Tuesday, November 29, 2016

Breastpump Review: Medela Swing

Sebagai seorang working mom yang masih diberi kesempatan berharga untuk memberikan ASI, tentu peralatan tempur saya yang paling utama adalah breastpump alias pompa ASI. Betapa beruntungnya kita saat ini karena sudah mudah sekali untuk memerah dan menyimpan ASI untuk diberikan kepada bayi ketika kita sedang tidak bersama dia di rumah. Mau pompa ASI manual ataupun elektrik, semua serba ada - tinggal menyesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan kita.

Lebih berbahagia lagi jika kita bekerja di kantor yang busui-friendly dan menyediakan ruang khusus untuk menyusui/memompa ASI. Di tempat saya bekerja tidak ada ruang khusus untuk ibu menyusui sehingga saya biasa memompa di mushola wanita, atau di sample room (ruang kosong untuk simpan produk sample) di dalam kantor. Sebenarnya lebih nyaman untuk memompa di sample room karena ada kursi dan meja lengkap sehingga saya bisa duduk dan menaruh peralatan di meja, tapi sayangnya kalau kantor sedang ramai (banyak lawan jenis lalu lalang) saya kurang nyaman keluar masuk ke sample room untuk menunaikan kewajiban ASIP saya. Habis, sepertinya obvious banget saya masuk ke ruang itu untuk "beraktivitas". Jadilah saya lebih sering melakukan pompa-memompa di mushola wanita, meski harus duduk bersila dan tidak bisa bersandar punggung.

Selama hampir 2 bulan kembali bekerja dan menjalani aktivitas breast-pumping ini, saya baru ngeh kalau pompa ASI yang cocok itu penting buangeeeeeet karena berkaitan dengan kenyamanan penggunaan serta bisa memberikan hasil yang maksimal. Selama 2 minggu pertama, saya bertahan hanya dengan menggunakan pompa single Medela Swing. Lama kelamaan saya nggak betah juga karena sesi pumping bisa memakan waktu hampir satu jam sampai beres kedua PD - nggak enak juga kelamaan kabur dari meja, meskipun Pak Bos pasti mengerti mengapa saya kerap kabur-kaburan.

Akhirnya saya mulai cari-cari review pompa ASI di blog dan forum online. Setelah baca-baca beberapa hari, saya putuskan untuk membeli pompa ASI baru yang bisa memompa kedua PD sekaligus supaya mempersingkat waktu pumping. Pilihan saya jatuh pada Spectra 9+, pompa ASI elektrik double pump yang dilengkapi dengan baterai yang bisa di-charge sehingga pompa ini bisa dipakai dimana saja tanpa harus tersambung dengan kontak listrik.

Nah, karena sudah punya dua buah pompa ASI yang berbeda maka saya sudah bisa membandingkan dan siap untuk me-review. Saya mulai dengan pompa ASI pertama saya, let's go!

Medela Swing

Medela punya dua jenis breastpump dengan nama Swing, yaitu Swing dan Swing Maxi. Keduanya punya bentuk motor pompa yang sama tapi corong yang berbeda; Swing untuk single pump dan Swing Maxi untuk double pump. Karena saya beli pompa ini pas dua hari setelah melahirkan tanpa melalui riset dan ceki-ceki yang memadai (dulu santai banget, kirain pas cuti belum butuh pompa), maka saya kurang paham bedanya single dan double selain dari corong dan price tag pastinya. Medela Swing ini saya beli di Babyzania.com dengan harga sekitar Rp 1,8 juta diantar pakai Go-Jek sehingga bisa tiba di hari yang sama.
Penampakan Medela Swing Siap Dipakai
Picture taken from Medela Official Site

Menurut saya, Medela Swing ini cukup ringkas, ringan dan gampang dibawa kemana-mana. Tapi karena sumber daya utamanya adalah adaptor yang perlu dicolok listrik, maka supaya bisa dipakai dimana saja, kapan saja, perlu dimasukkan baterai AA sebanyak 4 buah - saya pakai baterai lithium Energizer supaya tahan lebih lama dan daya isapnya tetap kuat, kalau hanya baterai AA biasa rasanya akan cepat habis. Keunggulan Medela Swing lainnya menurut saya adalah desain tiap komponen yang praktis; mudah dilepas, mudah dipasang, mudah dibersihkan serta mudah disimpan tanpa makan banyak tempat di tas.

Parts Medela Swing
Picture taken from Hello Baby Blog

Berikut penjelasan tiap part-nya.
1. Motor Unit, untuk memulai sesi pumping tinggal tekan tombol bergambar lingkaran lalu pompa akan langsung mulai 2 menit sesi massage dan berganti otomatis ke sesi expression yang bisa di-adjust kekuatannya dengan menekan tombol plus minus.
2. Connector / Valve Head, bagian ini merupakan terminal yang akan menggabungkan selang, valve membrane, dan corong.
3. Botol Penampung ASI, ukuran 150mL. Bisa langsung disambungkan dengan nipple ketika bayi ingin minum. Leher botol slim, bisa pakai nipple Medela Calma tapi saya nggak pakai karena Sid nggak suka, instead saya pakai Pigeon dan ukurannya pas sehingga botol bisa dipakai bergantian.
4. Breastshield / Corong PD, bagian ini menempel langsung dengan PD ibu. Di unit standar pembelian, diberikan corong ukuran M berdiameter 24mm, ukuran lain juga tersedia dan bisa dibeli terpisah di online shop yang menjual sparepart Medela.
5. Valve Membrane, hati-hati ketika mencuci bagian ini karena membrane (warna putih) ukurannya kecil dan mudah lepas.
6. Tubing / Selang, menghubungkan bagian motor unit dengan botol dan connector.

What I Love About Medela Swing?
- Praktis, ringkas, mudah.
- Karena setiap parts bisa dilepas maka pencucian lebih mudah dan lebih bersih.
- Materi plastik setiap komponennya terlihat lebih bagus, sturdy dan tidak mudah rusak. Yang terlihat fragile hanya bagian membrane berwarna putih yang memang harus diganti secara berkala.
- Suara tidak begitu berisik, masih bisa diredam kalau ditutup kain atau bantal.
- Portable, bisa dipakai dimana saja dengan menggunakan baterai.
- Nyaman, pijatan dan suction terasa lembut dan nggak bikin sakit (saya biasa pakai level 5-6).
- Warna kuning unyu.

What I Don't Like About Medela Swing?
- Mahal, dengan harga Rp 1,8 juta cuma dapat single pump.
- Lamaaaaaa... Karena single pump dan daya isapnya terbilang lembut, jadi untuk memompa kedua PD baru bisa selesai dalam waktu 30-40 menit.
- Tidak ada indikator waktu sehingga kalau pumping harus pasang timer di smartphone supaya nggak kebablasan.
- Fase massage hanya ada di awal dan cuma 2 menit. Setelah pindah ke fase expression, harus dimatikan dulu kalau mau balik ke fase massage.
- Masih open system, artinya ASI bisa masuk ke dalam selang, bahkan ke dalam motor unit karena tidak ada penghalang.
- Harus ganti baterai lithium sekitar 1-1.5 bulan sekali. Baterai lithium harganya sekitar Rp 70 ribu per 2 buah, sehingga sekali ganti baterai sekirar Rp 140 ribu.
- Harus siap-siap baterai cadangan yang selalu dibawa karena nggak ada indikator pemakaian baterai.
- Harga sparepart terbilang lebih mahal dibandingkan merek pompa lain.

In summary, Medela Swing ini bisa dikatakan sebagai pompa ASI premium. Kualitas baik, pemakaian sangat nyaman dan mudah karena pompa ini well-designed sehingga mudah dibuka-pasang serta mudah dibersihkan. Hanya saja, Medela Swing ini kurang cocok bagi ibu bekerja yang harus curi-curi waktu di kantor untuk bolak-balik pumping demi memerah liquid gold yang sangat berarti untuk si kecil. Mungkin lebih cocok untuk digunakan di rumah, karena saya biasa pakai untuk pumping saat Sid selesai menyusui untuk mengosongkan PD atau ketika saya bangun pagi hari. Karena kebutuhan saya di kantor, maka saya memutuskan untuk cari breastpump lain tetapi Medela Swing ini akan saya simpan, atau mau dijual saja (kalau laku) lalu beli Spectra S1 deh (loooooh, masih mau beli pompa lagiiii?).

Saturday, November 5, 2016

Keyakinanku, Keyakinanmu

Saya pernah menjalin rasa dengan seseorang yang berbeda keyakinan. Apakah itu nista?

Karena ia baik. Ia tidak pernah melarang saya beribadah, malah sabar menyuruh dan menunggu saya sholat, dan ketika saya berpuasa ia menemani hingga tiba waktu berbuka. Saya pun tidak pernah mencampuri ketika ia harus pergi di hari Minggu. Semua terasa biasa.

Kami bahagia.
Untuk beberapa saat...

Singkat cerita, kami mulai merasa ada hal yang mengganjal. Justru rasa ini muncul ketika kami semakin dekat, ingin naik tingkat.  Saya ingin memiliki, saya ingin menarik dia menyeberang ke lain sisi, saya ingin dia untuk meyakini apa yang saya yakini, untuk beribadah dengan cara saya beribadah. Saya mulai belajar dan belajar lagi, gali-gali kitab suci, tanya sana sini. Bahkan cari informasi dari forum yang sangat tidak terpuji, penuh dengan benci dan bahasa yang keji (sepertinya sekarang sudah di-banned as it was a truly savage site), dimana umat yang berseberangan saling serang dengan nada-nada berang. Semua saya lakukan untuk memohon, memaksa dia supaya ikut kepercayaan saya. Saya jadi gelap mata, pokoknya dia harus ikut saya.

Namun apa yang terjadi? Kami semakin menjauh. Semua kajian yang saya paksakan kepada dia terpental begitu saja. Bukannya makin sama, kami malah makin beda. Domba dan kambing pun kami perdebatkan. Tidak ada lagi bahagia. Saya malah menista agamanya karena saya bilang Tuhan dia bukan Tuhan. Padahal kalau kepala saya dingin, saya cuma akan bilang bahwa Tuhan dia bukan Tuhan yang saya yakini and there's nothing wrong with that, let's just agree to disagree. Sungguh beda kan kedua pernyataan itu?

Singkat cerita lagi, kami berpisah.

Saya sedih, saya kehilangan. Tapi saya percaya Tuhan punya rencana lain untuk saya (dan dia) sehingga tidak perlu kecewa. Berbekal keyakinan itu, saya jadi tenang. Tidak berlama-lama terpuruk dan mulai susun-susun kembali hati yang tadinya remuk. 

Benar saja. Saya lalu dipertemukan dengan (waktu itu masih calon) suami. Saya pelajari bahwa ayahnya (mertua saya kini) kerap membimbing orang untuk jadi mualaf. Beliau lakukan dengan cara yang amat beda (dengan apa yang dulu saya coba lakukan) - beliau buat terang semua tentang Islam, yang damai, yang penuh cinta, yang tenang dan menenangkan. Beliau (hanya) berkisah tentang kebesaran dan keajaiban Tuhan sebagaimana ditulis di dalam kitab suci, tidak lebih, tidak kurang. He does it in a certain way that those people, who wish to convert, finally believe by themselves. Bukan seperti dicekoki, tapi mengalir begitu saja dan jadi yakin dengan sendirinya. Sungguh Tuhan Maha Baik, menyadarkan saya atas kesalahan yang pernah saya buat dengan mempertemukan saya dengan suami, dengan ayah mertua.

Jadi, kembali lagi ke si dia yang terdahulu...

Meski kini kami tidak saling sapa, saya percaya kami masih saling mengingat dan saling berterima kasih. Karena saya meneguhkan keyakinan dia, dan dia memantapkan keyakinan saya. Percaya akan besarnya kasih sayang Tuhan dengan masing-masing cara, bukankah itu yang paling utama?

Lakum diinukum waliyadiin.

Thursday, October 6, 2016

The Pumping Management

Tidak terasa tinggal 1 minggu sebelum saya harus kembali bekerja. Kembalilah baby blues melanda... Mengapa? Karena bonding antara bayi dan ibu semakin erat, ibu pun sudah terbiasa mengurus bayi dan mulai terasa nikmat karena bayi sedang lucu-lucunya pada usia menjelang 3 bulan ini. Sid sudah bisa tersenyum, tertawa dan bersuara lucu ketika merespon orang-orang yang berada di dekatnya, terutama ibu. Rasanya nggak ingin balik ngantor, tapi berhubung biaya sekolah konon semakin mahal, maka ibu harus setloooooonggg!

Straight from Day 1, alhamdulillah Sid hingga hari ini masih bisa menikmati ASI eksklusif (ASIX). Namun sejak Sid berusia 1 minggu, saya sudah mulai mencicil peralatan untuk pemberian ASIP dan belajar pumping. Pernah dua kali saya terpaksa berikan ASI perah (ASIP) yang tidak dibekukan dari botol susu karena ada sedikit bloody show di PD saya (menurut suster sebaiknya jangan diberikan langsung, tunggu luka kering dulu). Sid minum dari botol tanpa kesulitan (saya trial pakai botol Philips Avent), tapi saya langsung hentikan penggunaan botol begitu luka sembuh karena menurut artikel-artikel yang saya baca, sebaiknya bayi ASIX dikenalkan dengan botol susu di atas usia 6 minggu (waktu itu usia Sid masih 2 minggu).

Ternyata belajar manajemen pumping lebih sulit dari belajar manajemen pemasaran ketika kuliah dulu. Masalahnya, pumping berkaitan dengan ibu dan bayi yang dipengaruhi banyak faktor. Kemampuan fisik setiap ibu untuk memproduksi ASI bisa bervariasi dari hari ke hari, begitu juga dengan kemauan bayi meminum ASI. Ada akun IG yang terkenal di kalangan ibu pejuang ASI yang menyuarakan rumus Supply = Demand (wuih, semacam kuliah Mikroekonomi nih) - jadi, ibu harus rutin pumping 2 jam sekali untuk memperbanyak produksi ASI. Saya sih mau saja pumping 2 jam sekali, tapi masalahnya 2 jam itu pas Sid bangun dan minta diajak main atau minum ASI atau simply mau ngempil saja, nggak sempat pumping. Alhasil, saya hanya sempat pumping 1 kali sebanyak 150mL ketika Sid tidur malam - kebetulan Sid sudah bisa tidur malam agak lama sekitar 4-5 jam. Suka iri banget kalau lihat hashtag #pejuangASI di IG yang bisa dapat ASIP banyak, hiks, jangan patah semangat!

Tentu saya masih harus belajar banyak tentang manajemen pumping ketika kembali bekerja, mudah-mudahan cepat pintar ya. Jadi, sekarang saya sharing tentang peralatan perah-memerah dulu.

1. Medela Swing
Paling penting dipunya dan paling mahal harganya di antara peralatan yang lain. Saya baru beli di hari ke-3 setelah lahiran karena ada sedikit bloody show yang bikin PD bengkak. Beli breast pump ini di Babyzania.com karena harganya paling ok dibandingkan online store lain dan bisa dikirimkan ekspres lewat Gojek. So far, suka dan nggak ada masalah dengan breast pump ini, jadi nggak ingin coba-coba yang lain. Breast pump ini memang banyak direkomendasikan, baik dari review internet maupun teman-teman dekat. Saya suka karena ukurannya compact, daya isap lembut tapi kuat, dan nggak berisik. Bisa pakai batere (saran saya pakai batere lithium, lebih mahal tapi awet) atau adaptor. Saya juga beli satu set pumping connector tambahan (connector, valve, membran dan breast shield) supaya bisa dipakai bergantian.

2. Botol Susu
Dari set Medela Swing, saya dapat 2 botol susu Medela ukuran 150mL tapi tanpa nipple Medela Calma yang saya beli terpisah (di Babyzania.com juga). Saya beli lagi 1 set botol susu Medela (isi 3) karena takut kurang, eh nggak tahunya saya dapat kado 2 botol susu Philips Avent dan 2 botol susu Pigeon (kedua merek ini sudah dapat nipple). Medela Calma bagus, karena susu hanya keluar ketika bayi menyedot (ada semacam lubang kecil yang mengatur keluarnya cairan) sehingga cocok untuk bayi yang baru belajar menggunakan botol. Philips Avent Natural juga ok, karena diklaim memiliki bentuk nipple natural dan ukuran botol susu yang lebar sehingga mudah dipegang dan mudah dibersihkan. Pigeon Peristaltic ini bentuknya paling basic menurut saya, model botol slim neck sehingga terlihat paling langsing di antara 3 tipe botol yang saya punya. Let's see Sid suka botol yang mana...

3. Kantung Plastik ASI
Saya pernah baca artikel di blog seorang ibu yang membandingkan penggunaan botol kaca dan kantung plastik untuk penyimpanan ASIP. Hasilnya, botol kaca memang jauh lebih hemat dan tidak bocor tapi cukup repot karena butuh storage yang besar dan harus bolak-balik dicuci serta disterilkan. Kantung plastik ASI jelas lebih mahal karena hanya sekali pakai (nggak eco-friendly juga) dan jika tidak hati-hati plastik mudah bocor, tapi lebih praktis dan hemat tempat. Karena nggak ingin repot cuci botol dan nggak ingin menambah freezer, saya putuskan pakai kantung plastik ASI. Saya pakai kantung plastik ASI merek Gabag dan Natur. Gabag sedikit lebih tebal dan sturdy (bisa berdiri jika diisi) dibandingkan Natur, tapi Natur bisa disimpan dalam bentuk gepeng/pipih sehingga mudah diatur dan hemat tempat.

4. Sterilizer
Berhubung boleh request kado lahiran, saya minta dibelikan sterilizer oleh teman kantor suami. Jadi saya dapat steam sterilizer Pigeon yang juga dilengkapi dengan bottle and food warmer. Sebenarnya sterilizer Pigeon ini cukup bagus, tapi hasilnya botol masih basah karena disterilkan dengan menggunakan steam. Akhirnya saya beli Panasonic D-sterile (kebetulan dapat voucher Rp 100.000 dari Blibli.com) yang bisa mengeringkan dan mensterilkan. Pigeon sterilizer masih dipakai untuk bottle warmer (ketika ASIP sudah cair dan sudah dipindah ke botol).

5. Pembersih Peralatan ASIP
Pembersih ini terdiri dari sabun cuci, waslap dan sikat botol. Sabun cuci saya memakai Pure Baby Liquid Cleanser karena harganya terjangkau (sering promo juga) dan mudah didapat di online maupun offline store. Waslap saya pakai sebagai pengganti tapas pencuci. Khusus untuk pencuci botol susu, saya memakai Boon Suds yang sangat praktis.

I think that's all for now. Sekarang saya harus move on ke tahap berikutnya yang lebih menantang yaitu Bottle Training!

Tuesday, September 20, 2016

The Hardest Early Weeks of A New Mom

Masa TTC selama 2 tahun yang penuh liku-liku? Checked.
Sembilan bulan kehamilan yang seru dan menyenangkan? Checked.
Persalinam normal selama 6 jam yang menegangkan? Checked.

Now it's time to face the real world of motherhood.

Apakah saya sudah siap? Ya, siap nggak siap tapi harus siap, kan bayinya sudah lahir. So I understood that the first weeks with baby would be hard, but what I didn’t know is... How hard?

Here are some things that we have to go through as new moms in the early weeks of baby's life.

1. You're in pain
Melahirkan, dengan cara atau gaya apapun - normal kah, gentle birth kah, water birth kah, atau operasi sectio caesarea, ujung-ujungnya cuma satu yang dirasakan oleh tubuh si ibu yaitu rasa sakit. Please say hello to the longest period you'll ever have alias nifas, belum lagi pegal-pegal dan kontraksi rahim yang sedang mengecil kembali. Apalagi kalau harus menjalani episiotomi seperti saya, sudah benar-benar paket komplit deh.
Nggak usah sok kuat karena sakit dan ketidaknyamanan setelah melahirkan tidak bisa kita hindari. Orang-orang terdekat kita pasti mengerti, kok. Jadi, nggak usah sungkan minta bantuan. Jangan lupa minta painkiller (terutama untuk yang menjalani c-sect) dan pencahar (serius, minta pencahar ini penting banget) sebelum pulang dari rumah sakit.

2. You will still look pregnant, or just fat, maybe
Sering kepoin akun Instagram Chrissy Teigen yang baru melahirkan 4 bulan lalu berdampak sangat buruk bagi saya. Mengapa? Well, Mbak Chrissy ini bikin saya berekspektasi langsung kurus ciamik setelah lahiran karena doski tampak sangat fab and fatless bahkan mungkin satu detik setelah melahirkan. Kenyataannya, saya struggling dengan berat badan yang masih 6-7 kg lebih berat dibandingkan sebelum hamil. Cuma mau kontrol 1 minggu ke dokter berbuah drama sesengrukan karena baju dan celana masih sempit. Pemakaian nursing bra juga mengurangi faktor estetika, if you know what I mean.
Jika kamu ikut geng Mbak Chrissy, berbahagialah. Jika tidak (seperti saya), bersabarlah, just embrace your mommy's body. Setelah 6 minggu, boleh mulai olahraga ringan dan mulai mengatur makan sehat. Nggak usah merasa rendah diri ketika berdiri di depan kaca dan nggak usah berambisi untuk langsing secara instan karena toh kita masih menyusui, yang pasti butuh nutrisi ekstra.

3. You're tired, reallyyyy tired
Yes! Finally si bayi tidur juga, saatnya ibu tarik selimut juga. Lalu tiba-tiba dia bangun dan menangis, padahal kalau lihat jam, baru berselang 1 jam sejak dia tidur. Indeed, sleep deprivation is another real challenge for me. Sakit kepala, flu dan batuk, pegal-pegal adalah beberapa "oleh-oleh" yang saya dapat dari kurang tidur. Efek lainnya? Jadi cranky, pelupa dan nggak fokus dengan hal lain kecuali mengurus kebutuhan si bayi.
It's true what they say; coba untuk tidur/istirahat ketika bayi tidur. Memang terasa hanya sebentar tapi lumayan untuk mengganti waktu tidur kita yang biasanya 6-8 jam. Again, jangan ragu untuk minta bantuan dari orang terdekat, misalnya untuk titip jaga si kecil selama kita menikmati pijatan dari si mbok pijit.

4. You're hormonal, like PMS-ing on steroid
Sering merasa tiba-tiba galau, cranky, atau bahagia banget ketika hamil? Percayalah, setelah melahirkan, your mood can change waaaay much faster - thanks to penurunan hormon progesteron yang drastis seiring lepasnya plasenta saat bersalin. Ketika sedang bersama bayi, perasaan haru, senang, bahagia, sedih bercampur jadi satu. Ditambah dengan kurang tidur dan rasa lelah, those emotions could be overwhelming, ini yang biasa disebut baby blues. Selama 2 minggu pertama, saya sering menangis tanpa sebab bahkan ketika Sid sedang tidur pulas. Nggak cuma itu, saya bisa juga tiba-tiba ngajak suami berantem karena saya menganggap dia cuek dan nggak mau bertanggung jawab atas anak yang sudah saya lahirkan (lebay buangettt ya). Menurut saya, semua emosi yang kita rasakan sebagai ibu baru adalah wajar. Tapi harus waspada karena baby blues bisa berubah jadi post-partum depression dimana si ibu menjadi sedih berlebihan, tidak mau mengurus bayi, bahkan bisa sampai membahayakan diri sendiri dan bayi. Maka dari itu, kita harus bisa mengendalikan diri dan minta support, terutama dari suami, agar bisa membantu kita tetap positif.

5. You're breastfeeding
Ketika hamil, saya sempat takut tidak bisa memberikan ASI. Karena sempat main-main ke beberapa forum wanita hamil dan di sana banyak yang bilang bahwa tanda-tanda ASI akan keluar sudah bisa dirasakan di trimester ketiga seperti PD bengkak, muncul cairan putih atau bening dari puting, tapi saya nggak merasa atau mendapat tanda-tanda itu. Maka dari itu, ketika suster datang membawa Sid untuk coba menyusui pertama kali, saya langsung tegang. Betapa bahagianya saya ketika ASI berhasil keluar, rasanya yaiyyy scored!
Tapi tunggu dulu, karena saya belum pernah latihan latching alias posisi menyusui yang benar, jadi setiap mau menyusui heboh bangettt atur posisi duduk dan gendong bayi. Sampai suami, ibu, dan kakak saya ikut bantu, riweuh pisan lah! Otomatis karena latching belum benar, datanglah cobaan bernama puting lecet. Si puting lecet ini biasanya datang dengan saudaranya, si PD bengkak yang nggak kalah sakit (karena lecet jadi takut nyusuin, hence, bengkak lah). Untungnya, di RSPI Puri Indah ada sesi breast care privat untuk ibu setelah bersalin. Ada 3 langkah untuk meredakan sakit PD agar pemberian ASI lancar; kompres dengan handuk hangat, pijat dengan baby oil, lalu bersihkan dengan air dingin/suhu ruangan. Sangat membantu! Di rumah, saya pakai lanolin balm untuk membantu menghilangkan lecet - saya pakai beberapa merek nursing balm yaitu Mothercare, Biolane, Medela Purelan.
Untuk latching, bisa Google-ing dan perhatikan gambar-gambar yang menunjukkan beberapa posisi latching yang benar. Kalau menurut saya, latching yang benar ini memang butuh sedikit latihan awalnya, tapi lama kelamaan ibu dan bayi akan "klik" dengan sendirinya. It comes naturally, I guess.


But all of those things are totally worth it, because I can finally enjoy being with her.

Thursday, July 21, 2016

We Named Her...


Nama lengkapnya adalah Sidra Kamila Salman.

Sidra, diambil dari سدرة المنتهى‎ , yang dalam bahasa Indonesia ditulis sebagai Sidratul Muntaha, adalah pohon di surga/pohon yang menandai batas langit/surga ke-tujuh.

Kamila, artinya sempurna, tidak kurang suatu apapun.

Sehingga, Sidra Kamila Salman ini kami artikan sebagai berkah yang sempurna, yang diamanahkan kepada Keluarga Salman agar bisa membukakan pintu surga.

Dalam bahasa Urdu, Sidra artinya 'seperti bintang'. And yes, she is truly bright, shining through my life, like a star.

Wednesday, July 20, 2016

She's Here!

The wait is finally over!

She's here, I can hold her in my arms now. I can kiss her, touch her, feel her every breath.
She arrived two weeks ahead of the 40-weeks schedule, but she is such a perfection. She weighed at 2,9 kg and 47 cm in height at birth, she looked petite but she was easily my grand-est achievement.

Hello, World!

Giving birth to her was an amazing experience. Time went by so slowly since the minute I was admitted to the hospital at 9 PM. At midnight, the come-and-go pain in my stomach was indescribable, but the thought of seeing my daughter's face kept me going. But at 1 AM, I felt like giving up because I thought I would not make it to see the light of day. Everything suddenly turned into a rush when the clock hit the 2 AM mark. Then at 3.10 AM, I could hear her crying then she landed on my chest. She was warm, she seemed so small and fragile, but most of all, she is mine to hold.

Last but not least, I want to thank my Mother. Thank you for doing exactly the same thing, thank you for delivering me safely into the world. Thank you for watching over me, thank you for the time and the patience, the energy and the tears you spent on me. I owe you everything I am today and I may never be able to repay you, but I want you to know that there is nothing in the world that I won't do for you. I love you, Mom.

For Baby, welcome home.
Let's grow together.

Wednesday, July 13, 2016

The Fall

Hello, baby.

This day was (almost) be one of the blackest days in life.
.
.
.
.
.
.
I slipped and fell down.
Laid flat on the concrete floor in Plaza Senayan parking ground.

I got bruises and all, on my face, hands, arms, feet. But all those did not matter much to me. It was you who was on top of my mind, it was you, you all along.

I rushed myself to the nearest public restroom where I could still feel you thumping lightly. I cried, and cried, and called your daddy. He told me to calm myself and I should wait for him there. Then we raced to the hospital, where I spent a good deal of time sobbing while waiting for the doctor to see us. To my relief, the doctor said you were fine.
Your little heart was still beating.
Your little fingers were still throwing punches.
Your little feet were still kicking recklessly.
.
.
.
.
.
.
I was joyous.
But I still cried at night before bed. Maybe tomorrow I would still cry over this all over again.

Because today I learned my lesson the hard way. I did not set my priority straight, I thought I was strong and capable to do things on my own, but I forgot to put you into the picture and put both of us at risk. I can't tell you enough how sorry I am to let this happen to you, at this very moment, at this very stage of your development. It hurts me beyond anything, any pain that I have endured in life so far.

I pray to God that He will let me have you, hold you, and watch you grow.

Love,
Your mother.
 
Images by Freepik