Thursday, October 6, 2016

The Pumping Management

Tidak terasa tinggal 1 minggu sebelum saya harus kembali bekerja. Kembalilah baby blues melanda... Mengapa? Karena bonding antara bayi dan ibu semakin erat, ibu pun sudah terbiasa mengurus bayi dan mulai terasa nikmat karena bayi sedang lucu-lucunya pada usia menjelang 3 bulan ini. Sid sudah bisa tersenyum, tertawa dan bersuara lucu ketika merespon orang-orang yang berada di dekatnya, terutama ibu. Rasanya nggak ingin balik ngantor, tapi berhubung biaya sekolah konon semakin mahal, maka ibu harus setloooooonggg!

Straight from Day 1, alhamdulillah Sid hingga hari ini masih bisa menikmati ASI eksklusif (ASIX). Namun sejak Sid berusia 1 minggu, saya sudah mulai mencicil peralatan untuk pemberian ASIP dan belajar pumping. Pernah dua kali saya terpaksa berikan ASI perah (ASIP) yang tidak dibekukan dari botol susu karena ada sedikit bloody show di PD saya (menurut suster sebaiknya jangan diberikan langsung, tunggu luka kering dulu). Sid minum dari botol tanpa kesulitan (saya trial pakai botol Philips Avent), tapi saya langsung hentikan penggunaan botol begitu luka sembuh karena menurut artikel-artikel yang saya baca, sebaiknya bayi ASIX dikenalkan dengan botol susu di atas usia 6 minggu (waktu itu usia Sid masih 2 minggu).

Ternyata belajar manajemen pumping lebih sulit dari belajar manajemen pemasaran ketika kuliah dulu. Masalahnya, pumping berkaitan dengan ibu dan bayi yang dipengaruhi banyak faktor. Kemampuan fisik setiap ibu untuk memproduksi ASI bisa bervariasi dari hari ke hari, begitu juga dengan kemauan bayi meminum ASI. Ada akun IG yang terkenal di kalangan ibu pejuang ASI yang menyuarakan rumus Supply = Demand (wuih, semacam kuliah Mikroekonomi nih) - jadi, ibu harus rutin pumping 2 jam sekali untuk memperbanyak produksi ASI. Saya sih mau saja pumping 2 jam sekali, tapi masalahnya 2 jam itu pas Sid bangun dan minta diajak main atau minum ASI atau simply mau ngempil saja, nggak sempat pumping. Alhasil, saya hanya sempat pumping 1 kali sebanyak 150mL ketika Sid tidur malam - kebetulan Sid sudah bisa tidur malam agak lama sekitar 4-5 jam. Suka iri banget kalau lihat hashtag #pejuangASI di IG yang bisa dapat ASIP banyak, hiks, jangan patah semangat!

Tentu saya masih harus belajar banyak tentang manajemen pumping ketika kembali bekerja, mudah-mudahan cepat pintar ya. Jadi, sekarang saya sharing tentang peralatan perah-memerah dulu.

1. Medela Swing
Paling penting dipunya dan paling mahal harganya di antara peralatan yang lain. Saya baru beli di hari ke-3 setelah lahiran karena ada sedikit bloody show yang bikin PD bengkak. Beli breast pump ini di Babyzania.com karena harganya paling ok dibandingkan online store lain dan bisa dikirimkan ekspres lewat Gojek. So far, suka dan nggak ada masalah dengan breast pump ini, jadi nggak ingin coba-coba yang lain. Breast pump ini memang banyak direkomendasikan, baik dari review internet maupun teman-teman dekat. Saya suka karena ukurannya compact, daya isap lembut tapi kuat, dan nggak berisik. Bisa pakai batere (saran saya pakai batere lithium, lebih mahal tapi awet) atau adaptor. Saya juga beli satu set pumping connector tambahan (connector, valve, membran dan breast shield) supaya bisa dipakai bergantian.

2. Botol Susu
Dari set Medela Swing, saya dapat 2 botol susu Medela ukuran 150mL tapi tanpa nipple Medela Calma yang saya beli terpisah (di Babyzania.com juga). Saya beli lagi 1 set botol susu Medela (isi 3) karena takut kurang, eh nggak tahunya saya dapat kado 2 botol susu Philips Avent dan 2 botol susu Pigeon (kedua merek ini sudah dapat nipple). Medela Calma bagus, karena susu hanya keluar ketika bayi menyedot (ada semacam lubang kecil yang mengatur keluarnya cairan) sehingga cocok untuk bayi yang baru belajar menggunakan botol. Philips Avent Natural juga ok, karena diklaim memiliki bentuk nipple natural dan ukuran botol susu yang lebar sehingga mudah dipegang dan mudah dibersihkan. Pigeon Peristaltic ini bentuknya paling basic menurut saya, model botol slim neck sehingga terlihat paling langsing di antara 3 tipe botol yang saya punya. Let's see Sid suka botol yang mana...

3. Kantung Plastik ASI
Saya pernah baca artikel di blog seorang ibu yang membandingkan penggunaan botol kaca dan kantung plastik untuk penyimpanan ASIP. Hasilnya, botol kaca memang jauh lebih hemat dan tidak bocor tapi cukup repot karena butuh storage yang besar dan harus bolak-balik dicuci serta disterilkan. Kantung plastik ASI jelas lebih mahal karena hanya sekali pakai (nggak eco-friendly juga) dan jika tidak hati-hati plastik mudah bocor, tapi lebih praktis dan hemat tempat. Karena nggak ingin repot cuci botol dan nggak ingin menambah freezer, saya putuskan pakai kantung plastik ASI. Saya pakai kantung plastik ASI merek Gabag dan Natur. Gabag sedikit lebih tebal dan sturdy (bisa berdiri jika diisi) dibandingkan Natur, tapi Natur bisa disimpan dalam bentuk gepeng/pipih sehingga mudah diatur dan hemat tempat.

4. Sterilizer
Berhubung boleh request kado lahiran, saya minta dibelikan sterilizer oleh teman kantor suami. Jadi saya dapat steam sterilizer Pigeon yang juga dilengkapi dengan bottle and food warmer. Sebenarnya sterilizer Pigeon ini cukup bagus, tapi hasilnya botol masih basah karena disterilkan dengan menggunakan steam. Akhirnya saya beli Panasonic D-sterile (kebetulan dapat voucher Rp 100.000 dari Blibli.com) yang bisa mengeringkan dan mensterilkan. Pigeon sterilizer masih dipakai untuk bottle warmer (ketika ASIP sudah cair dan sudah dipindah ke botol).

5. Pembersih Peralatan ASIP
Pembersih ini terdiri dari sabun cuci, waslap dan sikat botol. Sabun cuci saya memakai Pure Baby Liquid Cleanser karena harganya terjangkau (sering promo juga) dan mudah didapat di online maupun offline store. Waslap saya pakai sebagai pengganti tapas pencuci. Khusus untuk pencuci botol susu, saya memakai Boon Suds yang sangat praktis.

I think that's all for now. Sekarang saya harus move on ke tahap berikutnya yang lebih menantang yaitu Bottle Training!

No comments:

Post a Comment

 
Images by Freepik