sehingga nggak begitu ramai. Satu hal lagi yang menarik kami datang ke Happy Bear ini karena ada tulisan 'Terima Cuci Stroller'. Kami memang berniat untuk reuse kereta dorong dan kursi mobil milik keponakan yang kondisinya masih lumayan bagus, hanya perlu dicuci. Selain stroller, toko ini juga bisa cuci car seat dan bouncer. Saya juga sempat tanya apakah ada baju bayi polos selain merek Libby, rupanya mereka jual merek Fluffy. Saya lebih sreg dengan bahan baju Fluffy ini, lebih lembut, jahitan cukup rapi dan ada yang putih polos.

Belanja apa saja? Well, saya kasih daftar belanja dari Fany Baby Shop ini supaya memudahkan. List ini sangat membantu karena kita nggak perlu tulis-tulis lagi. Mungkin ada yang kita perlu dan tidak perlu, ada yang sudah punya atau belum punya, tinggal refer ke daftar belanja ini saja. Soal kualitas dan kuantitas perlengkapan dan peralatan bayi, saya selalu diingatkan ibu kalau perkembangan bayi itu pesat - seringkali kita nggak perlu barang dalam jumlah banyak dan harga yang mahal karena seringkali hanya dipakai sebentar. Untuk barang yang bisa dipakai lama, nggak ada salahnya kita beli yang berkualitas baik.

Happy Shopping!

Berikut ini shopping list edisi perdana beserta harganya.
1. Perlak kain waterproof merek BabyBee Rp 115,000
2. Bedong bayi katun isi 6 pcs Rp 160,000
3. Baju tangan panjang merek Fluffy ukuran newborn 6 pcs Rp 90,000
4. Baju tangan pendek merek Fluffy ukuran newborn 6 pcs Rp 80,000
5. Celana panjang tutup kaki merek Fluffy ukuran newborn 6 pcs Rp 90,000
6. Celana pop merek Fluffy ukuran newborn 6 pcs Rp 80,000
7. Sarung tangan dan sarung kaki merek Fluffy 4 set @ Rp 20,000
8. Waslap mandi merek Nary 5 buah @ Rp 20,000
9. Bantal bayi halus merek Picard Baby Rp 120,000
10. Baby bib 1 set isi 5 pcs merek Luvable Friends Rp 175,000 (beli di Lotte Shopping Avenue, diskon 50% jadi Rp 87,500)
11. Termometer Infra Red Touchless merek klaus Rp 350,000
12. Oral Care Rabbit Ears (semacam waslap pembersih mulut dan gigi) merek MAM Rp 100,000
13. Cuci stroller 2 buah Rp 200,000
14. Cuci car seat Rp 100,000
15. Cuci bouncer Rp 90,000 
16. Bak mandi bayi Puku Rp 285,000 (beli di Blibli.com dapat diskon 25% jadi sekitar Rp 213,000 - beda tipis dengan harga di ITC Kuningan sekitar Rp 250,000)
17. Fabric Bath Support Mothercare Rp 233,100 (beli di Lazada dapat diskon 10% dari harga toko, yang kirim langsung dari Mothercare)

Masih banyak edisi selanjutnya, of course! Masih penasaran mau berkunjung ke Suzanna Baby Shop dan Toko Bayi Kemenangan di weekend berikutnya. Dan yang paling bikin excited adalah... Belanja segala macam skin care bayi!

"When I shop, the world gets better, and the world is better, but then it's not, and I have to do it again." - Becky Bloomwood, Confessions of A Shopaholic 

Monday, May 23, 2016

The Waiting Game

Kadang kita harus menunggu,
dan hanya bisa menunggu. 

Diminta menunggu,

bersabar dulu,
mungkin karena kita selalu,
terburu waktu,
membuang detik menit berlalu.

Menunggu,

duduk saja dulu,
tidak usah tergesa dan terpacu,
hilangkan rasa kecewa itu,
besarkan hati yang sempat kecil sebegitu.

Menunggu,
berusaha dulu,
biarkan doa terus berlagu,
karena Sang Empunya Waktu,
Maha Punya Rencana kan, Bu?

Kadang kita harus menunggu,

dan tak ada yang salah dengan itu.

Teruntuk anak dari suamiku, yang masih rencana Tuhan.
Ibu tunggu ya, Nak.

Originally posted in my other blog.

Monday, May 16, 2016

Pregnancy Myths Busted?

Don't jinx it, so they say...

Mungkin menurut beberapa orang, saya menulis blog ini seperti hendak mendahului kehendak Tuhan karena sudah seperti merayakan kelahiran si (calon) anak. What if begini, what if begitu? Jelas, saya juga nggak tahu. Jalan hidup memang bisa berubah dalam sekejap, hanya Tuhan Yang Maha Mengetahui. To be honest, saya sudah 'merayakan' kehadiran si calon anak ini pada saat dokter menemukan kantung janin di rahim saya. Saya tidak menunda menyiarkan kabar baik ini kepada keluarga, saudara, dan teman-teman meski konon katanya lebih baik menunggu sampai usia kandungan melewati 3 bulan. Mengapa? Karena saya sudah menunggu lama untuk dapat kebaikan ini, selain itu tidak mungkin merahasiakan gejala-gejala trimester pertama yang lumayan merepotkan. Tapi utamanya, saya ingin disemangati dan didoakan oleh orang lain. Takut dan cemas menghadapi rocky road ini membuat saya merasa butuh dukungan, terutama dari orangtua. Bos di kantor juga perlu tahu, supaya bisa maklum kalau saya mendadak work-from-home karena saat pagi badan serasa dikelitik ulekan semalaman.


So yes, this blog is another effort untuk mendapat support dari orang-orang sekitar saya. This digital trace is also a good keepsake, no matter where this journey will take us. Sama sekali bukan berniat melangkahi rencana-Nya.

Do this, don't do that...

Menjadi seorang wanita saja sudah beragam tantangannya, apalagi ketika hamil. Banyak sekali mitos turun temurun yang jadi dos and don'ts selama hamil. Ditambah perubahan fisik dan mental, mendadak hidup jadi terasa serba dibatasi. Memang semua anjuran maupun larangan itu bertujuan baik, supaya ibu dan jabang bayi sehat dan terlindungi selalu. Tetapi seringkali kita (saya, lebih tepatnya) sulit memilah mana yang benar-benar untuk alasan kesehatan dan keamanan ibu dan anak, dan mana yang sekedar ‘katanya, katanya’.

Jadi, mana yang mitos atau fakta? Saya coba tuliskan pengalaman yang paling 'kena' ke saya, dan diulas berdasarkan pengetahuan dan hasil konsultasi dengan dokter – dokter beneran, bukan cuma klik-klik Mbah Google. Setuju atau tidak, saya kembalikan ke pribadi masing-masing karena setiap orang punya kondisi badan, kebiasaan, dan cara pandang berbeda. Perlu diingat juga, tiap dokter mungkin punya opini masing-masing. 

Myth or Fact 1: Jangan Minum Obat
Seiring perubahan hormon, ibu hamil bisa merasakan berbagai macam gejala penyakit yang membuat kondisi badan super duper tidak nyaman. Meskipun banyak yang bilang minum obat adalah big no-no, tapi nggak sedikit juga yang beranggapan kalau konsumsi obat-obatan yang dijual bebas masih aman untuk ibu dan bayi, terutama untuk mengatasi keluhan sehari-hari seperti lelah, diare, pusing, dan mual.
My verdict: Fact.
Lebih tepatnya, jangan minum obat sembarangan. Memang ada obat tertentu yang masih aman diminum oleh ibu hamil dalam dosis dan jangka waktu tertentu, tapi ada juga yang tidak boleh sama sekali karena apa yang kita makan dan minum langsung berefek pada bayi. Saya sempat minum Panadol warna biru untuk redakan pusing - dokter tidak melarang asalkan coba diminum 1/2 kaplet dulu dan tidak boleh lebih dari 3 hari berturut-turut. Minum obat maag pun pernah karena mual muntah bikin nggak bisa tidur. Pastikan untuk konsultasi dengan dokter sebelum mengonsumsi obat maupun suplemen makanan yang dijual bebas. Cermati label di kemasan atau leaflet yang ada, seharusnya ada informasi atau peringatan untuk ibu hamil dan menyusui. Kalau badan mulai terasa kurang fit, daripada sibuk cari obat lebih baik istirahat dan minta pijitin suami dulu deh.

Myth or Fact 2: Jangan Makan Ini, Jangan Makan Itu
Nah, ini paling tricky karena berhubungan langsung dengan gizi ibu dan anak. Buanyaaakk pantangan makan mulai dari buah nanas (bisa menyebabkan keguguran), daging kambing (bikin bayi kepanasan), ikan lele (takut anaknya nggak bisa diam), seafood (banyak mengandung merkuri / limbah tercemar), makanan pedas (nanti anaknya botak), MSG (memengaruhi otak / kecerdasan bayi), air es atau es krim (bayi jadi besar dan susah 'keluar').
My verdict: Mostly myth.
Pantangan makan dari dokter saya hanya protein (daging, telur, keju, susu) yang tidak diolah / mentah / setengah matang dan minuman beralkohol, sisanya boleh dimakan asal tidak menimbulkan alergi dan dalam jumlah wajar. Makan nanas boleh setelah lewat trimester pertama dan harus pilih buah yang matang, tapi jangan dihabiskan satu bonggol sendirian per satu kali makan. Seafood, kalau nggak segar dan tempat pengolahannya kotor lebih baik hindari. Ikan yang tidak boleh dimakan adalah king mackerel, hiu, todak (swordfish) karena kadar merkurinya tinggi. Makan di restoran Jepang atau steak? Boleh juga, meski harus ekstra wanti-wanti ke server untuk minta dibuatkan yang matang. Begitu makanan datang, lihat dulu baik-baik apakah sudah matang. Kalau dirasa belum matang, minta dikembalikan ke dapur untuk dimatangkan atau kalau ragu-ragu lebih baik jangan dimakan. Intinya, harus berusaha makan sehat demi kepentingan si bayi.
Tapi saya masih rajin minum air kelapa hijau - konon katanya bisa menghilangkan racun, menjernihkan air ketuban, dan bikin kulit bayi bersih. Rasanya enak dan segar, mudah dibeli di pinggir jalan dengan harga murah, so why not?

Myth or Fact 3: Harus Makan Banyak
Ibu hamil harus makan banyak dan sering dengan porsi 2 orang sebab makanan harus dibagi ke jabang bayi. 
My verdict: Myth.
Sampai usia kehamilan sekitar 16 minggu, berat badan saya naik cuma 1 kg. Jangankan makan sering dan banyak, makan nasi sekali saja emoh. Masih susah makan karena all-day sickness dan pilih-pilih makanan. Setelah menginjak 20 minggu, saya mulai bisa makan enak dan mudah lapar. Berat badan langsung naik heboh sekitar 3 kg per bulan hingga total sudah naik sekitar 10kg per hari ini. Meski bayi dinyatakan sehat dengan berat badan cukup, dokter minta saya untuk jaga berat badan dengan olahraga dan atur pola makan, takut kebablasan. Makan berlebihan bisa menyulitkan ibu dan janin - ibu sulit bergerak aktif sehingga kurang fit dan mudah lelah, bayi pun bisa terlalu besar sehingga sulit lahiran normal.
Nggak perlu makan banyak, nggak perlu juga takut gendut. Lebih baik makan dalam porsi secukupnya dengan frekuensi teratur dan jangan lupa snacking. Saya biasanya jajan rujak buah (tanpa bumbu), ngemil kismis atau biskuit (Astor hehehe, sebab bosan kalau marie terus), dan minum air putih. Tapi seminggu sekali saya bisa makan 2 porsi mie ayam bakso pangsit sekaligus simply because I can't help it

Myth or Fact 4: Jangan Mewarnai Rambut
Beberapa bulan sebelum hamil, saya mewarnai rambut di salon langganan. Rencananya, setelah 2-3 bulan mau diwarnai lagi karena berambisi mirip J.Lo. Ketika tahu hamil jadi galau, mau cat rambut atau nggak karena rambut mulai meng-alay. Mas Herry (pemilik Salon Brunette kesayangan) bilang nggak boleh, padahal dia bisa saja mengiyakan demi pemasukan salonnya. Teman-teman yang sudah punya anak juga bilang jangan sampai kelar menyusui karena kalau zat kimia dari produk pewarna rambut bisa masuk ke dalam darah dan air susu. Padahal kalau di-googling, banyak situs yang menuliskan belum ada penelitian yang mengonfirmasi mengenai hal ini. 
My verdict: Not sure.
Zat kimia yang harus dihindari adalah ammonia, tapi saat ini sudah ada pewarna rambut bebas ammonia. Ada yang menyarankan pakai henna tapi berdasarkan pengalaman kerja di beauty company, henna kemasan nggak lebih baik dari cat rambut kotakan karena nggak benar-benar alami. Dokter saya bilang bahwa memang belum ada kesimpulan medis mengenai hal ini. Bahan kimia yang bisa diserap oleh kulit biasanya hanya dalam jumlah kecil, sehingga kemungkinan tidak mencederai janin. Lain halnya jika bahan tersebut masuk ke dalam tubuh melalui mulut, maka kemungkinan mengganggu kesehatan janin akan besar. Boleh saja mewarnai rambut setelah melewati trimester pertama (masa kritis pembentukan organ bayi). Jika ada riwayat alergi terhadap cat rambut, sebaiknya jangan mengecat rambut karena ibu bisa terganggu kondisi fisiknya – apalagi jika sampai sakit karena akan memengaruhi asupan gizi dan perkembangan bayi.
Meski hingga hari ini saya bertahan nggak mewarnai rambut, sebenarnya bukan karena takut ada gangguan pada janin. Tapi lebih karena warna rambut kelihatan baik-baik saja dan uban juga hampir nggak ada. Prinsip saya, kalau nggak perlu-perlu amat lebih baik nggak usah dilakukan.

Myth or Fact 5: Jangan Pakai Skin Care dan Makeup
Nggak boleh pakai lipstik? Nggak boleh pakai eye cream? Apa kabar bibir kering dan kantong mata? Jadi selama 9 bulan mesti rela tampil kucel? Ada yang bilang ibu hamil akan jadi glowing dengan sendirinya, but I honestly don't buy this. Sebab ketika hamil muda dan kondisi badan sedang payah-payahnya, saya malas BUANGET bersih-bersih muka. Boro-boro ikut tren aplikasi 10+ skin care layers, pakai pembersih makeup saja nggak ada tenaga. Hasilnya? Muka kusam luar biasa. 
My verdict: Myth, but...
Penggunaan kosmetik bersifat topikal, atau hanya di permukaan kulit sehingga kemungkinan terserap dalam dosis yang sangat minim ke dalam tubuh. Tapi memang ada beberapa bahan yang harus dihindari seperti Retinoids (stay away from Retin-A atau Accutane, periksa krim anti aging kalau mengandung retinol sebaiknya distop), Tetracycline (yang pernah jerawatan pasti tahu obat Doxycycline), Salicylic Acid (bahan anti bakteri yang banyak terdapat di produk anti jerawat dan shampoo anti ketombe, nama lainnya adalah Beta Hydroxy Acids atau BHA), Hydroquinone (biasanya terdapat di produk pemutih / pencerah), serta satu geng bahan kimia yang biasa ada di cat kuku yaitu Phthalates, Toluene, dan Formaldehyde.
Karena takut jelek dan terlihat nggak happy, saya langsung cari-cari produk pembersih muka yang aman tapi praktis seperti tisu pembersih makeup dan micellar water supaya kalau sudah ngantuk berat dan malas bangun dari kasur bisa langsung srek-srek-srek tanpa air. Pelembab juga pilih yang praktis, ringan serta sudah tahu kualitas dan keamanannya. Lipstik mengandung timbal? Jangan dimakan lipstiknya hehehehe, dan jangan beli merek itu, cari merek lain. Penting untuk pastikan merek kosmetik yang kita gunakan aman dan terdaftar di BPOM RI, bukan merek atau buatan dokter gajebo.

Myth or Fact 6: Ngidam Harus Dituruti
Karena kondisi badan yang serba nggak karuan, mulai dari nggak doyan makan atau malah laperan terus, wanita hamil seringnya minta dibelikan makanan atau minuman yang serba tidak biasa. Konon katanya, kalau nggak dipenuhi nanti si anak bisa ileran terus dan gelisah.
My verdict: Myth.
I don't know about you, tapi kalau saya nggak pernah ada permintaan makan/minum yang aneh-aneh dan di jam-jam yang nggak biasa. Nggak enak makan makanan tertentu memang saya alami terutama ketika sedang heboh-hebohnya mual, nah pada saat ini memang kebayang-bayang makanan/minuman tertentu yang (sepertinya) nggak akan bikin mual. Untungnya, jaman sekarang sudah serba mudah - banyak abang ojek yang setia menanti order kita dengan hanya tap tap di aplikasi handphone daripada bikin susah suami yang sudah lelah kerja seharian. Lebih baik langsung pesan lewat abang ojek, nggak sampai satu jam biasanya sudah sampai. Bayi senang, ibu kenyang, ayah tenang, abang ojek pun gembira dapat order dan tip.

Myth or Fact 7: Jangan Ehem Dengan Suami
Nah, ini yang paling gong dan rada malu kalau bertanya ke dokter atau orang lain. Seringkali pasangan suami istri cemas mengenai hal ini, terutama di trimester awal kehamilan, karena banyak alasan seperti takut 'diintip' atau melukai si bayi, tiba-tiba kontraksi, pendarahan, hingga risiko keguguran.
My verdict: Myth.
Di trimester pertama, saya sempat ada kista berdiameter 5cm yang sepertinya balapan dengan pertumbuhan janin. Sempat parno dan coba periksa ke dokter lain, ternyata malah diwanti-wanti nggak boleh berhubungan sama sekali dan kami berdua malah tambah takut. Ketika balik ke dokter langganan, beliau menenangkan dan berkata bahwa kista itu perlu dimonitor saja, biasanya akan mengecil dan hilang seiring janin bertambah besar. Eventually, kista hilang dengan sendirinya di trimester kedua. Dokter bilang, nothing should be changed tapi pastikan nothing too extreme, senyamannya saja. Kalau ada gejala/riwayat kandungan kurang kuat, dokter memang menyarankan untuk berhati-hati sedikit. Masalah bayi bisa kepoin kita? Tenang saja, bayi aman karena dia punya 'dunia' sendiri, nggak akan ikut-ikut 'urusan' ayah ibunya.

Punten pisan kalau ada yang kurang atau malah lebay, maklum newbie di dunia emak-emak. Let's agree to disagree on some things, maybe? 
Intinya sih, harus pintar-pintar menilai kondisi diri sendiri dan selalu konsultasi dengan dokter yang dipercaya jika ada hal-hal yang diragukan. Nggak perlu tunggu kontrol bulanan untuk tanya-tanya pada dokter, biasanya para dokter masa kini secara sukarela memberikan nomor telepon supaya bisa dihubungi via SMS atau Whatsapp sehingga kita bisa tanya apa saja, kapan saja.

Friday, May 6, 2016

#FlashbackFriday: Childhood Memories

Hello, Baby.

I miss writing to you! It's just that your mother hasn't been feeling too well lately - I think I must get a little exhausted now that you're getting bigger and my body needs a bit of adjustment to keep up with your development. But no worry, I've been eating lots nowadays to ensure you're packing more pounds and getting the nutrition you need. Not to forget my daily dose of milk (and ice cream, you know, this is strictly for calcium intake).

Today I want to share you stories about childhood. It is definitely one of the happiest time of one's life, filled with playfulness, enjoyment, and loving memories. Your father and I were once small and very cute, too. Of course, each of us have our own personal memories to treasure but those memories all come down to one thing; we were happy and loved.

We Were Once Babies, Too

Your father was born in early October, he is the eldest of three children. Just take a look at his chubby cheeks, he gave your grandmother quite a hard time during labor due to his weight. One of his most cherished childhood memories is, well, spending time studying. His parents put a high importance on education and took on this matter seriously. Once they took a family road trip to Semarang and his father would stop along the way whenever he saw a chance for his children to learn something. He took them to see rice fields and observe the working farmers, or dropped by a pottery-making house. His parents' efforts were totally worth it; he was always on top of the class and successfully got into one of the nation's finest university. Since he was a boy, he grew fond of cars and football and video games. He once had an emergency visit to the doctor because he got so stiff, had trouble moving as he spent hours and hours sitting in front of the computer, playing games. I won't let this happen to you, promise.

Four months after your father was born, I came into the world. My parents named me after the word 'lucky' because I was considered as an unexpected blessing. My sister and brother were already in elementary school when I suddenly popped up among them. Lucky, I easily became the apple in the eye in my family. My childhood was superb! I wouldn't say that I was spoiled, but my mom and dad really knew how to make me have a good time. I enjoyed riding bikes (you can tell from the numerous scar marks on my legs), climbing on trees (until one day the tree fell, I landed on a dirty gutter and received stitches on my behind), playing with animals (I had dozen of cats, two bunnies, and 17 hamsters, I loved them all). My mom and dad loved to treat their children with books - my mom used to read me to sleep and my dad bought me new books whenever I got good grades. Despite being occupied with work, my dad always made time to take us for a short holiday. My mom was obsessed on dressing me up; she even made me clothes identical to my Barbie doll (you will inherit a closet full of Barbies, guaranteed).

Our Loving Parents
So, later you will meet our parents - your grandparents. They are the ones responsible for creating those exciting memories and experience that molded us, their immense love enabled us to become the persons we are today. They have raised us to be humble, to be kind, to put family as top priority. I believe they will love you as much as we do, ready to give their all for you to be happy and loved, exactly like what they have been doing for us all these years. Respect them, love them.

I must say that childhood plays a very important role in a person's future life. I wish it will be the happiest for you, for every child, because you deserve it. I want you to grow up and carry around the loving memories of the people who love you. May our abundant love inspire you to be the best version of yourself and able to do good for others.

Love,
Your mother.

Sunday, May 1, 2016

What A Big Nose You Have

Hello, Baby.

We just had our 4D screening last Thursday. Your father and I were so excited!
We met with dr. A. Budi Marjono in RSPI Puri Indah. He was very nice and took his time to talk us through the screening process. He was also quite detailed and made sure to complete all steps - he even waited patiently for you to flip around to look at your brain's development. The 4D screening itself is advised to be done during the 26 to 30 weeks of pregnancy. It is not mandatory, but it is more for physiological assessment- to check the baby’s growth, the position of placenta and its appearance, the amount of amniotic fluid, the development of the heart, belly, kidneys and bladder, along with the gender if we wish to know (note to other mommies-to-be: if you want the gender of the baby to be a surprise, do let your doctor know in advance).

We're so glad that we had done the screening. It was so much more than seeing images of your cute face. We got to find out that you're doing all well in the womb; your stubby fingers, your heartbeat, your brain, your lungs, your round tummy. You were kicking, punching, twirling and thumping. You were so lively, the doctor happily told us that. You were also very camera-ready so we got pretty good images of your face. I think you have your father's nose as it looks quite big, mine is quite tiny. Great to know that you're growing healthily - every measurement seemed to be on track with your age.

Working On My Punches Here, Mom!

Now that you're almost hitting the 1 kg mark, I want you to stay happy and healthy there. Hope to meet you in the next 90-ish days!

Love,
Your mother.

Update 23/06/2016
Biaya USG 4D di RSPI Puri Indah Rp 1,000,000 belum termasuk biaya konsultasi dokter spesialis sebesar Rp 325,000. Sepertinya biaya ini lumayan standar untuk tindakan USG 4D, dan sayang sekali nggak diganti asuransi kantor Pak Suami.

TTC: The Good, The Bad and The Ugly

This one is not for baby, but for every woman who is going, or has gone through the process of trying to conceive a child. Semoga kalian merasa 'Saya Tidak Sendirian Menghadapi Ini'. Percayalah, you are not alone.

Di negara ini memang susah mendapatkan privasi, jangankan untuk urusan rumah tangga, urusan agama dan kepercayaan saja bisa sedemikian vulgar dan setiap hari kita bisa lihat diumbar dengan mudahnya di social mediaKepo is the name of the game.

Ketika baru bergandengan tangan, langsung ditanya kapan sebar undangan? Ketika baru menikah, langsung ditanyakan mau punya anak berapa? Kalau mau membayari biaya pernikahan dan biaya sekolah anak sih, monggo loh... Tapi kalau nggak, ya nggak perlu kepo karena jodoh dan anak sepenuhnya wewenang Tuhan. Repotnya kalau orang yang ditanya merasa tersinggung, justru si penanya malah bingung mengapa ada orang yang sebegitu sensitif, toh pertanyaan semacam itu biasanya keluar secara spontan atau cenderung basa-basi.

Nah, balik lagi ke poin dimana jodoh dan anak itu takdir Tuhan. Ada yang dimudahkan, ada juga yang diminta bersabar menunggu. Nggak ada yang salah, namanya juga kehidupan - tetap harus dijalani. Untungnya, saya diminta bersabar untuk menunggu keduanya - jodoh dan anak. Jodoh nggak perlu dibahas ya, karena panjang berliku-liku macam Tersanjung 1-7. Saya mau cerita mengenai proses sebelum akhirnya berhasil mendapat calon anak ini.

Proses mempersiapkan diri untuk kehamilan biasa dikenal dengan istilah promil (program kehamilan) atau di luar negeri disebut TTC, singkatan dari Trying-to-Conceive. Di tulisan ini saya pakai istilah TTC ya, bukan karena mau sok kebule-bulean tapi lebih ke maknanya - menurut saya kata 'trying' ini lebih dekat dengan istilah ikhtiar. Ikhtiar ini artinya lebih dari sekedar berusaha, tapi merupakan konsep dan proses menyelesaikan masalah dengan berupaya memilih jalan yang terbaik. Saat kita berikhtiar, maka cara berpikir dan bertindak kita pun diperbaiki supaya bisa menuju ke jalan tersebut.

We realized that something needed to be checked ketika merayakan hari jadi perkawinan yang pertama. Pertanyaan semacam:
"Kok belum isi?"
"Kapan nih nyusul kasih cucu?"
"Gemukan ya, tapi belum hamil?"
"Sudah lama kan nikahnya?"
"Udah umur segitu lho, gak takut telat?"
Sudah pasti sliweran ketika kumpul keluarga, kumpul tetangga, kumpul teman sekolah, kuliah, atau kantor, begitulah. Seolah-olah my uterus had become a problem for the society. Tapi, keinginan untuk punya anak dan umur yang semakin bertambah mendorong kami untuk segera memeriksakan diri ke dokter.

Here's our TTC milestone.
September 2014 - Cek fisik suami istri di RSIA Evasari, karena suami terindikasi teratozoospermia lalu kami memutuskan untuk menemui androlog.
Oktober 2014 - Konsultasi dengan androlog di RSIA YPK Mandiri, diberikan terapi obat untuk suami dan diminta cek fisik setelah 2 minggu. Cek fisik setelah 2 minggu, hasilnya baik. Androlog menyarankan untuk mencoba konsepsi natural selama 1 siklus.
November 2014 - Nothing happened dan memutuskan untuk kembali ke androlog. Cek fisik suami bagus, lalu dirujuk ke obgyn untuk cek fisik istri.
Desember 2014 - Konsultasi dengan obgyn di RS YPK Mandiri, dijelaskan di awal bahwa infertilitas bisa disebabkan oleh 40% faktor suami, 40% istri, 10% karena keduanya, dan 10% tidak bisa dijelaskan karena sepenuhnya kehendak Tuhan. Great, at least the doctor was honest dan meminta kami untuk bersiap menghadapi berbagai macam kemungkinan. Karena faktor suami sudah dicek oleh androlog, maka obgyn menyarankan untuk cek fisik istri dengan cek darah komplit dan HSG. Hasil keduanya baik. Oh ya, 1-2 hari setelah pemeriksaan HSG lumayan sakit. Siap-siap bedrest dan sediakan satu strip Ponstan karena perut terasa melilit dan susah jalan. Well, jangankan jalan, tiduran saja sakit. So, make sure Ponstan and a glass of water are on your bedside table.
Januari 2015 - Jumpa lagi dengan obgyn. Beliau bilang hasil cek fisik suami istri baik, kemungkinan ada problem dengan imunologi reproduksi dimana terdapat reaksi penolakan dari tubuh istri yang menghambat proses konsepsi. Langsung dirujuk ke laboratorium untuk tes ASA (antisperm antibody) dengan metode HSAaT (Husband's Sperm Auto-agglutination Test). Hasilnya? Nilai ASA tinggi, yaitu 1:16384. Padahal nilai ASA normal adalah 1:64, artinya kami harus 'loncat' 8 tingkat untuk menormalkan nilai ASA. Kami diminta androlog untuk menjalani terapi PLI.
Februari 2015 - Memulai terapi PLI untuk menurunkan nilai ASA. Karena RSIA YPK Mandiri tidak melayani terapi PLI, maka kami menjalani terapi di RSIA Sayyidah. Seluk beluk PLI mungkin bisa dibahas di posting lain ya, karena suka dukanya pun banyak.
April 2015 - Sudah menjalani 3x sesi PLI, saatnya tes ASA lagi. Hasilnya, nilai ASA sudah turun 3 tingkat ke 1:2048. Disarankan mengikuti 3x sesi PLI lagi.
Juni 2015 - Memutuskan untuk berhenti kerja supaya bisa istirahat dan fokus TTC. Selesai 3x sesi PLI tahap kedua dan dinyatakan lulus. Nilai ASA sudah normal di level 1:64. Disarankan kembali ke obgyn untuk tahap promil selanjutnya.
Juli 2015 - Kembali duduk manis di RSIA YPK Mandiri. Obgyn berikan opsi untuk coba 2 siklus dengan bantuan terapi obat, jika belum berhasil juga maka bisa dipertimbangkan untuk menjalani IUI atau inseminasi buatan. Langsung dibekali obat ini itu.
Agustus 2015 - Sudah 2 siklus dibantu terapi obat, belum berhasil hamil juga. Mulai bingung dan sering sedih.
September 2015 - Mencoba cari second opinion ke obgyn lain, pergilah kami ke Klinik Daya Medika. Konon di sini berkumpul para obgyn RSCM yang jago di bidang reproduksi dan IVF. Tapi sedihnya, malah 'divonis' hormon kurang bagus dan umur sudah 'lanjut' sehingga kecil kemungkinan untuk bisa konsepsi natural, harus dibantu dengan IVF. Nangis bombay sepulang dari klinik ini yang bikin suami marah berat (pada obgyn di klinik) dan memaksa kembali ke RSIA YPK Mandiri untuk lanjutkan promil. Di RSIA YPK Mandiri, langsung bilang bahwa kami ingin IUI.
Oktober 2015 - Di awal bulan, siap menjalani proses IUI. Bolak-balik ke dokter dalam seminggu untuk suntik pembesar telur dan akhirnya datang juga hari untuk IUI. Tegang dan takut. Trying so hard to stay hopeful. Setelah 2 weeks wait, dinyatakan IUI belum berhasil. Seminggu kemudian, si tubuh ini pun mengonfirmasi. Felt really awful. Memutuskan untuk berhenti TTC completely dan menunggu hingga tahun depan untuk (kemungkinan) menjalani IVF.
Desember 2015 - Found out that I was 5 weeks preggo.

So, let me recap the ups and down of the journey below.

The Good
Menjadi orang yang lebih sabar dan mencoba terus bersyukur, berusaha meningkatkan ibadah. Didoakan dan disemangati oleh keluarga, sanak saudara, dan teman.
Hubungan dengan suami menjadi lebih baik karena banyak menghabiskan waktu berdua - pastinya bisa traveling berdua kemana saja tanpa repot, bisa saling belajar memahami dan memberikan support. Banyak belajar hal-hal baru, terutama tentang kondisi medis yang dihadapi dan berempati dengan pengalaman orang lain.

The Bad
Every day is a rollercoaster ride. Sangat mudah lelah, both emotionally and physically - terutama karena pengaruh obat-obatan yang diberikan saat TTC yang memengaruhi hormon dan kondisi tubuh. Karena kondisi tubuh nggak nyaman, otomatis emosi pun seringkali nggak stabil. Berantem dengan pasangan, malas kerja, uring-uringan, mendadak sedih lalu nangis - terutama kalau lagi antri dokter, di saat orang lain kontrol hamil atau imunisasi anak. Pelampiasannya? Kalau saya sih jadi makan melulu, tiap hari maunya jajan Chatime daripada pusing.

The Ugly
Harus merelakan waktu untuk bolak-balik ke dokter, hampir setiap akhir pekan bangun pagi dan menghabiskan setengah hari di rumah sakit. Pasrah juga membiarkan tubuh diperiksa, disuntik, diambil darah, hingga mengikuti proses inseminasi yang sungguh tidak nyaman. Tidak cuma istri, tapi suami juga harus ikhlas dan bersedia menjalani proses TTC. Berdasarkan cerita beberapa teman, para suami seringkali menolak untuk memeriksakan diri - jadi, komitmen kedua belah pihak itu penting.
TTC is also financially challenging; pengobatan medis maupun alternatif yang dijalani secara rutin tentu butuh biaya yang tidak sedikit. Kami mungkin termasuk beruntung karena masih bisa menyisihkan penghasilan untuk proses TTC ini. For some others, this is a real big deal.

Untuk teman-teman yang masih berjuang, tetap semangat! Yakin bahwa Tuhan sudah merencanakan dan akan memberikan jalan terbaik bagi kita. Saya sangat percaya bahwa jalan terbaik mungkin bukanlah jalan yang paling mudah, mungkin juga bukan jalan yang paling sulit kita lalui. Tetapi di ujung jalan yang terbaik itu pasti kita menemukan apa yang Tuhan sudah persiapkan untuk kita dan membekali kita dengan kemampuan untuk menghadapinya - apapun itu.

Bon courage!
 
Images by Freepik