Sunday, May 1, 2016

TTC: The Good, The Bad and The Ugly

This one is not for baby, but for every woman who is going, or has gone through the process of trying to conceive a child. Semoga kalian merasa 'Saya Tidak Sendirian Menghadapi Ini'. Percayalah, you are not alone.

Di negara ini memang susah mendapatkan privasi, jangankan untuk urusan rumah tangga, urusan agama dan kepercayaan saja bisa sedemikian vulgar dan setiap hari kita bisa lihat diumbar dengan mudahnya di social mediaKepo is the name of the game.

Ketika baru bergandengan tangan, langsung ditanya kapan sebar undangan? Ketika baru menikah, langsung ditanyakan mau punya anak berapa? Kalau mau membayari biaya pernikahan dan biaya sekolah anak sih, monggo loh... Tapi kalau nggak, ya nggak perlu kepo karena jodoh dan anak sepenuhnya wewenang Tuhan. Repotnya kalau orang yang ditanya merasa tersinggung, justru si penanya malah bingung mengapa ada orang yang sebegitu sensitif, toh pertanyaan semacam itu biasanya keluar secara spontan atau cenderung basa-basi.

Nah, balik lagi ke poin dimana jodoh dan anak itu takdir Tuhan. Ada yang dimudahkan, ada juga yang diminta bersabar menunggu. Nggak ada yang salah, namanya juga kehidupan - tetap harus dijalani. Untungnya, saya diminta bersabar untuk menunggu keduanya - jodoh dan anak. Jodoh nggak perlu dibahas ya, karena panjang berliku-liku macam Tersanjung 1-7. Saya mau cerita mengenai proses sebelum akhirnya berhasil mendapat calon anak ini.

Proses mempersiapkan diri untuk kehamilan biasa dikenal dengan istilah promil (program kehamilan) atau di luar negeri disebut TTC, singkatan dari Trying-to-Conceive. Di tulisan ini saya pakai istilah TTC ya, bukan karena mau sok kebule-bulean tapi lebih ke maknanya - menurut saya kata 'trying' ini lebih dekat dengan istilah ikhtiar. Ikhtiar ini artinya lebih dari sekedar berusaha, tapi merupakan konsep dan proses menyelesaikan masalah dengan berupaya memilih jalan yang terbaik. Saat kita berikhtiar, maka cara berpikir dan bertindak kita pun diperbaiki supaya bisa menuju ke jalan tersebut.

We realized that something needed to be checked ketika merayakan hari jadi perkawinan yang pertama. Pertanyaan semacam:
"Kok belum isi?"
"Kapan nih nyusul kasih cucu?"
"Gemukan ya, tapi belum hamil?"
"Sudah lama kan nikahnya?"
"Udah umur segitu lho, gak takut telat?"
Sudah pasti sliweran ketika kumpul keluarga, kumpul tetangga, kumpul teman sekolah, kuliah, atau kantor, begitulah. Seolah-olah my uterus had become a problem for the society. Tapi, keinginan untuk punya anak dan umur yang semakin bertambah mendorong kami untuk segera memeriksakan diri ke dokter.

Here's our TTC milestone.
September 2014 - Cek fisik suami istri di RSIA Evasari, karena suami terindikasi teratozoospermia lalu kami memutuskan untuk menemui androlog.
Oktober 2014 - Konsultasi dengan androlog di RSIA YPK Mandiri, diberikan terapi obat untuk suami dan diminta cek fisik setelah 2 minggu. Cek fisik setelah 2 minggu, hasilnya baik. Androlog menyarankan untuk mencoba konsepsi natural selama 1 siklus.
November 2014 - Nothing happened dan memutuskan untuk kembali ke androlog. Cek fisik suami bagus, lalu dirujuk ke obgyn untuk cek fisik istri.
Desember 2014 - Konsultasi dengan obgyn di RS YPK Mandiri, dijelaskan di awal bahwa infertilitas bisa disebabkan oleh 40% faktor suami, 40% istri, 10% karena keduanya, dan 10% tidak bisa dijelaskan karena sepenuhnya kehendak Tuhan. Great, at least the doctor was honest dan meminta kami untuk bersiap menghadapi berbagai macam kemungkinan. Karena faktor suami sudah dicek oleh androlog, maka obgyn menyarankan untuk cek fisik istri dengan cek darah komplit dan HSG. Hasil keduanya baik. Oh ya, 1-2 hari setelah pemeriksaan HSG lumayan sakit. Siap-siap bedrest dan sediakan satu strip Ponstan karena perut terasa melilit dan susah jalan. Well, jangankan jalan, tiduran saja sakit. So, make sure Ponstan and a glass of water are on your bedside table.
Januari 2015 - Jumpa lagi dengan obgyn. Beliau bilang hasil cek fisik suami istri baik, kemungkinan ada problem dengan imunologi reproduksi dimana terdapat reaksi penolakan dari tubuh istri yang menghambat proses konsepsi. Langsung dirujuk ke laboratorium untuk tes ASA (antisperm antibody) dengan metode HSAaT (Husband's Sperm Auto-agglutination Test). Hasilnya? Nilai ASA tinggi, yaitu 1:16384. Padahal nilai ASA normal adalah 1:64, artinya kami harus 'loncat' 8 tingkat untuk menormalkan nilai ASA. Kami diminta androlog untuk menjalani terapi PLI.
Februari 2015 - Memulai terapi PLI untuk menurunkan nilai ASA. Karena RSIA YPK Mandiri tidak melayani terapi PLI, maka kami menjalani terapi di RSIA Sayyidah. Seluk beluk PLI mungkin bisa dibahas di posting lain ya, karena suka dukanya pun banyak.
April 2015 - Sudah menjalani 3x sesi PLI, saatnya tes ASA lagi. Hasilnya, nilai ASA sudah turun 3 tingkat ke 1:2048. Disarankan mengikuti 3x sesi PLI lagi.
Juni 2015 - Memutuskan untuk berhenti kerja supaya bisa istirahat dan fokus TTC. Selesai 3x sesi PLI tahap kedua dan dinyatakan lulus. Nilai ASA sudah normal di level 1:64. Disarankan kembali ke obgyn untuk tahap promil selanjutnya.
Juli 2015 - Kembali duduk manis di RSIA YPK Mandiri. Obgyn berikan opsi untuk coba 2 siklus dengan bantuan terapi obat, jika belum berhasil juga maka bisa dipertimbangkan untuk menjalani IUI atau inseminasi buatan. Langsung dibekali obat ini itu.
Agustus 2015 - Sudah 2 siklus dibantu terapi obat, belum berhasil hamil juga. Mulai bingung dan sering sedih.
September 2015 - Mencoba cari second opinion ke obgyn lain, pergilah kami ke Klinik Daya Medika. Konon di sini berkumpul para obgyn RSCM yang jago di bidang reproduksi dan IVF. Tapi sedihnya, malah 'divonis' hormon kurang bagus dan umur sudah 'lanjut' sehingga kecil kemungkinan untuk bisa konsepsi natural, harus dibantu dengan IVF. Nangis bombay sepulang dari klinik ini yang bikin suami marah berat (pada obgyn di klinik) dan memaksa kembali ke RSIA YPK Mandiri untuk lanjutkan promil. Di RSIA YPK Mandiri, langsung bilang bahwa kami ingin IUI.
Oktober 2015 - Di awal bulan, siap menjalani proses IUI. Bolak-balik ke dokter dalam seminggu untuk suntik pembesar telur dan akhirnya datang juga hari untuk IUI. Tegang dan takut. Trying so hard to stay hopeful. Setelah 2 weeks wait, dinyatakan IUI belum berhasil. Seminggu kemudian, si tubuh ini pun mengonfirmasi. Felt really awful. Memutuskan untuk berhenti TTC completely dan menunggu hingga tahun depan untuk (kemungkinan) menjalani IVF.
Desember 2015 - Found out that I was 5 weeks preggo.

So, let me recap the ups and down of the journey below.

The Good
Menjadi orang yang lebih sabar dan mencoba terus bersyukur, berusaha meningkatkan ibadah. Didoakan dan disemangati oleh keluarga, sanak saudara, dan teman.
Hubungan dengan suami menjadi lebih baik karena banyak menghabiskan waktu berdua - pastinya bisa traveling berdua kemana saja tanpa repot, bisa saling belajar memahami dan memberikan support. Banyak belajar hal-hal baru, terutama tentang kondisi medis yang dihadapi dan berempati dengan pengalaman orang lain.

The Bad
Every day is a rollercoaster ride. Sangat mudah lelah, both emotionally and physically - terutama karena pengaruh obat-obatan yang diberikan saat TTC yang memengaruhi hormon dan kondisi tubuh. Karena kondisi tubuh nggak nyaman, otomatis emosi pun seringkali nggak stabil. Berantem dengan pasangan, malas kerja, uring-uringan, mendadak sedih lalu nangis - terutama kalau lagi antri dokter, di saat orang lain kontrol hamil atau imunisasi anak. Pelampiasannya? Kalau saya sih jadi makan melulu, tiap hari maunya jajan Chatime daripada pusing.

The Ugly
Harus merelakan waktu untuk bolak-balik ke dokter, hampir setiap akhir pekan bangun pagi dan menghabiskan setengah hari di rumah sakit. Pasrah juga membiarkan tubuh diperiksa, disuntik, diambil darah, hingga mengikuti proses inseminasi yang sungguh tidak nyaman. Tidak cuma istri, tapi suami juga harus ikhlas dan bersedia menjalani proses TTC. Berdasarkan cerita beberapa teman, para suami seringkali menolak untuk memeriksakan diri - jadi, komitmen kedua belah pihak itu penting.
TTC is also financially challenging; pengobatan medis maupun alternatif yang dijalani secara rutin tentu butuh biaya yang tidak sedikit. Kami mungkin termasuk beruntung karena masih bisa menyisihkan penghasilan untuk proses TTC ini. For some others, this is a real big deal.

Untuk teman-teman yang masih berjuang, tetap semangat! Yakin bahwa Tuhan sudah merencanakan dan akan memberikan jalan terbaik bagi kita. Saya sangat percaya bahwa jalan terbaik mungkin bukanlah jalan yang paling mudah, mungkin juga bukan jalan yang paling sulit kita lalui. Tetapi di ujung jalan yang terbaik itu pasti kita menemukan apa yang Tuhan sudah persiapkan untuk kita dan membekali kita dengan kemampuan untuk menghadapinya - apapun itu.

Bon courage!

No comments:

Post a Comment

 
Images by Freepik