Thursday, October 6, 2016

The Pumping Management

Tidak terasa tinggal 1 minggu sebelum saya harus kembali bekerja. Kembalilah baby blues melanda... Mengapa? Karena bonding antara bayi dan ibu semakin erat, ibu pun sudah terbiasa mengurus bayi dan mulai terasa nikmat karena bayi sedang lucu-lucunya pada usia menjelang 3 bulan ini. Sid sudah bisa tersenyum, tertawa dan bersuara lucu ketika merespon orang-orang yang berada di dekatnya, terutama ibu. Rasanya nggak ingin balik ngantor, tapi berhubung biaya sekolah konon semakin mahal, maka ibu harus setloooooonggg!

Straight from Day 1, alhamdulillah Sid hingga hari ini masih bisa menikmati ASI eksklusif (ASIX). Namun sejak Sid berusia 1 minggu, saya sudah mulai mencicil peralatan untuk pemberian ASIP dan belajar pumping. Pernah dua kali saya terpaksa berikan ASI perah (ASIP) yang tidak dibekukan dari botol susu karena ada sedikit bloody show di PD saya (menurut suster sebaiknya jangan diberikan langsung, tunggu luka kering dulu). Sid minum dari botol tanpa kesulitan (saya trial pakai botol Philips Avent), tapi saya langsung hentikan penggunaan botol begitu luka sembuh karena menurut artikel-artikel yang saya baca, sebaiknya bayi ASIX dikenalkan dengan botol susu di atas usia 6 minggu (waktu itu usia Sid masih 2 minggu).

Ternyata belajar manajemen pumping lebih sulit dari belajar manajemen pemasaran ketika kuliah dulu. Masalahnya, pumping berkaitan dengan ibu dan bayi yang dipengaruhi banyak faktor. Kemampuan fisik setiap ibu untuk memproduksi ASI bisa bervariasi dari hari ke hari, begitu juga dengan kemauan bayi meminum ASI. Ada akun IG yang terkenal di kalangan ibu pejuang ASI yang menyuarakan rumus Supply = Demand (wuih, semacam kuliah Mikroekonomi nih) - jadi, ibu harus rutin pumping 2 jam sekali untuk memperbanyak produksi ASI. Saya sih mau saja pumping 2 jam sekali, tapi masalahnya 2 jam itu pas Sid bangun dan minta diajak main atau minum ASI atau simply mau ngempil saja, nggak sempat pumping. Alhasil, saya hanya sempat pumping 1 kali sebanyak 150mL ketika Sid tidur malam - kebetulan Sid sudah bisa tidur malam agak lama sekitar 4-5 jam. Suka iri banget kalau lihat hashtag #pejuangASI di IG yang bisa dapat ASIP banyak, hiks, jangan patah semangat!

Tentu saya masih harus belajar banyak tentang manajemen pumping ketika kembali bekerja, mudah-mudahan cepat pintar ya. Jadi, sekarang saya sharing tentang peralatan perah-memerah dulu.

1. Medela Swing
Paling penting dipunya dan paling mahal harganya di antara peralatan yang lain. Saya baru beli di hari ke-3 setelah lahiran karena ada sedikit bloody show yang bikin PD bengkak. Beli breast pump ini di Babyzania.com karena harganya paling ok dibandingkan online store lain dan bisa dikirimkan ekspres lewat Gojek. So far, suka dan nggak ada masalah dengan breast pump ini, jadi nggak ingin coba-coba yang lain. Breast pump ini memang banyak direkomendasikan, baik dari review internet maupun teman-teman dekat. Saya suka karena ukurannya compact, daya isap lembut tapi kuat, dan nggak berisik. Bisa pakai batere (saran saya pakai batere lithium, lebih mahal tapi awet) atau adaptor. Saya juga beli satu set pumping connector tambahan (connector, valve, membran dan breast shield) supaya bisa dipakai bergantian.

2. Botol Susu
Dari set Medela Swing, saya dapat 2 botol susu Medela ukuran 150mL tapi tanpa nipple Medela Calma yang saya beli terpisah (di Babyzania.com juga). Saya beli lagi 1 set botol susu Medela (isi 3) karena takut kurang, eh nggak tahunya saya dapat kado 2 botol susu Philips Avent dan 2 botol susu Pigeon (kedua merek ini sudah dapat nipple). Medela Calma bagus, karena susu hanya keluar ketika bayi menyedot (ada semacam lubang kecil yang mengatur keluarnya cairan) sehingga cocok untuk bayi yang baru belajar menggunakan botol. Philips Avent Natural juga ok, karena diklaim memiliki bentuk nipple natural dan ukuran botol susu yang lebar sehingga mudah dipegang dan mudah dibersihkan. Pigeon Peristaltic ini bentuknya paling basic menurut saya, model botol slim neck sehingga terlihat paling langsing di antara 3 tipe botol yang saya punya. Let's see Sid suka botol yang mana...

3. Kantung Plastik ASI
Saya pernah baca artikel di blog seorang ibu yang membandingkan penggunaan botol kaca dan kantung plastik untuk penyimpanan ASIP. Hasilnya, botol kaca memang jauh lebih hemat dan tidak bocor tapi cukup repot karena butuh storage yang besar dan harus bolak-balik dicuci serta disterilkan. Kantung plastik ASI jelas lebih mahal karena hanya sekali pakai (nggak eco-friendly juga) dan jika tidak hati-hati plastik mudah bocor, tapi lebih praktis dan hemat tempat. Karena nggak ingin repot cuci botol dan nggak ingin menambah freezer, saya putuskan pakai kantung plastik ASI. Saya pakai kantung plastik ASI merek Gabag dan Natur. Gabag sedikit lebih tebal dan sturdy (bisa berdiri jika diisi) dibandingkan Natur, tapi Natur bisa disimpan dalam bentuk gepeng/pipih sehingga mudah diatur dan hemat tempat.

4. Sterilizer
Berhubung boleh request kado lahiran, saya minta dibelikan sterilizer oleh teman kantor suami. Jadi saya dapat steam sterilizer Pigeon yang juga dilengkapi dengan bottle and food warmer. Sebenarnya sterilizer Pigeon ini cukup bagus, tapi hasilnya botol masih basah karena disterilkan dengan menggunakan steam. Akhirnya saya beli Panasonic D-sterile (kebetulan dapat voucher Rp 100.000 dari Blibli.com) yang bisa mengeringkan dan mensterilkan. Pigeon sterilizer masih dipakai untuk bottle warmer (ketika ASIP sudah cair dan sudah dipindah ke botol).

5. Pembersih Peralatan ASIP
Pembersih ini terdiri dari sabun cuci, waslap dan sikat botol. Sabun cuci saya memakai Pure Baby Liquid Cleanser karena harganya terjangkau (sering promo juga) dan mudah didapat di online maupun offline store. Waslap saya pakai sebagai pengganti tapas pencuci. Khusus untuk pencuci botol susu, saya memakai Boon Suds yang sangat praktis.

I think that's all for now. Sekarang saya harus move on ke tahap berikutnya yang lebih menantang yaitu Bottle Training!

Tuesday, September 20, 2016

The Hardest Early Weeks of A New Mom

Masa TTC selama 2 tahun yang penuh liku-liku? Checked.
Sembilan bulan kehamilan yang seru dan menyenangkan? Checked.
Persalinam normal selama 6 jam yang menegangkan? Checked.

Now it's time to face the real world of motherhood.

Apakah saya sudah siap? Ya, siap nggak siap tapi harus siap, kan bayinya sudah lahir. So I understood that the first weeks with baby would be hard, but what I didn’t know is... How hard?

Here are some things that we have to go through as new moms in the early weeks of baby's life.

1. You're in pain
Melahirkan, dengan cara atau gaya apapun - normal kah, gentle birth kah, water birth kah, atau operasi sectio caesarea, ujung-ujungnya cuma satu yang dirasakan oleh tubuh si ibu yaitu rasa sakit. Please say hello to the longest period you'll ever have alias nifas, belum lagi pegal-pegal dan kontraksi rahim yang sedang mengecil kembali. Apalagi kalau harus menjalani episiotomi seperti saya, sudah benar-benar paket komplit deh.
Nggak usah sok kuat karena sakit dan ketidaknyamanan setelah melahirkan tidak bisa kita hindari. Orang-orang terdekat kita pasti mengerti, kok. Jadi, nggak usah sungkan minta bantuan. Jangan lupa minta painkiller (terutama untuk yang menjalani c-sect) dan pencahar (serius, minta pencahar ini penting banget) sebelum pulang dari rumah sakit.

2. You will still look pregnant, or just fat, maybe
Sering kepoin akun Instagram Chrissy Teigen yang baru melahirkan 4 bulan lalu berdampak sangat buruk bagi saya. Mengapa? Well, Mbak Chrissy ini bikin saya berekspektasi langsung kurus ciamik setelah lahiran karena doski tampak sangat fab and fatless bahkan mungkin satu detik setelah melahirkan. Kenyataannya, saya struggling dengan berat badan yang masih 6-7 kg lebih berat dibandingkan sebelum hamil. Cuma mau kontrol 1 minggu ke dokter berbuah drama sesengrukan karena baju dan celana masih sempit. Pemakaian nursing bra juga mengurangi faktor estetika, if you know what I mean.
Jika kamu ikut geng Mbak Chrissy, berbahagialah. Jika tidak (seperti saya), bersabarlah, just embrace your mommy's body. Setelah 6 minggu, boleh mulai olahraga ringan dan mulai mengatur makan sehat. Nggak usah merasa rendah diri ketika berdiri di depan kaca dan nggak usah berambisi untuk langsing secara instan karena toh kita masih menyusui, yang pasti butuh nutrisi ekstra.

3. You're tired, reallyyyy tired
Yes! Finally si bayi tidur juga, saatnya ibu tarik selimut juga. Lalu tiba-tiba dia bangun dan menangis, padahal kalau lihat jam, baru berselang 1 jam sejak dia tidur. Indeed, sleep deprivation is another real challenge for me. Sakit kepala, flu dan batuk, pegal-pegal adalah beberapa "oleh-oleh" yang saya dapat dari kurang tidur. Efek lainnya? Jadi cranky, pelupa dan nggak fokus dengan hal lain kecuali mengurus kebutuhan si bayi.
It's true what they say; coba untuk tidur/istirahat ketika bayi tidur. Memang terasa hanya sebentar tapi lumayan untuk mengganti waktu tidur kita yang biasanya 6-8 jam. Again, jangan ragu untuk minta bantuan dari orang terdekat, misalnya untuk titip jaga si kecil selama kita menikmati pijatan dari si mbok pijit.

4. You're hormonal, like PMS-ing on steroid
Sering merasa tiba-tiba galau, cranky, atau bahagia banget ketika hamil? Percayalah, setelah melahirkan, your mood can change waaaay much faster - thanks to penurunan hormon progesteron yang drastis seiring lepasnya plasenta saat bersalin. Ketika sedang bersama bayi, perasaan haru, senang, bahagia, sedih bercampur jadi satu. Ditambah dengan kurang tidur dan rasa lelah, those emotions could be overwhelming, ini yang biasa disebut baby blues. Selama 2 minggu pertama, saya sering menangis tanpa sebab bahkan ketika Sid sedang tidur pulas. Nggak cuma itu, saya bisa juga tiba-tiba ngajak suami berantem karena saya menganggap dia cuek dan nggak mau bertanggung jawab atas anak yang sudah saya lahirkan (lebay buangettt ya). Menurut saya, semua emosi yang kita rasakan sebagai ibu baru adalah wajar. Tapi harus waspada karena baby blues bisa berubah jadi post-partum depression dimana si ibu menjadi sedih berlebihan, tidak mau mengurus bayi, bahkan bisa sampai membahayakan diri sendiri dan bayi. Maka dari itu, kita harus bisa mengendalikan diri dan minta support, terutama dari suami, agar bisa membantu kita tetap positif.

5. You're breastfeeding
Ketika hamil, saya sempat takut tidak bisa memberikan ASI. Karena sempat main-main ke beberapa forum wanita hamil dan di sana banyak yang bilang bahwa tanda-tanda ASI akan keluar sudah bisa dirasakan di trimester ketiga seperti PD bengkak, muncul cairan putih atau bening dari puting, tapi saya nggak merasa atau mendapat tanda-tanda itu. Maka dari itu, ketika suster datang membawa Sid untuk coba menyusui pertama kali, saya langsung tegang. Betapa bahagianya saya ketika ASI berhasil keluar, rasanya yaiyyy scored!
Tapi tunggu dulu, karena saya belum pernah latihan latching alias posisi menyusui yang benar, jadi setiap mau menyusui heboh bangettt atur posisi duduk dan gendong bayi. Sampai suami, ibu, dan kakak saya ikut bantu, riweuh pisan lah! Otomatis karena latching belum benar, datanglah cobaan bernama puting lecet. Si puting lecet ini biasanya datang dengan saudaranya, si PD bengkak yang nggak kalah sakit (karena lecet jadi takut nyusuin, hence, bengkak lah). Untungnya, di RSPI Puri Indah ada sesi breast care privat untuk ibu setelah bersalin. Ada 3 langkah untuk meredakan sakit PD agar pemberian ASI lancar; kompres dengan handuk hangat, pijat dengan baby oil, lalu bersihkan dengan air dingin/suhu ruangan. Sangat membantu! Di rumah, saya pakai lanolin balm untuk membantu menghilangkan lecet - saya pakai beberapa merek nursing balm yaitu Mothercare, Biolane, Medela Purelan.
Untuk latching, bisa Google-ing dan perhatikan gambar-gambar yang menunjukkan beberapa posisi latching yang benar. Kalau menurut saya, latching yang benar ini memang butuh sedikit latihan awalnya, tapi lama kelamaan ibu dan bayi akan "klik" dengan sendirinya. It comes naturally, I guess.


But all of those things are totally worth it, because I can finally enjoy being with her.

Thursday, July 21, 2016

We Named Her...


Nama lengkapnya adalah Sidra Kamila Salman.

Sidra, diambil dari سدرة المنتهى‎ , yang dalam bahasa Indonesia ditulis sebagai Sidratul Muntaha, adalah pohon di surga/pohon yang menandai batas langit/surga ke-tujuh.

Kamila, artinya sempurna, tidak kurang suatu apapun.

Sehingga, Sidra Kamila Salman ini kami artikan sebagai berkah yang sempurna, yang diamanahkan kepada Keluarga Salman agar bisa membukakan pintu surga.

Dalam bahasa Urdu, Sidra artinya 'seperti bintang'. And yes, she is truly bright, shining through my life, like a star.

Wednesday, July 20, 2016

She's Here!

The wait is finally over!

She's here, I can hold her in my arms now. I can kiss her, touch her, feel her every breath.
She arrived two weeks ahead of the 40-weeks schedule, but she is such a perfection. She weighed at 2,9 kg and 47 cm in height at birth, she looked petite but she was easily my grand-est achievement.

Hello, World!

Giving birth to her was an amazing experience. Time went by so slowly since the minute I was admitted to the hospital at 9 PM. At midnight, the come-and-go pain in my stomach was indescribable, but the thought of seeing my daughter's face kept me going. But at 1 AM, I felt like giving up because I thought I would not make it to see the light of day. Everything suddenly turned into a rush when the clock hit the 2 AM mark. Then at 3.10 AM, I could hear her crying then she landed on my chest. She was warm, she seemed so small and fragile, but most of all, she is mine to hold.

Last but not least, I want to thank my Mother. Thank you for doing exactly the same thing, thank you for delivering me safely into the world. Thank you for watching over me, thank you for the time and the patience, the energy and the tears you spent on me. I owe you everything I am today and I may never be able to repay you, but I want you to know that there is nothing in the world that I won't do for you. I love you, Mom.

For Baby, welcome home.
Let's grow together.

Wednesday, July 13, 2016

The Fall

Hello, baby.

This day was (almost) be one of the blackest days in life.
.
.
.
.
.
.
I slipped and fell down.
Laid flat on the concrete floor in Plaza Senayan parking ground.

I got bruises and all, on my face, hands, arms, feet. But all those did not matter much to me. It was you who was on top of my mind, it was you, you all along.

I rushed myself to the nearest public restroom where I could still feel you thumping lightly. I cried, and cried, and called your daddy. He told me to calm myself and I should wait for him there. Then we raced to the hospital, where I spent a good deal of time sobbing while waiting for the doctor to see us. To my relief, the doctor said you were fine.
Your little heart was still beating.
Your little fingers were still throwing punches.
Your little feet were still kicking recklessly.
.
.
.
.
.
.
I was joyous.
But I still cried at night before bed. Maybe tomorrow I would still cry over this all over again.

Because today I learned my lesson the hard way. I did not set my priority straight, I thought I was strong and capable to do things on my own, but I forgot to put you into the picture and put both of us at risk. I can't tell you enough how sorry I am to let this happen to you, at this very moment, at this very stage of your development. It hurts me beyond anything, any pain that I have endured in life so far.

I pray to God that He will let me have you, hold you, and watch you grow.

Love,
Your mother.

Thursday, June 30, 2016

What's In A Name?

"What's in a name? That which we call a rose,

By any other name would smell as sweet."

William Shakespeare's Romeo and Juliet


Ah, we finally arrive at the (seems-to-be) endless debate of choosing a name.

Sebenarnya mencari nama untuk calon anak tidak sulit. Biasanya, orangtua kita akan secara sukarela dan dengan senang hati memberikan beberapa pilihan nama untuk cucunya. Yang sulit adalah bagi kita, orangtua si bayi, untuk memilih nama mana yang akan disematkan saat kelahiran. Penting juga untuk bilang ke orangtua kita, alias kakek nenek calon anak, supaya no hard feeling jika namanya tidak kita gunakan. Karena Mama sudah berikan nama, Umi juga sudah berikan nama. Nama-nama yang diberikan oleh kedua ibu saya ini sama-sama memiliki arti yang bagus, kebetulan mereka dapat nama-nama ini ketika sedang mengaji. Tapi, apakah saya akan memilih satu di antara kedua nominasi itu? Belum tentu... Maaf ya, Mama. Maaf ya, Umi. Ini bukan berarti saya nggak sayang kalian.

Memilih nama menjadi salah satu hal krusial karena nama mengandung doa dan harapan orangtua. Nama saya sendiri artinya keberuntungan karena pada saat saya lahir, karir ayah saya sedang menanjak sehingga taraf hidup keluarga kami membaik. Tapi ketika besar saya sering diolok-olok karena nama saya seperti laki-laki. Sedangkan nama suami saya bisa dikatakan 'nama sejuta umat', karena banyak sekali nama serupa di berbagai belahan bumi. Saking banyaknya, suatu ketika kami pergi liburan, dia dicegat di bagian imigrasi karena muncul puluhan nama serupa di daftar unwanted person di negara tersebut. Dia ditahan di bagian imigrasi kira-kira hampir setengah jam dan baru dilepaskan setelah diinterogasi dan saya dipanggil untuk menunjukkan bukti-bukti bahwa kami hanya turis, punya uang cukup dan tiket untuk pulang kembali ke Indonesia.

Satu lagi yang menjadi pertimbangan untuk nama anak masa kini yaitu penyertaan nama ayah sebagai nama keluarga, atau dikenal dengan sebutan surname. Sehingga nantinya si anak akan memiliki nama depan atau given name ditambah dengan nama keluarga atau nama ayah. Nah, untuk penggunaan surname ini saja kami sempat berselisih paham. Suami nggak mau namanya dipakai karena menurut dia namanya bukanlah nama keluarga. Dia baru setuju untuk 'memberikan' namanya ketika konsultasi dengan ibu dan ayahnya yang mengatakan bahwa dalam Islam, sebaiknya nama anak - apalagi anak perempuan, disematkan nama ayah sebagai bukti garis keturunan, penghormatan, serta menghilangkan keraguan siapa yang menjadi wali nikah nantinya. Jadi kami putuskan untuk mengambil nama depan suami sebagai nama belakang anak kami nantinya.

Given name-nya siapa? Rahasia, sampai waktunya tiba. Yang jelas, saya suka sekali dengan nama dan kata yang memiliki arti atau berhubungan dengan 'bintang'.


"Waiting for a star to fall,

And carry your heart into my arms,

That's where you belong,

In my arms, baby..."

Boy Meets Girl's Waiting For A Star to Fall

Tuesday, June 28, 2016

Ketika Harus Pilih Stroller Terbaik...

I have to admit... Belanja untuk keperluan bayi itu sangat menyenangkan, terlebih karena barang-barangnya banyak yang bikin gemes, belum lagi 'racun' dari para mbak-mbak toko yang dengan entengnya bilang, "Ibu harus punya ini itu anu ono, loh!" Sambil menyodorkan list belanja berisi kira-kira 100+ barang. Aduh, gawat banget kalau kontrol diri kita (tepatnya, SAYA) lemah. Untungnya, selama ini nggak pernah ke baby shop sendirian - selalu ditemani suami. Kalau belanja sendirian, sepertinya saya akan langsung borong semua barang yang ada di list belanja dari toko bayi.

Keperluan bayi (dan keinginan ibunya) memang cukup banyak, tentunya butuh modal untuk memenuhinya. Kami lumayan terbantu dengan beberapa barang 'warisan' dari kakak saya yang masih bagus dan layak pakai, seperti baby cot dan baby tafel, car seat, stroller, bouncer, mainan dan baju-baju. Baby cot dan baby tafel yang terbuat dari kayu hanya tinggal dibersihkan dan dicat ulang, kalau beli baru di Stellamas sepertinya kami harus keluar biaya 10x lipat. Kondisi car seat Britax First Class Si masih cukup bagus setelah dicuci bagian cover-nya, meskipun car seat ini lumayan bulky jika dibandingkan versi barunya tapi kami masih merasa car seat ini masih bisa berfungsi baik. Untuk stroller, kami dapat lungsuran 2 buah yaitu McLaren Quest Sport dan Peg Perego Pliko P3 - jelas bukan model terbaru juga, tapi kondisi masih cukup bagus. Setelah dicuci, kedua stroller ini tampak baik-baik saja. Tetapi saya memerhatikan ada hal yang mengganggu dari stroller Peg Perego - di bagian pegangan terlihat ada subtansi aneh seperti gemuk dan ketika dipegang terasa lengket. Sudah coba dilap bersih dengan sabun dan bahan pembersih lain, tetapi masih muncul juga. Jadi galau, apakah stroller ini masih bisa dipakai atau tidak.

Akhirnya, suami saya memutuskan untuk membeli stroller baru demi keamanan dan kenyamanan si bayi nantinya. Obviously, saya senang sekali menyambut kabar gembira ini - the anticipation, the excitement of browsing through tons of Youtube vids and blog reviews, lihat-lihat online shop di Instagram dan di situs-situs e-CommerceIt's the kind of therapy that works best terutama di malam hari saat sulit tidur, maklum sudah masuk trimester ketiga where a good-night sleep is truly a luxury. Beberapa hari berselang setelah dapat lampu hijau untuk beli stroller, maka saya sudah menjatuhkan pilihan pada beberapa merek stroller - hanya saja, saya ingin melihat dan memegang langsung barangnya dulu, jadi tidak ingin terburu-buru beli secara online.

Berikut ini langkah-langkah yang saya lakukan sebelum memutuskan pilihan stroller yang akan dibeli, alias my stroller buying guide.

1. Tentukan budget pembelian stroller
Saya menganggap stroller ini bukan keperluan primer untuk si bayi sehingga harga stroller tidak memiliki pengaruh langsung terhadap tumbuh kembang anak. Kalau beli stroller yang paling premium sekalipun, nggak membuat anak saya nantinya langsung bisa ngomong, membaca, menulis, serta jago main piano, kan? Jadi, tentukan range harga yang wajar sesuai kemampuan kita, tidak perlu memaksakan diri karena stroller ini akan terlihat keren dan bagus saat dibawa jalan-jalan ke mal - fungsi, kenyamanan, dan keamanan stroller lebih penting daripada sekedar penampilan. Dari penentuan budget ini, sudah jelas kalau Bugaboo Cameleon dan Stokke Xplory nggak masuk dalam pilihan karena muahaal buanget. Bye, bye...

2. Tentukan masa pakai stroller
Beberapa tipe stroller tidak bisa digunakan sejak bayi baru lahir karena dudukannya tidak bisa fully-reclined untuk mengakomodasi bayi tidur telentang, biasanya stroller ini bentuknya lebih compact sehingga lebih ringan dan lincah untuk mengimbangi berat badan anak yang semakin bertambah dan geraknya yang semakin aktif. Kalau ingin praktis dan hemat, sebaiknya pilih stroller yang bisa dipakai oleh newborn hingga anak berusia 3-4 tahun (berat badan sekitar 25kg). Karena sudah punya MacLaren Quest Sport yang ringan untuk toddler, maka saya fokus mencari stroller yang bisa dipakai sejak Day 1.

3. Tentukan fungsi / fitur stroller yang diinginkan
Biasanya setiap merek dan tipe stroller punya ciri khas dan fungsi yang jadi unggulan merek tersebut, jadi saat screening kita harus tahu fitur apa saja yang kita inginkan, serta penggunaan stroller ini lebih banyak untuk apa dan dibawa kemana. Kalau lihat beberapa video review dari luar negeri, kebanyakan mereka pakai stroller untuk jalan-jalan di luar ruang dengan kondisi jalanan beraspal atau concrete sehingga fitur yang mereka cari adalah roda stroller yang besar, pegangan yang kokoh, serta memiliki sun-shade atau kanopi yang lebar. Sedangkan di Indonesia, kemungkinan besar kita lebih tertarik untuk menggunakan stroller yang ringan, mudah dilipat dan disimpan di mobil, karena stroller lebih banyak untuk jalan-jalan di mal atau indoor area. Kriteria stroller yang saya inginkan cukup sederhana, yaitu ringan namun handle-nya kokoh, mudah dilipat dan dibuka kembali, muat di bagasi mobil saya, serta memiliki alas yang nyaman untuk bayi.

4. Tentukan mau beli di mana
Mengapa pemilihan toko jadi penting? Karena hari gini, beda harga sedikit itu ngaruh banget, Jenderal! Dibandingkan toko-toko di mal besar, tentu toko-toko bayi seperti di ITC Kuningan, ITC Fatmawati atau ITC Cempaka Mas bisa memberikan harga yang lebih bagus untuk barang yang sama. Kalau dari sisi kenyamanan berbelanja dan ketersediaan barang, jelas toko bayi di mal besar lebih oke. Pilihan lain adalah toko-toko online, baik yang punya situs sendiri maupun di marketplace, atau bahkan di Facebook dan Instagram. Toko-toko online ini biasanya menawarkan harga yang cukup miring jika dibandingkan toko di mal besar, tapi mesti hati-hati memilih toko karena kita belum / tidak bertemu langsung dengan si penjual. Karena saya ingin dapat harga bagus sekaligus bisa lihat barang langsung sebelum membeli, maka pilihan saya adalah toko bayi di ITC atau toko online yang juga punya offline store.

Setelah browsing sana-sini, saya memiliki beberapa kandidat stroller idaman.

1. Nuna Mixx
2. Mamas & Papas Urbo 2
3. MacLaren Techno XLR
4. BabyStyle Oyster 2
5. Peg Perego Si Switch

Dan toko yang menjadi tujuan saya untuk melihat, meraba, dan membeli stroller ini adalah Sweet Mom Shop di daerah Pluit. Selain toko offline, juga melayani pemesanan via online, akun LINE, BBM, dan Whatsapp. Jadi bisa tanya-tanya dulu sebelum pesan atau memutuskan langsung datang ke toko offline-nya. Mengapa jauh-jauh ke Pluit? Well, sebenarnya saya sudah coba mampir ke ITC Kuningan tapi karena sudah dekat Lebaran, kondisi ITC Kuningan (dan ITC-ITC lain di Jakarta) lagi 'lucu-lucunya' (atau 'ganas-ganasnya') sehingga menyulitkan saya untuk tanya-tanya mengenai stroller. Selain itu, pilihan merek dan tipe stroller juga sangat terbatas.
Perlu diketahui, Sweet Mom Shop ini letaknya di dalam komplek. Tokonya juga nggak seperti toko atau ruko, lebih seperti rumah biasa yang dijadikan toko (sekaligus gudang) sehingga penuh tumpukan kardus baby gear. Nggak semua barang dipajang, jadi lebih baik kita langsung tanya ke Mas Penjaga Toko mengenai barang yang kita incar. Si Mas Penjaga Toko bisa bantu mengambilkan barang di gudang mereka dan membuka kardusnya supaya kita bisa inspeksi lebih lanjut. Kalau nggak jadi beli juga nggak apa-apa, no hard feeling ke Si Mas.

Last but not least, here's the stroller that we decided to take home for baby!
Mamas & Papas Urbo 2 in Chestnut Tweed
Pros:
- Reversible, dudukan stroller bisa diangkat dan dipindah sesuai dengan keinginan kita si bayi ingin menghadap mana - menghadap kita yang mendorong atau menghadap ke luar (inward / outward facing).
- Rangka stainless steel, lebih kokoh dibandingkan stroller Mamas & Papas tipe lain (Sola dan Armadillo Flip) tapi tetap ringan.
- Ada bumper bar alias bar pengaman di bagian depan, dilapis faux leather - sama seperti bagian handle pendorongnya. Tipe Sola dan Armadillo Flip nggak punya bumper bar ini.
- Pilihan warna yang beragam dan cenderung nggak mencolok. Sebenarnya saya naksir warna Mulberry (plum kemerahan) tapi sepertinya kurang netral. Akhirnya kami pilih warna Chestnut - untuk warna ini kebetulan materi kain pelapisnya terbuat dari tweed sehingga terlihat vintage. Love!
- Ketika dilipat, bentuknya cenderung persegi - tidak memanjang seperti MacLaren, sehingga pas banget di bagasi mobil 'mini' saya. Lebih compact dibandingkan Nuna Mixx.
- Dudukan stroller lumayan empuk sehingga tidak perlu ditumpuk selimut / alas stroller yang tebal.
- Sudah memiliki all-wheels suspension (kata suami ini penting tapi saya nggak mudeng) dan rem stroller yang mudah dibuka-tutup dengan ujung kaki kita sehingga nggak merepotkan.
- Dapat jaring anti nyamuk yang disimpan di kantong di bagian sandaran kaki.

Update setelah 3 bulan pemakaian
- Stroller ini bukan termasuk golongan stroller ringan karena model dan materialnya membuat stroller ini kokoh. Kalau ibu-ibu mau angkat stroller ini sendirian, pas mau dimasukkan ke bagasi misalnya, lumayan terasa beratnya yang sekitar 9kg. If you are considerably petite, don't go for this one.
- Karena beratnya juga, saya dan suami tidak berani untuk membawa stroller yang sedang dinaiki putri kecil kami lewat eskalator - kami selalu lewat lift ketika jalan-jalan di mal. Pernah coba satu kali naik lantai melalui eskalator dan kami kapok. Secara peraturan, stroller memang tidak boleh lewat eskalator - bisa dilihat di stiker yang ada di ujung eskalator, pasti ada gambar stroller disilang. Tapi saya lihat masih banyak orangtua yang membawa stroller melalui eskalator dan tidak ada teguran dari pihak mal. Parents, I think it's better to be safe than sorry.
- Membuka dan melipat kembali stroller ini perlu latihan. Saya hitung ada 4 langkah dasar supaya stroller ini dapat digunakan / disimpan, yaitu melipat / membuka rangka, membuka / mengunci rem roda depan, membuka / mengunci rem roda belakang, memanjangkan / memendekkan batang kendali. Semuanya sih mudah dilakukan asal sudah terbiasa, tapi memang stroller ini bukan sistem buka-tutup 1 langkah.
- Ternyata nggak muat di bagasi mobil Mazda 2, harus bongkar tutup bagasi dulu supaya muat. Yang mana lumayan repot. Akhirnya, terpaksa bertukar mobil dengan suami supaya stroller selalu disimpan di bagasi (ini sih HORE banget untuk saya, jadi bisa pakai mobil suami!).
- Karena rangkanya dari metal, otomatis bisa jadi sedikit panas ketika terpapar panas / sinar matahari. Tapi bagian metal ini tidak mengenai bayi, kok. Paling hanya menyulitkan ketika kita melipat / membuka stroller.
- Untuk bayi yang masih kecil dan belum banyak gerak, sabuk pengaman bisa hanya dipasang di bagian bawah - sehingga tidak perlu melewati bahu dan tangan. Bayi terlihat lebih nyaman dengan model sabuk pengaman seperti ini.

Overall, saya (masih) suka pakai stroller ini. Bayi terlihat nyaman dan aman di dalamnya, kami yang mendorong pun tidak menemui kesulitan berarti saat pemakaian. Harga sesuai kualitas, jadi kami puas.

 
Images by Freepik