Showing posts with label working mom. Show all posts
Showing posts with label working mom. Show all posts

Thursday, December 22, 2016

Menjadi Ibu

There's a story behind everything. But behind all your stories is always your mother’s, because hers is where yours begin.
[Mitch Albom]
Hari Ibu kali ini terasa berbeda. Mengapa? Karena ini adalah pertama kalinya saya merayakan Hari Ibu dengan menjadi seorang ibu.

Bahagia? Banget.

Saya tahu bahwa kehadiran anak akan mengubah banyak hal dalam hidup, mulai dari gaya hidup, pola makan, bentuk fisik, jam tidur, nggak bisa nonton bioskop, mandi harus buru-buru (loh jadi curhat ini...) dan banyak hal lainnya. Tapi saya sungguh tidak menyangka bahwa secara personality saya pun berubah. Misalnya, dulu saya sering ngambek dengan mood swing yang lumayan parah dan tak tentu arah, nggak bakal sembuh kecuali disogok aneka cemilan yang saya suka oleh suami. Kini, saya jadi lebih kalem dan tenang menghadapi berbagai hal, seperti saat macet di jalanan, mobil yang saya kendarai disenggol motor, menghadapi beban pekerjaan, dan lainnya - stay calm and composed. Sepertinya sekarang jatah panik, riweuh dan nangis-nangis heboh hanya terpakai kalau anak sakit.
  
Tidak hanya itu, ada satu hal terbaik yang saya rasakan sejak menjadi ibu - saya jadi lebih dekat dengan Mama. Saya sungguh berterima kasih kepada Mama karena saya memang memercayakan Sid untuk dijaga dan dirawat oleh Mama selama saya bekerja. Beliau, dengan ikhlas dan tanpa mengeluh, bersedia untuk menggantikan peran saya sebagai ibu selama sekitar 11 jam, 5 hari dalam seminggu. Meski ada seorang mbak di rumah yang sigap membantu, Mama tetap berkomitmen untuk turun tangan sendiri mengurus Sid, kecuali saat ada kegiatan di luar rumah seperti mengaji - itu pun hanya sekitar 2 jam di hari Senin dan Kamis.

Saya ingat dulu, kami sering berselisih paham dan ujung-ujungnya entah saya atau Mama yang ngambek. Sekarang, hampir tidak pernah. Kalau pun ada perbedaan pendapat, saya berusaha meredam diri dan melembutkan kata-kata supaya beliau tidak tersinggung. Terutama jika ada hal-hal yang berkaitan dengan merawat Sid yang saya kurang setuju, saya biasanya menyampaikan dengan hati-hati, dengan pilihan kata yang baik. Sekarang ini, kalau sudah hampir-hampir mau berantem dengan Mama, saya langsung mundur teratur dengan cantik, ambil air wudhu (shalat bikin adem) atau ambil cemilan manis-manis (sibuk ngunyah jadi batal ngambek).

Ada satu kejadian yang paling membuat saya terhanyut, mengharu biru, menye-menye. Ketika itu saya sempat sakit, kurang tidur dan workload sedang unyu-unyunya di kantor. Sambil memijat ringan punggung saya, Mama berkata,
"Jadi ibu itu harus kuat, nggak boleh sakit. Kalau ibu sakit, seluruh keluarga bisa-bisa nggak ada yang ngurusin."
Saya langsung terhenyak mendengarnya. Betapa "receh" dan remeh sakit saya ini, sungguh tidak dapat dibandingkan dengan apa yang Mama telah lakukan untuk saya, untuk anak saya, untuk keluarga kami. She runs the house, she provides our food, she takes care of my baby, she caters for her husband, she manages to do all those things every single day. How does she do that?
"Itu namanya kekuatan seorang ibu..."
Benar, jangan pernah underestimate kekuatan seorang wanita yang telah menjadi ibu.
Hanya seorang ibu yang bisa menyulap rasa sakit setelah melahirkan menjadi tawa bahagia saat pertama kali melihat bayinya.
Hanya seorang ibu yang tahu bagaimana caranya tetap fokus meeting di pagi hari meski semalaman terjaga karena bayinya sedang sakit.
Hanya seorang ibu yang mampu menggendong anaknya selama berjam-jam meski berat badan anak kian bertambah dari hari ke hari.
Hanya seorang ibu yang selalu berharap Tuhan bisa memindahkan rasa sakit di tubuh si anak ke tubuhnya sendiri.
Hanya seorang ibu yang bisa mendahulukan keperluan anak dan keluarganya, lebih dari ia mendahulukan kepentingan dirinya.

Setelah menjadi ibu, saya jadi tahu. Kalau menjadi ibu ternyata bukan hanya sekedar punya anak, ngurus anak, ngasih makan, ngasih susu. Tanggung jawab, kedewasaan, dan kekuatan harus juga dimiliki oleh seorang ibu. Harus bisa membuang ego jauh-jauh, menjaga harmoni keluarga.

My First. My Last. My Everything!

Selamat Hari Ibu, Mama. Terima kasih sudah menunjukkan kepada saya, cinta yang luar biasa, tanpa kenal pamrih, tanpa batas waktu. Tidak akan bisa saya balas dengan cara apapun juga. Sebagai anak, saya hanya bisa berdoa kepada Tuhan, semoga Mama senantiasa ditetapkan dalam Iman dan Islam, diberikan berkah kesehatan dan kebahagiaan lahir batin. Izinkan saya menyayangimu setiap hari, memelukmu tanpa bosan, mendoakanmu tanpa putus.

Every day should be a Mother's day, your day.
Because that's exactly how I'm going to love you.
Every single day.

Tuesday, November 29, 2016

Breastpump Review: Medela Swing

Sebagai seorang working mom yang masih diberi kesempatan berharga untuk memberikan ASI, tentu peralatan tempur saya yang paling utama adalah breastpump alias pompa ASI. Betapa beruntungnya kita saat ini karena sudah mudah sekali untuk memerah dan menyimpan ASI untuk diberikan kepada bayi ketika kita sedang tidak bersama dia di rumah. Mau pompa ASI manual ataupun elektrik, semua serba ada - tinggal menyesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan kita.

Lebih berbahagia lagi jika kita bekerja di kantor yang busui-friendly dan menyediakan ruang khusus untuk menyusui/memompa ASI. Di tempat saya bekerja tidak ada ruang khusus untuk ibu menyusui sehingga saya biasa memompa di mushola wanita, atau di sample room (ruang kosong untuk simpan produk sample) di dalam kantor. Sebenarnya lebih nyaman untuk memompa di sample room karena ada kursi dan meja lengkap sehingga saya bisa duduk dan menaruh peralatan di meja, tapi sayangnya kalau kantor sedang ramai (banyak lawan jenis lalu lalang) saya kurang nyaman keluar masuk ke sample room untuk menunaikan kewajiban ASIP saya. Habis, sepertinya obvious banget saya masuk ke ruang itu untuk "beraktivitas". Jadilah saya lebih sering melakukan pompa-memompa di mushola wanita, meski harus duduk bersila dan tidak bisa bersandar punggung.

Selama hampir 2 bulan kembali bekerja dan menjalani aktivitas breast-pumping ini, saya baru ngeh kalau pompa ASI yang cocok itu penting buangeeeeeet karena berkaitan dengan kenyamanan penggunaan serta bisa memberikan hasil yang maksimal. Selama 2 minggu pertama, saya bertahan hanya dengan menggunakan pompa single Medela Swing. Lama kelamaan saya nggak betah juga karena sesi pumping bisa memakan waktu hampir satu jam sampai beres kedua PD - nggak enak juga kelamaan kabur dari meja, meskipun Pak Bos pasti mengerti mengapa saya kerap kabur-kaburan.

Akhirnya saya mulai cari-cari review pompa ASI di blog dan forum online. Setelah baca-baca beberapa hari, saya putuskan untuk membeli pompa ASI baru yang bisa memompa kedua PD sekaligus supaya mempersingkat waktu pumping. Pilihan saya jatuh pada Spectra 9+, pompa ASI elektrik double pump yang dilengkapi dengan baterai yang bisa di-charge sehingga pompa ini bisa dipakai dimana saja tanpa harus tersambung dengan kontak listrik.

Nah, karena sudah punya dua buah pompa ASI yang berbeda maka saya sudah bisa membandingkan dan siap untuk me-review. Saya mulai dengan pompa ASI pertama saya, let's go!

Medela Swing

Medela punya dua jenis breastpump dengan nama Swing, yaitu Swing dan Swing Maxi. Keduanya punya bentuk motor pompa yang sama tapi corong yang berbeda; Swing untuk single pump dan Swing Maxi untuk double pump. Karena saya beli pompa ini pas dua hari setelah melahirkan tanpa melalui riset dan ceki-ceki yang memadai (dulu santai banget, kirain pas cuti belum butuh pompa), maka saya kurang paham bedanya single dan double selain dari corong dan price tag pastinya. Medela Swing ini saya beli di Babyzania.com dengan harga sekitar Rp 1,8 juta diantar pakai Go-Jek sehingga bisa tiba di hari yang sama.
Penampakan Medela Swing Siap Dipakai
Picture taken from Medela Official Site

Menurut saya, Medela Swing ini cukup ringkas, ringan dan gampang dibawa kemana-mana. Tapi karena sumber daya utamanya adalah adaptor yang perlu dicolok listrik, maka supaya bisa dipakai dimana saja, kapan saja, perlu dimasukkan baterai AA sebanyak 4 buah - saya pakai baterai lithium Energizer supaya tahan lebih lama dan daya isapnya tetap kuat, kalau hanya baterai AA biasa rasanya akan cepat habis. Keunggulan Medela Swing lainnya menurut saya adalah desain tiap komponen yang praktis; mudah dilepas, mudah dipasang, mudah dibersihkan serta mudah disimpan tanpa makan banyak tempat di tas.

Parts Medela Swing
Picture taken from Hello Baby Blog

Berikut penjelasan tiap part-nya.
1. Motor Unit, untuk memulai sesi pumping tinggal tekan tombol bergambar lingkaran lalu pompa akan langsung mulai 2 menit sesi massage dan berganti otomatis ke sesi expression yang bisa di-adjust kekuatannya dengan menekan tombol plus minus.
2. Connector / Valve Head, bagian ini merupakan terminal yang akan menggabungkan selang, valve membrane, dan corong.
3. Botol Penampung ASI, ukuran 150mL. Bisa langsung disambungkan dengan nipple ketika bayi ingin minum. Leher botol slim, bisa pakai nipple Medela Calma tapi saya nggak pakai karena Sid nggak suka, instead saya pakai Pigeon dan ukurannya pas sehingga botol bisa dipakai bergantian.
4. Breastshield / Corong PD, bagian ini menempel langsung dengan PD ibu. Di unit standar pembelian, diberikan corong ukuran M berdiameter 24mm, ukuran lain juga tersedia dan bisa dibeli terpisah di online shop yang menjual sparepart Medela.
5. Valve Membrane, hati-hati ketika mencuci bagian ini karena membrane (warna putih) ukurannya kecil dan mudah lepas.
6. Tubing / Selang, menghubungkan bagian motor unit dengan botol dan connector.

What I Love About Medela Swing?
- Praktis, ringkas, mudah.
- Karena setiap parts bisa dilepas maka pencucian lebih mudah dan lebih bersih.
- Materi plastik setiap komponennya terlihat lebih bagus, sturdy dan tidak mudah rusak. Yang terlihat fragile hanya bagian membrane berwarna putih yang memang harus diganti secara berkala.
- Suara tidak begitu berisik, masih bisa diredam kalau ditutup kain atau bantal.
- Portable, bisa dipakai dimana saja dengan menggunakan baterai.
- Nyaman, pijatan dan suction terasa lembut dan nggak bikin sakit (saya biasa pakai level 5-6).
- Warna kuning unyu.

What I Don't Like About Medela Swing?
- Mahal, dengan harga Rp 1,8 juta cuma dapat single pump.
- Lamaaaaaa... Karena single pump dan daya isapnya terbilang lembut, jadi untuk memompa kedua PD baru bisa selesai dalam waktu 30-40 menit.
- Tidak ada indikator waktu sehingga kalau pumping harus pasang timer di smartphone supaya nggak kebablasan.
- Fase massage hanya ada di awal dan cuma 2 menit. Setelah pindah ke fase expression, harus dimatikan dulu kalau mau balik ke fase massage.
- Masih open system, artinya ASI bisa masuk ke dalam selang, bahkan ke dalam motor unit karena tidak ada penghalang.
- Harus ganti baterai lithium sekitar 1-1.5 bulan sekali. Baterai lithium harganya sekitar Rp 70 ribu per 2 buah, sehingga sekali ganti baterai sekirar Rp 140 ribu.
- Harus siap-siap baterai cadangan yang selalu dibawa karena nggak ada indikator pemakaian baterai.
- Harga sparepart terbilang lebih mahal dibandingkan merek pompa lain.

In summary, Medela Swing ini bisa dikatakan sebagai pompa ASI premium. Kualitas baik, pemakaian sangat nyaman dan mudah karena pompa ini well-designed sehingga mudah dibuka-pasang serta mudah dibersihkan. Hanya saja, Medela Swing ini kurang cocok bagi ibu bekerja yang harus curi-curi waktu di kantor untuk bolak-balik pumping demi memerah liquid gold yang sangat berarti untuk si kecil. Mungkin lebih cocok untuk digunakan di rumah, karena saya biasa pakai untuk pumping saat Sid selesai menyusui untuk mengosongkan PD atau ketika saya bangun pagi hari. Karena kebutuhan saya di kantor, maka saya memutuskan untuk cari breastpump lain tetapi Medela Swing ini akan saya simpan, atau mau dijual saja (kalau laku) lalu beli Spectra S1 deh (loooooh, masih mau beli pompa lagiiii?).
 
Images by Freepik