Showing posts with label fertility. Show all posts
Showing posts with label fertility. Show all posts

Thursday, June 23, 2016

Terapi PLI: Jangan Putus Asa Karena ASA

This post was similar to the one in my old blog.

Kalau sudah baca kronologi singkat TTC kami di posting sebelumnya, maka post ini akan bahas lebih detil mengenai imunologi reproduksi dan nilai ASA.

Yuk, kenalan dulu dengan ASA.

An antisperm antibody (ASA) test looks for special proteins (antibodies) that fight against a man's sperm in blood, vaginal fluids, or semen. The test uses a sample of sperm and adds a substance that binds only to affected sperm. Semen can cause an immune system response in either the man's or woman's body.
Taken from: Antisperm Antibody Test & Results for Men & Women. March 12, 2014.

Cara mengetahui nilai ASA dilakukan dengan tes laboratorium. Untuk istri, dilakukan pengambilan sampel darah. Sedangkan untuk suami, dibutuhkan sampel sperma. Setelah didapatkan kedua sampel tersebut, maka akan dilihat reaksi antar keduanya - apakah sel sperma suami akan menggumpal jika bertemu dengan sel darah istri, tes ini biasa disebut HSAaT (Husband's Sperm Auto-agglutination Test). Tes ini sebaiknya dilakukan setelah kita melakukan tes fisiologis kandungan (USG, HSG, TORCH, dll) dan sperma, dan hasil tes tersebut menyatakan bahwa fisiologis suami dan istri normal tetapi masih belum juga terjadi kehamilan.

Hasil tes ASA dinyatakan dalam nilai kelipatan 2, dengan nilai normal 1:64. Jika nilai ASA melampaui batas normal, maka sistem imun di tubuh istri akan mengenali sel sperma suami seperti virus atau benda asing dan langsung membentuk penghalang. Sel sperma pun akan susah untuk menunaikan tugas kenegaraannya, karena sistem kekebalan tubuh istri sudah menghambat jalan masuk. ASA ini juga berperan dalam trimester awal kehamilan; jika calon ibu mengandung dengan nilai ASA tinggi, maka ada potensi bagi janin untuk sulit berkembang hingga kemungkinan terburuk - terjadi keguguran.

Untuk menurunkan nilai ASA, ada 3 alternatif tindakan yang bisa dilakukan:
1. Terapi PLI (Parental Leucosyte Immunization).
2. Istri sebaiknya menghindari makanan / benda yang dapat memicu alergi. Penyebab alergi dapat diketahui dengan melakukan FRT (Food Response Test / tes alergi terhadap makanan seperti macam-macam pati / tepung, macam-macam protein nabati / hewani, buah, dll) dan NFRT (Non Food Response Test / tes alergi terhadap benda non makanan seperti udara panas / dingin, bulu binatang, kapuk, dll).
3. Berhubungan menggunakan pengaman selama melakukan terapi PLI.
Tindakan 2 dan 3 ini dilakukan untuk meminimalkan paparan alergen pada sistem imun istri dan menunjang keberhasilan terapi PLI.

Nah, pertanyaan selanjutnya adalah, "Apa itu PLI?"
PLI (Parental Leucosyte Immunization) adalah imunisasi dimana sel darah putih suami akan disuntikkan ke tubuh istri. Untuk mengenalkan DNA suami terhadap tubuh si istri sehingga sistem antibodi istri akan belajar mengenali dan tidak lagi menganggap sperma suami sebagai benda asing.

Sebelum menjalani terapi ini, suami diwajibkan melakukan tes darah lengkap untuk mengetahui apakah ada penyakit bawaan dan virus yang berbahaya. Jika hasilnya baik, maka PLI bisa dilakukan. Satu siklus terapi PLI dilakukan selama sekitar 3 bulan, dengan 1x tindakan penyuntikan per 3 minggu. Setelah 3x penyuntikan, maka dilakukan tes HSAaT kembali untuk mengetahui nilai ASA setelah terapi. Kalau belum mencapai level normal, maka akan disarankan untuk mengikut 1 cycle lagi.

Karena di RS YPK Mandiri tidak bisa melayani terapi PLI, maka kami dirujuk ke RSIA Sayyidah di daerah Duren Sawit, Jakarta Timur. RSIA Sayyidah ini melayani terapi PLI hampir setiap hari mulai pagi hingga sore hari (jadwal pastinya bisa ditanyakan langsung via telepon  RSIA Sayyidah (021) 86902950), kami pilih hari Sabtu dan Minggu karena sama-sama bekerja - dr. Indra juga praktek di sana pada hari ini, jadi bisa sekalian konsultasi. Kami mulai terapi PLI ini di bulan Februari 2015 dengan nilai ASA 1:16,384 - lumayan tinggi. Ini berarti kami harus turun 8 tingkat untuk mencapai level normal 1:64. Semangat!

Suka duka selama menjalani terapi PLI? Banyak!
1. Disuntiknya sebentar, tapi menunggunya lumayan lama sekitar 2 jam karena sampel darah suami harus dipreparasi untuk mendapatkan serum sel darah putih. Biasanya kami tinggal makan siang dulu, di sekitar Kali Malang - Duren Sawit banyak tempat makan enak yang bisa dikunjungi untuk 'membunuh' waktu.
2. Disuntiknya nggak sakit, tapi saat tindakan pertama dan kedua sempat bikin bengkak dan ruam sedikit.
3. Harus disiplin menjaga makanan supaya terhindar dari bahan makanan pemicu alergi. Goodbye, nasi, mie dan roti, soya milk, tahu dan tempe, ikan salmon dan kepiting. Boo-hooooo... I also used to hate eating red meat (beef) and prefer chicken instead, tapi ternyata dinyatakan alergi ayam. Terpaksa 'belajar' makan daging sapi.
4. Pak Suami tergolong orang yang nggak menyukai suntik-menyuntik jadi suka agak panik ketika harus diambil darah. Terapi ini bisa mengurangi sedikit demi sedikit kecemasan dia.
5. Most of all, selama menjalani terapi PLI ini kami menjadi lebih sabar dan belajar ikhlas. Banyak bertemu dengan pasangan yang mengalami problem serupa, bahkan ada yang nilai ASA-nya mencapai 1:500,000an dan mereka tetap menjalani terapi ini dengan happy dan optimis. So, why shouldn't we?

Biaya untuk 1x tindakan penyuntikan terapi PLI sekitar Rp 1,000,000. Beberapa rekan seperjuangan bilang bahwa biaya di RSIA Sayyidah ini lebih murah dibandingkan di tempat lain dimana dr. Indra G. Mansur praktek, yaitu RS Budhi Jaya, Tebet atau di Klinik Sam Marie, Wijaya.

Jadi, jangan putus asa dulu karena nilai ASA tinggi. Tetap berdoa dan berusaha!

Thursday, December 3, 2015

#FlashbackFriday: Big Fat Positive

December 2, 2015 would be a very memorable date for us. We finally got to make our first BIG, FAT POSITIVE announcement to the world!

Alhamdulillah... Our happiness is beyond words. We can only praise Allah for this opportunity.

Setelah menjalani IUI (inseminasi buatan) di awal Oktober lalu dan belum berhasil, kami berdua sepakat untuk istirahat sejenak dari aktivitas TTC aka bolak-balik ke dokter, minum obat ini itu, suntik macam-macam. We didn't want to know why we failed the IUI, we just thought kalau itu memang belum waktunya. We needed our time-off, we just wanted to relax and stay positive. Meski si istri sempat cari-cari informasi ke beberapa RS tentang IVF (bayi tabung) secara sembunyi-sembunyi juga sih... Maklum, namanya juga kepingin berat. 

Di tengah masa cuti dari aktivitas TTC ini, saya merasa lebih rileks, sabar dan berserah. Berusaha ikhlas ini memang susah banget, tapi saya menyibukkan diri dengan menyelesaikan pekerjaan, baca buku, online shopping (ehm!), banyak browsing merencanakan liburan tahun depan, dan paling utama, berusaha memperbaiki ibadah. I would say it is quite effective because you have other things you can focus on and improve, rather than stuck and wallow in sadness. Kudos to my husband for supporting me, too. Juga untuk Mama yang sabar menasehati dan sabar menunggu, I know she wants a baby as much as we do.

Other than that, I (or we) didn't do anything differently.

Sejak akhir bulan November, saya mulai merasakan seperti gejala masuk angin. Bangun pagi, badan rasanya sakit semua seperti habis tanding tinju lawan Manny Pacquiao. Makan milih-milih banget, maunya yang berkuah bening, nggak berbumbu menor. Pusing ketika di mobil, ngantuk berat setelah makan siang di kantor. Beberapa hari itu, saya masih mengganggap masuk angin, karena cuaca kan lagi nggak bagus dan di kantor dinginnya ngalah-ngalahin kulkas tukang es batu. Saya sudah tahu kalau seharusnya tanggal-tanggal tersebut sudah dekat hari menstruasi tapi santai dan nggak mau GR karena bulan lalu pun sempat telat 5 hari.

Nah, di pagi hari tanggal 2 Desember ini saya merasa kram perut. Padahal sudah mandi dan siap-siap ngantor, tapi si perut protes keras. Akhirnya Mr. SO jatuh kasihan dan menawarkan antar ke RS. Masih denial dan nggak mau kepedean meski sudah telat 8 hari, malah lebih takut kalau ada sakit lainnya di perut.

Setibanya di RSPI Puri Indah (I think this hospital's name is weird, Pondok Indah or Puri Indah? Can you just settle for one location?), kami sepakat untuk mengunjungi obgyn. Suster bertanya, "Ibu, ada keluhan apa?" Saya jawab, sebenarnya sudah telat semingguan dan pagi ini nyeri perut. Suster pun langsung menanyakan apa sudah melakukan uji dengan testpack, ketika saya menggeleng suster pun langsung menawarkan untuk uji testpack. Supaya lebih pasti ketika bertemu dokter, katanya.

Then it happened... I could not believe my eyes when I saw two thick lines.

Those Two Fat Lines!

I cried. Alone, in the hospital's restroom. It was an undescribable feeling of... Joy. Relief. Anxious. Campur sari banget rasanya.

When I got out, I hugged Mr. SO and he looked back at me with that Told-You-So face. Yes, he is a true optimist who keeps on saying that we can get through this, we just need to wait for the right time.

Kami pun masuk ke ruangan dokter. He did a USG on my abdomen, he found the sac - it's small, only 0.6 cm. He told us to be catious and stay healthy. Nggak banyak obat yang diberikan, hanya Utrogestan dan Folavit. Kontrol berikutnya 2 minggu mendatang.

We're truly grateful. Nggak putus-putus berdoa dan berupaya agar perkembangannya bagus dan sehat.

Miracle does happen. Never too late, never too soon. It is exact and definite. We just need to believe in God's perfect timing. 

Subhanallah.
 
Images by Freepik