Saturday, November 5, 2016

Keyakinanku, Keyakinanmu

Saya pernah menjalin rasa dengan seseorang yang berbeda keyakinan. Apakah itu nista?

Karena ia baik. Ia tidak pernah melarang saya beribadah, malah sabar menyuruh dan menunggu saya sholat, dan ketika saya berpuasa ia menemani hingga tiba waktu berbuka. Saya pun tidak pernah mencampuri ketika ia harus pergi di hari Minggu. Semua terasa biasa.

Kami bahagia.
Untuk beberapa saat...

Singkat cerita, kami mulai merasa ada hal yang mengganjal. Justru rasa ini muncul ketika kami semakin dekat, ingin naik tingkat.  Saya ingin memiliki, saya ingin menarik dia menyeberang ke lain sisi, saya ingin dia untuk meyakini apa yang saya yakini, untuk beribadah dengan cara saya beribadah. Saya mulai belajar dan belajar lagi, gali-gali kitab suci, tanya sana sini. Bahkan cari informasi dari forum yang sangat tidak terpuji, penuh dengan benci dan bahasa yang keji (sepertinya sekarang sudah di-banned as it was a truly savage site), dimana umat yang berseberangan saling serang dengan nada-nada berang. Semua saya lakukan untuk memohon, memaksa dia supaya ikut kepercayaan saya. Saya jadi gelap mata, pokoknya dia harus ikut saya.

Namun apa yang terjadi? Kami semakin menjauh. Semua kajian yang saya paksakan kepada dia terpental begitu saja. Bukannya makin sama, kami malah makin beda. Domba dan kambing pun kami perdebatkan. Tidak ada lagi bahagia. Saya malah menista agamanya karena saya bilang Tuhan dia bukan Tuhan. Padahal kalau kepala saya dingin, saya cuma akan bilang bahwa Tuhan dia bukan Tuhan yang saya yakini and there's nothing wrong with that, let's just agree to disagree. Sungguh beda kan kedua pernyataan itu?

Singkat cerita lagi, kami berpisah.

Saya sedih, saya kehilangan. Tapi saya percaya Tuhan punya rencana lain untuk saya (dan dia) sehingga tidak perlu kecewa. Berbekal keyakinan itu, saya jadi tenang. Tidak berlama-lama terpuruk dan mulai susun-susun kembali hati yang tadinya remuk. 

Benar saja. Saya lalu dipertemukan dengan (waktu itu masih calon) suami. Saya pelajari bahwa ayahnya (mertua saya kini) kerap membimbing orang untuk jadi mualaf. Beliau lakukan dengan cara yang amat beda (dengan apa yang dulu saya coba lakukan) - beliau buat terang semua tentang Islam, yang damai, yang penuh cinta, yang tenang dan menenangkan. Beliau (hanya) berkisah tentang kebesaran dan keajaiban Tuhan sebagaimana ditulis di dalam kitab suci, tidak lebih, tidak kurang. He does it in a certain way that those people, who wish to convert, finally believe by themselves. Bukan seperti dicekoki, tapi mengalir begitu saja dan jadi yakin dengan sendirinya. Sungguh Tuhan Maha Baik, menyadarkan saya atas kesalahan yang pernah saya buat dengan mempertemukan saya dengan suami, dengan ayah mertua.

Jadi, kembali lagi ke si dia yang terdahulu...

Meski kini kami tidak saling sapa, saya percaya kami masih saling mengingat dan saling berterima kasih. Karena saya meneguhkan keyakinan dia, dan dia memantapkan keyakinan saya. Percaya akan besarnya kasih sayang Tuhan dengan masing-masing cara, bukankah itu yang paling utama?

Lakum diinukum waliyadiin.

No comments:

Post a Comment

 
Images by Freepik